Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Sedih


__ADS_3

Happy Reading.


***


El dan Tamara di sambut oleh para pegawai perusahaan. Mereka mengucapkan salam perpisahan sebelum mereka berdua keluar dari perusahaan. Mereka bahagia bisa mengenal orang-orang baik seperti Tamara dan El. Mereka saling memeluk satu sama lain.


Haru......


El ikut menangis melihat keakraban Tamara dengan karyawan lainnya. Mereka akan kehilangan sosok pemimpin yang selama ini mereka banggakan.


"El... ini hadiah perpisahan dari kami?",ucap salah satu teman yang El kenal. Ia menyodorkan hadiah kepada El.


"Buat aku, Kak?",tanya El menunjuk kepada dirinya sendiri.


"Iya. Kita sangat senang bisa berkenalan sama kamu. Apa lagi, disini tidak menerima anak magang seperti dirimu. Maka, kamu menjadi satu-satunya anak magang yang aku kenal cukup lama disini. Dan kamu, sangat baik, pintar dan nurut!".


"Biasa saja Kak. Justru saya yang harus mengucapkan banyak terimakasih, karena saya diterima disini dengan baik!",ucap El bahagia.


"Ya udah, kamu terima ya hadiah ini. Semoga kamu tidak melupakan kita yang jauh dari kamu. Dan semoga kamu cepat mendapatkan gelar sarjana!".


"Aamiin Kak. Terimakasih atas doanya. Semoga kebaikan berbalik arah kepada kakak-kakak senior yang ada di perusahaan ini!",doa El yang menerima hadiah perpisahan dari mereka.


Lalu mereka berdua pamit dan tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih.


***


Tamara hari ini memberikan tumpangan kepada El. Ia membawa mobil untuk memudahkan ia memindahkan barang-barang pribadinya.


Dret... Dret... Dret...


El mengambil ponselnya dari saku. Ia melihat sebuah pesan yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Ia tercengang sampai tidak mengedipkan kedua mata.


Tamara yang sedang fokus mengemudi bingung dengan tingkah laku El. "Ada apa El?",tanya Tamara menatap sekilas.


El menatap layar ponselnya dengan tajam. Ia sangat menyesal telah mengirimkan kembali uang yang menjadi tanda terimakasih dari perusahaan XXX.


"El, kamu baik-baik sajakan?",tanya Tamara lagi karena khawatir El diam saja.


"A...aku tidak mengerti kenapa mereka malah mengirimkan uang dua kali lipat ke ATM ku mbak?",jelas El karena ia tidak mau menerima uang itu dengan jumlah yang sangat besar.


Tamara yang sedang fokus menyetir langsung mengerem mendadak. Kepala El terbentur kedepan. "Kamu serius?".


El mengusap kepala yang sakit. "Mbak, hati-hati dong!. Kalau nanti tiba-tiba mobil yang dibelakang menabrak bagaimana?. Mbak jangan mengerem mendadak seperti itu!. Bahaya!",marah El.


"Ok. Aku minta maaf. Aku yang salah!",ungkap Tamara menyesal. "Aku hanya saja tidak percaya apa yang kamu katakan tadi. Dua kali lipat El, bisa di belikan perumahan kalau di negara kamu!",kata Tamara antusias dengan gaji yang diterima oleh El.


"Tapi, aku tidak pantas mendapatkan uang sebanyak itu. Itu terlalu banyak. Aku akan mengembalikan uang itu langsung kepada Pak Ardi. Aku tidak mau mempunyai hutang balas budi sama siapapun, termasuk Sam!",jelas El. "Karena selama ini Sam sudah banyak membantuku!".


"Kalau mereka tidak mau bagaimana?. Kalau mereka malah mengirimkan tiga kali lipat bagaimana, El?. Kita tidak bisa menebak jalan pikiran orang kaya El!",ungkap Tamara yang melanjutkan lagi perjalanan pulang.


El menghela nafas kasar. Benar juga apa yang dikatakan oleh Tamara, lalu bagaimana uang sebanyak ini. Aku tidak akan mungkin memakainya, karena aku tahu ini bukan milikku.


