
Happy Reading.
***
Violla membuka pintu kamar VVIP yang ditempati anak bungsunya itu. Ia melihat Sam masih tertidur dengan pulasnya.
Ardi yang masih berjaga mengikuti kemana Violla berjalan.
"Apa yang kamu lakukan di sini Ar?",tanya Violla mencoba tenang.
"Saya disini sudah melakukan yang terbaik buat Mas Sam, nyonya!",jawab Ardi tegas.
"Tadi saya keruangan dokter, katanya tadi pagi ada kejadian yang tidak biasa di sini!. Apakah benar?",tanya Violla.
"Iya nyonya. Mas Sam mencoba mengingat-ingat memorinya, tapi hasilnya nihil!",ucap Ardi berbohong.
"Lalu darah yang berceceran dilantai itu, darah siapa?. Katanya ada seseorang yang terkena lemparan pot bunga oleh Sam?",tanya Violla penuh selidik.
Tidak mungkin aku harus jujur sama nyonya, pasti mbak El akan dalam masalah! batin Ardi.
"Jawab Ardi!. Jangan diam aja!",bentak Violla.
"Maaf nyonya, kemarin ada salah satu orang yang salah masuk kamar VVIP. Dan pada saat itu, ada seseorang masuk, dia kira yang sakit adalah keluarganya. Ya udah, pada saat masuk pas mas Sam sedang frustasi!",jawab Ardi berbohong.
"Saya tahu anak saya bagaimana?. Saya tahu, kalau Sam sedang frustasi pasti gara-gara ada masalah, dan dia akan membanting benda terdekatnya?. Apakah ada orang yang berkunjung dan mengganggunya?",tanya Violla curiga.
"Mungkin mas Sam sedang frustasi tentang memorinya nyonya. Makanya mas Sam mencoba melampiaskan kemarahan dengan melempar pot yang ada di atas nakas!",jelas Ardi mencari jawaban yang pas.
"Apakah El datang kemari?",tanya Violla sarkas.
"Mana mungkin saya membiarkan dia datang kesini nyonya!. Saya sudah melaksanakan apa yang nyonya perintahkan kepada saya!",jawab Ardi.
"Bagus kalau begitu. Kamu harus sadar posisi kamu di keluarga saya Ardi!. Kamu cuma asisten pribadinya Sam. Dan saya tidak mau kalau kamu ikut campur dalam masalah keluarga kami!",pesan Violla mengingatkan. "Dan satu lagi, kalau kamu membuat ulah dan melanggar apa yang saya perintahkan, maka saya akan mengeluarkan kamu tanpa persetujuan dari Sam!",lanjut Violla.
"Baik nyonya. Saya akan mengingatnya!",jawab Ardi tenang.
"Bagus. Sekarang, kamu kembali ke tempat kamu bekerja, biarkan Sam istirahat!. Saya akan ke kantor!",kata Violla langsung pergi meninggalkan ruangan.
"Baik nyonya!", jawab Ardi. Ia lalu pergi meninggalkan ruangan. Ia berjalan menuju ruang IGD.
***
Disisi lain El yang sedang di ceramahi oleh Saga karena keteledorannya.
"Iya Kak. El tahu kok. Kakak gak capek ya, dari tadi ngomel terus?",keluh El yang sedang terbaring di ranjangnya.
"Mana mungkin El aku gak ngomel terus!. Luka kamu sampai di jahit 8 lho!. Gimana aku gak cemas dan khawatir!",sahut Saga tidak terima.
Sella yang duduk di sofa tertawa mendengar ocehan Saga. "Tandanya Kak Saga sayang sama kamu, El! Kamunya aja yang gak paham!",ucap Sella asal.
"Sella aja tahu kok!. Untung tadi aku telepon. Kalau gak, bagaimana?",kata Saga yang tidak henti-hentinya mengomel.
"Iya-iya Kak. Kakak gak kerja?",tanya El mengalihkan perhatian.
