
Happy Reading.
***
Bella sudah berada di dalam ruang kamar rawat. Ia bercerita bahwa seseorang yang mereka temui dimalam hari itu tadi berada di sekitar kampus. Wajahnya terluka sangat parah. "Serius dia tidak kesini?",tanya Bella.
"Tidak Bel. Dia tidak kesini. Mungkin kamu salah lihat kali",jawab El sambil menatap mata Bella.
"Aku tidak salah lihat El. Serius. Sumpah, aku lihat dia sama laki-laki yang keluar dari mobil itu. Mungkin laki-laki itu sopirnya!",ungkap Bella menjelaskan.
Tidak mungkin Sam kesini. Darimana dia tahu kalau aku sedang dirawat. Tapi, dari pengakuan Bella, Bella tidak mungkin salah lihat. Karena Bella sudah pernah melihat dan berkenalan sama dia pada waktu itu! pikir El.
"Hai... kok malah melamun sih?",ucap Bella membuyarkan lamunan El.
El mengusapkan wajahnya pelan. Ia memikirkan apa yang dijelaskan oleh Bella tadi. "Maaf-maaf Bel, aku tidak tahu!".
"Aku sangat yakin kalau tadi dia kesini. Dan aku sangat yakin dia masih peduli sama kamu!",oceh Bella.
"Tapi dia tidak kesini Bel. Mungkin, dia menemui seseorang di kampus ini".
Bella menggelengkan kepalanya tidak yakin. "Dia orang sibuk El. Tidak mungkin kalau tidak ada hal yang sangat mendesak dikampus ini. Dia mempunyai banyak anak buah. Dia bisa mengutus anak buahnya untuk menangani kasus dikampus ini, tidak perlu dia datang. Semua pasti beres!",jelas Bella panjang lebar.
Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Bella. Dia mempunyai anak buah dan sang sekertaris yang pintarnya luar biasa. Tapi, buat apa dia datang ke kampus ini? pikir El yang mengusap wajahnya pelan.
"Aku yakin, kalau dia ingin menemui kamu. Dia ingin mengetahui kabar kamu, tapi dia tidak tahu caranya bagaimana. Dan dia tidak bisa mengutus seseorang untuk melihat kondisi kamu. Makanya, dia langsung turun tangan sendiri!",lanjut Bella yang selalu mencari pembenarannya sendiri.
Lalu El mengingat-ingat kejadian ia melihat kearah pintu. Dibawah pintu ada sebuah bayangan yang hanya diam didepan pintu. Ia sangat penasaran tentang hal itu. Tapi, ia bingung harus bertanya kepada siapa. "Tadi sepertinya ada seseorang berdiri didepan pintu. Tapi, entah itu siapa aku kurang tahu. Dia berdiri didepan pintu lama",jelas El.
Bella langsung melihat kearah pintu. Ya, di bawah pintu ada sebuah celah.
"Mungkin Dokter David",sahut El mencari yang pasti.
"Ngapain juga dokter David berdiri didepan pintu. Diakan dokter yang bisa keluar masuk keruangan kamu!",ungkap Bella.
Lalu Saga masuk kedalam ruangan. "Eh...ada Bella",sapa Saga.
El segera memberikan sebuah kode supaya Bella tidak berbicara lagi tentang Sam.
"Iya Kak",jawab Bella tersenyum. "Dari mana Kak?".
"Dari ruangan dokter David. Nanti sebentar lagi juga kesini",jawab Saga. "Sudah habis makannya?",tanya Saga kepada El.
"Sudah kok Kak. Kata dokter David bagaimana Kak?. Kapan boleh pulangnya?",tanya El yang sudah tidak sabar ingin keluar dari ruangan ini.
"Nanti sebentar lagi juga kesini kok. Tunggu ya!".
Beberapa menit David masuk untuk memeriksa keadaan El. Ia menerangkan keadaan El sudah lumayan membaik dan untuk malam ini El masih harus istirahat total di ruang rawat.
"Terimakasih ya Dok?",ucap El kepada sang dokter.
"Sama-sama El. Ini semua sudah menjadi tugas saya",jawab David dengan tampannya.
"Dok, saya mau tanya, dokter hari ini sudah periksa El berapa kali selama El sudah sadar?",tanya Bella yang begitu penasaran tentang cerita dari El.
"Tadi sudah kesini, tapi El masih istirahat. Ya sudah, saya batalkan untuk membangunkan El. Saya kembali lagi ke ruangan saya",jelas David panjang lebar. "Ada apa ya Bel?",tanya David penasaran.
"Tidak ada apa-apa kok Dok. Cuma mau tanya aja. Terimakasih Dok sebelumnya!",sahut Bella.
