
Happy Reading.
***
Akhirnya waktu sudah menunjukkan sore hari. Para karyawan-karyawati langsung berhamburan pulang kecuali yang ada tambahan jam kerja.
El bergegas untuk pulang ia berjalan menuju pintu luar. Tetapi ada seseorang yang memegang lengannya. Ia kaget dan menengok ke belakang. "Pak Ardi".
Ya dia Ardi, yang ingin berbicara sesuatu yang sangat penting. "Ikut saya Mbak?", perintah Ardi sambil menengok ke kanan dan kiri. Ia melepaskan lengan El dan berjalan mendahului.
"Baik Pak",jawab El sambil mengikuti langkah Ardi.
Mereka berhenti dibasement. Salah satu tempat parkir di perusahaan ini.
"Ada apa Pak?. Kenapa Bapak membawa saya ke sini?",tanya El bingung.
"Mas Sam seperti ingatnnya semakin membaik Mbak. Kemarin beliau mempertanyakan tentang perusahaan".
"Bapak yakin?",ucap El tidak percaya.
"Saya yakin Mbak. Dan beliau bersikeras ingin pergi ke perusahaan ini".
"Tapi saya tidak yakin Pak. Atau mungkin gara-gara kemarin saya tidak sengaja menyebutkan kalau saya bekerja satu perusahaan dengan Mamanya".
"Tapi kenapa Mbak El mempermasalahkan Mbak Laura?".
"Saya tidak mempermasalahkan Pak. Hanya saja Sam terlalu ikut campur urusan saya. Dia sudah memata-matai saya sampai-sampai ada beberapa lembar foto saya dengan Kak Saga".
Ardi terkejut dengan pernyataan El. Karena semua itu adalah hasil ulan tangannya sendiri.
"Bapak tahu siapa yang mengikuti saya?",tanya El curiga.
"Hm". Ardi terperangah.
"Atau jangan-jangan, itu ulah Pak Ardi!", tebak El.
"Kenapa Mbak El bisa berbicara seperti itu".
"Siapa lagi kalau bukan bapak yang saya curigai. Soalnya dari semua yang dekat dengan Sam, hanya Bapak yang pantas buat saya curigai",skakmak El. "Kenapa sih Bapak berbuat seperti itu. Bapak kan tahu sendiri, bahwa saya sama Kak Saga adalah teman. Kenapa bapak bisa mengiring opini bahwa saya dan Kak Saga, lebih dari teman Pak. Sekarang Sam salah paham terhadap saya karena foto-foto itu. Sampai-sampai ponsel saya yang menjadi korbannya!",ungkap El.
"Maafkan saya Mbak. Saya tidak bermaksud menuduh Mbak berpacaran dengan Mas Saga. Tapi, ini jalan satu-satunya buat Mas Sam kembali".
"Terserah Bapak mau melakukan apa!. Tapi tolong jangan dengan Kak Saga. Kak Saga selama ini sudah baik terhadap saya".
"Baik mbak El. Maafkan saya. Saya janji, saya tidak akan melakukan kesalahan yang fatal lagi. Dan bukankah ponselnya sudah dibelikan oleh Mas Sam?".
"Sudah sih Pak. Tapi itu terlalu mahal Pak. Maaf, saya tidak bisa menerimanya".
"Tapi itu yang belikan Mas Sam mbak. Kalau Mas Sam sampai tahu kalau Mbak El tidak menerimanya, bisa marah beliaunya".
"Maaf Pak, saya tidak bisa. Ya sudah Pak, saya pemit dulu. Soalnya sudah ada seseorang yang akan menjemput saya!',pamit El.
"Siapa Mbak?. Mas Saga?".
"Iya. Saya sudah ada janji sama dia. Dan nanti saya akan pulang larut malam, karena ada acara perpisahan dengan Sella. Tolong sampaikan ini kepada Sam, Pak!. Permisi!",pamit El yang langsung berjalan pergi meninggalkan basemen.
***
Saga dan El akhirnya sampai di mall terbesar yang ada di New York. El sedang memilih-milih sebuah ponsel dengan harga yang terjangkau, karena ia tidak mau membuang-buang uang hanya dengan sebuah ponsel.
Saga selalu memberikan masukan supaya membeli ponsel yang bagus dengan harga yang terjangkau.
El akhirnya membeli salah satu ponsel yang lumayan harganya, karena di negara ini semua brand ternama yang terpasang nyata di depan etalase. "Terimakasih ya Kak, sudah mau menemani aku cari ponsel ini!",ucap El dengan wajah berbunga-bunga.
Mereka berdua berjalan beriringan.
"Sama-sama El. Lain kali, kalau ada apa-apa, cerita sama Kakak. Jadi, aku tidak khawatir sama kamu".
"Baik Kak".
"Kita cari makan dulu ya?. Pasti kamu lapar?",ide Saga.
"Tidak usah Kak. Terimakasih. Soalnya habis ini aku ada janji sama Sella. Kakak ikut ya?".
