
Happy Reading.
***
Sam masih melihat wajah El yang sedih. Karena bila El sedih, maka wajahnya seperti itu. Mudah dan sangat mudah untuk di tebak. Ini mau kamu kan El?. Kamu ingin aku bersanding dengan Laura?. Maka dari itu, kamu akan merasakan sakit yang aku alami saat ini!.
"Kamu baik-baik sajakan El?",bisik Tamara dengan suara yang sangat pelan.
El memalingkan wajahnya untuk tidak melihat Sam dan Laura bergandengan tangan. Aku harus kuat, demi impianku! tekad El dalam hati.
Laura tersenyum manis melihat El dan Tamara. "Selamat pagi El dan Tamara!",sapa Laura dengan wajah mengejek. Ia saat ini benar-benar menang melawan El.
El dan Tamara mencoba tersenyum walaupun sangat berat baginya.
"Selamat datang Pak Sam!. Sudah lama kita tidak berjumpa!",sapa Tamara sedikit manja.
El tercengang melihat tingkah laku Tamara. Ia kemudian menginjak kaki Tamara memberikan kode supaya jangan menggoda Sam disaat ada Laura disana.
"Auw...!",teriak Tamara dengan suara yang menggoda.
El benar-benar malu karena Tamara sangat tidak peka dalam situasi ini.
Laura dan Sam bingung. Laura mendekat kearah meja sekertaris. "Kamu masih mau bekerja disinikan?",tanya Laura kesal melihat tingkah laku mereka berdua.
"Ibu Laura tidak ingat apa, kurang dua hari lagi saya sudah tidak bekerja disini lagi alias dipecat. Ibu pura-pura lupa atau ibu pura-pura peduli sama saya?", tantang Tamara kesal melihat tingkah laku Laura yang seakan-akan peduli terhadap karyawannya.
"Kamu serius mau keluar dari sini Tamara?",tanya Sam tegas.
"Iya Pak. Soalnya Ibu Violla sudah menyampaikan surat pemecatan terhadap saya. Jadi saya menyetujuinya",jawab Tamara sopan.
"Tapi kamu tahukan bahwa saya adalah atasan kamu?. Kenapa kamu menyetujui surat keputusan pemecatan?. Padahal saya tidak mau kalau kamu keluar dari perusahaan saya?",ucap Sam.
"Maaf Pak. Tapi ini yang terbaik buat saya. Mungkin ibu Violla sudah tidak suka saya bekerja disini lagi. Maka dari itu, saya akan tetap keluar dari perusahaan Bapak!",ucap Tamara pijak.
"Tapi saya membutuhkan kamu Tamara. Kamu sudah sangat lama bekerja disini. Baru sehari ini saya ke perusahaan tapi banyak masalah yang datang bertubi-tubi. Saya sangat menyesal untuk itu!",kata Sam.
"Tapi Bapak bisa telepon saya, bila Bapak butuh bantuan sama saya. Saya siap untuk membantu Bapak!",pesan Tamara.
Laura menyunggingkan senyum meremehkan Tamara. "Memang kamu siapa, menyuruh CEO perusahaan ini untuk menelepon kamu!",sahut Laura tidak terima.
"Saya kan bilang Bu, bila Bapak butuh bantuan saya!. Bukan, Bapak telepon saya!",jawab Tamara sinis. "Saya tahu kok Bu, batasan mana yang harus saya lakukan dan mana yang tidak saya lakukan. Saya paham itu!. Bukan seperti Ibu, yang ingin mau menangnya sendiri!",lanjut Tamara.
"Sudah mbak... Sudah!",bisik El pelan.
"Benar kata Tamara, lebih baik kamu diam daripada banyak bicara!",kata Sam sebelum meninggalkan ruangan sekertaris.
Laura menghentakkan kaki kesal dan marah melihat Sam mempermalukan dia dihadapan sang sekertaris apa lagi di hadapan El. Kemudian ia mengikuti langkah Sam.
"Makanya, jadi cewek berkelas sedikit!",teriak Tamara menang banyak.
"Ya ampun Mbak Tamara!. Kenapa sih Mbak, Mbak membalas tingkah laku Laura. Mbak tidak perlu melakukan itu!",kata El mencoba menutup mulut Tamara.
