
Happy Reading.
***
Seseorang itu membuka kacamatanya.
Dan.....
El melihat dengan mata yang tidak berkedip. Ia melongo tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Kenapa harus dia?.
Seseorang laki-laki tersenyum manis di hadapan para karyawan. Ia memberi kacamata kepada Pak Ardi, dengan sigap Pak Ardi menangkapnya dengan sempurna. Dialah Edwan Nata Wijaya.
Kenapa harus kamu yang menjadi pimpinan sementara waktu ini?. Aku takut, takut kalau kamu akan membuat perusahaan ini hancur? pikir El yang tidak mau Sam mengalami masalah besar, setelah dia sembuh dari sakitnya.
"Halo semuanya!. Kalian pasti sudah mengenal saya bukan?",sapa Edwan dengan lagak yang sombong.
"Belum Pak. Bisa bapak memperkenalkan diri bapak sebelumnya!",sahut salah satu karyawan perusahaan.
"Ok. Kalau kalian belum kenal saya sebelumnya,saya bisa memaklumi. Tetapi, dari salah satu dari kalian, sudah mengenal saya!",kata Edwan melihat El dengan senyuman penuh tanya.
Semua orang melihat satu sama lain. Siapakah yang mengenal pimpinan sementara itu?.
El merasa di sudutkan oleh Edwan. Ia lebih baik diam daripada menanggapi orang yang tidak penting dalam hidupnya. Maksudnya apa coba? batin El enek melihat kelakuan Edwan.
"El, itu bukankah tamu yang di seret oleh Ibu Violla dengan para pengawalnya itu?",bisik Tamara.
El masih berdiam diri melihat Edwan yang masih memandangi dirinya itu.
"Terus ngapain laki-laki itu yang menjadi pimpinan sementara di perusahaan ini?",lanjut Tamara yang berbisik di dekat El.
"Aku tidak tahu mbak, maksud dari orang itu. Lebih baik kita ke depannya lebih hati-hati dari orang yang ada di hadapan kita ini!",bisik El yang kesal melihat Edwan menjadi pemegang pimpinan sementara.
"Bukannya kamu kenal sama orang itu?",bisik Tamara.
"Saya mengenalnya mbak. Dan dia bisa menjadi bisa yang sangat berbahaya. Makanya, kita harus lebih hati-hati ke depannya. Kalau mbak tidak mau posisi mbak di gantikan dengan orang lain!",bisik El memberitahu kebenarannya.
"Serius kamu, El?. Ih, kok aku jadi takut ya!",sahut Tamara ketakutan.
"Pura-pura tidak tahu lebih baik, daripada kita harus bersikap menjauhi mbak!",pesan El. Lalu El pergi meninggalkan ruangan.
"Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini!",bentak Edwan dengan suara yang sangat tinggi.
Sttt. El berhenti seketika. Ia menghela nafas pendek. Apa yang sedang dia rencanakan?. Huft. El menengok kebelakang melihat Edwan dengan senyum menyeringai. "Saya mau ke toilet, bapak mau ikut?",kata El dengan tegas.
Semua para karyawan melongo tidak percaya. Bisa-bisanya anak kkn bicara seperti itu kepada pimpinan CEO walaupun itu untuk sementara, paling tidak kita harus menghormatinya.
Edwan kesal mendengar perkataan El yang tidak ada sopan dan santunnya. "Tidak boleh ada yang keluar sebelum saya membubarkan kalian!. Kalau kalian melanggarnya, saya tidak segan-segan langsung memecat kalian!. Paham!",bentak Edwan dengan tegas.
"Paham Pak!",jawab seluruh karyawan perusahaan.
Huft. El merasa jengah melihat Edwan seperti itu. Seperti merasa berkuasa kepada perusahaan ini. Pimpinan CEO yang sesungguhnya aja tingkahnya tidak seperti itu.
"Ada keberatan El?",ucap Edwan penuh dengan ancaman.
Semua mata para karyawan melihat El, yang sudah mematung di sana. Mereka bertanya-tanya mengapa seorang CEO bisa kenal dengan anak magang.
El diam membisu. Ia tahu akan ada masalah besar kedepannya. Ini benar-benar membuatnya frustasi kkn di perusahaan ini.
__ADS_1
"Oh ya, saya sampai lupa memperkenalkan diri saya. Perkenalkan saya Edwan Nata Wijaya. Saya anak sulung dari keluarga Dirga Wijaya. Saya akan memimpin CEO untuk sementara waktu, karena adik saya Samuel Nata Wijaya sedang koma di rumah sakit. Saya mohon kerja samanya dari kalian semua. Terimakasih!",kata Edwan dengan tegas dan sopan.
