
Happy Reading.
***
Malam Hari.
William sedang berjalan menuju Cafe Love Lon. Ia membuka pintu kafe dan melihat El sedang melayani beberapa pelanggan. Tetapi, di depan samping El ada seseorang yang sedang menikmati sebuah coffe. Ia lalu memotret El yang sedang sibuk bekerja. Ia tersenyum manis melihat hasil potretannya. Ia kemudian mengirim foto itu kepada seseorang.
Kak Saga masih setia menunggu El yang sedang bekerja. Ia duduk manis sesekali memandang wajah cantik El. Ia bermain ponselnya untuk mengambil wajah El yang sedang sibuk.
Disisi lain El merasa hari ini sangat ramai pengunjung. "Terimakasih ya Pak?",ucapnya kepada salah satu pengunjung yang membeli kopinya. Ia sesekali mengambil tisu untuk membersihkan dahinya dari keringat yang lumayan banyak, karena hari ini sangat menguras energinya.
"Capek banget ya?",tanya Kak Saga.
"Lumayan Kak. Kakak ngapain sih nungguin aku kerja, kayak gak ada kerjaan lainnya?",sahut El karena merasa tidak enak.
"Sebenarnya sih mau ngajak kamu jalan-jalan, tapi karena mungkin kamu capek, jadi aku batalkan",jawab Kak Saga.
"Maaf ya Kak?",ucap El.
"Gak apa-apa El. It's ok!",jawab Kak Saga.
El menjawabnya dengan senyuman manis. Lalu ia mengalihkan perhatiannya kepada seseorang yang sedang mematung di depan pintu cafe. "William?",panggil El.
Kak Saga menengok ke belakang.
"Hai!",sapa William, ia menghampiri El yang sedang berdiri di meja bar. "Lagi sibuk ya?".
"Lumayan",jawab El.
"Teman kamu?",tanya Kak Saga.
"Iya Kak. Dia William. Teman satu kelas",ucap El.
"Ini Kak Saga ya?",tanya William.
"Iya, betul sekali!",jawab Kak Saga dengan senang.
"Saya banyak tahu lho tentang Kakak, tentang prestasi bermain basket di kampus?",ucap William merasa bahagia bisa berkesempatan berkenalan dengan seniornya.
"Oh...jadi artis dadakan ya aku?",goda Kak Saga tertawa.
"Hahahaha.... Kakak bisa aja!",sahut William.
Akhirnya mereka bertiga mengobrol tentang dunia basket. Dimana William ingin sekali menguasai teknik-teknik bermain basket.
Tetapi, El tiba-tiba mengingat tentang Sam. Sam yang sangat mahir bermain basket di lapangan. Kenapa sih harus ingat lagi tentang dia?. Lupain dia, El? batin El.
Malam semakin larut. El dan Adele langsung menutup kafenya. Mereka berdua terlihat sangat kelelahan karena hari ini begitu sangat ramai. El tadi sempat menelepon Adele untuk membantunya. Karena El kuwalahan mengatasi para pembeli.
"Aku balik dulu ya?",pamit Adele.
"Iya Del. Terimakasih ya udah bantu?",kata El mengucapkan banyak terimakasih.
"Sama-sama",jawab Adele. "Tuh di tunggu sang pujaan hatinya?",goda Adele yang melihat Kak Saga masih setia menunggu di depan kafe.
"Apaan sih, Del?. Gak usah gitu deh!",ucap El kesal.
"Ya udah, bye...!",ucap Adele yang langsung pergi meninggalkan El bersama Kak Saga.
Kak Saga langsung berlari menghampiri El yang sendiri di samping pintu kafe. "Mau langsung pulang?",tanya Kak Saga.
"Ya ampun Kak, sumpah, aku benar-benar gak enak banget lho sama Kakak?",kata El.
__ADS_1
"Kenapa gak enak?. Kurang garam apa kurang gula?",goda Kak Saga.
El tertawa mendengar jawaban dari Kak Saga. "Sumpah Kak, gak lucu!",jawab El.
"Aku senang kamu bisa tertawa selepas itu",kata Kak Saga.
El diam seketika. Ia melihat mata indah Kak Saga penuh dengan ketulusan. Ia merasa tidak enak bila Kak Saga selalu membantunya.
Disisi lain sebuah mobil berhenti tepat di depan kafe.
Kak Saga dan El langsung mengalihkan perhatiannya dengan sebuah mobil itu. Mereka penasaran siapa yang menaiki mobil itu.
Sella dan Sam turun dari mobil.
El mengangga tidak percaya bahwa Sella akan membawanya ke kafe tempat kerjanya itu.