"Biarin El. Sebelum aku keluar dari kantor ini, aku ingin melakukan hal-hal yang melanggar kantor. Biar lega dan puas aku. Dulu aku di bully pada saat aku baru pertama kali kerja disini. Mereka selalu merendahkan ku karena aku tidak memakai pakaian yang berkelas seperti mereka. Tapi, pada saat Pak Sam mempercayai saya untuk menjadi sekertarisnya baru mereka menghargai aku sebagai manusia!",ungkap Tamara mengingat perjuangannya bekerja di perusahaan milik Sam. Banyak lika-liku yang harus dia lewati sebelum menjadi sekertaris sang CEO perusahaan. Ia tahu bahwa kehidupannya dari keluarga SDM rendah.
"Kalau Mbak melakukan hal yang sama, apa bedanya Mbak sama mereka!",sahut El.
"Tapi El?",ucap Tamara berat karena ia memikirkan perkataan El yang ada benarnya juga. "Benar juga ya. Tapikan aku tidak mau kalau Laura menginjak-injak harga diriku El. Kamu masih ingatkan, kemarin pada saat aku dipecat sama Ibu Violla?".
"Iya Mbak, aku masih ingat. Tapi, bukan berarti kita harus membalas hal yang sama. Kita hanya perlu mendoakan agar mereka bisa berubah menjadi manusia yang baik!",kata El bijak.
"Dan kamu rela kalau Pak Sam jadi menikah sama Laura?",tanya Tamara ragu.
__ADS_1
El menghela nafas kasar. "Rela atau tidak rela, aku harus rela mbak. Ini semua demi kebaikan aku dan Sam",jawab El ragu.
Disisi lain Edwan baru saja keluar dari lift. Dan ia tergesa-gesa berjalan ke ruang CEO.
Tamara dan El melihat Edwan berjalan tergesa-gesa keruangan CEO.
"Syukurin, dipecat...dipecat deh kamu!",ucap Tamara berbisik. "Makanya jadi bos jangan suka sok mengatur!".
"Mbak Tamara!".
Tamara langsung menutup mulutnya sendiri. "Maaf El, keceplosan!",ucap Tamara memperlihatkan gigi putihnya.
Edwan membuka pintu dengan kasar. Ia melihat Sam duduk di singgasananya. Sam memutarkan kursi kerjanya dengan santai. "Selamat pagi menjelang siang Kakakku yang terhormat!",sapa Sam dengan menyindir.
Edwan marah melihat Sam sudah duduk di kursinya. Rahangnya mengeras sambil tangannya mengepal. "Ngapain kamu di ruangan ini?",tanya Edwan dengan marah.
Sam menyunggingkan senyuman. Ia tidak menyangka bahwa respon Kakaknya seperti itu. Lalu wajah yang senyum langsung berubah menjadi tajam. "Maksud Kakak apa?. Saya tinggal menekan telepon dan bssssss.... Kakak langsung diajak pakai mobil mewah ke kantor polisi?. Kakak mau?",ucap Sam dengan amarah yang meledak.
"Kamu ngancam Kakak kandung kamu sendiri?",tanya Edwan dengan meledek. "Kamu serius?",lanjut Edwan tertawa.
"Kenapa tidak. Kakak saja bisa menghancurkan perusahaan ku, kenapa aku tidak bisa menjebloskan Kakak ke penjara!",sahut Sam. "Laura lebih baik kamu keluar!. Ini bukan urusan kamu!",usir Sam cepat sebelum Laura mendengar pertengkaran ia dan Edwan.
Laura langsung keluar dengan cepat. Ia tidak mau mendengarkan dan ikut campur urusan mereka.
Sam mengeluarkan beberapa berkas-berkas laporan diatas meja yang di duga hasil ulah Edwan. "Kakak bisa menghancurkan hidupku!. Tapi kakak tidak bisa menghancurkan usahaku yang aku rintis dari nol!",pesan Sam.
"Kamu jangan bicara sembarang ya?. Aku tidak menghancurkan perusahaan kamu!",ucap Edwan mencari kebenaran.
