
Happy Reading.
***
perusahaan Sam sedang ada ketegangan yang memuncak.
"Jaga ucapan kamu, Edwan!",kata Violla penuh dengan tekanan.
"Kenapa Edwan harus menjaga ucapan aku, Ma?. Emang semua itu benar kok!. Iyakan El?",kata Edwan menyerang.
El melangkah maju untuk mengapai Kak Edwan. Ia langsung melayangkan sebuah tamparan yang pantas Edwan terima.
Pyaarrr!.
"Jaga mulut Kakak!. Kakak bisa menghina aku, tapi Kakak jangan pernah memfitnah orang yang tidak pernah melakukan hal zina!",kata El marah. Matanya sudah memanas melihat kelakuan mantan tunangannya itu.
Haaahaaaa.... Tawa Edwan memenuhi seisi ruangan Sam. "Aku tahu sifat kamu, El!. Kamu terlalu munafik untuk mengakui semua ini!",sahut Edwan dengan bangganya.
Mata El tersorot penuh dengan kebencian. Ia tidak mau Edwan semakin menjadi-jadi mengarang cerita yang bukan-bukan. "Kakak benar-benar licik!. Kalau ini mau Kakak, aku terima dengan lapang dada. Tapi, asal Kakak tahu, Kakak lupa dengan video yang ada di apartemen itu?. Aku dengan mudahnya akan menghancurkan hidup Kakak sekarang juga!",kata El penuh dengan penekanan.
Edwan semakin tertawa terbahak-bahak. Hahahaha.... "Terserah. Aku gak takut. Karena, aku dan Chika sudah menikah siri. Jadi, silakan sebar video itu!",jawab Edwan bangga.
"Apaaaa.... Nikah siri?. Mama gak salah denger!",ucap Violla kaget.
"Iya Ma. Aku dan Chika, sudah menikah siri!",sahut Edwan memegang tangan Chika.
Sam dan Violla kaget setengah mati. Mereka berjalan kesana kemari mengurangi beban pikiran yang ada.
Sam mengusap wajahnya gusar. Apa yang dilakukan oleh kakaknya itu sudah keterlaluan. Ia tidak menyangka kalau dia berbuat senekat itu..
Violla lemas seperti tidak bertulang. Violla menangis terisak-isak. "Jadi kamu sudah tidak menganggap Mama dan Papa ada, Edwan?",kata Violla rapuh.
El tidak tega melihat Mantan calon Mama mertuanya terpuruk. Ia berjalan menghampiri Violla untuk menenangkan hati Mama Violla.
"Ini pilihan hidup Edwan, Ma. Edwan, sangat mencintai Chika melebihi hidup Edwan sendiri!",jawab Edwan memegang tangan Chika erat.
"Tapi, ini bukan pilihan hidup yang terbaik sayang. Kamu boleh memilih seseorang wanita entah itu siapa?. Tetapi, Mama mohon jangan wanita murahan ini!",lanjutnya.
"Mama belum tahu sifat aslinya Chika, Ma?. Mama selalu membandingkan Chika dengan El. Mereka itu berbeda Ma!, Mama jangan suka membanding-bandingkannya mereka berdua!",sahut Edwan tidak mau kalah.
"Kamu emang tahu sifat aslinya Chika?. Kamu tidak tahu tentang kelakuan dia dibelakang kamu, Edwan?",jawab Violla.
"Kelakuan apa maksud Mama?. Dia baik, dia smart, dia cantik. Kurang apa lagi Ma?",tanya Edwan marah.
"Dia baik, dia smart dan cantik. Tapi.......",ada jeda di ucapakan Mama Violla. "Tapi, dia tidak setia Edwan!",lanjutnya.
__ADS_1
Edwan menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Apa Mama bilang, se-tia?. Emang calon mantu Mama yang satu lagi setia?",tanya Edwan marah.
Mama Violla tidak bisa lagi menahan air matanya yang semakin bercucuran. Hatinya hancur dan sesak.
"Dia malah lebih parah daripada Chika Ma. Dia malah bermesraan dengan laki-laki lain saat sudah bertunangan dengan Edwan!",pojok Edwan terhadap El.
El langsung menoleh ke arah Edwan. Fitnah apa lagi yang akan di mainkan oleh Edwan?.
"Dan satu lagi",lanjut Edwan sambil menunjuk satu jari. "Dia, masih mengharapkan dan merindukan laki-laki lain selama kita bertunangan Ma!".
