
...Happy Reading....
...***...
Acara wisuda sudah selesai. Semua para sarjana-sarjana berkumpul di halaman kampus dan melayangkan topi wisuda serta bersorak-sorak bahagia.
El sedang berfoto bersama keluarganya. Tiba-tiba Saga dan Olivia datang. El menyambut dengan bahagia sambil memeluk Olivia.
"Terimakasih banyak Kak Olivia sudah datang dari jauh hanya untuk menghadiri wisudaku!. Pasti Kak Saga yang memaksanya kan?",tanya El sambil melihat ke arah Saga.
"Kamu salah El, bukan Saga yang memaksaku datang",jawab Olivia polos yang melepaskan pelukan.
"Lalu?".
Olivia melihat ke arah Satria yang begitu tersipu malu. Dan sebaliknya Satria yang tersenyum manis.
El merasa bingung melihat Olivia dan Satria yang begitu malu-malu kucing. "Ohhhh.... jadi ini jawaban atas itu Bang!",goda El yang melihat Satria salah tingkah.
Olivia memberikan sebuah buket perhiasan dan Saga memberikan buket coklat ternama di negara itu.
"Kak Oliv, ini apa?. El tidak mau menerimanya Kak!", tolak El lembut.
"Ini Kakak belikan khusus buat kamu. Dan tolong kamu jangan menolaknya ya!. Aku sudah pesan jauh-jauh hari untuk memesan itu!",kata Olivia kepada El supaya El mau menerima atas dasar usahanya, bukan harganya.
"Tapi Kak, ini pasti sangat mahal. Dan El tidak pantas mendapatkan ini!",kata El mencari alasan.
"Kamu sudah Kakak anggap sebagai adik Kakak, El. Karena Kakak sangat sayang sama kamu. Dan kamu sudah mengubah adik kakak menjadi pribadi yang baik sekarang, semenjak mengenal kamu, El. Bahkan, barang ini tidak berharga selama Saga mengenal kamu, El!",kata Olivia panjang lebar.
"Aku tidak bisa mengubah seseorang Kak. Karena bagaimanapun kita berusaha mengubah seseorang, tapi seseorang itu tidak mau berubah, mana bisa seseorang itu mengubah dirinya Kak. Jadi, mungkin Kak Saga sekarang lebih dewasa daripada yang dulu Kak!",ungkap El.
"Maka dari itu, tolong di terima ya El. Kakak akan sedih bila kamu tidak mau menerimanya!".
"Ok kalau itu mau Kakak!",jawab El yang pasrah dengan buket pemberian dari Olivia.
Sella dan Alan yang datang terlambat. Sella berlari berhamburan kepelukan El. "Selamat ya teman baikku!",ucap Sella yang memeluk El dengan erat. Sella dan Alan membawakan buket yang berisikan makanan ringan, karena mereka tahu bahwa El tidak suka bunga.
Mereka lalu melanjutkan pergi ke restoran yang sudah di pesan oleh Saga, karena Saga berjanji bila suatu saat nanti El lulus kuliah dan bergelar sarjana, maka ia akan mengajak semua keluarga El dan sahabat El untuk berkumpul makan bersama. Dan disinilah mereka, di restoran mewah bintang lima.
Para pelayan menyajikan makan-makanan yang spesial yang dibuat oleh koki-koki handal restoran tersebut.
El berganti baju di kamar mandi. Ia tidak lupa membasuh mukanya yang terasa amat lelah. Lalu ia keluar sambil membawa papaer bag yang beisikan baju wisudanya tadi.
Seseorang berdiri di hadapan pintu keluar kamar mandi. El tercengang melihat seseorang itu. "Pak Ardi!".
"Selamat malam Mbak El!",sapa Ardi yang memakai baju seperti biasa yang selalu rapi.
"Malam Pak!". El melihat kesekeliling, tidak ada seorangpun disana. "Bapak kok bisa ada disini?. Ada apa ya Pak?",tanya El ragu.
"Maafkan saya sebelumnya mbak. Tapi, ada hal yang penting yang ingin saya bicarakan kepada mbak El".
"Hal penting apa Pak?. Sepertinya urusan saya, sudah selesai".
Ardi memberikan sebuah map. Dengan ragu El menerimanya dan membukanya dengan perlahan. "Ini apa Pak?",tanya El curiga.
"Itu surat yang berisi pemindahan saham-saham milik Mas Sam kepada Mbak Laura, Mbak!".
"Apa?. Itu tidak mungkin di Pak. Tidak mungkin Sam melakukan hal itu!".