"Gimana aku bisa konsentrasi kerja, kalau kamu tidur di rumah sakit seperti ini!",keluh Saga. Bisa-bisanya El mempertanyakan soal pekerjaan.
"Kalau aku jadi bosnya Kakak, udah otomatis Kak Saga aku pecat!",goda El. "Soalnya tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya!".
"Astaga!. Ini bukan waktunya bercanda El!",kesal Saga memegang kepalanya pusing.
Sella yang masih duduk di sofa tertawa terbahak-bahak. "Woy, mana mungkin, seorang bos memecat dirinya sendiri!",sahut Sella.
"Ya udah, makan dulu ya?. Biar aku suapin?",tawar Saga.
"Gak usah Kak, aku masih bisa duduk. Aku gak kenapa-napa kok!",jawab El yang langsung duduk.
Saga dengan telaten menyiapkan meja makan di atas ranjang dan menu buat sarapan pagi. "Makan yang banyak, supaya badan kamu tidak sekurus lidi!. Tuh lihat, kamu semenjak di New York tambah kurang gizi aja!. Apakah Sam tidak memperhatikan kamu?",oceh Saga yang tidak terima El menderita.
"Apaan sih Kak, aku bukan anak kecil lagi, yang selalu ingin diomelin terus. Ayah dan bunda aja gak secerewet Kakak lho!",kata El polos.
"Karena mereka tidak melihat kondisi kamu, El!. Coba sekarang mereka tahu kondisi kamu, pasti akan seperti Kakak ocehannya, malah bisa lebih!",sahut Saga.
"Iya",jawab El malas. Ia lalu makan dengan pelan.
"Kak Saga mau gak, kerja sama sama perusahaanku?",tanya Sella.
__ADS_1
"Waktunya kurang tepat Sel, mempertanyakan soal kerjasama. Pikiran Kakak lagi diisi oleh orang yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit ini!",jawab Saga yang masih melihat El makan.
El langsung mengalihkan perhatiannya terhadap sesosok orang yang sangat protektif terhadapnya. "Apaan sih Kak!".
"Seharusnya kamu tuh pilih cowok kayak Kak Saga, El?. Bukan kayak si Sam!",kata Sella. "Kak Saga aja perhatiannya melebihi apapun, daripada si Sam, yang sekarang sudah banyak berubah. Tukang marahlah, tukang protektif, tukang nyuruh dan satu lagi, tukang melempar benda apapun!",lanjut Sella malas membicarakan Sam.
"Sel!. Dia lagi sakit. Tolong dong, jangan mojokin Sam terus. Dia sedang berjuang menghadapi kenyataan",sahut El tidak terima atas perlakuan Sella terhadap Sam.
"Iya aku tahu, kamu sangat perduli sama dia. Tapi, saat ini mungkin akan susah buat dia mengenali kamu, apa lagi sekarang tante Violla sudah membatalkan pertunangan kamu sama Sam kan!",jelas Sella.
"Iya. Mungkin ini sudah menjadi takdirku Sel. Aku juga gak tahu harus bagaimana lagi, walaupun Pak Ardi mau membantuku!",kata El pasrah.
"Walaupun kamu mau berusaha menyembuhkan dia, dianya aja gak mau kalau kamu dekat-dekat sama dia. Apa lagi setelah kejadian ini, aku tidak akan membiarkan kamu dekat-dekat lagi sama dia!",kata Sella.
"Sel, tapi dia sedang butuh kita. Kamu gak kasihan apa sama dia?. Memang sih, dia tadi sedang tertekan dan aku tanpa sadar tidak bisa menghindari lemparannya!. Tapi, mungkin dia tidak sengaja melempar pot ke aku?",jelas El tidak mau ada salah paham.
"Aku tahu El kalau kamu sayang sama dia?. Tapi bukan berarti kamu menyiksa diri kamu sendiri!",sahut Sella.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu terdengar dari depan.
Sella segera membukanya. "Pak Ardi!".