"Jaga ucapan Kakak!",teriak El marah ia mendekati Kak Edwan. "Kakak lupa, kalau pertunangan kita karena ada sebuah alasan!. Aku diam, bukan karena aku takut sama Kakak, tapi aku lebih menghargai orang-orang yang sayang sama aku. Aku gak mau membuat mereka kecewa dengan keputusanku, karena aku sebenarnya tidak mengharapkan dan tidak pernah mencintai Kakak sedikitpun!",ungkap El dengan amarah yang besar.
"Bulshittttt..... Itu cuma omong kosong dari mulut manismu!. Karena apa, karena selama ini kamu cuma mengincar hartanya Sam!. Dan sekarang Sam semakin sukses, jadi kamu lebih tertarik sama dia, daripada aku kan!",bentak Edwan kesal.
"Kalau aku mengincar hartanya Sam, seharusnya aku sudah menjadi milik Sam, Kak!. Tetapi tidakkan, aku belum menjadi apa-apanya Sam!. Asal Kakak tahu, aku disini kkn bukan atas dasar dari aku ataupun Sam sendiri, ini semua murni dari tempat aku kuliah!",ungkap El yang sebenarnya. Ia tidak mau semua orang salah sangka bahwa ia kkn disini atas dasar dari persahabatan mereka berdua.
"Aku gak peduli. Karena itu bukan urusanku sekarang!",sahut Edwan. "Oh... Iya, kamu tidak pantas mendapatkan cincin permata itu dari Sam !. Karena itu terlalu mahal buat kamu!",lanjutnya dan langsung duduk kembali ke tempat semula.
Deg. Cincin. El langsung melihat cincin permata pemberian dari Sam. Ia masih ingat betul bahwa cincin inilah yang membuatnya ia kuat sampai sekarang ini. Ia bertahan hidup disini karena sebuah alasan yang tidak ia bisa ungkapkan kepada siapapun. "Kakak mau cincin ini?",tanya El yang sudah tidak kuat menerima hinaan dan fitnah dari mantan tunangannya itu. Ia melepas cincin pemata pemberian Sam dari jari manisnya itu. "Iya, cincin permata ini sangat mahal harganya. Mungkin, aku dan keluargaku tidak akan sanggup untuk membelinya Kak!. Jadi, aku akan mengembalikan kepada yang punya!",ucap El meletakkan cincin permata itu di atas meja.
"El.... Jangan, aku memberikan itu tulus untuk kamu?", sahut Sam.
"Maaf Sam, aku tidak bisa menerimanya lagi!",jawab El dengan berat hati. Air matanya menetes di pipinya yang cantik itu. "Ibu Violla dan Pak Sam, saya permisi untuk keluar!",pamit El dengan langkah panjang. Ia sudah tidak sanggup lagi ada diruangan ini. Kemudian ia mengambil tasnya yang di letakkan di samping meja dan pamit kepada Tamara untuk keluar sebentar.
"Kakak sungguh keterlaluan!. Apa yang sebenarnya Kakak inginkan dari hidupku. Aku selama ini diam seribu bahasa melihat kelakuan Kakak yang semena-mena mau menang sendiri. Kakak gak berhak atas hidupku dan takdirku. Karena semua ini bukan atas kehendakku, tetapi karena semua ini adalah takdir dari sang pencipta!",bentak Sam marah besar.
Sam mendekati Kakaknya yang masih duduk di tempatnya. "Seharusnya aku yang tanya itu sama Kakak!. Apa maksud dari semua ini?. Apa Kakak mempunyai sebuah rencana jahat sebelumnya?",tanya Sam menantang Kak Edwan.
Hahahaha..... Tawa Edwan pecah lagi memenuhi seisi ruangan Sam. "Kamu terlalu berpikir buruk sangka sama aku, Sam!. Aku sama sekali tidak pernah mempunya niat jahat sama kamu, kecuali aku sudah menghancurkan masa depan El dengan puas!",bisik Edwan di telinga Sam.
"Aku gak akan pernah percaya dengan kata-kata busuk kamu Kak!. El tidak serendah itu!",jawab Sam marah.
"Udah... Udah... Kalian itu saudara, kenapa kalian berdua bertengkar terus seperti ini!",lerai Violla yang sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan anak-anak laki-lakinya itu. "Edwan, kamu sungguh-sungguh keterlaluan sikap dan tingkah laku kamu, kamu seperti anak kecil yang sedang peran bermain cinta-cintaan!. Ingat, kamu itu udah dewasa sayang!",lanjut Violla menjelaskan.
"Kalau Edwan sudah dewasa, maka biarin Edwan bersikap seperti ini Ma!. Karena, apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan Chika sedikitpun!",jawab Edwan menentang. Ia lalu memegang lengan Chika untuk segera keluar dari ruangan ini. Ruangan yang begitu panas untuk berdebat.