"Tidak usah, pasti kalian mau cerita-cerita kan. Aku tidak mau mengganggu waktu kamu dengan Sella".
__ADS_1
"Tidak mengganggu sama sekali kok Kak. Serius!",sahut El membentuk jari v.
"Tidak El. Terimakasih. Ya sudah, aku antar ya. Dimana tempatnya?".
"Monac rooftop".
Langkah Saga berhenti mendengar restoran Monac rooftop.
El berhenti seketika setelah melihat Saga mematung di tempat. "Ada apa Kak?",tanya El merasa bingung.
"Tidak ada apa-apa",jawab Saga yang segera berjalan lagi mengajak El. Mereka berdua berjalan beriringan lagi. Andai kamu tahu El, restoran itu adalah milik keluargaku.
Mereka berdua sedang berada di dalam mobil. Mobil Saga berhenti tepat di depan restoran Monac Rooftop.
"Kakak serius tidak ikut?",tanya El sekali lagi.
"Tidak El. Terimakasih. Lain kali aja ya!. Dan tolong nanti sampaikan salam Kakak dengan Sella!".
"Baik Kak. Terimakasih ya Kak, sudah antarkan aku sampai restoran ini!".
"Iya sama-sama. Tapi nanti pulangnya sendiri ya. Kakak tidak bisa jemput!",goda Saga.
"Apaain sih Kak. Memang Kakak sopirku apa!. Main jemput-jemput segala!",sahut El tidak terima. "Assalamualaikum Kak!",pamit El yang sudah membuka pintu dan keluar.
"Walaikumsalam El!",pamit Saga setelah El menutup pintu. Ia segera menancapkan pedal gasnya.
El menghela nafas, lega. Ia kemudian berjalan masuk kedalam restoran. Ia segera mengirim pesan kepada Sella.
"Dimana?". El.
"Di atas". Sella.
El segera menuju ke lift lantai atas. Ia berharap semoga ia tidak terlambat datang.
Sella melambaikan tangan setelah melihat El yang sedang mencari dirinya.
El tersenyum dan menghampiri Sella yang sudah lama menunggu. "Maaf ya, aku terlambat ya?",ucap El yang tidak enak hati.
"Tidak kok. Makannya juga baru datang!",sahut Sella mencium pipi El. "Silakan duduk tamu terhormat ku!",goda Sella dengan senyuman menawan.
Sella mengenyitkan dahinya tidak mengerti. "Siapa?".
"Kakak Saga".
Sella tiba-tiba tersenyum. "Kamu habis jalan ya sama dia?".
"Iya sih. Tadi dia juga antar aku sampai kesini".
"Terus, kenapa kamu tidak ajak dia makan bareng?".
"Sudah, sudah aku ajak. Tapi dia tidak bisa, karena ada hal penting katanya!",jelas El.
"Ok. Salam balik buat Kak saga!".
El melihat seisi meja penuh dengan hidangan makanan yang sangat lezat dan enak. "Kamu yakin, kita akan menghabiskan semuanya ini?",tanya El tidak yakin dengan menu yang sangat banyak.
"Kenapa tidak!. Waktunya sekarang bukan untuk diet!. Tapi, untuk makan-makan!",jawab Sella. "Oh ya, aku mengundang seseorang untuk datang kesini?",lanjut El.
El mendongakkan wajahnya untuk bisa melihat wajah Sella. "Siapa?",tanya El yang sangat penasaran dengan tamu undangan.
Sella memberikan sebuah kode agar seseorang keluar dari persembunyiannya.
El tercengang melihat seseorang itu berjalan kearahnya. Ia tidak percaya bahwa dia ada disini. "Teh Raina!",seru El dengan bahagia. Ia segera berdiri menyambut Raina dengan sebuah pelukan hangat. "El kangen banget sama Teteh!",peluk El manja di dekapan Raina.
Raina memeluk hangat El dengan kasih sayang. "Teteh juga kangen banget sama kamu, sayang!",ucap Raina.
El merenggangkan pelukannya. "Kenapa Teh Raina kesini tidak bilang sama aku?".
"Karena Teh Raina ingin membuat kejutan buat kamu".
"Terimakasih Teh Raina. Ini benar-benar membuat aku sangat terkejut!".
"Sama-sama. Oh ya, ada titipan buat kamu?",kata Raina membawa paper bag.
"Dari siapa Teh?".
__ADS_1
"Dari Bunda dan Bang Satria".
"Jadi Bunda dan Abang tahu, kalau teteh mau kesini?".
Raina menggangguk kepala. "Kenapa?".
El langsung merengek-rengek manja. "Kenapa mereka tidak bilang sama El kalau teteh mau kesini!".
"Teteh kesini karena juga mendadak. Soalnya ada urusan dinegara ini. Ya udah deh, teteh langsung terbang kesini".
"Terimakasih ya Teh, sudah bawakan oleh-oleh ini jauh-jauh buat aku!",kata El manja.
"Sama-sama El",jawab Raina. "Aku lapar nih, boleh makan tidak ini?",lanjut Raina sambil memandang seluruh hidangan yang ada dimeja.