Sam memandang tidak suka kedekatan El dan Saga. Ia memilih untuk diam dengan wajah dinginnya itu.
Sella menyapa Kak Saga dan bertanya tentang kabarnya. Sella langsung mencubit pinggang El mencoba mencairkan suasana.
El merasa serba salah. Ia ingin sekali berbicara dengan Sam. Tetapi, relung hatinya susah untuk mengatakan sesuatu.
"Jadi kegiatan sekarang seperti ini?. Pacaran berduaan di depan kafe punya orang?",ucap Sam tiba-tiba.
Mereka bertiga kaget mendengar perkataan dari Sam. Mereka tidak menyangka bahwa Sam akan mengatakan hal seperti itu.
"Kalau ngomong jangan sembarang ya, Sam!",sahut Saga tidak terima kalau harga diri El di injak-injak oleh sahabatnya sendiri.
"Sembarangan!. Siapa yang ngomong sembarang?. Saya ngomong dengan bukti, dan tadi buktinya sudah adakan?",kata Sam lagi.
"Bukti. Bukti yang mana?",sahut Saga.
"Udah...udah, kalian kok berantem terus sih!",teriak Sella mencoba melerai.
"Apa gara-gara cowok ini, kamu mutusin pertunangan dengan Kak Edwan?",tanya Sam sarkas.
"Mungkin kamu cari-cari alasan supaya pertunangan kalian di batalkan!",bentak Sam.
Kak Saga maju satu langkah. Ia tidak terima atas ucapan Sam yang menyinggung perasaan El. "Kalau kamu masih ada masalah sama aku, ngomong aja!. Gak usah semua amarah kamu, kamu luapin sama El?. Aku dan El udah tahu semua kebusukan Kakak kamu, bahkan sahabat-sahabatnya juga udah memperingatkan untuk menjauhi kakak kamu!",kata Saga marah.
"Saya udah tahu niatan anda dari dulu apa?. Anda cuma mau dia untuk menjadi milik anda bukan?. Saya sudah tidak heran lagi!",seru Sam.
"Aku sama El cuma sebatas teman gak lebih!. Dan aku menyesal kenapa dulu aku gak pernah ngerebut dia dari kamu, kalau kenyataannya akan seperti ini!. Dan sekarang kamu bukan siapa-siapanya dia lagi",sahut Kak Saga emosi.
Sam menatap Saga dengan sangat tajam. Kedua tangannya mengepal. Ia sudah muak melihat Saga ada di depan matanya. Dulu dia bisa menghajarku dengan sekuat tenaga, tetapi kali ini ia sudah kehabisan akal sehatnya. "Jaga mulut anda!",teriak Sam dan langsung memukul wajah Saga dengan sangat cepat.
Saga tersungkur di jalan. Wajahnya berdarah akibat terkena pukulan tangan dari Sam, karena Sam memakai cincin.
"Kak Saga!",teriak El terkejut. Ia duduk disamping Kak Saga dan membantu untuk berdiri. "Kakak gak apa-apa?",tanya El khawatir.
"Sam, kamu apa-apa sih?. Kasihan Kak Saga?",ucap Sella menolong Kak Saga.
Saga mencoba untuk berdiri. Matanya seperti kehilangan cahaya. "Aku gak apa-apa kok, El",jawabnya sambil berusaha berdiri.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Sam!",bentak El menangis. Ia menatap mata Sam yang sulit untuk di artikan. Hiks... Hiks... "Maafin aku ya Kak?",ucapnya sambil membopong Saga.
Sella membantu Saga berdiri. Ia tidak tega melihat ada orang yang babak belur.
Saga kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh lagi.
"Modus!",ucap Sam.
"Ayo Kak, kita ke rumah sakit sekarang?",ucap El mencoba memberi semangat kepada Saga.
__ADS_1
Sam tidak sanggup melihat El terlalu dekat-dekat dengan Saga, musuhnya. Ia menarik lengan El dengan paksa.
"Auwwww.... Sakit Sam!",ucap El yang sudah berdiri disamping Sam. Ia mencoba untuk melepaskan tangan Sam dari lengannya.
"Kamu apa-apa sih Sam, El mau bantuin Kak Saga untuk berdiri?",kata Sella.
"Kamu urus dia ke rumah sakit. Dan El sama aku!",ucap Sam sambil membawa El ke mobilnya.
"Enggak Sam.... Enggak.... Aku harus tolongin Kak Saga sekarang!. Lepasin!",teriak El tidak terima atas sikap Sam sekarang. Hiks... Hiks...
"Ikut aku, atau dia akan aku buang di sungai Thames!. Kamu pilih mana?",tanya Sam.
