Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Kecewa


__ADS_3

Happy Reading.


***


Disisi lain ada seseorang sedang memotret beberapa kali kegiatan Saga dan El. Ia memakai topi dan kaca mata hitam. Orang itu sangat misterius.


"Aku akan berusaha Kak. Terimakasih atas dukungan dari Kakak!",ucap El meyakinkan Saga bahwa ia akan bisa menjalankan hidupnya kembali.


Saga menurunkan tangannya kembali ke saku jaketnya lagi. "Aku yakin kamu pasti bisa!",kata Saga.


"Ya sudah, kita belanja lagi!. Aku ingin membelikan Bunda sesuatu!",ajak El yang menarik tangan Saga untuk segera mengikuti langkah kaki.


***


Sam menghampiri Ardi yang sedang duduk di kafe. Ia duduk di depan Ardi. "Aku dan dia putus!",kata Sam lemah.


Ardi yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak. "Serius Mas?",tanya Ardi.


"Iya. Sepertinya orangtuanya El kecewa dengan tindakan kita. Aku menyesal harus mengundang para wartawan kemarin!",keluh Sam.


"Maafkan saya Mas. Secara tidak langsung saya juga ikut terlibat dalam konferensi pers kemarin!".


"Sudah tidak ada gunanya Pak. Aku dan dia juga sudah putus. Dia sudah mengembalikan cincin pertunangannya juga. Berarti El benar-benar marah sama saya!",ucap Sam yang sedang melihat kearah jalanan. "Lebih baik saya pulang ke rumah Jakarta. Bosen disini terus!",lanjutnya mengusap wajahnya kasar.


"Kalau Mas mau pulang ke Jakarta, sebaiknya Mas selesaikan dulu masalah Mas Edwan. Dia ingin menjebak Mas Sam!",saran Ardi memberikan sebuah map yang berwarna biru ke meja.


"Map apaan itu?".


"Itu map adalah pengalihan perusahaan atas nama Mas Edwan. Dia ingin mengatasnamakan perusahaan Mas Sam atas namanya. Dan saham-saham yang dimiliki Mas Sam sebagian sudah di jual",kata Ardi.


Sam berjalan kearah pagar dekat kursi yang ia duduki. "Sialan Kakakku satu itu!. Dia belum puas menghancurkan hidup El. Dan sekarang mau menghancurkanku. Aku tidak akan tinggal diam. Besok, ikut denganku. Kamu akan saya angkat menjadi sekertaris pribadiku!",kata Sam.


"Lalu Mbak Tamara?".


"Dia sudah di pecat oleh Mama. Bahkan kontrak kerjanya masih kurang 2 minggu lagi. Daripada aku mempunyai sekertaris seperti Laura, lebih baik kamu!".


"Baik Mas. Besok saya akan ke perusahaan",jawab Ardi. "Lalu bagaimana dengan posisi Mbak Laura?".


"Pindah dia kebagian Marketing. Saya tidak mau dia ada di perusahaan saya!",jawab Sam yang langsung pergi meninggalkan Ardi sendiri.


***


Seseorang sedang menghadapi Nyonya besar di Griya Tawang. Dia memberikan amplop berwarna coklat yang ia letakkan di atas meja.


"Kerja bagus. Ini bonus buat kalian?",ucap Violla memberikan amplop berwarna putih.


Seseorang itu menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih Nyonya. Bila ada tugas, langsung telepon saya!",ucap seseorang itu dan langsung pergi meninggalkan ruangan Violla. Ia berjalan dan berpapasan dengan Sam.


Sam melihatnya penuh curiga, siapakah laki-laki yang baru keluar dari ruangan Mama. Apa yang dia rencanakan lagi? batin Sam memandang sinis ke seseorang itu, lalu seseorang itu pergi meninggalkan Griya Tawang dengan menaiki lift dengan cepat. Sam bergegas keruangan Violla memastikan rencana Mama selanjutnya.


Crek...


Violla sedang duduk menikmati kopi. Ia langsung melihat Sam sedang berdiri di depan pintu.


"Siapa laki-laki itu Ma?",tanya Sam tanpa basa-basi.


"Dia rekan kerja Mama. Dia baru saja membawakan hasil laporan perusahaan",jawab Violla santai sambil matanya memandang ke meja yang tergeletak sebuah map.

__ADS_1


Sam melirik sekilas. Ia semakin mencurigai Mamanya itu.


"Ada apa sayang?. Tumben kamu masuk ke ruang kerja Mama?",tanya Violla santai.


"Tidak ada apa-apa Ma. Dimana Kakak?",tanya Sam mengalihkan perhatian.


"Kakak kamu sedang di apartemennya. Kamu mau main kesana?".


Sam tersenyum mendengar tanggapan Mamanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Tidak. Hanya saja, Sam tidak mau Kakak mengambil seluruh perusahaan Sam!. Perusahaan itu yang mendirikan Sam, bukan Kakak!",kata Sam sarkas.