__ADS_1
"Bukan Mas Sam pelakunya. Tapi, Mbak Laura sendiri yang menjalankan misinya",ungkap Ardi.
"Dan Sam tahu hal ini?",tanya El.
Ardi menggelengkan kepalanya tanda tidak.
"Lalu kenapa Pak Ardi tidak bilang langsung sama Sam. Kenapa Pak Ardi malah bilang sama saya. Saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama dia Pak. Tidak seharusnya Bapak memberitahukan ini kepada saya?",jelas El yang tidak mau ada sangkut pautnya dengan nama Sam.
"Saya tidak berani mengatakan ini semua mbak. Ternyata Mbak Laura mendekati Sam hanya karena hartanya. Dia inginkan hartanya Sam jatuh ketangannya Mbak!".
Kepala El terasa pusing. Ia memegang kepala bagian kiri. Rasanya seperti dihantam bertubi-tubi oleh batu.
"Mbak El tidak apa-apa?",tanya Ardi.
Pandangan El terasa kabur dan berdiri saja terasa sangat berat. "Sepertinya saya mau ping-?".
Bruk.... Tubuh El terjatuh dan langsung ditangkap oleh Ardi yang tahu situasi ini. "Mbak El... Bangun Mbak!",ucap Ardi beberapa kali, karena khawatir tentang kondisi El. Ia mau tidak mau langsung menelepon sang majikannya.
Sam dengan terburu-buru langsung berlari ke kamar mandi setelah menerima kabar dari sang sopir. Ia melihat El ada di pelukan Ardi, dengan cepat Sam membopong El ke sebuah kamar hotel.
Sam meletakkan El dengan pelan di atas ranjang. Ia melihat wajah El terasa pucat sekali. "Kenapa kamu bisa ada di sana Pak?",tanya Sam sarkas.
"Saya tidak sengaja melihat Mbak El tadi terjatuh Mas. Dan saya langsung menolongnya!",jelas Ardi merasa takut ketahuan dengan sang majikan.
"Lalu buat apa El ada di restoran dan hotel ini. Apakah keluarganya melaksanakan acara di restoran ini?",tanya Sam. "Tolong tanyakan ini kepada petugas Pak!",perintahnya.
"Baik Mas!",jawab Ardi yang menelepon kepihak restoran sambil beranjak keluar dari kamar.
"El bangun El!",panggil Sam beberapa kali tapi tidak ada pergerakan sedikitpun dari El. Ia lalu menelepon dokter langganannya.
El merasakan bau menyengat yang tidak biasa di hidungnya. Ia membuka matanya perlahan dan melihat Ricky yang berbaju putih langsung terbangun. "Kamu siapa?",tanya El terkejut.
Ricky melihat kearah Sam yang merasa aneh. Dan El mengalihkan perhatiannya kepada Sam yang berdiri di bawah ranjang tempat tidur. "Sam!". El tercengang melihat Sam ada disini dan ia tersadar bahwa ia ada disebuah kamar hotel. "Dimana ini?",tanya El merasa bingung.
"El, aku bisa jelasin!".
"Jelasin apa?. Dimana ini?. Lalu dimana Ayah dan Bunda ku?",tanya El panik.
"Kamu tenang dulu El. Aku bisa jelasin semuanya!",saran Sam yang memberikan secangkir air putih. "Kamu minum dulu ya?. Nanti setelah tenang, baru aku jelasin secara detailnya!".
El menurut apa yang dikatakan oleh Sam. Ia meneguk air putih dan menghabiskan setengah gelas. "Sekarang, jelaskan semuanya!",lirih El pasrah.
"Tadi Pak Ardi yang menghubungiku setelah kamu sudah pingsan. Aku tidak tahu apa yang dilakukan sama Pak Ardi, kenapa beliau bisa bertemu dengan kamu",jelas Sam singkat dan jelas.
Kepala El seakan berputar seperti kaset yang sedang dimainkan. Kepalanya terasa sangat berat. Dan ingatannya pun kembali normal.
"Jangan memaksa mengingat sesuatu Nona El. Nona El akan merasakan kesakitan yang sangat hebat!",pesan Dokter Ricky.
"El... Apa yang sedang terjadi?. Kamu baik-baik saja kan?",tanya Sam khawatir.
"Aku tidak apa-apa".
"Nona El, lebih baik istirahat yang banyak dan cukup ya. Nona El sangat kelelahan!",pesan Dokter Ricky.
"Terimakasih banyak Dok!",ucap El sebelum Dokter Ricky pergi.
Dokter Ricky pergi dan Sam mengantarkan Dokter Ricky sampai depan hotel kamar.
