Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Ada Apa Dengan Samuel?


__ADS_3

Happy Reading.


***


Pagi Hari.


Matahari sudah menampakkan sinarnya. Sam terbangun, ia merenggangkan ototnya yang sudah mulai kaku. Ia berjalan kearah tembok jendela yang terbuat dari kaca yaitu Griya Tawang miliknya. Tempat itu juga di tempati oleh mamanya yaitu Violla. Sam dipindahkan ke kamarnya. Kamar yang ia tempati selama ini.


Violla menyuruh para pengawal untuk berkumpul dibawah karena ada tugas penting yang harus mereka laksanakan.


"Saya harap kerjasamanya dari kalian. Saya tidak mau kecolongan lagi tentang masalah tadi malam. Itu cukup membuat saya malu!",perintah Violla.


"Baik Nyonya!".


"Dan kalau kalian melanggar kesalahan yang membuat saya marah, kalian akan mendapatkan konsekuensinya yaitu membayar denda yang ada di daftar kontrak kerja kemarin yang kalian tanda tangani. Paham?".


"Paham Nyonya!",jawab seluruh pengawal.


"Ya sudah, kerjakan tugas kalian masing-masing. Dan nanti kalau dokter sampai langsung saja suruh ke atas, ke kamar Mas Sam!",perintah Violla yang langsung berlalu dari anak buahnya.


Para pengawal langsung bubar, mereka melaksanakan masing-masing tugas yang diberikan oleh Nyonya besar.


Disisi lain Sam bangun. Ia melihat keseluruhan ruangan kamar. Ia tidak melihat siapapun berjaga disana. Aman. Ia bangkit dari ranjang dan mencoba menelepon seseorang.


Tut... Tut ... Tut...


"Halo Mas Sam!",sapa seseorang diseberang sana.


"Halo. Bisakah kita bertemu sekarang di kafe XXX?".


"Bisa Mas. Saya segera ke sana!",jawab seseorang itu yang langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Sam memasukkan ponselnya kedalam saku. Ia berjalan keluar dari kamar pribadinya. Para pengawal langsung dengan sigap berjalan mengikuti kemana tujuan tuannya.


"Tuan mau kemana?",tanya salah satu pengawal.


"Saya mau turun kebawah. Bertemu dengan Ibu!",jawab Sam tegas.


"Tapi tuan sedang sakit sekarang. Lebih baik tuan istirahat yang cukup dahulu. Karena dokter sedang dalam perjalanan kemari!",kata pengawal.


"Saya lelah tidur terus. Dimana ibu?",tanya Sam yang menuruni anak tangga.


"Nyonya ada di dalam kamar tuan. Saya bisa panggilkan!",cegah pengawal.


"Tidak usah, terimakasih. Biar saya sendiri yang menemuinya!",jawab Sam yang membuka kamar Violla.


Violla sedang memilih gaun-gaun yang akan ia kenakan nanti malam saat makan malam. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada pintu yang terbuka. Anakku sayang yang gagal berjalan menghampiriku. "Tumben tidak ketuk pintu dulu?",goda Violla.


Sam duduk di sofa dekat ranjang mamanya. "Aku lelah Ma".


"Kamu seharusnya istirahat dulu, sayang. Kondisi kamu sedang tidak fit. Tuh lihat, pelipis kamu sampai diperban kayak gitu!",kata Violla.


Pasti Mama tidak tahu, kalau ingatanku sudah pulih! batin Sam. "Ma, bukankah tadi aku ada di apartemen milik El ya?",tanya Sam pura-pura polos.


Deg. Violla menghentikan aktivitasnya karena Sam tidak boleh tahu kalau ia yang membawanya pulang. "Hm...itu, tadi El membawa kamu pulang kesini. Dia khawatir sama kondisi kamu seperti ini, buktinya pelipis kamu diperban kayak gitu!",kata Violla mencari alasan.


"Kok Sam tidak ingat apa-apa ya Ma!",jawab Sam mencoba polos. Benar, mama sudah membohonginya selama ini!.


"Mana mungkin kamu ingat. Kamu kan pingsan, mungkin El mau pergi ke rumah sakit terus tidak punya biaya ke dokter. Ya udah, jalan satu-satunya kamu dibawa pulang kesini!",kata Violla berbohong.


"Sebenarnya El itu siapa Ma?. Kenapa tadi aku diantar kesini sama dia?",tanya Sam berlagak tidak tahu apa-apa.


Deg. Pertanyaan Sam semakin lama semakin ngelantur. "Kamu tidak tahu El siapa?",tanya Violla balik, karena ia tidak mau kalau sampai Sam tahu yang sebenarnya.


"Tidak. Memang siapa sih dia, Ma?".


