Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Tertunda


__ADS_3

Happy Reading.


***


El kembali lagi ke kantor untuk bisa menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Ia benar-benar kalut saat ini memikirkan kejadian tadi siang di asrama.


"Hei, ngalamun aja!. Ngalamun apa sih?",ucap Tamara yang menyenggol bahu El.


El menghela nafas berat. Ia butuh sejenak menenangkan pikirannya. "Saya boleh tanya tidak mbak?",tanya El dengan wajah yang serius.


"Boleh. Tanya soal apa?".


"Kalau seumpamanya cinta mbak, tidak direstui oleh kedua orang tua pacar mbak, bagaimana reaksi mbak saat ini?".


"Hm... Kalau menurut aku sendiri sih, tergantung pasangan kita juga!",jawab Tamara.


"Maksud mbak?".


"Maksudnya begini, kalau pasangan kita mau berjuang bersama-sama dalam suatu hubungan, mungkin aku akan lebih mengambil hati calon mama dan papa mertua. Tapi, kalau kejadian sebaliknya mungkin aku akan angkat tangan. Lebih baik melepaskan daripada memaksa kehendak kita",jawab Tamara bijak.


El terdiam, ia mencerna apa yang di ucapkan oleh Tamara.


***


Flashback On.


El juga memandang kedua mata Sam. Mata yang selalu dirindukan olehnya yang selalu memberikan kehangatan tetapi sekarang matanya berubah menjadi orang yang sangat dingin dan kaku.


"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu di rumah sakit karena membuat kegaduhan disana!",ucap Sam dengan sorot mata penuh kebencian.


"Apa?",sahut El tidak percaya. "Bukannya kebalikannya ya, saya yang harus minta pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakukan sampai saya di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari?",lanjut El tidak terima.


"Saya sudah bertanggung jawab, apa yang saya perbuat sama kamu. Dengan pembiayaan berobat dirumah sakit. Semua gratis kan!",kata Sam membela diri.


"Ah...!",keluh El. Ia langsung melihat ke arah Ardi, mencari jawaban atas pertanyaan Sam.


"Iya mbak. Bapak Samuel yang membiayai pengobatan pada saat mbak El di rawat di rumah sakit",jawab Ardi santai.


"Ok. Memang salah saya karena tidak menanyakan pada suster, siapa yang membiayai saya. Kamu tenang aja, saya akan membayarnya sekarang juga!. Berapa total pengeluaran yang anda keluarkan untuk saya?",tanya El sarkas.


"Tidak banyak. Kamu perlu melunasi pembiayaan rumah sakit dengan cara kamu satu minggu tinggal bersama saya!",jawab Sam santai.


"Apa!. Saya tidak salah mendengar?. Saya tinggal satu atap sama kamu!",keluh El menyesal.


"Iya. Mudahkan!".


"Ha... Halo, maaf ya, kita bukan makhrumnya untuk satu atap sama kamu!. Asal kamu tahu, aku masih sanggup buat melunasi hutang kamu!. Jadi, jangan sok-sokan buat mengancam saya, atau sejenisnya. Karena, saya paling benci itu!",sahut El tidak terima.


Sam mengeluarkan satu lembar yang berisi rincian pengeluaran rumah sakit. "Saya tidak mengancam kamu, tapi saya membenarkan apa yang kamu tuduhkan sama saya!",kata Sam memberikan kertas satu lembar ke tangan El.


"Apa ini?",tanya El kesal.


"Baca aja. Setelah selesai membaca, tolong hubungi secepatnya nomer yang ada di bawah itu!",pesan Sam yang langsung pergi meninggalkan kamar asrama itu.


"Huft!".


"Maaf ya mbak El, ini semua demi kalian!",bisik Ardi yang langsung berlari mengejar Sam yang sudah jauh dipandangan matanya.


"Ih... Dasar cowok gila!",teriak El marah.


"Kenapa dia jadi dingin seperti es sih El?",tanya Bella kesal.


"Tahulah Bel. Mungkin otaknya sudah kena juga!",jawab El kesal. Ia duduk di ranjangnya membuka sebuah amplop yang sempat Sam berikan kepadanya.


Bella membersihkan barang-barang yang berserakan di lantai.


El tercengang melihat tagihan biaya perawatan selama di rumah sakit. "Serius ini!",teriak El tidak percaya. Kertas tagihan terjatuh di bawah. "Rumah sakit macam apa ini, tiga hari di rawat saja tagihan sebanyak ini!",marah El. Ia teringat pada saat dirumah sakit, Saga menanyakan biaya rumah sakit tetapi pihak rumah sakit tidak memberitahukan biaya perawatan. "Ini pasti kelakuan sih Ardi!. Dasar laki-laki gila!",ucap El dengan tangan yang mengepal.


