
Happy Reading.
***
Tetapi para pengawal masih tidak membuka matanya. Edwan merasa ada yang mengganjal dengan semua ini. Ia lalu melihat pintu ruangan VVIP itu penuh curiga.
Ardi yang melihat sorot mata Edwan yang tertuju ke ruangan VVIP merasa khawatir. Ia mengkhawatirkan keberadaan El yang masih di dalam sana.
Edwan langsung meraih handel pintu dan membukanya dengan keras. Ia melihat Sam yang tertidur pulas di ranjang. Ia melihat kesekeliling ruangan, kosong. Ia melangkah kan kakinya mendekati ranjang Sam.
Ardi bergegas untuk mengikuti kemana langkah Edwan berada. Ia tidak mau terjadi sesuatu sama tuannya maupun El. Ia melihat keseluruhan ruangan. Kosong. Dimana mbak El sembunyi? batin Ardi bertanya-tanya.
Edwan melangkah dengan cepat menuju kamar mandi. Ia berharap menemukan sesuatu di sana. Tetapi, kosong. Tidak ada apa-apa di sana. Ia segera bertanya kepada Ardi, apa yang sedang terjadi di sini. "Apa ada yang sedang kamu sembunyikan Ardi!",ucap Edwan curiga.
"Memangnya apa yang sedang saya sembunyikan Pak!. Pak Sam buktinya sedang tertidur lelap. Apakah ada sesuatu yang dicurigai?",kata Ardi bertanya balik.
"Lalu kenapa para pengawal tertidur pulas. Saya curiga, apakah mereka meminum minuman yang diberikan obat tidur!",seru Edwan menebak.
"Saya tidak tahu Pak. Saya tadi sampai sini, mereka sudah tidur!. Saya juga sudah melacak kedalam, bahwa tidak terjadi sesuatu di ruangan ini. Maka dari itu, saya menunggu di depan ruangan ini!",jelas Ardi berbohong.
Edwan menatap Ardi seperti ingin membunuh. Ia tahu bahwa Ardi sedang berbohong kepadanya. Ia kemudian menelepon seseorang. "Segera cek cctv, SEKARANG!",perintah Edwan yang masih menatap tajam Ardi.
Ardi tidak berkutik, ia memilih untuk diam. Karena, ia tahu mana yang benar mana yang buruk.
"Apa kamu membiarkan seorang Ellena masuk kesini?",tanya Edwan tegas.
"Sesuai perintah Nyonya dan tuan, mbak Ellena tidak dibolehkan masuk kesini Pak!",jawab Ardi tenang.
"Bagus!. Saya tidak mau kalau Sam berhubungan lagi sama perempuan itu!. Saya tidak akan membiarkan mereka bersatu!",ucap Edwan sambil tangannya mengepal dengan kuat.
Seseorang yang sedang sembunyi menutup mulutnya tidak percaya. Ia sangat syok apa yang dikatakan oleh Edwan.
"Baik Pak!",jawab Ardi. Kamu tidak akan bisa membuat mereka berdua terpisahkan!. Karena mereka berdua ditakdirkan untuk bersatu! batin Ardi.
Edwan melangkahkan kaki menghampiri Ardi. "Awas saja, kalau kamu berbohong sama saya!. Saya tidak akan tinggal diam, karena saya tahu, kamu berpihak pada Samuel!",kata Edwan yang berbisik di daun telinga Ardi.
Ardi mendengar apa yang di ucapkan Edwan. Ini sungguh-sungguh keterlaluan. Edwan tidak berhak atas harta yang dimiliki oleh Sam. Dasar manusia yang otaknya hanya uang! batin Ardi kesal.
Edwan lalu pergi meninggalkan ruangan VVIP. Ia ingin melihat bukti cctv yang jelas-jelas ada buktinya.
Ardi menekan tombol ponselnya, mencoba menghubungi seseorang. "Bagaimana?. Sudah kamu bereskan?",tanya Ardi.
"Sudah Pak".
"Ok. Nanti saya akan transfer uangnya!. Terimakasih sebelumnya!",ucap Ardi yang tidak lupa mengucapkan terimakasih. Ia segera menutup ponselnya dan mengingat sesuatu. "Mbak El!",panggil Ardi beberapa kali. "Saya yakin mbak El masih ada disini?",kata Ardi.
El keluar dari tirai yang di dekat kursi sofa. Ia bersembunyi disana.
Ardi segera membantu El keluar dari sana. "Mbak tidak apa-apa?. Saya khawatir mbak?",kata Ardi.
