Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Buaya Atau Kelinci?


__ADS_3

...Happy Reading...


...***...


Mata Olivia fokus terhadap sesosok orang yang ada didepan matanya. "Kamu kesini mau apa?",tanya Olivia bingung harus bertanya tentang apa.


"Hmmm... Katanya Saga sakit",jawab Satria ragu.


"Siapa Liv?",tanya seseorang dari dalam.


"Temanku Mi",jawab Olivia yang menoleh kebelakang. Lalu Olivia keluar dan menutup pintu kamar Saga, tidak memberi ruang buat Satria untuk melihat kondisi Saga. Ia menyeret Satria menjauh dari kamar Saga.


"Aku mau menjenguk Saga, Liv",oceh Satria yang dipaksa untuk mengikuti langkah Olivia.


Olivia melepaskan lengan Satria. "Mengapa kamu bisa ada disini?. Dan kenapa kamu bisa tahu bahwa Saga dirawat disini?",tanya Olivia panjang lebar.


"Karena ada seseorang yang baik memberikan kabar kepadaku bahwa Saga dirawat disini. Tolong Liv, tolong izinkan aku menjenguk Saga. Aku mohon Liv?",mohon Satria.


Olivia menghadap kearah berlawanan. Ia takut bila nanti El tahu tentang kondisi dari Saga.


"Aku mohon Liv?. Apakah sakitnya Saga berhubungan tentang El dan Sam?",tanya Satria.


Olivia meneteskan air mata membayangkan kejadian malam yang naas itu.


"Oliv",panggil Satria dengan lembut.


"Aku takut Sat. Aku takut!",lirih Olivia suara Olivia bergetar karena menangis.


Satria memegang kedua bahu Olivia dan mengarahkan Olivia untuk bertatap muka. "Ada aku disini Liv".


Olivia memeluk Satria dengan tangisan yang begitu sendu. Hiks... Hiks...


"Menangislah sepuas kamu, Liv!",balas Satria memeluk Olivia.


Hiks... Hiks... Hiks...


Beberapa menit kemudian tangisan Olivia mulai meredup. Ia sadar bahwa orang yang ia peluk bukanlah siapa-siapa baginya lalu ia melepaskan pelukan yang begitu hangat. "Maafkan aku!",lirih Olivia menghapus air mata dari kedua pipi.


"Tidak masalah. Basahilah semua pakaianku juga tidak masalah kok!",sahut Satria melihat baju yang ia kenakan basah karena air mata dari Olivia.


Olivia tersenyum mendengarkan ocehan Satria yang mencoba melucu. "Terimakasih Sat, sudah menjadi sandaran dalam tangisan dan sedihku".


"Aku ikhlas Liv, bila aku menjadi sandaran ternyaman buat kamu".


Olivia duduk di kursi taman yang ada didekatnya.


"Boleh aku duduk di samping kamu?".


"Silahkan Sat!".


Satria duduk di samping Olivia. "Boleh aku bertanya sesuatu sama kamu?".


"Tanya apa?".


"Tanya kabar Saga dan kabar kamu".


"Saga sudah masuk keruang perawatan, seperti yang kamu lihat tadi",jawab Olivia singkat.


"Lalu, bagaimana kabar kamu?".


"Seperti yang kamu lihat. Kabarku tidak sedang baik-baik saja". Olivia mengalihkan pandangan ke lain tempat supaya Satria tidak menatapnya.


Satria menghela nafas dengan kasar. "Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?".


"Banyak Sat. Banyak sekali. Pertama, adikku belum siuman. Kedua, dia akan dibawa pulang oleh Mami. Ketiga, aku.......-",ada kata jeda dalam perkata Olivia.


"Kamu, kenapa?".

__ADS_1


"Aku, akan dijodohkan dengan anak temannya Mami",jawab Olivia meneteskan air matanya lagi.


Deg. Satria tercengang mendengar ungkapan hati dari Olivia. Dijodohkan. "Kamu sudah bertemu dengannya?",tanya Satria harap-harap cemas.


Olivia menggelengkan kepala. "Belum. Mungkin sebentar lagi akan ada pertemuan antara keluarga".


Satria tertunduk lemas tak bertulang karena orang yang ia cintai akan dijodohkan dengan orangtuanya.


"Mungkin ini takdirku, Sat. Karena aku sudah tidak mengenal laki-laki lain selama aku patah hati. Dan hanya kamu yang aku kenal selain klien-klienku",jawab Olivia.


Satria ingin terbang melayang karena selama Olivia patah hati, hanya dialah yang ada di hidupnya saat itu juga. Tetapi, sebelum ia terbang melayang ke angkasa, ia sudah dijatuhkan kedalam jurang yang amat dalam.


"Tapi, ya sudahlah. Mungkin, dia yang pantas dalam hidupku!",kata Olivia tersenyum memberikan semangat pada dirinya sendiri. "Sudah...lupakanlah masalahku saat ini".


Satria hanya diam memandang Olivia yang ceria lagi walaupun hatinya sakit entah seperti apa.


"Kita ke kamar Saga yuk?",ajak Olivia yang berdiri mengulurkan tangan kanannya.


Satria melihat uluran tangan dari Olivia. Ia melihat Olivia sudah tersenyum kembali. Satria dengan perlahan menerima uluran tangan dari Olivia. Dan mereka berjalan beriringan.


"Aku mohon ya Sat, jangan beri tahu dulu kepada El?. Aku tidak mau El bersedih",pesan Olivia.


"Boleh aku tahu penyebabnya apa, sampai Saga seperti ini?",tanya Satria pelan.