"Iya sama-sama. Ya sudah, saya kembali keruangan saya ya!",pamit David yang pergi dari ruangan El.
"Sebenarnya ada apa sih Bel, kamu tanya seperti itu sama dokter David?",tanya Saga curiga.
Mereka berdua tercengang atas pertanyaan dari Saga. Bella memandang El mencari bantuan.
"Tidak ada apa-apa kok Kak. Hanya ingin tahu saja, apakah disini sama rumah sakit sama pelayanannya",jawab Bella mencari alasan yang masuk akal.
__ADS_1
Apa jangan-jangan Bella tahu kalau Sam kesini tadi? pikir Saga memandang Bella penuh selidik.
"Bella itu tipe orangnya ingin tahu Kak. Dia selalu tanya hal-hal yang tidak penting. Dan itulah keistimewa dari Bella!",jelas El mencari alasan supaya Saga tidak curiga.
Bella tersenyum canggung melihat mimik wajah dari Saga..
"Ok. Ya sudah, aku keluar dulu ya?",pamit Saga begitu saja.
Lega. Mereka berdua bernafas dengan lega.
"Untung saja Kak Saga tidak curiga El!",kata Bella yang sudah ketakutan setengah mati.
"Iya. Aku berharap juga begitu. Jadi benar apa yang kamu lihat itu dialah Sam. Karena, aku mempunyai firasat seperti itu!",ungkap El pada dirinya sendiri. "Mungkin dia ingin melihatku, tapi dia ragu. Aku tahu betul bagaimana sifatnya!",lanjut El menjelaskan pada Bella.
Bella memegang tangan El memberikan sebuah kekuatan. "Aku yakin, kamu pasti kuat!",kata Bella.
***
Malam Hari.
El sedang duduk diranjang. Ia sedang melakukan videa call dengan Sella.
"Kalau aku jadi kamu, sudah aku gampar tuh nenek lampir!",kesal Sella.
"Tidak semudah itu Sel. Aku tidak mau menyakiti siapapun. Aku hanya tidak tega melihat Sam sampai babak belur seperti itu!",jelas El.
"Itukan kesalahannya dia sendiri. Dia tidak pada pendiriannya. Kalau dia benar-benar ingin hubungannya tetap berjalan dengan lancar, seharusnya dia segera menikahi kamu, El. Bukan malah mencari pelampiasan dengan orang lain",ungkap Sella.
"Aku yang menolaknya, Sel. Aku tidak mau menjalani hubungan tanpa sebuah restu dari orang tua. Karena, bunda dan ayah tidak menyetujuinya. Dan itu membuat aku menjauh dari Sam",ungkap El.
"Kisah cinta kalian memang rumit ya. Dulu kamu sama Edwan dengan sebuah ancaman. Dony yang hanya cinta monyet dan Sam, tidak mendapat sebuah restu. Mungkin, kamu harus membuka hati kamu untuk orang lain. Misalnya, Kak Saga gitu!",cicit Sella.
"Memang kak Saga sangat baik banget sama aku. Tapi, aku belum bisa membuka hatiku untuk kak Saga. Entah kenapa itu!".
El hanya bisa diam. Mencermati perkataan sang sahabat.
"Kurang apa lagi sih dia. Tampan, mapan, baik pakai banget dan yang paling penting peduli sama kamu. Buktinya dia rela di samping kamu terus, walaupun dia selalu menomerkan dua pekerjaannya. Bukankah itu tanda yang bagus!",jelas Sella mencari pembenaran.
"Iya sih. Tapi, apakah dia mau sama aku?".
"Dan bukankah dia suka sama kamu dari dulu",sahut Sella menang.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan pintu terdengar. El segera memberikan isyarat kepada Sella supaya diam. "Masuk!".
Tamara masuk dengan membawa bingkisan paper bag.
"Mbak Tamara!",seru El.
"Maaf ya baru bisa jenguk?",ucap Tamara memeluk erat El.
"Tidak apa-apa kok Mbak. Aku cuma demam aja kok!",jelas El. "Bentar ya Mbak?",lanjut El. Ia segera mengakhiri pembicaraan dengan Sella.
"Mbak kaget loh, Pak Saga bilang sama Mbak, kamu masuk ke klinik",jelas Tamara.
"Aku sudah menebak dari tadi, kalau Kak Saga yang bilang sama Mbak. Maaf ya mbak, sudah merepotkan Mbak".
"Tidak apa-apa kok, El".
"Oh ya Mbak, bagaimana menjadi sekertaris dari Kak Saga?",tanya El bersemangat mendengar cerita dari Tamara.