"Edwan!.... Edwan.... Edwan....!", panggil Violla berkali-kali.
"Udahlah Ma. Ngapain juga sih ngurusin tuh orang, dia aja tidak pernah menghargai Mama dan Papa kok!",kata Sam kesal. Ia tahu bahwa Mamanya sedang sakit hati melihat Edwan berubah 90 derajat lagi.
"Ini yang Mama takutkan, akhirnya terjadi juga!",sahut Violla lemas.
"Dia sudah dewasa Ma. Dia seharusnya lebih berpikir lagi dengan otaknya, bukan dengan logikannya. Memang ia bisa menghidupi wanita itu cuma dengan cinta, tidak akan pernah bisa Ma!",ucap Sam marah. "Biar Sam yang akan menjelaskan kepada orangtuanya El tentang semua ini. Mama tidak usah khawatir!",lanjutnya yang mengambil cincin permata di atas meja. "Sam pergi dulu Ma?",pamit Sam mencium puncak kepala Mamanya.
***
__ADS_1
Disisi lain El sudah sampai di asrama. Ia segera masuk kedalam kamarnya. Ia duduk di lantai dan meletakkan tasnya di atas ranjang. Air mata yang sudah ia tahan tadi akhirnya dengan sendirinya jatuh di kedua pipinya yang chubby itu. Hiks... Hiks... Hiks...
"Maafin El, Bunda. Maafin anakmu ini Bundaaaa",lirih El sambil menangis sesenggukan. Hatinya hancur telah di fitnah habis-habisan di depan mantan calon Mama mertuanya dan Sam.
Ia mengambil selembar kertas surat dari Sam yang terselip di kotak cincin permatanya dulu. Ia memeluk kertas itu dengan erat. Ia butuh kekuatan saat ini. "Sam, maafin aku Sam. Gara-gara aku semua jadi serba salah. Dan kamu jadi berantem sama kakak kamu. Maafin aku Sam!",kata El diiringi dengan air mata yang menetes.
Dret... Dret... Dret...
El mengambil ponselnya dari tas. Ia melihat layar ponselnya yang bertuliskan 'Bunda Sayang'.
"Bunda telepon, ada apa ya?",kata El bingung. Ia segera menghapus air matanya dan mengambil nafas dalam-dalam. "Tenang El... Tenang, bunda gak akan tahu soal ini!",pikir El. Kemudian ia menggeser tombol hijau. "Assalamualaikum Bunda!",sapa El.
"Walaikumsalam sayang. Kok lama banget sih ngangkatnya?",tanya bunda.
"Maaf bunda, tadi El di kamar mandi",jawab El.
"Oh... Bunda mau tanya sayang, tadi Sam sempat telepon bunda, kira-kira ada apa ya?. Soalnya bunda tadi baru di kamar mandi. Terus bunda telepon balik gak di angkat",kata bunda.
Deg. Mata El melotot tidak percaya. Ngapain si Sam telepon bunda?. Apa dia mau cerita sama bunda? batin El penuh tanda tanya.
"Sayang kamu masih disanakan?",tanya bunda membuyarkan lamunan El.
"Iya bunda. El masih disini kok. El gak tahu bunda ada apanya. Nanti kalau El ketemu sama Sam, El akan coba tanya ya?",kata El.
"Iya sayang. Kamu lagi ngapain?",tanya bunda.
"El lagi di kamar bunda. Baru pulang dari kantor",jawab El.
"Bunda beberapa hari ini punya firasat gak enak sayang. Kamu baik-baik sajakan?",tanya bunda khawatir.
"Alhamdulillah El baik-baik aja bunda", jawab El berbohong. "Doain El ya bunda supaya El cepat-cepat kelar kuliahnya. El kangen sama bunda",ucap El di iringi isakan tangis kecil. Hatinya perih, ia ingin sekali memeluk ibunda tercintanya.
"Kok nangis sih. Sayang, walaupun kamu tidak meminta, bunda sudah mendoakan yang terbaik buat kamu sayang",kata bunda.
El menutup ponselnya dengan tangannya, supaya bunda tidak mendengar ia menangis sesenggukan.
"Kamu baik-baik aja kan sayang?. Kamu tidak sedang ada masalahkan?",tanya bunda beruntut.
El mengambil nafas dalam-dalam, membuang air mata yang terus mengalir. "El baik-baik aja bunda!",ucap El menahan suara tangisnya. "Ya udah ya bunda, El harus kembali lagi ke kampus. Masih ada dokumen yang harus El tanda tangani. Assalamualaikum bunda!",pamit El yang langsung memutus sambungan teleponnya. El menyentuh rambutnya, menghilangkan beban pikiran yang ada.
Hiks... Hiks...
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.