El terduduk berdiam diri. Ia masih mengingat apa yang dikatakan oleh Edwan tadi. "Saya tidak apa-apa Pak. Saya hanya kecewa pada diri saya sendiri!",sahut El.
"Kecewa bagaimana mbak?",tanya Ardi bingung.
"Saya kecewa, kenapa saya harus datang kemari dan mendengarkan apa yang kalian bicarakan. Saya tahu, saya hanya dari kalangan orang biasa. Tapi, apakah salah, saya mencintai seseorang itu?",kata El meneteskan air matanya. Ia tidak kuasa menahan rasa sakit di dalam dadanya.
"Mbak El, cepat atau lambat, Pak Samuel akan segera sembuh. Saya yakin itu. Maka dari itu, saya minta tolong sama mbak El, supaya bisa membantu pemulihan Pak Samuel!",kata Ardi.
__ADS_1
"Mana mungkin saya bisa Pak!. Sekarang, Bapak lihat sendiri, berapa banyak pengawal yang ada di depan sana!. Saya harus melewati semua itu Pak!. Mungkin satu, dua atau tiga kali saya bisa melewati rintangan itu!. Tapi, apakah seterusnya saya akan bisa melewatinya!",ucap El marah dengan segala situasi yang ada.
"Saya tahu mbak, begitu banyak cobaan yang mbak El lalui. Tapi, Pak Sam juga sama melalui setiap rintangan itu. Dan akhirnya, Pak Samuel memberanikan diri untuk melamar mbak El!. Tolong mbak, tolong!. Ini semua demi kebaikan hubungan kalian!",sahut Ardi.
"Saya tidak bisa berjanji Pak. Saya akan mencoba. Bila saya gagal, tolong jangan tertawakan saya!",jawab El serius. Ia lalu mendekati ranjang Sam. Ia membelai raambut Sam dengan tulus. "Cepat sembuh ya Sam, aku akan membantu kamu melewati semua rintangan itu!",lirih El meneteskan air mata.
Ardi yang melihat itu terharu. Ia tidak menyangka begitu besar cinta El terhadap sang majikannya itu.
Sam yang menutup matanya ikut merasakan kesedihannya yang mendalam. Siapakah perempuan cantik ini?.
"Aku pamit dulu ya Sam!. Besok malam, aku akan datang lagi!",pamit El. Ia sebenarnya tidak mau meninggalkan Sam sendiri. "Assalamualaikum Pak Ardi!",lanjut berpamitan.
"Walaikumsalam mbak El. Saya antar pulang ya mbak?",tawar Ardi.
"Tidak usah Pak. Saya naik taksi saja!. Terimakasih sebelumnya!",jawab El.
"Baik mbak. Saya akan antarkan ke depan!",kata Ardi. Ia membukakan pintu buat El.
El masih memegang kepala Sam dengan lembut. "Aku pamit dulu ya, Sam!",lirih El. Ia lalu segera melepaskan tangannya dari kepala Sam dengan sangat pelan. Tetapi sebelum tangan El benar-benar terlepas, ada yang memegang tangan El dengan sigap.
El tercengang dengan pergerakan secara tiba-tiba.
"Kamu mau kemana?",tanya Sam dengan mata yang sudah terbuka dengan sempurna.
"Astaga!",ucap El kaget setengah mati. "Kenapa kamu ngagetin aku!",kesal El.
Ardi yang mendengar itu langsung menghampiri sang majikan. "Pak Sam!".
Ardi dan El saling pandang memandang. Mereka bingung bagaimana menjelaskan tentang percakapan tadi.
"Maaf Pak Sam, kalau mengganggu istirahat Bapak!",ucap Ardi tidak enak.
Ardi melihat El mencari jawaban di sana.
El mengangguk kepalanya pelan.
***
Flashback on.
Di sisi lain, El yang ada di dalam mendengar teriakan dan cacian dari depan ruangan ini. Gawat, ada yang berkunjung malam ini! batin El panik. "Aku harus mencari tempat sembunyi, sebelumnya mereka menemukanku!", pikir El yang berjalan mondar mandir.
Sam terbangun mendengar suara keributan dari depan kamarnya. "Ada apa di depan?. Kenapa ada orang marah-marah di depan kamarku!",ucap Sam yang melihat El berjalan mondar-mandir kebingungan. "Kamu ngapain jalan kesana dan kemari!. Buat pusing aja!",kesal Sam.
"Aku harus segera keluar dari ruangan ini!. Aku takut, mereka akan mengusirku!",jawab El cemas.
"Ngapain mereka mengusir kamu!. Bukankah kamu perawat ku!",ucap Sam polos.