Sam berdiri dari kursi, berjalan kearah dinding jendela yang memperlihatkan kota New York. "Kalau bukan ulah Kakak, lalu ulah siapa lagi!. Untung ada seseorang yang aku percaya selama ini, dia masih setia sama aku disaat aku tidak mengingat apapun itu. Dan dia yang menggagalkan rencana Kakak. Saham yang Kakak jual sudah kembali ke tanganku lagi. Jadi, status aku di perusahaan ini masih sama seperti dulu. Walaupun aku sangat rugi besar mendapatkan saham itu!",jelas Sam.
"Sam, aku berani bersumpah bukan aku pelakunya?",sahut Edwan tidak mau kalah.
Edwan dengan cepat membuka berkas-berkas itu. Ia tercengang melihat pengeluaran ATM di bulan ini dan bulan kemarin. "Apaan ini!",bentak Edwan tidak terima.
"Apa!. Kamu mau apa!",tantang Sam dengan nada yang tinggi bertambah satu oktaf daripada Edwan.
"Tapi ini semua tidak benar?",sahut Edwan sambil melemparkan berkas itu keatas meja lagi. Ia mencari pembenaran atas dirinya.
"Tidak benar maksud kamu?. Lalu dimana semua uang itu kalau bukan untuk pacar kamu?",ucap Sam marah. Ia lalu mengambil krah baju Kakaknya yang siap untuk menyadarkan kakaknya itu. "Kamu membeli semua tas, baju, sepatu, semua berbranded!. Kamu tidak sadar menghabiskan puluhan milyar hanya seorang wanita yang tidak pantas untuk dicintai itu!. Dia hanya ingin harta kamu saja!. Dia tidak cinta sama kamu!",jelas Sam dengan nada yang sangat tinggi.
Edwan kesal, ia mencoba melepaskan diri dari kekangan dari Sam yang menyudutkan dirinya di tembok.
"Kamu boleh menghasilkan uangku!. Tapi, aku tidak rela bila yang menghabiskan wanita itu!",kata Sam yang masih menyadarkan kakaknya itu dibawah kekangan tubuhnya.
"Lepaskan!",bentak Edwan yang menjauhkan tangan Sam dari krah bajunya itu. "Kamu tidak berhak mengurusi kehidupan pribadiku!. Cukup kamu urusi, urusan kamu sendiri!",kata Edwan yang berjalan keluar dari ruangan dengan membanting pintu kasar.
Tamara dan El kaget, tubuh mereka sedikit melompat karena begitu keras Edwan membanting pintu. Mereka berdua melihat kepergian Edwan.
"Tadi yang pergi terburu-buru si Laura. Sekarang yang pergi Pak Edwan. Ada apa sih dengan mereka?",pikir Tamara.
Apa jangan-jangan mereka bertengkar karena masalah pengalihan perusahaan dan masalah keuangan! tebak El dalam hati. Ia melihat kepergian Edwan.
Sam beberapa detik keluar setelah Edwan menutup pintu lift.
Tamara otomatis langsung berdiri dengan tegak menyambut bos besarnya. "Tamara, tolong siapkan berkas-berkas buat metting nanti!. Saya tunggu kamu di mobil!",perintah Sam tegas.
"Baik Pak. Saya segera siapkan!",jawab Tamara lembut. "Saya berangkat sendiri atau sama El Pak?",tanya Tamara yang santainya kebangetan.
"Terserah!. Kamu ajak atau tidak",sahut Sam cepat sebelum kemarahannya kembali memuncak. Lalu ia pergi keluar menaiki lift.
El dengan cepat melototi Tamara. Ia tidak mau membuat masalah lagi dengan keluarga Sam. "Kenapa Mbak melakukan itu?",tanya El kesal.
__ADS_1
"El, kita disini kurang dua hari. Kamu tidak mau menghabiskan waktu dua hari itu buat mengerjai Pak bos?",ide Tamara.
"Tapi bukan seperti itu Mbak. Hubungan aku dan Sam sudah diatas tanduk. Tidak mungkin aku harus baik-baik sama dia!",kata El.
"Ya sudah kalau kamu tidak ikut. Tadi Pak bos kan bilang, terserah!. Ya udah, aku pergi dulu ya?",ucap Tamara sambil menenteng tas yang berisi berkas-berkas.
"Iya Mbak. Hati-hati ya?".