Violla menamati anaknya dengan seksama. Ia curiga siapa yang mencuci otak anaknya. "Sayang, Mama tahu yang mendirikan perusahaan adalah kamu. Tapi, kamu sedang sakit jadi untuk sementara waktu Kak Edwan yang mengelolanya!",jawab Violla bijak.


"Mengelola atau menghancurkannya?",tanya Sam sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja Violla..


Violla dengan cepat mengambil dan membacanya.


"Mama tidak usah terus menerus membelanya. Sam tahu apa yang dilakukan oleh Kakak!. Teganya seorang Kakak menusuk adiknya dari belakang!",lanjut Sam marah.


Violla tercengang membaca dokumen itu. Dokumen itu berisi tentang status saham yang dijual oleh Edwan ke perusahaan lain. Dan pengalihan perusahaan atas nama Edwan. "Dokumen ini dari mana sayang?",tanya Violla.


"Itu tidak penting Ma. Sam hanya kecewa dengan Kakak. Sam akan laporkan Kakak kekantor polisi!".


"Jangan sayang, Mama mohon!. Bagaimana kalau nanti para media tahu tentang semua ini!. Nama dan reputasi keluarga kita akan hancur!",mohon Violla.


"Mama hanya mementingkan reputasi keluarga kita. Tapi, apa pernah Kakak memikirkan perasaan Mama dan Papa apa lagi aku, Ma. Aku yang menjadi korban disini. Apa pernah Kakak memikirkan perasaanku, reputasi keluarga kita, tidak!... Dia tidak pernah memikirkannya. Hanya memikirkan dirinya sendiri!. Sedangkan aku, aku yang selalu mendapat buruknya!",kata Sam dengan marah.


Deg. Violla kaget dengan perkataan Sam. Kalau Sam berkata seperti itu, maka ingatan Sam sudah kembali pulih. Violla berjalan menghampiri anak bungsunya itu. "Sayang, kamu sudah sembuh?",tanya Violla memegang lengan Sam.


"Iya Ma. Sam sudah sembuh!".


Violla tercengang mendengar pengakuan Sam. Ia menutup mulutnya tidak percaya.


Violla menundukkan kepalanya bingung. Jadi selama ini Sam sudah sembuh. Lalu, Violla teringat pada saat ia menelepon Melati, Bundanya El.


***


Flashback On.


"Assalamualaikum Jeng Melati!",sapa Violla yang sudah menahan amarahnya.


"Walaikumsalam Jeng. Bagaimana kabar Jeng Violla?".


"Alhamdulillah baik Jeng. Saya mau bicara sesuatu sama Jeng Melati".


"Iya. Ada apa ya Jeng?",tanya Melati penasaran.


"Saya tidak mau basa-basi sama Jeng Melati. Saya langsung ke pointnya, saya mohon untuk pertama dan terakhir kalinya sama Jeng buat anak Jeng yaitu Ellena untuk menjauhi anak saya. Saya tidak mau ada seseorang yang mencari kesempatan disaat anak saya sedang sakit. Maka dari itu, tolong El menjauh dari Sam. Karena Sam sudah saya jodohkan dengan anak teman saya!",jelas Violla.


"Tapi mereka sudah dewasa Jeng. Mereka tahu mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang harus dipertahankan, mana tidak. Mereka sudah bisa memilih jalan mereka masing-masing Jeng!",kata Melati.


"Tapi, kita tidak satu level sama keluarga Jeng Melati. Jeng Melati sudah tahu kan, perbedaan kita sangat jauh berbeda. Maka dari itu, tolong bilangi sama El untuk menjauhi anak saya!. Saya tahu mereka sudah bersahabat dari dulu, tapi ketika kasta berbicara, maka mereka tidak akan pernah bisa bersatu!".


"Saya tahu Jeng, saya sangat paham akan kasta, harta dan tahta. Saya paham itu. Tapi, bagaimanapun kita melarang mereka bersatu, tapi kenyataannya mereka berjodoh, kita tidak bisa memisahkan mereka berdua jika takdir yang berbicara",ucap Melati.


"Jangan pernah bilang takdir Jeng!. Karena sampai kapanpun saya dan suami saya tidak akan merestui mereka berdua menikah!",tegas Violla.


Deg. Melati memegang kuat meja yang ada didekatnya. Ia saat ini membutuhkan kekuatan. "Saya sebagai orangtua hanya bisa mendoakan anak-anak saya menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah, dan menjadi pribadi yang baik. Kalau Jeng Violla merasa tersakiti atas sikap anak saya, saya selaku orangtuanya El meminta maaf kepada keluarga besar Jeng Violla!",ucap Melati meneteskan air mata. Hatinya sangat sesak. Dulu kita berteman baik bahkan selalu menjadi partner dalam segala hal. Tapi, saat ini sangat berbeda. Kita bagaikan minyak dan air yang tidak akan pernah menyatu.