"Ceritanya panjang. Aku harus segera keluar dari ruangan ini!. Aku gak mau terjadi sesuatu di sini!",panik El.
"Gak ada jalan keluar. Semua jalan buntu!. Apa kamu mau loncat dari lantai sini?",kata Sam dingin.
El berjalan ke arah jendela. Ia melihat ke bawah. Ia benar, ruangan ini terlalu tinggi. Tidak mungkin ia akan meloncat dari gedung ini.
"Kamu mau ngapain?. Kamu mau loncat!",ucap Sam panik.
"Aku gak senekat itu!. Kamu mau kalau aku loncat dari gedung ini?. Dan kamu mau menanggung biaya kalau aku kenapa-kenapa?",ucap El gemas.
__ADS_1
"Kenapa aku yang harus menanggung biaya kamu!. Memang kamu siapa!",sahut Sam tidak suka.
"Ih... Nyebelin!",kesal El. Dia yang memberi ide, idenya yang tidak mau tanggung jawab!.
"Kamu sembunyi aja di balik tirai itu!. Mereka tidak akan tahu, karena kan ketutup sama kursi sofa itu!",ide Sam memberi jalan.
El tersenyum senang. Lalu ia segera bersembunyi di balik tirai itu.
Sam langsung membenarkan posisi tidur dan selimutnya, supaya tidak ada yang curiga.
Flashback off.
***
"Bapak sudah mengingat mbak El?",tanya Ardi berharap.
"Saya tidak mengingatnya. Tapi, setelah laki-laki yang keluar tadi, membicarakan tentang Ellena. Dan bapak Ardi memanggil wanita ini dengan mbak El, saya yakin kalau dia adalah Ellena!",jawab Sam melihat kedua mata El mencari kebenaran.
"Sam!",lirih El bahagia. Karena, Sam masih peka terhadap nama Ellena.
"Siapa kamu sebenarnya?. Kenapa kamu berbohong sama saya, tadi?",tanya Sam yang begitu penasaran.
"Maafkan aku Sam?. Aku gak bermaksud untuk membohongi kamu!",jawab El.
"Pak Sam, pak Sam sebaiknya istirahat!. Ini sudah terlalu malam Pak!",kata Ardi mencoba mengalihkan perhatian Sam.
"Tolong sekarang, Pak Ardi keluar dari ruangan saya!",bentak Sam marah.
El menundukkan kepala, karena merasa bersalah telah membohongi Sam.
"Tapi Pak?",sela Ardi.
"Keluar!",bentak Sam.
Ardi langsung keluar dari ruangan Sam. Ia sebenarnya khawatir tentang keberadaan El di sini.
"Sebenarnya kamu siapa?. Kenapa orang itu mencari kamu?",tanya Sam penuh selidik. "Dan siapakah laki-laki tadi?"lanjutnya.
"Laki-laki tadi ialah Kakak kamu. Kakak kandung kamu. Kamu dua bersaudara sama beliau".
"Lalu siapa kamu?. Kenapa kakakku sendiri bilang kalau Ellena dan Samuel tidak bisa bersatu?. Dan apakah kamu El dan aku Sam?",tanya Sam bingung. Kepalanya seakan mau pecah, memikirkan perkataan kakaknya itu.
"Sam, kamu tidak boleh memaksa ingatan kamu. Kamu harus pelan-pelan!",ucap El khawatir.
"Aku butuh jawaban itu, SEKARANG!",bentak Sam dengan amarah yang memuncak.
El melepaskan genggaman Sam dengan pelan. Ia sungguh merasa syok mendengar bentakan dari Sam. Ia tidak mau memaksa Sam untuk mengingatnya karena secara tidak sengaja akan menyakiti Sam sendiri. Ia mundur beberapa langkah memastikan bahwa ia masih kuat untuk berpijak.
"Kenapa!. Kenapa kamu diam aja!. Seharusnya kamu membantu aku!. Menyembuhkan ingatanku yang hilang!. Ataukah kamu hanya seorang pembohong yang ulung!",teriak Sam marah.
Air mata El menetes. Apakah ini?. Apakah setelah dia hilang ingatan, dia berubah menjadi seorang pemarah dan suka membentak! batin El yang langsung keluar dari ruangan.
Sam lalu berteriak histeris. Ia merasa jati dirinya telah hilang arah. "Ah... Ah... Ah...!",teriak Sam merintih. Air matanya tumpah dengan sendirinya karena kefrustasiannya mengingat sesuatu yang masih ada di dalam bayangannya sendiri.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.