Bella melihat El marah-marah diranjangnya. Ia mengambil kertas tagihan yang terjatuh dilantai. Ia melihat tagihan yang banyak dengan angka nol yang banyak. "Ini serius!",ucap Bella lemas.


"Mungkin perharinya berbunga 100%!",sahut El kesal.


"Terus kamu mau tinggal satu atap sama dia?",tanya Bella.


"Ogah!. Mungkin kalau dia belum konslet seperti ini, mungkin aku mau. Karena selama aku kenal sama Sam, dia tidak akan macam-macam sama wanita. Tapi, entah setelah dia hilang ingatannya mungkin separuh otaknya menghilang!",ucap El asal.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok...


Suara pintu terdengar sangat nyaring.


"Siapa lagi sih?. Kenapa aku mau hidup dengan tenang selalu ada yang menggangguku!",kesal El yang masih duduk.


"Biar aku aja yang buka!",kata Bella yang segera membuka pintu kamar.


Dan...


Bella tercengang karena melihat beberapa orang berdiri di depan pintu membawa alat-alat kebersihan.


"Siapa Bel?",tanya El.


Bella masih tidak percaya melihat di depannya. Ia seperti tidak mendengar pertanyaan El.


El curiga sesuatu terjadi didepan. Ia segera berjalan kedepan pintu. Dan...


"Atas perintah siapa kalian datang kesini?",tanya El tegas.


"Kami diperintahkan oleh Pak Samuel untuk membersihkan kamar mbak El yang telah berbuat onar di kamar mbak!",jawab para pelayan dengan sopan.


"Silahkan!. Seharusnya bos kalian yang membersihkan dan membereskan ulahnya!",ucap El kesal. Ia mempersilakan para pelayan Sam masuk ke dalam kamar.


"Kamu serius El?",tanya Bella tidak percaya.


"Tidak apa-apa Bel. Biarkanlah. Aku harus kembali ke kantor, pekerjaanku masih banyak di sana!",kata El yang berjalan mengambil tas yang tertinggal di dalam. "Yang bersih ya, aku tidak mau noda atau kotoran menempel didalam kamarku!",pesan El dengan sinis. Ia kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Bella untuk diberikan kepada beberapa orang suruhan Sam yang bersih-bersih. "Tolong nanti berikan tip ini ya kepada mereka!. Ya udah, aku pergi dulu!",pamit El yang berjalan pergi.


Flashback Off.


***


"El... El... El...!",panggil Tamara beberapa kali.


El tersadar dari lamunannya. "Iya mbak, ada apa?",jawab El dengan nada sedikit kaget.


"Tuh ponsel kamu dari tadi berdering!",kata Tamara.


El melirik ke tas yang ada disampingnya. Benar, ponselnya berbunyi dengan menampilkan nomer baru dilayar. Ia mengambil ponselnya, ia menimang-nimang untuk mengangkat atau tidak.


"Nomer baru mbak. Mungkin orang iseng!",jawab El meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Beberapa kali ponsel El berbunyi tiada henti.


Dret... Dret... Dret...


Sebuah pesan masuk kedalam WhatsAppnya.


"Cepat angkat!. Kalau gak saya akan pergi ketempat kamu bekerja!". Sam.


"Siapa sih ini?. Ganggu orang kerja aja!",kesal El setelah membaca pesan singkat itu. Ia melemparkan kembali ponselnya.


Tamara mengambil ponsel El dan membaca pesan singkat itu. "Ini pasti orang iseng El. Sudah tidak usah diangkat!",ide Tamara.


Ponsel El berbunyi lagi. El segera meraih ponselnya dan menggeser tombol merah. Ponselnya tidak henti-hentinya berbunyi. El kesal dan akhirnya mengangkatnya.


"Kenapa lama banget angkatnya sih!",marah seseorang diseberang sana.


"Ups... Ngapain kamu telepon saya?. Ada urusan apa lagi?",tanya El marah.


"Eh... Bagaimana keputusannya, aku kan udah bilang kalau aku butuh jawaban sekarang juga!",sahut Sam tidak mau kalah.


"Saya tidak mau. Titik. Sampai kapanpun aku akan melunasi tagihan pembiayaan rumah sakit. Sekarang kirimi aku nomer rekening, supaya aku mudah buat transaksinya!".


"Kamu yakin mau transfer?. Memang kamu punya uang sebanyak itu?",goda Sam senang. Itulah kelemahan El saat ini.