"Dia... Dia... Dia sekertaris pribadi Kakak kamu!",jawab Violla tegas supaya tidak ketahuan berbohong.


"Sekertaris Kakak. Maksudnya sekertaris pribadi Kakak gitu?",tanya Sam lagi.


"Bukan. Dia sebenarnya sedang melakukan tugas akhir kuliahnya. Dia sedang KKN di perusahaan Kakak kamu!".


Perusahaan Kakak?. Bukankah dia bekerja di perusahaan ku? tanya Sam tidak percaya. Kenapa Mama membohongiku, apa maksudnya Mama bicara seperti itu! lanjut Sam kesal. "Terus Mama pilih-pilih gaun itu buat apa?. Apa ada acara?",tanya Sam panjang lebar.


"Oh ini, iya sayang. Nanti malam Mama mengadakan acara makan malam di restoran. Kamu harus datang ya?".


"Acara apa?",tanya Sam penuh selidik. Apa jangan-jangan Mama merencanakan pertunangan ku dengan Laura, yang Mama gadang-gadang di apartemen El itu! batin Sam.

__ADS_1


"Hm... Acara kecil-kecilan kok sayang. Nanti malam kamu jangan keluar ya?",mohon Violla.


Benar tebakanku. Mama sudah keterlaluan sama aku! kesal Sam dalam hati. "Entahlah Ma. Ya sudah, Sam mau keluar sebentar!",pamit Sam yang berjalan keluar.


"Kemana sayang?",teriak Violla yang melihat Sam sudah menghilang dari pandangan.


Sam keluar dari Griya Tawang, ia sudah tidak nyaman lagi tinggal di sini.


***


El sudah mulai aktivitas seperti biasanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam hidupnya setelah masuk kedalam gedung perusahaan milik Samuel. Gedung dimana ia selalu melihat Sam muncul dimana-mana. Tetapi, kini berubah dengan sendirinya.


"Pagi El!",sapa Edwan, entah tiba dari mana.


"Pagi Pak Edwan",jawab El.


"Nanti setelah makan siang keruangan saya ya?. Saya ingin menanyakan sesuatu!",pesan Edwan.


"Baik Pak!".


Edwan berlari ke arah lift, mengejar metting pagi ini.


Bagaimana ya kabarnya?. Kenapa aku kepikiran tentang dia. Terus bagaimana Pak Ardi sekarang!. Huft... gara-gara aku dan Sam, Pak Ardi kena getahnya! batin El sambil menghela nafas panjang.


"Eh ngelamun aja!",goda Tamara yang menyenggol bahu El.


"Eh Mbak Tamara. Mbak Tamara tidak ikut metting?",tanya El balik.


Tamara menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kan sudah ada penggantinya!",jawab Tamara lemas. Ia sama sekali tidak berniat untuk keluar dari perusahaan ini, akan tetapi Nyonya besar sudah memutuskan kontraknya.


"Sabar ya Mbak!",kata El iba.


"Aku sedih El. Aku masih punya hutang di bank beberapa juta. Dan belum lunas, akunya di pecat seperti ini. Kadang dunia ini tidak adil buat orang bawah sepertiku!",ucap Tamara sedih.


"Bagaimana kalau Mbak melamar di perusahaan teman saya. Tapi, saya tidak tahu, dia membutuhkan karyawan atau tidak",kata El mencoba berfikir. "Tapi, aku akan tanya dulu kok Mbak. Nanti Mbak, aku kabari ya lewat pesan!".


"Terimakasih ya El sebelumnya. Aku tidak tahu lagi harus bekerja dimana. Kalau aku kerja di kafe pasti tidak akan cukup memenuhi kehidupan keluargaku. Kamu tahu sendiri aku sebagai tulang punggung keluargaku!",kata Tamara. "Tadi Pak Edwan menanyakan apa?".


"Oh...tadi katanya setelah makan siang disuruh ke ruangannya. Entah mau bicara apa!",jawab El mengangkat kedua bahunya tidak tahu.


"Mungkin bicara tentang kondisinya Pak Samuel",tebak Tamara.


"Apa jangan-jangan masalah tentang Laura?",tebak Tamara yang tidak ada henti-hentinya menebak.


"Saya kurang tahu Mbak. Apa lagi masalah tentang Laura. Sama sekali saya tidak tahu!",jawab El ragu. Ia lalu memikirkan Sam dan Laura bertunangan, apakah dirinya akan kehilangan Sam selamanya?. "Saya mau buat kopi. Mbak mau kopi?",tawar El.


"Tanpa gula ya!",jawab Tamara.


Deg. El terbayang-bayang jawaban Sam yang selalu menjawab tanpa gula. Pikirannya berputar-putar seperti kaset yang sedang memutar.


"Eh...kok malah ngelamun lagi sih!",tanya Tamara.