"Kamu jahat Sam!. Jahat!",teriak El mencoba melepaskan dari genggaman Sam. Hiks... Hiks... "Kak Saga!",lirih El melihat Kak Saga tidak berdaya di pangkuan Sella.
Sam membuka pintu dan melemparkan El kedalam kursi penumpang.
"Auwwww...!",teriak El kesakitan.
Sam menutup pintu dengan sangat kasar. Ia langsung masuk ke dalam mobil untuk mengemudi. Ia menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi.
"Sam benar-benar keterlaluan!",ucap Sella kesal melihat Sam seperti sedang kesetanan.
Saga mencoba untuk membuka matanya melihat kepergian mobil Sam yang dikendarai dengan kecepatan maksimal. El....
"Ayo kita ke rumah sakit Kak?",ucap Sella. "Taksi !",teriak Sella mencoba memberhentikan taksi yang lewat.
Disisi lain El menangis di kursi penumpang belakang. Ia tidak menyangka atas perubahan sikap Sam yang ia lakukan terhadapnya. Hiks... Hiks.... Kak Saga maafin aku ya?. Aku gak bisa menolong Kak Saga?. Maafin aku Kak! batin El nelangsa.
Sam menengok El dari kaca. Ia melihat sedang melihat ke arah luar dan menyenderkan punggungnya. Ia tidak tega melakukan hal seperti ini, tapi ia tidak mau kalau El bersama dengan orang yang ia benci.
"Kamu gak seharusnya melakukan ini semua kepada Kak Saga",ucap El mencoba berbicara pelan-pelan.
"Jangan sebut namanya di depanku, El!",sahut Sam dengan emosi yang menggebu-nggebu.
"Kenapa Sam!. Kamu gak terima!. Oh... Aku seharusnya menyebut nama Kakak kamu, disini!. Begitu?",kata El yang sudah tidak bisa menyembunyikan amarahnya.
Sam tidak menyahut perkataan El, ia memilih untuk diam.
"Kalau kamu ingin seperti itu, maaf Sam , aku gak bisa. Karena Kakak kamu lebih licik daripada Kak Saga!",kata El mencoba meredakan amarahnya.
"Jadi kamu sudah tertipu dengan perkataan manis dia?",tanya Sam.
"Perkataan manis, Kak Saga gak pernah berkata-kata manis selama ini kepadaku. Dia malah sebaliknya, sering membantuku!",jawab El sambil terisak. "Kalau kamu tahu seberapanya tentang hidupku selama tiga tahun ini, kamu akan merasa bersalah atas hidupku!",lanjutnya.
Sam langsung membanting setir ke kiri. Ia tidak mau disalahkan atas apa El lakukan padanya. Ia berhenti di tepi jalan. "Apa maksud kamu, El?. Aku gak pernah sedikitpun menyakitimu dan kamu berkata bahwa aku bersalah atas hidup kamu, maksud kamu apa El?",teriak Sam marah. "Apa kamu kurang untuk menyakiti aku selama ini?. Aku udah susah payah melupakan kamu dari hidupku, dan kamu tiba-tiba hadir lagi di kehidupanku, mau kamu apa El?",tanya Sam memukul setir mobil.
"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, Sam?. Kalau kamu udah melupakan aku, kenapa aku saat ini ada di mobil kamu?. Apa mau kamu?",tanya El. "Apakah kamu cemburu sama Kak Saga?", lanjutnya.
"Jangan sekali-kali kamu bilang seperti itu sama aku?. Aku gak akan Sudi cemburu sama kamu",jawab Sam. "Sekarang, jawab pertanyaanku, atas dasar apa aku bersalah atas hidupmu?",tanya Sam sarkas.
"Kalau aku ceritain semua sama kamu, keluarga kamu akan hancur Sam. Aku gak mau itu",jawab El.
"Hancur ataupun tidak, itu tidak ada urusan sama kamu. Kamu sekarang bukan lagi bagian dari keluarga Natawijaya",sahut Sam.
Memang aku bukan dari bagian keluargamu, Sam. Tapi, aku gak mau keluarga besar kamu hancur, gara-gara video itu. Bagaimana ini? batin El bertanya-tanya.
"Jawab El!",bentak Sam.
"Oke kalau kamu bersikukuh ingin mengetahui sebenarnya. Kakak kamu mengancamku, dengan menyebarkan video saat kita melakukan ciuman di kota XXX, Sam!",jawab El.
Deg. Sam tidak percaya bahwa Kakaknya selicik itu, bahkan orang yang ia cintai dan sayangi menjadi korban ancaman Kakaknya itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa komen, like dan vote.
Terimakasih.