
Happy Reading.
***
El terdiam mendengarkan itu. Ia tidak menyangka bahwa dalam dunia bisnis akan sekejam itu. Bahkan nyawa menjadi taruhannya.
"Tolong bantu Pak Sam mbak, untuk melewati ini!",ucap Ardi memohon.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa Pak. Bapak tahu status saya di perusahaan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa Pak. Soalnya Nyonya Violla sudah membatalkan pertunangan saya dengan Sam!",kata El sedih.
"Kenapa bisa seperti ini mbak!. Kalau Pak Sam tahu bagaimana?",sahut Ardi tidak terima atas keputusan Nyonya besarnya.
"Saya tidak tahu Pak. Semoga Sam tidak amnesia. Saya takut kalau nanti perusahaan yang dia bangun akan hancur di tangan Edwan!",kata El takut.
"Saya harap juga seperti itu mbak. Saya takut kalau Pak Sam sampai amnesia. Mbak sudah mendengar beliau sudah siuman?",tanya Ardi.
"Sudah Pak. Saya tahu dari Sella. Katanya Sella, di rumah sakit di jaga ketat oleh penjaga!",jawab El lemas.
"Iya mbak. Para penjaga itu adalah orang suruhan Nyonya besar. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk!",jelas Ardi.
"Pasti saya termasuk orang itu!",lirih El malas. "Bapak bisa bantu saya masuk ke dalam ruangannya Sam?. Saya mohon Pak!",kata El memohon dan memelas.
"Tapi mbak, terlalu beresiko!".
"Saya akan ambil resikonya. Tapi, bapak tolong saya ya?. Please!".
"Ok mbak. Saya akan bantu mbak. Nanti sekitar tengah malam ya?. Saya sudah bertugas di sana!",pesan Ardi.
"Pak Ardi tidak usah khawatir kalau nanti terjadi sesuatu sama saya. Saya tidak akan melibatkan Pak Ardi. Ya udah ya Pak, saya pamit dulu. Saya harus segera kembali ke kantor!".
"Mbak tidak sekalian bareng sama Pak Edwan?",tanya Ardi.
"Tidak Pak, terimakasih. Saya malas melihat muka Edwan. Assalamualaikum Pak!",pamit El yang berlari ke jalan raya untuk mencari taksi.
"Walaikumsalam mbak!",jawab Ardi yang hanya bisa melihat punggung El menghilang.
Edwan menghampiri Ardi yang di jalan menuju jalan raya. "Mau kemana Pak?",tanya Edwan yang membuyarkan lamunan Ardi.
"Maaf Pak. Saya mau ambil mobil dulu?",pamit Ardi.
"Tunggu sebentar, El sudah naik taksi?",tanya Edwan penasaran.
"Sudah Pak baru saja. Ada yang bisa saya bantu Pak?",tanya Ardi sebelum pergi ke parkiran.
"Kalau saya minta bantuaan sama kamu, saya yakin pasti kamu akan melaporkan saya ke Papa!. Ya udah, cepat ambil mobilnya!",perintah Edwan.
"Baik Pak!",jawab Ardi yang langsung berlari mengambil mobil.
***
Rumah sakit.
Sam masih berbaring di ranjang tempat tidur dengan infus yang melekat di tangan. Ia memandang kosong di depannya. Ia memandang Violla dan Dirga dengan wajah kebingungan.
Violla tidak henti-hentinya menangis karena anaknya kebingungan. "Ini mama sayang. Dan ini Papa kamu. Kita adalah keluarga kamu saya!",lirih Violla beberapa kali.
"Mama dan Papa",ulang Sam bingung.
"Iya sayang. Mama orang yang telah melahirkan kamu. Kamu adalah anak Mama dan papa!",lirih Violla.
Sam memegang kepalanya. Ia merasa pusing karena mengartikan ini semua.
"Ma, jangan paksa Sam untuk mengingat-ingat ma. Kasihan dia!",ucap Dirga memberi dukungan kepada istrinya.
"Tapi Pa, mama gak mau kalau Sam sampai amnesia. Mama takut Pa!",sahut Violla tidak terima atas kejadian yang menimpa anak bungsunya itu.
Sam merasa kepalanya seakan-akan mau pecah. Ia memikirkan seperti kaset yang sedang berputar tetapi ada sedikit masalah dalam pemikirannya. "Ah.........!",teriak Sam.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan memaksanya!",cegah Dirga sambil menenangkan anaknya. "Kamu harus pelan-pelan!",lanjutnya.
"Dokter... Dokter...!",panggil Violla ketakutan sambil memencet tombol yang disediakan dari rumah sakit untuk memanggil dokter.
Sam semakin berteriak kesakitan di kepalanya. "Ah....!",teriak Sam frustasi.
Para dokter dan suster masuk untuk mengecek kondisi pasien.
"Bagaimana Dok kondisi anak saya?",tanya Dirga khawatir.