"Bagaimana keadaan mbak El, mbak?",tanya Ardi yang masih berdiri di depan pintu.
"Silahkan masuk pak!",kata Sella.
Ardi langsung melangkahkan kaki ke dalam ruangan. Ia sedang melihat El dan Saga berbincang-bincang.
"Pak Ardi!", ucap El melihat Ardi berjalan menghampirinya.
Saga yang mendengar Ardi langsung menoleh kebelakang. "Bukankah itu asistennya Sam?",tanya Saga berbisik.
"Iya Kak!",jawab El singkat. "Ada apa Pak?",tanya El.
"Saya mau tanya sama mbak El, bagaimana keadaan mbak?",tanya Ardi tidak enak.
"Alhamdulillah saya baik-baik saja pak!".
"Anda tidak melihat bagaimana keadaan El saat ini?. Luka yang masih diperban, yang di jahit sampai 8 jahitan, apakah anda buta?",ucap Saga sangat marah atas insiden ini.
"Tidak apa-apa kok Pak. Bapak sudah banyak membantu!",sahut El yang langsung membela Ardi. "Kak Saga, ini bukan salah Pak Ardi?. Pak Ardi ingin melindungi saya, tapi mungkin waktunya yang tidak tepat!",lanjutnya.
"Sekali lagi saya minta maaf mbak?. Saya tidak akan memaksa mbak El lagi untuk membantu kesembuhan mas Sam. Saya takut kejadian ini terulang lagi. Maafkan saya mbak?".
"Tidak apa-apa kok Pak. Saya senang bisa membantu Pak Ardi, tapi saya akan berusaha membantu Sam!",jawab El.
"El, kamu kok seperti itu!. Kamu gak kasihan sama diri kamu sendiri?. Kamu sedang terluka El!. Aku tidak mau sesuatu terjadi sama kamu?",sahut Sella tidak terima atas sikap baik El.
"Iya El. Kakak takut kalau kamu kenapa-kenapa. Kakak tinggal beberapa jam aja, kamu sudah diperban kayak gini!. Apa lagi nanti?",kata Saga.
"Udah deh. Ini keputusan aku. Aku ingin menolong Sam!".
"Terserah kamu. Tapi kalau nanti terjadi sesuatu sama kamu, jangan hubungi aku lagi!. Aku ogah datang kesini!",kesal Sella.
"Aku akan lebih hati-hati lagi Sella sayang!".
"Ya terserah kamu, kalau itu memang terbaik buat kamu!",kata Saga sedih. Ia sebenarnya ingin, El benar-benar bisa melupakan Sam untuk selamanya, tetapi cinta El mengalahkan segala cara.
"Terimakasih banyak ya mbak El!",ucap Ardi.
"Sama-sama pak!".
"Ya udah, cepat sarapannya di habiskan!. Lalu, cepat istirahat lagi. Kamu butuh tenaga yang extra buat...!",hela nafas Saga berhenti. "Untuk Menyembuhkan Sam!",
"Ok Kak!",jawab El dengan penuh semangat.
Andai kamu tahu El, betapa hancurnya hati ini. Melihat kamu terluka seperti ini. Hidupku seperti tidak ada artinya. Kamu terluka, aku juga merasakan luka itu. Luka yang sangat sulit untuk disembuhkan! ungkapan hati Saga.
***
Beberapa hari kemudian.
El diizikan oleh dokter untuk bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Luka jahitan itu masih diberi perban supaya cepat mengeringnya.
__ADS_1
Kedua orangtua El tahu tentang kondisi anaknya. Mereka sangat panik, karena menurut orang yang dipercaya yaitu Sella. Sella mengatakan bahwa El mengalami musibah kecil jatuh dari sepeda mini.
El sedang melakukan video call. Di ponselnya terdapat gambar kedua orangtuanya.
"Makanya sayang, kamu harus lebih hati-hati lagi!. Masa naik sepeda mini aja sampai dijahit 8 sih?",pesan bunda.