El menatap Edwan dengan tajam. Aku tahu, pasti kamu akan melakukan hal licik lagi di perusahaan ini?. Aku tidak akan membiarkan perusahaan ini hancur di tangan kamu, Edwan Nata Wijaya! batin El marah.
Para karyawan bertepuk tangan atas sambutan pimpinan CEO sementara.
"Oh ya, saya lupa. Kalau ada sesuatu hal yang kalian ingin tanyakan mengenai saya. Langsung saja kalian tanyakan kepada Ellena!",kata Edwan dengan senyum menyeringai dan pergi.
Para karyawan menatap El penuh dengan tatapan tanda tanya.
El merasa risih di tatap seperti tatapan ingin membunuh tersangka. Ia kemudian pergi meninggalkan ruangan aula itu.
***
El masih memandang layar monitor. Pekerjaan ini lumayan sangat banyak. Karena ia di tugaskan untuk membuat laporan bulan ini. Ia sebenarnya belum mengerti dan paham masalah keuangan, tetapi ia selalu di paksa oleh CEO baru itu tak lain tak bukan adalah Edwan.
"Maaf ya El, sebenarnya ini bukan tugas kamu. Tapi gara-gara Pak Edwan kamu di suruh mengerjakan banyak seperti ini!",kata Tamara merasa kasihan melihat El yang masih fokus dengan layar laptop.
"Tidak apa-apa kok mbak. Saya lumayan bisa paham, tetapi nanti saya minta tolong di cek ya mbak?. Saya takut nanti kalau ada yang salah!",jawab El yang merasa di tekan oleh Edwan.
"Iya nanti aku bantu kok!",sahut Tamara. "Sebenarnya ada hubungan apa sih, kamu sama Pak Edwan?. Kayaknya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari semua orang?",tanya Tamara penuh selidik.
"Tidak ada apa-apa kok mbak. Mungkin dia mau balas dendam sama saya. Ini buktinya tugas sebanyak ini harus selesai hari ini juga. Maksudnya apa coba!",kata El kesal.
"Balas dendam. Ngapain dia balas dendam sama kamu?".
"Masa lalu mbak",jawab El pasrah.
"Aku heran, kenapa kamu bisa mengenal orang yang sangat terkenal dan sukses di negara ini?. Dan saya tidak menyangka loh kalau Pak Edwan itu adalah Kakak dari Pak Samuel. Karena, mereka sangat jauh berbeda sifatnya!",kata Tamara jujur.
"Maksud mbak?".
"Mereka sangat jauh berbeda mbak. Sam yang selalu baik terhadap semua orang tetapi, Kakaknya, mbak lihat sendiri kan!",sahut El yang mengingat kebaikan Sam.
"Iya sih. Kasihan ya Pak Samuel harus mengalami kecelakaan yang naas ini. Kamu sudah menjenguknya?",tanya Tamara.
"Sudah mbak, setiap hari saya selalu menyempatkan untuk melihat Sam di rumah sakit. Keadaannya lumayan membaik. Tetapi, ia belum sadarkan diri",kata El ikut merasakan sesak di dalam dadanya.
"Semoga Pak Samuel cepat sembuh ya, El?. Aku kasihan sama beliau!",kata Tamara sedih.
"Aamiin Ya Allah. Terimakasih ya mbak atas doanya, semoga Allah kabulkan doa kita!",sahut El mendoakan kesembuhan Sam.
"Aamiin",doa Tamara.
Seseorang wanita baru keluar dari lift. Ia berjalan berlenggak-lenggok dengan pakaian yang sangat minim.
Tamara melihat wanita itu kaget. Siapakah gerangan ini?. Kenapa sangat berani berpakaian minim di perusahaan ini? batin Tamara melihat wanita itu sudah di hadapannya.
"Permisi mbak, dimana ruangan CEO nya?",tanya Chika sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Maaf mbak siapa ya?. Sudah buat janji atau belum?",tanya Tamara sopan walaupun hatinya dongkol.
"Oh, tanpa membuat janji saya pun akan di nomer satukan mbak!",sahut Chika sombong.
El yang mendengar suara itu langsung menoleh ke depan meja. Chika.
Chika yang melihat El kaget. Ia syok melihat El ada di perusahaan ini. "Kamu ngapain di sini?",tanya Chika sarkas.
El tersenyum miring jengah. "Itu bukan urusan kamu!",sahut El tidak mau kalah.