Tamara mengangguk lalu meninggalkan ruangannya.
Mungkin ini yang lebih baik. Lebih bisa menjaga jarak sama dia, daripada harus dekat sama dia tapi menyakitkan hatiku sendiri! kata El dalam hati yang melihat Tamara menjauh.
Disisi lain Tamara menghampiri mobil Sam yang terparkir di depan perusahaan. Ia mengetuk kaca jendela.
Kaca jendela perlahan terbuka dengan lebar. Di sana Sam sudah duduk manis. "Hallo Pak!",sapa Tamara santai.
"Kok sendiri?. Mana teman kamu?",tanya Sam yang melihat Tamara berdiri didekat mobilnya.
Tamara tersenyum manis. "Dia tidak ikut Pak. Bukankah tadi terserah saya, dia boleh ikut apa tidak!",jawab Tamara santai.
Sam menghela nafasnya kasar. Kesal melihat sang sekertaris seperti cuek terhadapnya. "Terus apa fungsinya dia magang di perusahaan saya?. Buat duduk manis gitu!",sahut Sam kesal tetapi ia menahan malu.
"Loh, bukannya bapak bilang begitu pada saat didalam ruangan?",jawab Tamara tidak terima disalahkan.
"Itukan tadi. Setelah saya pikir-pikirkan, buat apa dia dibayar mahal hanya untuk duduk manis tanpa berpikir berat!",sahut Sam.
Tamara menghela nafasnya kasar. "Baik Pak, saya akan ajak dia untuk metting siang ini",jawab Tamara yang menyerah terhadap kondisi. Ia segera menghubungi El dengan cepat sebelum ia dan Pak bos datang terlambat.
Disisi lain El menutup teleponnya kesal setelah memdapat telepon dari Tamara. Kenapa aku harus ikut sih?. Bukankah tadi terserah aku! kesal El dalam hati. Lalu ia bersiap-siap untuk berkemas.
Tamara menunggu didepan mobil Pak bosnya. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali.
Akhirnya El menampakkan batang hidungnya. Ia segera berlari menghampiri Tamara. "Kenapa saya harus ikut sih?",tanya El marah, karena ia tidak mau hatinya kembali bersemi.
"Hus... Didalam mobil ada Pak Sam. Aku tidak mau kalau dia mendengar!",sahut Tamara yang segera menutup mulut El.
"Ya sudah, Mbak satu kursi sama Pak Sam ya?. Aku dikursi depan!",ide El.
"Iya, kamu yang minta ya!",kata Tamara.
Lalu mereka berdua masuk dan duduk ditempat duduk yang mereka tentukan.
El duduk disamping pengemudi. Pak Ardi. Kenapa Pak Ardi ada dimobil ini? batin El.
Ardi fokus mengendarai mobilnya. Ia sambil melirik arah kaca spion dan El yang duduk disampingnya.
"Agenda hari ini apa saja?",tanya Sam yang membuyarkan lamunan Tamara dan El.
"Hari ini ada metting dengan klien Bu Olivia, beliau sudah pulang dari Indonesia. Dan untuk sorenya ada metting lagi dengan Pak Jordy yang ingin membahas masalah saham yang sempat Pak Edwan jual. Lalu malam harinya kosong Pak!",jelas Tamara panjang lebar.
"Ok!",jawab Sam.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka merampungkan kerja sama dengan Bu Olivia, yang disepakati oleh dua pihak. Dan malam harinya mereka menemui klien bernama Pak Jordy, mereka sangat serius membicarakan saham yang dijual oleh Edwan. Dan akhirnya selesai dengan damai tanpa kendala. Metting untuk hari ini telah usai. Ardi dan Tamara turun di perusahaan tanpa El, karena El tertidur di kursi depan. Sam menyuruh mereka berdua supaya tidak membangunkan El, karena Sam tahu betapa lelahnya hari ini.
Sam mengemudi dengan kecepatan sedang. Ia sesekali melirik El yang duduk disampingnya. Mana mungkin El, aku membencimu. Kamu boleh membenciku, tetapi aku tidak akan pernah bisa membencimu sedikitpun! batin Sam.
El yang ada disampingnya tertidur dengan lelapnya dengan diiringi kecepatan sedang.
**
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
__ADS_1