Olivia bercerita bagaimana kejadian naas itu berlangsung. Mereka sambil bergandeng tangan dan bercerita sepanjang perjalanan ke kamar Saga.


*


*


*


Sam sudah ada didalam kantornya. Ia mencoba menghubungi nomer hp dari El beberapa kali. Satria yang merasa risih karena ponsel sang adik terus berdering. Ia lalu mematikan panggilan itu. "Kok dimatiin sih!",kesal Sam.


"Kamu dimana sayang?". Samuel.


Satria membaca sekilas pesan dari Samuel. Lalu ia membalasnya.


Deg.


Sam tercengang membaca pesan dari balasan El. "Dirumah sakit. Ngapain!",pikir Sam.


"Rumah sakit mana sayang?". Samuel.


"Rumah sakit XXX". El.


Samuel langsung bergegas keluar dari kantor dan memasuki mobil dengan sopir Ardi. "Cepat Pak!. Kita ke rumah sakit XXX",perintah Sam kepada Ardi.


"Baik Mas",jawab Ardi yang langsung menginjak pedal gasnya.


*


*


*


Sella, Alan, El dan Dino sekarang sudah di restoran untuk makan siang. Sella memesan aneka makanan Nusantara.


"Abang Satria kok lama banget ya ambil ponselnya",pikir El dengan perasaan campur aduk.


"Sudahlah El. Tidak mungkin Abang Satria tersesat",sahut Sella.


Dino yang sedang menikmati makan siang dengan lahap memakannya. "Mungkin Abang tidak jadi kesini Kak. Atau malah sedang tidur imut di kamar",seru Dino.


"Boleh pinjam ponselnya tidak Sel?".


Sella memberikan ponselnya kepada El. El segera menghubungi nomernya sendiri tetapi tidak ada jawaban dari yang bersangkutan.

__ADS_1


*


*


*


Olivia dan Satria sudah berada didalam kamar rawat Saga. Satria tidak lupa memberikan salam kepada Amira.


"Kamu bukankah Satria, anaknya Jeng Melati?",tanya Amira ragu.


"Iya tante. Tante kenal sama Bunda?",tanya Satria balik.


"Oh... Kamu Satria yang selalu membantu Bundanya di butik itu?",jelas Amira mengingatnya.


"Iya tante. Tante pernah lihat saya sebelumnya?".


"Ya jelas tante pernah lihat kamu sebelumnya Satria. Tante lihat kamu di butik Bunda kamu. Kata Bunda kamu, kamu selalu sibuk bila Bunda kamu meminta tolong untuk mengantar pesanan kepada para pelanggannya?".


Ha.... Satria kaget sampai ia susah untuk menelan ludahnya sendiri. "Mungkin maksud Bunda, Satria sibuk ngerjain tugas kuliah tan".


"Oh...begitu. Bukannya sibuk sama wanita-wanita pacar kamu ya?".


Glek...


Satria tercengang mendengar perkataan Amira lagi. "Hahaha...tante bisa aja!",kata Satria malu terhadap Olivia.


Olivia hanya mengangga tidak percaya bahwa Maminya bisa berbicara seperti itu sama Satria, yang notabenenya belum kenal sepenuhnya. "Mami!",lirih Olivia pelan dengan gerakan mulut.


"Bukannya kamu sahabatan dengan Edwan anaknya Dirga?".


"Iya tante. Dulu kita sahabatan. Tante juga kenal sama Edwan?".


"Kenal banget malahan. Bukannya dia playboy?".


Ha....


"Kalau sahabatnya playboy, berarti kamu juga playboy dong?",ucap Amira yang ingin mengetes kejujuran dari Satria.


Ha...


Satria menunjuk kedirinya sendiri. "Saya tante?".


"Huum".


"Mami!",lirih Olivia pelan dan tidak enak hati kepada Satria.


Satria menoleh ke arah Olivia mencari jawabannya.


"Kalau kamu playboy, berarti kamu bisa dikatakan buaya dong!",sambung Amira yang menahan tawanya melihat wajah Satria yang sangat gugup dan kebingungan.


What!. Satria kalah telak dengan perkataan dari Amira. Ia saat ini mati kutu. Tapi ia tidak putus semangat dalam menghadapi ini, menghadapi atasan yang keras kepala saja ia bisa kendalikan. Masa gara-gara kata playboy dia langsung mundur begitu saja.


"Mami!",kata Olivia dengan nada yang sedikit kesal.


Amira memandang Satria yang sedang kebingungan karena perkataannya yang sudah tidak bisa ia kontrol.


"Maaf ya tante, bukannya saya playboy atau bisa tante katakan dengan kalimat hewan buaya. Karena sepertinya hewan buaya itu hewan yang sangat setia terhadap pasangannya. Buaya melindungi buaya betinanya sampai betinanya melahirkan. Beda dengan cerita hewan kelinci, yang selalu berganti-ganti pasangannya. So..... jadi buaya lebih setia dari kelinci. Itu menurut pendapat saya!",jelas Satria dengan perasaan was-was.


"Ilmu yang kamu terapkan lumayan masuk akal sih. Tapi.... jangan salahkan buaya atau kelincinya, karena mereka hanya seekor hewan saja".


Olivia semakin kesal dibuat oleh maminya. "Mami apa-apaan sih!. Ini rumah sakit Mi, tidak seharusnya mami bercerita hewan. Kayak anak kecil aja!",marah Olivia yang langsung pindah duduk di samping ranjang Saga.


Satria terasa kikuk berada diantara wanita-wanita ini.


Amira ingin sekali tertawa sepuas-puasnya melihat Olivia yang kesal terhadapnya dan Satria yang sedang tidak enak hati.


...***...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote....


...Terimakasih....


__ADS_2