__ADS_1


"Harga diri saya sudah injak-injak oleh anak kamu. Apa lagi saya tidak butuh maaf dari kamu. Saya hanya ingin anak kamu, menjauh dari anak saya, itu sudah cukup!. Assalamualaikum!",kata Violla yang langsung mematikan ponselnya sepihak.


"Walaikumsalam!",jawab Melati gemetar. Ia terisak-isak mengingat perkataan Violla. Ia memegang erat ponselnya kedalam dekapan dada.


Flashback Off.


***


Sam memegang bahu Violla untuk menyadarkan lamunannya. "Ma...".


"Iya sayang!",sahut Violla secara cepat. Karena ia begitu lama melamun.


"Sam cinta sama El, Sam mohon untuk terakhir kalinya, tolong...tolong restui kita berdua untuk melangkah kejenjang pernikahan Ma?",mohon Sam memelas.


Violla melepaskan tangan Sam dari kedua bahunya. "Maafkan Mama, Mama tidak bisa sayang!",jawab Violla. Ia menyentuh pipi Sam dengan lembut. "Mama tidak mau melihat kamu terpuruk lagi gara-gara El. Mama tidak ingin kamu terluka. Dulu Mama menyetujuinya karena Mama yakin sama El, tapi sekarang beda sayang. Mama semakin ragu kamu sama El. Karena El selalu membuat kamu dalam bahaya!".


"Tidak Mama. Sam sangat bahagia bila di dekat El. Sam merasa dicintai bila ada El. Sam mohon Ma?",mohon Sam yang langsung berlutut di kedua kaki Violla.


Violla meneteskan air matanya. Ia teringat perkataannya sendiri bahwa ia tidak akan pernah merestui hubungan mereka berdua, tetapi kini hatinya hancur sebab Sam berlutut di hadapannya.


"Sam mohon Ma?",pinta Sam sendu. "Sam tidak bisa membayangkan bila hidup Sam tanpa El lagi. Sam hanya membutuhkan El disamping ku, Ma. Sam tidak ingin apa-apa selain El!".


Violla menangis, hatinya semakin sesak bila Sam memohon-mohon padanya. "Maafkan Mama sayang!. Mama tidak bisa!",jawab Violla yang langsung pergi dari hadapan Sam. Air matanya terus mengalir ke pipi.


Sam menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia bersujud sambil memukul-mukul marmer di lantai. Ia tidak berdaya harus membayangkan hidup tanpa El lagi.


***


Akhirnya mereka berlima sudah sampai apartemen setelah pergi dari belanja dan mampir ke beberapa wahana yang asyik. Tamara dari belanja langsung pulang karena ada kepentingan keluarga. Sedangkan Dony, Raina dan Yasmine berkemas untuk kepulangannya.


El membantu mengemas oleh-oleh ke dalam koper.


"Terimakasih Kak. Sudah banyak membantu kami?",ucap Yasmine senang.


"Iya Yas. Aku bahagia dan senang kalian mau menemui aku sampai ke negara ini. Seharusnya aku yang berterimakasih kepada kalian. Sudah mau mampir ke sini?",ucap El terharu.


"Apaan sih kamu, El. Aku bahagia banget loh, kamu mau meluangkan waktu untuk kita. Ya... walaupun kamu sedang sibuk-sibuknya buat KKNnya!",sambung Dony.


"Tapi nanti bantuin aku ya, buat skripsinya?",goda El.


"Tanpa bantuan dariku, kamu sudah pintar dalam merangkai kata!",sambung Dony.


"Tidak juga. Malah banyak masalah pribadi daripada soal KKNnya!",sahut El.


"Makanya kuliah yang benar dan KKN yang benar, pasti tidak akan ada lagi lika-liku seperti ini. Apa lagi cerita putus nyambung. Sudahlah El, kalau kamu mau saran dariku. Lebih baik kamu fokus ketujuan utama kamu sampai di negara ini. Dan pasti akan mengalir sendiri tentang urusan takdir dan jodoh kita!",saran Dony.


"Terimakasih banyak sarannya, Don!. Aku akan berusaha fokus terhadap tujuanku!",jawab El tersenyum terpaksa walaupun saat ini hatinya sedang terluka.


Raina menyalakan televisi. Di layar televisi menampilkan berita tentang perselingkuhan yang dilakukan seorang tunangan pengusaha yang terkenal di negara tersebut. Dua orang sedang saling peluk satu sama lain. "Bukankah itu El dan Saga!",tebak Raina kaget. "El... El... El...!",panggil Raina yang sedang diruang tengah.


"Ada apa teh?",sahut Dony yang mendengarnya.


"Lihat ini!".


Dony, El dan Yasmine keluar bersama dari kamar. Mereka bertiga berdiri di samping kursi panjang yang sedang mendengar dan melihat berita tersebut. Mereka bertiga tercengang tidak percaya.


***

__ADS_1


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.


__ADS_2