Mobil Tamara melaju dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di gedung asramanya El, Tamara berhenti di parkiran.


"Terimakasih ya Mbak, sudah antar aku sampai asrama?",ucap El sambil melepas seat beltnya.


"Sama-sama El. Seharusnya aku yang berterimakasih kepada kamu, karena sudah memberi aku peluang untuk bisa masuk di perusahaan pak Saga!".


"Sama-sama Mbak!". El menatap langit yang begitu indah sore ini. Ia menghela nafasnya dengan kasar.


"Ada apa El?",tanya Tamara yang memperhatikan El menatap ke depan.


El mengalihkan perhatiannya kepada Tamara. "Kita tidak akan bertemu lagi Mbak!",sendu El.

__ADS_1


"Tapi, kita bisa saling video call!",guman Tamara memperlihatkan ponselnya. "Walaupun jauh, kita bisa saling menyapa El. Sekarang alat komunikasi semakin canggih El!".


"Tapi beda Mbak. Tidak bisa saling peluk!".


Tamara menghela nafas pelan. Ia lalu memeluk El dengan erat sebagai tanda persahabatan mereka. "Aku tidak akan pernah melupakan kamu, El. Karena kamu sudah Mbak anggap sebagai adik Mbak sendiri",kata Tamara berkaca-kaca.


El membalas pelukan hangat Tamara. Ia seperti mempunyai seorang Kakak yang sangat berpikir dewasa. "Semoga kita dapat berjumpa lagi ya Mbak. Entah dimana dan kapan, kita saling menegur dan menyapa!",pinta El.


"Semoga El. Aamiin!". Tamara mengelus punggung El memberikan sebuah ketulusan dalam persahabatan mereka.


***


malam Hari.


El fokus mengerjakan skripsi di laptop. Ia mengamati secara detail penulisan yang terdapat dalam skripsinya. Ia tidak mau mengulangi mengerjakan skripsinya. Ia duduk di balkon sambil menikmati indahnya malam hari. Ia sesekali melihat langit yang bertabur bintang yang bersinar. Ia membayangkan pulang memeluk kedua orangtuanya. Ia tidak menyangka bahwa perjalanan KKN dinegara ini sudah selesai. Dan seminggu lagi ia akan pulang ke London melanjutkan pendidikannya. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan di negara New York.


Tring... Tring... Tring...


Ponsel El berbunyi membuyarkan lamunannya. Bunda yang tertulis di layar ponsel. Ia segera mengangkat video call. "Assalamualaikum Bunda sayang!",sapa El dengan semangat dan senyuman manis.


Bunda yang terlihat pertama kali dilayar ponsel segera menjawab salam anak gadisnya itu. "Walaikumsalam sayang!",sapa bunda dan di susul oleh para anggota keluarga lainnya yang merebut ponsel yang dipegang bunda.


"Kak El.....!",teriak Dino dengan lantang. "Dino kangen banget sama Kakak!. Kakak kapan pulang?",sambung Dino yang sangat manja kepada Bundanya.


El memandangi layar ponsel yang menampilkan adiknya yang bungsu. Sekarang Dino bertumbuh lebih tinggi daripadanya. "Kakak apa lagi Dik, sudah kangen banget sama adik. Bentar lagi Kakak pasti pulang. Tunggu Kakak ya?. Jangan bertumbuh tinggi dulu!",kata El iba.


Ayah mengambil ponsel dari anak bungsunya. "Mana ada sih sayang, tumbuh tinggi nunggu kamu dulu!",goda sang ayah.


El tersenyum manis. "Siapa tahu Dino mau nunggu Kakaknya pulang dulu yah!",sahut El. Ia memandang ayahnya yang semakin lama semakin tua. Rambutnya kini bertambah warna putih yang semakin menyebar di seluruh kepala beliau. Kulit wajah yang dulu padat dan berisi sekarang semakin keriput. Ia meneteskan air matanya memandangi sang ayah. "El kangen yah!",guman El sambil menyeka air mata yang tumpah di kedua pipinya.


