
...Happy Reading...
...***...
El sedang berdiri di dekat jendela. Kepalanya terasa sangat berat memikirkan sesuatu hal. Ia mengambil obat dari laci nakas dan meminumnya dengan air putih. Dengan hal sama Bunda masuk ke kamar El tanpa ketuk pintu dahulu.
"Sayang, kamu Mun'im obat apa?",tanya Bunda cemas dan menghampiri El.
El tercengang melihat bunda yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Ia harus mencari alasan supaya tidak terjebak dalam kebohongan besar lagi. "Ini hanya vitamin Bun untuk menambah tahan tubuh",jawab El mencari jawaban yang akal.
Bunda mengambil obat dari dalam laci. Ia membacanya dengan sekilas. "Tapi tidak biasanya kamu minum obat?. Apa lagi vitamin seperti ini?",tanya Bunda curiga.
El hanya pasrah di ceramahi oleh sang bunda. "Bunda, di negara ini sangat dingin. Makanya, El butuh multi vitamin supaya daya tahan El bertambah kuat",jelas El mengambil vitamin dari tangan bunda dan meletakkan kembali kedalam laci. "Udah yuk Bun, El lapar nih. Ayo kita makan malam!",ajak El memegang lengan sang bunda dan pergi dari kamar.
Bunda merasa curiga terhadap anak gadisnya itu. Ia ingin mengetahui vitamin apakah itu.
Semua keluarga Wibowo sudah siap di meja makan. Bunda dan El menyiapkan makan malam.
"Abang nanti siap untuk pulang meninggalkan kita?",tanya El yang sedang menyiapkan lauk pauk.
"Siaplah Dik".
"Lalu bagaimana dengan Kak Olivia?",tanya El yang penasaran dengan kisah cinta sang kakak.
"Malas Dik bahas dia. Bahas yang lainnya aja ya!",jawab Satria malas.
"Abang!!!". Bunda memberikan peringatan kepada sang putra.
"Sudahlah bunda. Jangan paksa anak kita seperti itu. Dia juga sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk",saran ayah.
El hanya memandang kearah Dino. Hari ini Dino tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa sayang?",tanya El sambil mengelus rambut Dino sayang.
"Tidak apa-apa Kak",jawab Dino yang melahap makan malamnya dengan baik.
El merasa bersalah terhadap sang adik. Seharusnya Dino tidak merasakan trauma yang begitu dalam. Maafkan kakak ya sayang, gara-gara kakak kamu merasakan apa yang kakak alami saat ini. Tapi, kakak janji tidak akan melibatkan kamu lagi sayang.
Tok... Tok... Tok...
"El yang buka aja Bun!",kata El. Ia berjalan menuju pintu. Ia berharap tamu saat ini adalah tamu yang penting bagi hidupnya dan keluarga. Bukan tamu yang tak diundang.
Cekrek...
"Selamat malam sayang!",sapa Amira dan dibelakang ada Olivia dan juga Saga.
__ADS_1
"Malam juga tan. Silahkan masuk!",balas El mempersilahkan tamu masuk kedalam. "Bun, tante Amira, Kak Oliv dan juga Kak Saga datang!!!",kata El yang sudah di meja makan.
Keluarga Amira duduk di ruang tamu. Bunda dan ayah segera menyusul memberikan salam.
"Bagaimana kalau kita makan bareng aja?",ide Bunda yang mengajak makan malam bersama keluarga Amira.
Satria yang mendengar percakapan sang bunda langsung mengeluh. "Ngapain juga sih Bunda ngajak mereka?",keluh Satria kepada El yang melanjutkan menyiapkan makanan.
"Apa sih Bang, kan malah bagus keluarga tante Amira ikut gabung. Supaya Abang bisa mengetahui bagaimana sifat kak Olivia!",sahut El yang menyediakan piring dan gelas lagi.
"Bukannya Abang tidak mau mengetahui bagaimana sifat Olivia Dik. Abang akui Olivia itu sempurna. Tapi, cara Olivia itu yang salah!",jelas Satria.
"Sudahlah Bang, mereka datang loh!!!",kata El yang melihat keluarga Amira dan ayah bunda berjalan ke arah ruang makan.
Mereka berkumpul menjadi satu. Olivia duduk dihadapan Satria. Mereka menikmati makan malam dengan penuh canda dan tawa. Sesekali Olivia dan Satria saling melirik satu sama lainnya.
"Wah makanannya sangat enak!!",puji Amira bahagia. "Ini siapa yang masak jeng?",tanya Amira kepada bunda.
"Ini masakan El dan saya hanya membantu jeng!",jawab bunda yang sedang memotong daging.
Amira menatap El penuh bahagia. "Kamu pintar sekali sayang!",sambung Amira memuji.
"Tidak juga tante. Mungkin karena dibantu oleh bunda. Jadi lebih bisa di nikmati!",kata El sungkan karena mendapat pujian dari Amira.