"Anak saya tidak apa-apa kan Dok?",lanjut Violla menangis.
Dokter memeriksa keadaan Sam. Ia menyuruh suster untuk memberikan obat penenang lewat suntikan.
Dan Sam tertidur lagi. Ia pasrah menenangkan pikirannya.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?. Sam baik-baik saja kan?",tanya Violla khawatir.
"Putra Bapak masih mengalami syok berat. Saya memberikan obat penenang supaya putra bapak merasa tenang. Lalu bagaimana tadi bisa terjadi seperti itu?",tanya Dokter balik.
"Dia seperti orang kebingungan, Dok. Saya dan istri saya menjelaskan siapa saya, malah dia teriak-teriak tidak jelas seperti itu!",jelas Dirga.
"Jadi Pak Samuel mengalami amnesia Pak, Bu!",jawab Dokter.
Violla dan Dirga tercengang mendengar penjelasan dari dokter. "Lalu bagaimana penanganannya Dok?".
"Saya tidak bisa memastikan Bu. Ketidakmampuan untuk mengingat peristiwa untuk jangka waktu tertentu, biasanya disebabkan cedera otak. Gangguan daya ingat pada penderita amnesia bisa ringan atau berat sehingga mengganggu kehidupan penderitanya. Amnesia dapat terjadi sementara atau permanen!",jelas Dokter.
Violla semakin terisak-isak di pelukan suaminya. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada putranya.
***
El sudah bersiap-siap untuk pulang kantor. Tamara sudah berpamitan kepadanya. Ia memasukkan dokumen-dokumen kedalam laci. Ia segera keluar dari meja tempatnya ia bekerja.
Edwan keluar dari ruangannya. Ia melihat El sedang menunggu lift. Ia segera berlari mengejar El.
Ting.
El tercengang melihat seseorang dengan tersenyum berdiri di pintu lift. El kesal bukan main, karena dia menghalang-halangi pintu tertutup. Ia harus segera pulang untuk bisa makan malam bersama Kak Olivia dan Saga. Ia menyilangkan tangan di depan dada. "Ada apa?",tanya El malas.
Edwan tersenyum senang karena El bertanya kepadanya.
"Kalau kamu disini cuma menghalang-halangi aku untuk bisa turun kebawah, percuma!",kesal El.
Edwan masuk ke dalam lift. Ia segera memencet tombol penutup. "Aku antar kan pulang ya?",tawar Edwan yang berdiri di samping El.
"Saya bisa pulang sendiri naik taksi. Kalau saya diantarkan sama Bapak, sama aja saya bunuh diri!",jawab El.
"What!. Bunuh diri?. Emang aku mau bunuh kamu?",sahut Edwan kaget.
"Iya. Membunuh secara perlahan-lahan!".
"El, aku tahu aku salah. Tapi, itukan masa lalu. Dan aku ingin memperbaiki situasi ini".
"Situasi yang mana?. Situasi saat Sam berbaring di rumah sakit!. Saya tidak menyangka Kakak seperti itu. Aku kira dulu saat Kakak bersama Abang Satria itu adalah orang baik. Sampai pertemanan kalian seperti saudara. Ternyata aku salah besar, Kakak adalah seorang pengecut yang bersembunyi di balik nama Bapak Dirga. Aku tidak mau lagi berurusan dengan Kakak!",ucap El marah.
Ting.
Pintu lift terbuka. El segera keluar dari dalam lift. Baru beberapa langkah lengan El di tarik oleh Kak Edwan dengan paksa supaya El di dalam lift lagi.
El tidak bisa berkutik. Ia tidak menyangka bahwa Edwan melakukan hal senekat ini.
Edwan menekan tombol lift lagi supaya pintu segera tertutup. Tangan Edwan masih memegang lengan El dengan kuat.
"Lepasin Kak!. Sakit!",teriak El kesakitan dan mencoba melepaskan lengannya dari Edwan.
"Aku akan lepaskan tanganku, tetapi kami harus tenang!",ucap Edwan memberi syarat.
__ADS_1
"Kakak benar-benar keterlaluan!. Aku menyesal telah mengenal Kakak!. Lepasin Kak!",bentak El sambil berusaha sekuat tenaga agar bisa lepas dari Edwan.
"Aku gak akan lepasin kamu, sebelum kamu tenang, El!",teriak Edwan menahan emosi.
El tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia memilih untuk tenang daripada lengannya sakit. "Ok... Ok... Aku akan tenang!",sahut El pasrah.
Edwan merasa senang karena El menuruti kata-kata Edwan. Ia segera melepaskan lengan El.
El merasa kesakitan karena lengannya memerah. "Tidak bisa dipercaya Kakak melakukan ini sama aku. Sekarang apa yang Kakak inginkan dari aku!",kata El kesal.