Ayah Wibowo berkaca-kaca melihat anak gadisnya jauh disana. Ia ingin sekali memeluknya. "Ayah juga kangen sayang. Ayah selalu berdoa, supaya kamu cepat lulus skripsinya dan wisuda!",tutur ayah mengelus layar ponsel yang beliau pegang. "Cepat pulang ya sayang!. Rasanya ayah sudah tidak sanggup lagi menahan kangen yang ada di dalam hati!",guman sang ayah.


El menangis sejadi-jadinya. Ia sudah tidak sanggup lagi jauh dari keluarga. Keluarga yang ia cintai sepenuh hati. "Sabar ya ayahku sayang. El berjanji akan membawa pulang kabar bahagia. El berjanji ayah!",pinta El sambil menyeka air mata.


Satria tidak tinggal diam. Ia segera merebut ponsel dari tangan ayah. "Udah dong melow-melownya!. Kamu tidak kasihan apa sama ayah?. Ayah sampai nangis sesenggukan seperti ini?",kata Satria yang tidak tahu situasi.


"Ini ayah sudah menangis, Dik. Makanya, kamu cepat-cepat wisudanya!. Biar kita bisa pergi ke London!",kata Satria yang tidak tahu diri.


"Ish...!",kesal El cemberut. Tapi, ia sangat sayang kepada Abangnya yang resek itu. Abang yang selalu menuntun adiknya menjadi lebih baik lagi.


"Bagaimana kabar mantan tunangan kamu?. Abang sudah lama tidak komunikasi?",tanya Satria santai.


"Mantan tunangan yang mana ya Kak?",cicit El menggoda.


"Ish...!",kesal Satria. "Awas saja ya, kalau kamu disana macam-macam sama para laki-laki bule!",pinta Satria.


"Laki-laki bule memangnya tertarik sama El apa?. Dia juga pasti pilih-pilih Bang. Dia lebih tertarik sama wanita berkulit putih atau hitam. Kulit El kan warna cokelat!",bela El.


"Kamu itu ya, semakin dewasa semakin pintar cari alasan. Siapa yang membuat adik Abang seperti itu?",sahut Satria tidak terima.


"Sudah...sudah. Kok malah cerita soal cowok bule sih. Tidak semua cowok itu sama Abang!",sambung Bunda. "Contohnya ayah kalian!",ucap bunda sambil mencium pipi suaminya itu. Ia segera mengambil ponselnya dari anak sulungnya. Ia memandangi wajah anak gadisnya hanya lewat layar ponsel.


"Memang ayah keturunan dari bule apa Bun?",goda Dino.


Mereka yang ada disana tertawa mendengar ocehan dari Dino.


"Bule orang jawa ya Bun!",sambung sang ayah menggoda sang istri.


"Ish...ayah!",timpal bunda. "Tuh El, kelakuan para laki-laki bunda. Cuma kamu sayang yang bisa mengerti bunda. Makanya sayang cepat ya selesai kan skripsinya. Biar cepat pulang?",pinta Bunda.


"Iya Bunda. Ini juga kurang sedikit lagi kok. Sudah bunda tanang aja!",jawab El.


"Iya sayangku".


"Butuh bantuan tidak, Dik?",sahut Satria dari kejauhan.

__ADS_1


"Tidak perlu Bang. Adik, abangkan pintar dan cerdas, mana mungkin tidak bisa!",ucap El percaya diri.


"Sombong!",sahut Satria.


Mereka bercerita hal-hal yang membuat suasana hati El semakin baik. Hanya tawa dan suka cita yang ada di dalam setiap obrolan yang mereka bahas. Merekalah tempat El bersandar dari kegundahan yang ada.


"Ya sudah ya Bun, ini sudah malam!",pamit El sambil memegang tegukan karena merasa sangat lelah.


"Ya sudah sayang. Cepatlah istirahat!. Assalamualaikum".