"Iya bunda sayang. El akan lebih hati-hati lagi",jawab El.
"Bagaimana keadaannya nak Sam?. Serius dia amnesia?",tanya Ayah yang begitu penasaran kabar dari Sam.
"Iya yah. Sam amnesia. Mungkin akan lama untuk penyembuhannya, kata dokter benturannya yang sangat keras dan mengenai kepalanya",jawab El.
"Yang sabar ya Dik. Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya!",sahut Satria.
"Iya Bang. Doain juga, supaya Sam segera pulih. Dia benar-benar frustasi Bang!".
"Aamiin, semoga nak Sam cepat sembuh sayang!",jawab bunda.
Satria langsung mengambil ponsel bunda dan menampakkan wajah gantengnya. "Dik, boleh minta tolong gak?",tanya Satria yang dibuat semanis mungkin.
"Minta tolong apa Bang?".
"Itu lho cewek yang metting metting sama kamu, direstoran itu siapa sih namanya?. Boleh kenalan gak ya?",kata Satria.
"Siapa sih Bang, mbak Tamara sekertarisnya Sam maksudnya?",tanya El balik.
"Tidak tahu namanya siapa. Yang pasti dia cantik, pakai baju biru muda, masih muda dan senyuman bikin Abang tidak bisa tidur!",jelas Satria menjelaskan sosok wanita itu.
"Abang kamu gombal sayang!",sahut bunda dan ayah.
"Siapa ya Bang?",pikir El.
"Itu lho, pada saat Abang tertidur sambil video call itu!. Kameranya mengarahkan ke dia!".
"Oh, Kak Olivia. Ada lesung pipinya kan Bang?".
"Iya. Dia namanya siapa dik?. Terus boleh minta nomer hpnya gak?",tanya Satria yang sudah tidak sabar.
"Namanya Kak Olivia, Bang. Dia kakaknya Kak Saga, temannya El. Memang abang berani apa sama dia?",tanya El tidak yakin.
"Kenapa tidak yakin?".
"Dia pengusaha muda Bang!",jawab El polos.
"Serius?",tanya Satria tidak percaya.
"Iya Bang. Bukankah Abang suka sama Teh Raina?",ucap El hati-hati.
"Serius sayang, Abang suka sama Raina?",sahut Bunda tidak percaya.
"Gak Bunda. El kalau ngomong tidak pernah di saring deh!",sahut Satria tidak terima.
El tersenyum senang menggoda sanga Abang.
"Kalau Abang gak pernah suka sama Raina. Enak aja!. Mungkin Rainanya aja yang gak pernah jujur sama Abang kalau dia yang suka sama Abang!. Kamu tahukan Abang ini gantengnya maksimal!",ucap Satria membela diri.
"Abang kamu terlalu percaya diri, Dik!. Gak usah di dengarkan!",kata Bunda.
"Serius Bunda?. Terus kamu emang yang bilang siapa, kalau Abang suka sama Raina?",tanya Satria.
"Kalau menurut El, Abang suka sama Teh Raina. Tapi, Abang terlalu gengsi buat itu!".
"Astaga!. Kenapa tidak ada yang percaya sih sama Abang!. Ya udah deh, nih Bun teleponnya!",kesal Satria yang langsung memberikan ponsel dan berlalu dari ruang keluarga.
"Abang kamu tuh seperti itu kelakuannya!",kata Bunda. "Memang benar ya sayang, kalau abang suka sama Raina?",tanya Bunda penasaran.
"Menurut felling El, Bun".
"Bunda senang kalau Abang kamu bisa pacaran sama Raina. Rainakan anaknya baik ya kan yah?",goda Bunda.
"Ogah!. Bunda aja yang pacaran sama dia!",sahut Satria marah, ia mendengar percakapan El dan bundanya. Ia sedang ada di ruang tamu.
Bunda, Ayah dan El menahan tawa. Mereka sangat bahagia mendengar jawaban dari Satria.
***
__ADS_1
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.