"Aku ingin hubungan kita baik-baik El. Aku gak mau kalau satu kantor tahu kalau kita seperti tikus dan kucing. Saling mencari kesalahan satu sama lain!",jelas Edwan.
"Maaf Kak, aku gak bisa. Luka yang dulu belum pulih di hatiku, akan Kakak tambahkan lagi luka itu. Aku tidak mau lagi tersiksa selama tiga tahun seperti waktu lalu. Itu sudah cukup buat dijadikan pengalaman dalam hidupku. Dan aku tidak mau mencari kesalahan sama Chika. Karena Chika bukan tandingan ku!", seru El mengungkapkan bagaiman perasaannya yang dulu.
"El, jujur aku masih menyimpan perasaan sama kamu. Aku masih menyayangi kamu seperti aku baru melihat kamu pada saat kita pertama bertemu di rumah kamu",ungkap Edwan jujur.
"Hentikan omong kosong Kakak. Kakak gak mungkin berubah dalam waktu sekejap. Kakak gak ingat dulu, Kakak sempat menjebak ku dengan obat tidur dan obat perangsang. Apa itu yang disebutkan menyayangiku?",tanya El sambil menggelengkan kepala. "Itu bukan menyayangiku Kak, tapi akan menghancurkan masa depan ku. Kalau bunda, ayah dan abang sampai tahu soal ini, Kakak gak segan-segan akan dilaporkan ke polisi. Karena Kakak sudah mengancam aku dan menjebak aku!",ungkap El yang ada dihatinya. "Tolong... tolong jangan ganggu hidupku lagi!. Anggap saja kita tidak saling kenal dan dekat!",lanjut El.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. El bergegas untuk keluar dari dalam lift. Ia tidak mau berlama-lama dengan Edwan dalam satu ruangan.
Edwan terdiam melihat El pergi meninggalkan dirinya. Ia memandang punggung El semakin lama semakin menghilang.
***
El menunggu di depan asramanya. Ia mendapat pesan dari Saga, kalau Saga akan menjemputnya untuk makan malam bersama. Ia membayangkan kejadian sore tadi bersama Edwan di kantor. "Bisa-bisanya dia bilang seperti itu!. Dasar gak punya urat malu!",oceh El pada Edwan.
Saga berhenti tepat di depan asrama. Ia melihat El sudah menunggu di sana. Ia membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. "Kok diam aja sih El!. Mesti lagi ngalamun nih anak!",kata Saga pada dirinya sendiri. Lalu ia keluar dari mobil menghampirinya. "Lagi ngapain sih di situ!",teriak Saga gemas.
El mendongakkan wajahnya melihat Saga. "Kak Saga!. Kapan Kakak sampai?",tanya El bingung karena ia merasa tidak mendengar bunyi mobil.
"Mana mungkin kamu mendengar mobilku, kamunya aja ngelamun kemana-mana!",goda Saga yang ikut duduk si samping El.
"Maaf-maaf Kak. Soalnya aku lagi mikirin si Edwan Kak!".
"Edwan. Ngapain mikirin dia!. Oh, jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta sama dia!",tebak Saga malas.
"Ih, Kakak apaan sih. Jangan bicara yang bukan-bukan kenapa. Aku mikirin dia karena ada sesuatu yang membuat aku marah dan kesal Kak",jelas El.
"Memang dia buat ulah apa lagi?",tanya Saga penasaran.
"Dia bilang kalau dia mau hubungan aku dan dia baik-baik aja. Mana mungkin bisa seperti itu!. Jelas-jelas dia udah nyakitin aku seenaknya aja!",ungkap El.
"Ya udahlah. Diakan juga udah punya pasangan. Seharusnya kamu mikirin aku!",sahut Saga.
"Kenapa aku harus mikirin Kakak?",tanya El balik karena tidak mengerti maksud Saga.
"Ya, karena aku belum punya pasangan sendiri!",jawab Saga polos.
El tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan Kak Saga. Ia tidak menyangka kalau orang yang selalu ada buat dia, ternyata seorang jomblo sejati. "Tapi sayang, aku gak mau sama Kakak?".
"Kenapa gitu?",tanya Saga penasaran. "Apa karena sudah ada Samuel?",tebak Saga asal.
"Bukan karena Sam Kak. Tapi karena aku takut kalau aku di ajak belanja sama Kak Olivia!".
"Kok bisa gitu?".
"Ya iyalah Kak. Kakak tahu sendiri barang-barang Kak Olivia semua barang branded. Memang Kakak mau bayarin kalau aku sedang belanja sama Kak Olivia?",goda El.
"Kalau itu syaratnya untuk menjadi pacar kamu, itu gak masalah. Asalkan kamu tulus mencintaiku!",jawab Saga.
"Kok kayaknya, aku materialistis banget ya!",jawab El.
Saga langsung mengacak-acak rambut El sampai berantakan. Ia terlalu gemas menggoda El sampai sejauh itu.
***
__ADS_1
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.