"Boleh dong Teh. Silahkan!",kata Sella mempersilahkan.
Raina dan El bersorak gembira. Mereka bertiga menyantap santapannya dengan lahap.
"Aku masih penasaran deh Teh, kenapa teteh bisa sampai bertemu dengan Sella?",tanya El sambil menguyah hidangannya.
"Ceritanya panjang. Teteh menghubungi Sella, setelah itu Sella menjemput Teteh di bandara!",jelas Raina.
"Ih...kamu curang sekali Sel. Kenapa kamu tidak memberitahu aku terlebih dulu?",kesal El.
"Kalau aku memberitahukan kamu, jadinya tidak seperti ini dong, El!".
"Berarti kalian sukses buat aku seperti ini!",kata El dengan nada penuh makna. "Bunda dan Abang juga, pasti sekongkol sama kalian!",lanjut El.
Sella dan Raina tertawa melihat tingkah lucu El.
"El...!", panggil Raina ragu.
"Iya Kak. Ada apa?",tanya El sambil mengaduk-aduk makanan.
"Teteh kesini mau berbicara serius sama kamu",kata Raina menatap El dengan tajam.
El merasa ada yang aneh. Ia menatap Sella dan Raina secara bergantian. "Ada apa ya Teh?. Apa Teteh suka sama Abang Satria?",tebak El yang fokus dengan pembicaraan ini.
Raina menggelengkan kepalanya. "Bukan. Bukan masalah Abang Satria".
"Lalu?".
Raina mengeluarkan bingkisan yang ia letakkan diatas meja. Bingkisan itu dihias dengan konseo modern.
"Ini apa ya Teh?",tanya El bingung.
"Itu bingkisan baju buat kamu menjadi Bridesmaid diacara pernikahan Dony",jawab Raina serius.
El mendongakkan wajahnya kaget. Ia tidak tahu mengapa ia mendapatkan tugas itu, padahal selama ini ia lost contact dengan Dony. Lalu kenapa Dony tidak menghubungiku sama sekali tentang Bridesmaid ini. "Tapi aku tidak bisa Teh!",jawab El yang sudah memanas matanya karena rasa yang dulu ada kini hanya tinggal kenangan.
"Teteh tahu kamu dan Dony sedang tidak baik-baik saja. Teteh juga tidak tahu, masalah apa yang ada diantara kalian sampai-sampai kalian saling menjauh satu sama lain. Tapi, ingatlah, Dony adalah sahabat kamu dari kecil. Kalian tumbuh dan besar bersama-sama sama dia. Apa kamu tidak merindukan itu, El?. Cukup Teteh dan Abang kamu yang selalu dianggap seperti tikus dan kucing sama semua orang. Tapi, kalian jangan seperti itu!",kata Raina.
"Aku yang membuat semua ini jadi seperti ini Teh. Karena keegoisanku, aku dan Dony menjauh. Sebenarnya aku ingin sekali menyapanya, tapi hati kecilku memgatakan bahwa aku tidak pantas dimaafkan karena sudah menghancurkan persahabatan yang kita bangun dari masa kanak-kanak!",jawab El menundukkan kepala. Tanpa terasa air mata sudah menetes dipipi manisnya.
"Teteh tidak menyalahkan kamu, El. Tapi yang teteh sayangkan adalah persahabatan yang kalian bangun dari nol. Maafkan Teteh kalau teteh mengatakan ini membuat kamu sakit hati. Tapi, Teteh ingin yang terbaik buat kalian".
"El tahu Teh. Ini yang terbaik buat El. Terimakasih Teteh sudah mau menegur El, bila El salah",kata El.
Tiba-tiba ponsel Raina berdering. Ia mengambil ponselnya dari tas selempang. Ia membaca sekilas tentang pesan itu. Lalu memasukkan lagi kedalam tas.
Seseorang tiba-tiba berjalan dari pintu masuk. Tetapi, El tidak melihat seseorang itu karena ia berdiri dibalik punggung El.
"Ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan kamu, El!",kata Raina dengan wajah serius.
"Siapa Teh?",tanya El penasaran. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak seperti biasanya.
"Dia ada di sana!",tunjuk Raina dengan jari manis ke pintu masuk restoran yang berada di atas.
El langsung menoleh kearah jari manis Raina yang menunjukkan kearah pintu masuk. Deg. Jantung El seperti berhenti tidak berdetak. Ia tidak percaya bahwa dia ada disini. Ini seperti mimpi di siang bolong kamu ada di negara ini. Kamu, kamu adalah alasanku menjauh dari keramaian kota Jakarta dan sekarang aku seperti terdampar disini dengan obsesiku meraih cita-cita setinggi langit. Dan karena mu, aku bisa berdiri tegak disini melupakan kamu dengan perasaan yang cukup dalam sampai aku tersadar bahwa kamu bukanlah untukku.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1
Nb : Ayo tebak, siapa yang datang tiba-tiba di restoran sampai-sampai El tidak percaya bahwa dia ada di sana?