"Mbak senang banget, El. Pak Saga ternyata tidak sesanggar kelihatannya. Dia baik, pintar, tepat waktu dan yang pasti dia selalu membantu aku bila aku ada kesulitan",puji Tamara sambil membayangkan bosnya itu.
"Syukur deh mbak, kalau mbak bahagia di sana".
__ADS_1
"Sepertinya aku jatuh hati sama dia, El?",ungkap Tamara berbunga-bunga.
Deg. El terkejut dengan pengakuan dari Tamara. Ia tidak menyangka bahwa Tamara dengan mudahnya bisa jatuh hati kepada Saga, lalu kenapa hatinya tidak bisa seperti itu? pikir El.
"Kok malah ngelamun sih?",ucap Tamara melambaikan tangannya didepan wajah El.
"Maaf mbak!",sahut El cepat.
"Tapi, kamu tidak suka kan sama Pak Saga?",tanya Tamara penasaran tentang isi hati El.
El tersenyum manis. "Kalau aku suka sama dia, kenapa dari dulu aku tidak menerimanya mbak. Mbak tenang saja, Kak Saga sudah aku anggap seperti kakakku sendiri kok mbak".
Lega. Hati Tamara menghangatkan sepertinya El tidak ada perasaan apa-apa dengan bosnya. "Syukur deh kalau gitu".
Saga dan Olivia masuk kedalam ruang rawat, sebelumnya mereka mengetuk pintu dulu.
"Tebak, aku kesini bawa siapa?",tanya Saga yang menyuruh kakaknya untuk sembunyi dulu.
"Siapa?",tanya El balik.
Olivia keluar dari persembunyiannya. "Trataaaaa!",teriak Saga bahagia.
"Kakak Oliv",cicit El bahagia. Ia lalu memeluk Olivia dalam pelukannya. "Aku kangen banget sama Kakak!",lirih El.
"Kakak juga kangen banget sama kamu, El",ucap Olivia yang sudah melepaskan pelukannya. "Ternyata kamu bisa sakit juga ya. Kirain seorang pendekar bisa tahan banting!",goda Olivia.
"Aku hanya manusia biasa Kak. Bukan seorang power ranger!",jawab El tertawa.
Tamara melihat keakraban El dan Olivia seperti adik dan kakak yang lama tak berjumpa. Dan ia tidak lupa memandang Saga yang ada disampingnya.
"Kakak ke sini kapan?. Kenapa Kak Saga tidak memberitahuku?",tanya El yang kesal melihat Saga yang sedang tersenyum bahagia karena berhasil mempermainkan perasaannya.
"Tadi malam El. Soalnya sekalian mau ada metting dengan perusahaan XXX",jawab Olivia. "Loh ini bukan Tamara sekertaris dari Samuel?",tanya Olivia.
"Iya Bu. Senang bisa bertemu dengan Ibu",sapa Tamara dengan sopan.
"Tebak Kak, sekarang Tamara kerja dimana?",ucap Saga bertanya kepada kakaknya.
"Di perusahaan XXX yang dipimpin oleh Samuel bukan?",jawab Olivia.
Saga menggelengkan kepalanya. "Dia sudah dipecat dari perusahaan itu. Dan sekarang dia menjadi sekertarisku Kak!",jawab Saga senang.
"Serius?",tanya Olivia tidak percaya.
"Iya Kak. Sekarang Kak Saga sudah mempunyai sekertaris yang cantik dan pintar!",goda El senang.
"Wah...kakak sudah ketinggalan berita ya ini!",kata Olivia cemburu melihat kedekatan Saga dan El yang semakin lama semakin mesra.
"Itu semua berkat El, kak. Yang sudah memperkenalkan aku sama Tamara!",jawab Saga yang tidak berkedip melihat mata El yang begitu indah.
"Karena El tahu apa yang terbaik buat kamu. Dia itu seperti Kakak yang selalu selektif melihat orang dari sudut pandang mana saja!".
"Apaan sih Kak. Biasa saja Kak!",sahut El tidak terima atas pujian yang terlalu berlebihan dari Olivia.
"Betulkan!. Andai kalian berdua itu sepasang kekasih, pasti Kakak akan bahagia banget mempunyai calon adik ipar seperti El!",ungkap Olivia merangkul El dengan penuh kasih sayang.
El dan Saga saling memandang satu sama lain. Senyum mereka mengembang dengan sempurna.
Apa, jadi Bu Olivia berharap kalau El adalah kekasih Pak Saga?. Lalu apa dayaku yang hanya seorang sekertaris yang mencintai pemimpin yang bernama Pak Saga. Apa aku terlalu berharap lebih sama beliau? batin Tamara merana melihat Saga dan El saling memandang satu sama lain.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1