"Aku akan mencicilnya sampai lunas!".


"Aku gak mau dicicil. Enak aja!. Aku aja langsung bayar cash kepihak rumah sakit",jawab Sam.


"Ok... Ok... Aku akan transfer paling lambat nanti malam. Kalau sampai nanti malam aku gak bisa transfer, maka dari itu, aku akan wujudkan keinginan kamu!",ucap El dengan tegas.


"Ok. Aku tunggu!",jawab Sam yang langsung mematikan secara sepihak.


Tubuh El melemas. Darimana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu. Dua ratus lima puluh juta. Oh My God. Ia langsung memegang kepalanya, kepalanya seakan mau pecah memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa El?",tanya Tamara khawatir.


"Tidak ada apa-apa kok Mbak",jawab El santai.


"Kalau ada masalah cerita ke aku, aku akan siap mendengarkan keluh kesah mu".


"Iya mbak. Terimakasih atas perhatian mbak Tamara. Tapi, aku baik-baik aja mbak!",jawab El.


"Ya sudah. Mbak ke toilet dulu ya?",pamit Tamara.


El mengangguk kepala tanda setuju.


Dret... Dret... Dret...


Ponselnya berdering tanda apa pesan masuk.


"Nanti makan malam diluar yuk, El?". Saga.


Apa aku pinjam uang sama Kak Saga aja ya?. Diakan kaya, mungkin ada uang lebih buat aku pinjam uangnya! batin El ragu.


"Bisa Kak. Dimana?". El.


"Direstoran ATLA".


"Ok Kak. Nanti aku akan langsung datang ke sana. Dan ada hal penting yang ingin aku katakan kepada Kakak". El.


"Hal penting apa El?". Saga.


"Nanti malam saja Kak. Tidak enak lewat sebuah pesan". El.


"Baiklah. Sampai ketemu nanti malam". Saga.


***


Malam Hari.


El sudah siap untuk berangkat ke restoran yang di pesan oleh Kak Saga. Saat ini ia sedang ada di dalam taksi. Ia menaiki taksi untuk ketempat yang dituju.


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.


"Mana uangnya?". Sam.


"Iya. Nanti kalau udah ada, nanti saya kabari!". El.


Akhirnya beberapa menit sampai di restoran yang di maksud oleh Saga. Ia segera turun dari taksi. Ia menanyakan kepada pelayan bookingan atas nama Saga. Lalu seorang pelayan mempersilahkan masuk dan menunjukkan tempat duduknya. Ia mengucapkan terimakasih kepada pelayan. Dan duduk sambil bermain ponselnya. "Mana sih Kak Saga?. Kok dia belum datang?",lirih El melihat ke sekeliling ruangan.


***


Disisi lain Saga sedang sibuk dengan berkas-berkas yang bertumpukan diatas meja kerjanya. Ia tidak menyangka bahwa masih ada tugas-tugas yang bertumpukan di sana. Ia sesekali melihat jam tangan.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar. Saga segera menyuruh tamu itu untuk masuk kedalam ruangan.


"Maaf Pak, ini dari perusahaan Pak Djorgi memajukan mettingnya hari ini pukul 8 malam. Bagaimana Pak?",kata sang sekertaris.


"Tapi?".


"Bapak tidak bisa. Soalnya beliau tengah malam akan terbang ke Australia",kata sekertaris.


"Baiklah. Paling cuma sebentar mereka akan membahas persoalan masalah yang terkendala waktu itu. Ok. Saya akan datang", jawab Saga.


"Baik Pak. Permisi!",kata sekertaris sopan.


Disisi lain El menunggu kedatangan Saga. Ia beberapa kali melihat kearah jam dinding yang ada di restoran itu. Jarum yang seakan-akan berputar secepat kilat. Ia menunggu dengan sabar. Pasti Kak Saga mengalami kemacetan di jalan raya pikir El. Jam semakin cepat berputar, ia masih setia menunggu kedatangan Saga. Ia sudah memesan beberapa gelas minuman yang sudah tandas di atas meja. Ia melihat sekali lagi jam dinding, jam sudah menunjukkan jarum pendek jam 11 malam. Ia langsung pergi meninggalkan restoran itu.


Beberapa menit kemudian Saga masuk kedalam restoran. Nafasnya terburu-buru mengejar waktu. Kosong. Tidak ada pengunjung yang datang kecuali sepasang sejoli yang masih duduk berhadapan di sana.


El di dalam taksi. Ia melihat lampu-lampu yang menyinari dunia yang begitu terang. Apakah ini takdirku, takdir yang akan selalu dibayangi oleh Samuel Nata Wijaya?.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2