__ADS_1
"Jagalah dia, Sam!. Dia sedang frustasi apa yang dia hadapi saat ini. Mungkin juga bisa mengalami sedikit trauma dan stres. Karena dari gejalanya sudah mengarah ke sana!",saran Ricky kepada Sam.
"Mungkin aku yang menyebabkan semuanya ini. Aku yang selalu membuat masalah, sehingga dia sampai stres!",cicit Sam.
Ricky menepuk bahu Sam, memberikan sebuah kekuatan yang begitu dalam.
Sedangkan El mengusap rambutnya dari depan sampai belakang. Kenapa bisa seperti ini?. Aku kenapa ya Allah? batin El dalam hati.
Setelah Sam mengantar dokter pribadinya, ia segera menemui El yang sedang ada di ranjang. "Kamu butuh sesuatu?",tanya Sam dengan rasa khawatirnya melihat kondisi El yang seperti ini.
"Apakah ada hal yang perlu kita bahas?",tanya El yang memandang tajam ke arah Sam.
Sam bingung harus menjawab apa. Ia lebih memilih memandang wajah yang pucat itu.
"Sam, hubungan kita sudah lama berakhir. Aku tidak mau lagi merusak hidup kamu maupun Kakak kamu. Aku sudah merasa cukup bahagia menjalankan hidupku yang sekarang. Jadi, aku mohon dengan sangat kesadaran diri kamu, untuk melupakan aku!",cicit El.
"Kalau kamu merasa cukup bahagia, kenapa kamu sampai seperti ini?. Apakah ini menandakan bahwa kamu sudah bahagia?",tanya Sam sarkas.
Mata El berkaca-kaca. Ia bisa mengatakan seperti itu, tapi tidak dengan hatinya.
"Kenapa diam El!. Ini bukan menandakan bahwa kamu sedang bahagia!. Apakah kamu merasakan apa yang kurasakan saat ini?",tanya Sam frustasi. "Aku tidak yakin, kamu bisa melupakan aku dengan mudahnya. Dan aku juga tidak yakin, bahwa aku akan bisa melupakan kamu!. Puassss kamu, menghancurkan hidupku seperti ini!",kata Sam dengan nada tinggi yang sudah tidak bisa ia kontrol. "Ahhhhhhhhh!",teriak Sam frustasi sambil mengusap rambutnya kasar.
El menangis di tempatnya. Hatinya sama sakitnya apa yang Sam rasakan saat ini. Tuhan, andaikan aku bisa memilih dia, aku akan memilih dia dalam hidupku!. Tapi........
Sam memukul tembok kaca beberapa kali. Hatinya hancur tak bertepi. "Apakah mencintai kamu sesakit ini!",runtuh Sam beberapa kali.
El berlari ke arah Sam yang sedang meratapi takdirnya. Ia memeluk Sam dari belakang.
Deg. Sam tercengang melihat El memeluknya dari belakang.
El menangis di balik punggung Sam. "Biarkan aku seperti ini dulu Sam!",lirih El yang memeluk erat Sam.
Sam merasa senang dan terharu. El tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tapi, kali ini El berubah dengan sendirinya. Ia berdoa dalam hati supaya Ardi tidak datang terlalu cepat.
Ardi tiba-tiba masuk ke dalam dan melihat sang majikan sedang berpelukan dengan El. Oopssss...
Sam mengumpat dalam hatinya mengatai Ardi yang tidak melihat kondisi seperti ini. Dasar Ardi biang rusuh, biang kerok, aku akan menendang pantat kamu!. Bahkan doanya dalam hatipun belum selesai, dan pengganggu lebih cepat datangnya.
El langsung melepaskan pelukannya itu.
"Maaf Mbak El dan Mas Sam!",ucap Ardi yang membalikkan badan dan keluar dari hotel. Sialan, kenapa aku harus masuk kedalam. Bos pasti akan marah besar! ucap Ardi sambil meruntuki nasibnya.
"Pak Ardi, sebentar!",panggil sang majikan. Sam menghampiri Ardi dengan suasana hati yang tidak baik.
Ardi berhenti tepat di dekat pintu keluar. Ia menundukkan kepalanya karena takut bila sang majikannya marah.
"Puassss sudah menjadi para pengganggu!",bisik Sam dengan memberikan secarik kertas resep yang dokter tadi berikan. "Tebus obat ini dan cepat kembali ke sini!",kesal Sam.
Ardi berlari secepat kilat untuk pergi ke apotek terdekat.
Sialan kamu Ardi! umpat Sam dalam hati sambil melihat Ardi berlari terbirit-birit.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote....
...Terimakasih....
__ADS_1