"Walaikumsalam Bunda!",sahut El yang langsung mematikan ponselnya.


Cekrek.


Pintu kamar terbuka, ternyata Bella sudah pulang dari kerja sampingannya. Bella melemparkan tasnya ke meja belajar lalu menghempaskan tubuhnya ke dalam kasur, tempat paling nyaman saat ini. "Huft!",keluhnya.


"Tumben sudah pulang, Bel?",tanya El melihat jam dinding, tidak biasanya Bella pulang jam segini.


"Tadi ada salah satu pelanggan VIP berantem dengan pelanggan biasa. Tidak tahu masalahnya apa. Mereka saling adu jotos, pokoknya ngerilah!",jelas Bella takut mengingat kejadian di kafe.


El terdiam mendengar penjelasan dari Bella. Kalau mereka hanya seorang pelanggan dengan pelanggan lainnya, kenapa harus tutup lebih awal. Bukankah mereka akan rugi.


Bella membenarkan posisi duduk. Ia seperti mengingat sesuatu. Ia melihat El seksama. "Sepertinya aku kenal sama tuh cowok?",ucap Bella tiba-tiba.


"Kenal?. Siapa?",tanya El yang begitu penasaran.


Bella mengingat-ingat sesuatu yang kejadian hampir sama seperti di Bar waktu itu bersama El.


"Siapa sih Bel?. Makin penasaran aja sih!",ucap El menutup laptop dan menghampiri Bella yang ada di ranjang.


Bella membulatkan matanya sempurna. Ia sudah tahu jawabannya. "Itu loh El, cowok yang menolong kamu pada saat kita terjebak di dalam Bar. Kamu ingat tidak?",ungkap Bella.


El diam sejenak, mengingat-ingat kejadian kemarin.


"Itu pada saat kamu ada di kafe aku. Terus kamu melihat seseorang masuk kedalam Bar. Dan kamu mengajak aku untuk masuk kedalam sana. Seseorang itu yang membuat keributan di kafeku tadi!",jelas Bella panjang lebar.


El mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Bella. Ia yakin bahwa seseorang yang di maksud oleh Bella itu adalah Sam. "Sam!",ucap El menyebut satu nama. "Lalu bagaimana keadaan Sam?. Dia bertengkar sama siapa?. Dia dimana?",tanya El beruntun.


"Dia babak belur. Aku juga tidak tahu dia bertengkar sama siapa. Sepertinya cowok yang satunya mabuk, soalnya dari tempat Bar. Dia sekarang ada di kantor polisi!".


"Apa!. El terkejut. Ia segera mencari sandal untuk melihat keadaan Sam.


Bella langsung berjalan mengikuti langkah El. "Kamu mau kemana?",tanya Bella bingung melihat El mencari sandalnya.


"Aku harus memastikan bukan dia, Bel. Tidak mungkin seorang Sam bertengkar tanpa ada suatu masalah!",kata El membuka pintu kamar.


Bella tidak mau melihat El terluka lagi. Ia mengikuti langkah El yang begitu cepat.


El berlari menyusuri jalan trotoar. Ia ingin melihatnya sendiri. Ia berlari terus berlari mengikuti arah jalan. Itu tidak mungkin Sam. Sam tidak akan membuat kegaduhan di luaran sana tanpa suatu sebab.


Bella yang kuwalahan mengejar El sampai sempoyongan. "Cepat banget El larinya!",keluh Bella sambil berhenti lalu mengejar lagi.


Sesampai di depan kantor polisi. El berhenti dengan nafas yang tidak beraturan. Ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam-dalam. Ia melihat papan tulisan yang bertuliskan sebuah kata polisi. Lalu ia menengok ke samping melihat sebuah dinding kaca yang lebar. Disana terdapat beberapa orang yang sedang mengintrogasi dua orang dan salah satunya adalah.......


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.


...Marhaban Ya Ramadhan ...


..."Selamat Menjalankan Ibadah Puasa"...


...Mohon Maaf Lahir Dan Batin ...

__ADS_1


......🙏🙏🙏......


__ADS_2