__ADS_1
"Aku bilangin sama Edwan biar kamu di pecat!. Kamu tidak punya sopan dan santun!",kata Chika marah.
"Bukankah terbalik ya mbak?. Mbak yang tidak punya sopan dan santun!",sahut Tamara kesal dan tidak takut.
"Kamu!",bentak Chika semaunya sambil melayangkan tangannya.
"Chika!. Cukup!",bentak El langsung berdiri tidak terima. "Aku tahu kamu mau menemui dia, tapi bukan berarti kamu seenaknya ada di perusahaan ini. Seharusnya kamu sudah tahu itu. Ini bukan perusahaan dia. Ini perusahaan adiknya!",ucap El marah.
"Kamu berani sama saya?",tantang Chika.
"Kenapa saya tidak berani!. Bukankah kamu yang tidak berani menghadapi Ibu Violla dan berterus terang tentang hubungan kalian!. Dan saya curiga, kenapa Ibu Violla mempercayai suami tercinta kamu!",lanjut El sarkas.
"Kamu?",ucap Chika marah. Ia tidak terima kalau El menginjakan harga diri pacarnya itu. "Kenapa kamu membongkar semuanya di sini?. Kamu mau mempermalukan saya?",lanjut Chika menahan amarahnya.
"Saya tidak akan membongkar kebusukan kamu maupun pacar kamu. Tapi, aku tidak akan tinggal diam. Kalau Edwan bertingkat semaunya!",ancam El.
"Siapa kamu?. Kamu bukan lagi tunangan Edwan apa lagi yang kamu banggakan dari diri kamu itu?. Dan bukankah kamu sudah tidak berharga lagi dimata Sam?. Dan tante Violla sudah bilang sama saya, kalau beliau sudah membatalkan tunangan kamu sama Sam!",ejek Chika menang.
Tamara yang ada di samping El diam seribu bahasa. Ia tidak percaya bahwa El adalah tunangannya pimpinan perusahaan ini.
"Saya paham, tante Violla sudah membatalkan pertunangan ku. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya sama saya. Karena, saya juga tidak mau bersaudara sama kamu!",sahut El.
Edwan keluar dari ruangannya. Dia melihat Chika sedang berargumentasi dengan El. Mantan tunangannya itu. "Sayang!",panggil Edwan mesra.
Mereka bertiga langsung menoleh kesumber suara.
Chika merasa senang dan bahagia melihat sang pacar memakai pakaian yang sangat rapi. "Maaf ya, aku sudah di panggil sama Pak BOS!",kata Chika penuh penjabaran. Ia kemudian menghampiri Edwan dan memeluknya dengan mesra.
"Jadi, itu masalahnya. Kamu adalah tunangan Pak Samuel?",ucap Tamara tidak percaya. "Dan kamu juga adalah mantan tunangan dari Pak Edwan. Wah, sungguh-sungguh tidak bisa di percaya?",ucap Tamara sangat-sangat tidak percaya.
El dan Tamara melihat Chika dan Edwan bermesra ria. Mereka membuat El dan Tamara merasa jijik melihat tingkah laku mereka berdua.
Kring... Kring.... Kring....
Tamara segera mengangkat telepon kantor. Ia sedang berbicara dengan seseorang.
"Baik Bu, kita akan segera datang ke tempat tujuan!",jawab Tamara lalu ia menutup telepon dan meletakkan gagang telepon.
"Ada apa mbak?",tanya El penasaran, karena ia sudah bisa menebak raut wajah Tamara.
"Bu Olivia minta kita meeting lagi. Beliau sudah membuat janji di sebuah restoran. Bagaimana ini?",kata Tamara bingung.
"Ya bilang aja sama Big Bos yang baru. Kenyataannya kan seperti itu!",jawab El santai.
"Ya udah, aku tanya dulu ya ke dalam!",kata Tamara yang sudah beranjak pergi ke ruangan CEO.
El melanjutkan lagi mengerjakan tugas bulan ini. Ia harus lebih fokus lagi supaya tugasnya cepat terselesaikan.
Beberapa menit kemudian Tamara datang setelah melaporkan kalau hari ini ada metting dadakan. "Gawat El, gawat!",kata Tamara khawatir.
El langsung menghentikan kegiatannya. "Ada apa sih mbak?",tanya El.
"Yang berangkat metting hari ini adalah kamu!",kata Tamara panik.
"Saya. Kenapa harus saya?",sahut El tidak percaya. Ia syok mendengar bahwa hari ini akan berangkat metting sama mantan tunangannya itu. Bagaimana ini, kenapa harus aku sih?.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.