Olivia cemberut maminya membahas masak memasak. Karena selama ini ia tidak pernah pergi ke dapur kecuali pada saat darurat saja. "Mami apa-apaan sih!!".
Satria melirik sekilas wajah cemberutnya Olivia. Terlihat sangat lucu.
"Maaf ya tante, malah membahas masalah perdapuran!!",kata Olivia sungkan sambil melirik ke arah Satria.
"Tidak apa-apa kok sayang. Kami memahami kalau kamu wanita karier. Dan mungkin Satria mencari pendamping hidup bukan seorang pembantu yang bisa masak!!!",goda bunda.
Dan tawa satu meja makan pecah karena kekonyolan sang bunda.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya makan malam selesai. Bunda dan El membersihkan meja makan.
"Sat, boleh kita berbicara hanya di luar?",tanya Olivia penuh harap.
Ayah menyenggol lengan Satria supaya Satria membuka pintu hatinya buat Olivia.
"Ok. Kita bicara diluar!",jawab Satria yang beranjak dari meja makan yang diekori oleh Olivia.
Olivia berjalan beriringan dengan Satria. Mereka berbicara di taman dekat apartemen.
__ADS_1
"Mau bicara apa?",tanya Satria dingin. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku masing-masing celana supaya terlihat lebih cool.
"Aku minta maaf soal kemarin. Aku akui aku yang salah. Dan aku tidak bertanya langsung kepada kamu!",ungkap Olivia.
Diam.
"Aku hanya takut saja, bila menjadi istri kamu, aku tidak sesempurna apa yang kamu harapkan. Karena selama ini aku hanya berkecimpung di dunia bisnis dan perusahaan. Aku akan sibuk mengurus bisnis milik keluargaku dan akan mungkin bisa mengabaikan kamu dalam sisi hidupku Sat. Aku hanya takut kamu kecewa nantinya!!!. Setelah papa meninggalkan kami, aku dipaksakan oleh keadaan ini mengurus aset milik keluarga. Sebenarnya aku sangat lelah Sat, tapi aku harus bagaimana dan seperti apa!!!",jelas Olivia.
Diam.
"Pasti kamu menginginkan seorang istri yang seperti bunda kamu maupun seperti istri yang kamu impikan yang selalu ada buat kamu. Yang selalu ada disaat kamu membutuhkan belaian dan kasih sayang dari seorang istri. Tapi,,,, mana mungkin aku akan bisa???",ungkap Olivia dengan mata berkaca-kaca. "Apa lagi setelah insiden Saga terluka parah dan masuk rumah sakit, aku yang menjadi korbannya. Saga akan bersama mami tinggal di Indonesia, aku akan mengurus semua perusahaan yang ada di London dan New York, aku pasti akan lebih tambah sibuk lagi!!!",sambung Olivia yang pasrah dengan keadaan yang ada.
"Sudah penjelasannya?",tanya Satria.
Olivia menunduk mengalihkan perhatiannya supaya ia lemah tidak ada seorangpun yang tahu.
Satria mendekat didepan Olivia. Ia tahu saat ini Olivia sangat lemah dan butuh dukungan ekstra. Ia memegang kedua bahu. "Liv, aku akan menerima semua kekurangan kamu bukan hanya kelebihan kamu. Aku..... akan ada buat kamu disaat kamu terjatuh ataupun diatas awan, aku tidak peduli itu. Yang aku inginkan adalah seorang istri bukan seorang pembantu!!!".
"Tapi Sat, apakah kamu bersedia stay di sini maupun stay di New York?",tanya Olivia menatap tajam kedua mata Satria bahwa tidak yakin Satria akan meninggalkan kedua orangtuanya.
Diam.
"Aku tahu, kamu mempunyai perusahaan milik orang tua kamu. Bukankah kamu mau mengembangkan bisnis milik ayah kamu?",sambung Olivia.
Bimbang.
"Aku ingin meminta seorang suami yang membantu aku dalam mengelola bisnis dan perusahaan yang kami miliki. Apakah kamu sanggup untuk meninggalkan perusahaan milik kedua orang tua kamu?",tanya Olivia penuh harap. "Karena yang aku tahu, setelah menikah seorang istri akan mengikuti seorang suami kemanapun suami ajak. Tapi, kali ini beda Sat. Aku yang mengajak kamu untuk tetap tinggal disini. Apakah kamu mampu?",tanya Olivia.
Diam. Satria hanya diam seribu bahasa. Ia tahu sekarang ia berhadapan dengan siapa. Seorang wanita pembisnis dan sukses di kancah dunia. Ia hanya memandang kedua mata Olivia yang sedang berkaca-kaca. Sedangkan Olivia memandang Satria penuh harap supaya Satria mengerti kondisinya saat ini.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
...Terimakasih...
NB :
...SELAMAT TAHUN BARU 2023...
...SEMOGA MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK LAGI...
...AAMIIN........
__ADS_1