El tersadar akan lamunannya. "Maaf Mbak!",jawab El tersenyum canggung. Lalu berlalu dari hadapan Tamara.


***


Di Kantin.


El sedang meracik kopi. Ia selalu membuat sendiri karena baginya kopi buatannya yang paling enak. Ia di London sudah belajar bagaimana cara menyajikan kopi yang enak dan mantap. Ia lalu berjalan membawa dua gelas cup kopi di tangannya. Tiba-tiba seseorang berjalan menggunakan topi menabrak dirinya.


Bruk....


Salah satu kopi tumpah di baju seseorang itu.


"Auh.... panas... panas...!",teriak seseorang itu sambil membersihkan bekas kopi yang masih menoda di bajunya.


"Maaf...maaf Kak. Saya tidak sengaja!",ucap El sambil membersihkan baju seseorang itu. Ia merasa bersalah atas insiden ini.


Seseorang itu tidak sengaja memegang tangan El yang sedang ada di dadanya.


Mereka berdua saling berdiam diri. Merasakan aliran darah yang semakin tidak menentu.


El dengan perlahan mendongakkan wajahnya untuk melihat seseorang itu. Dan...


Sam! ucap El tanpa suara hanya sebuah gerakan di mulutnya.


Sam sama kagetnya melihat El ada di hadapannya sekarang. Ia merasa senang karena hari ini masih bisa melihat El di sini.

__ADS_1


El tersadar akan tangannya yang masih ada di dadanya Sam. Lalu ia menarik tangannya kembali. "Maaf Sam. Aku tidak sengaja menumpahkan kopinya ke baju kamu!",kata El tertunduk karena merasa bersalah.


"Tidak apa-apa".


"Kenapa kamu ada di perusahaan ini?",tanya El curiga.


Aduh, kenapa pertanyaan El seperti ini sih?. Kenapa dia tidak bilang, aku sangat merindukanmu, Sam!. I love you! batin Sam kesal.


"Sam?",panggil El lagi.


"Kenapa kamu tidak menanyakan kabarku, setelah apa yang kamu perbuat kemarin?",tanya Sam balik.


Bodoh!. Kenapa aku tidak menanyakan kabarnya! ih.... batin El merasa canggung. "Nanti itu menjadi pertanyaan keduaku!",jawab El cepat, karena sekarang dalam pikirannya ada orang yang ada dihadapannya ini.


"Pertanyaan aneh. Kalau aku tidak mau menjawabnya, bagaimana?".


El menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan itu. "Hm....!".


"Jangan menggigit bibir bawah!. Aku tidak suka, kamu melakukan hal itu di depan umum!",bentak Sam yang langsung berjalan meninggalkan El.


Deg. El tercengang mendengar perkataan Sam. Kata-kata itu?. "Sam... Sam...!",panggil El yang hanya melihat punggung Sam yang semakin lama menghilang dari pandangannya.


El berjalan sambil terngiang-ngiang perkataan Sam tadi. Kenapa kata-kata itu muncul lagi dari mulut Sam!. Kenapa setelah kejadian kemarin dia sangat berubah?. Ada apa dengan Sam?.


El meletakkan satu cup kopi tanpa gula di meja Tamara. Untung yang tumpah tadi milikku. Bukan milik Mbak Tamara karena ia tidak perlu membuat lagi.


"Loh mana kopi mu?",tanya Tamara.


"Tumpah Mbak",jawab El duduk disamping Tamara.


"Kok bisa?. Lalu kamu tidak buat lagi?".


"Tidak Mbak. Tiba-tiba aku tidak selera lagi dengan kopi", jawab El. Ia lalu menyibukkan dirinya dengan laptop yang ada di depannya karena saat ini pikiran terlalu banyak tentang Sam.


***


Akhirnya waktu istirahat datang. El dan teman-teman pergi ke kantin. Mereka makan siang bersama penuh suka cita.


"Ya sudah, aku duluan ya?",pamit El kepada teman-temannya.


"Iya. Aku tahu kamu pasti banyak kerjaan!",sahut salah satu karyawan.


"Iya Mbak!",jawab El dengan senyuman. Ia lalu pergi keruangan Edwan, menepati janjinya setelah makan siang, ia di suruh ke ruangannya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!",teriak Edwan dari dalam ruangan.


El membuka pintu perlahan. Ia segera berjalan kearah Edwan.


"Silahkan duduk, El!".


"Tidak usah Pak. Terimakasih. Ada apa ya Pak?",tanya El tanpa basa-basi, karena ia tidak mau lama-lama berdua bersama Edwan. Apa lagi diruangannya ini.


"Terserah kamu, El. Aku memanggil kamu keruangan aku, karena ada sesuatu hal yang harus aku sampai sama kamu!",ucap Edwan panjang lebar.


"Apa Pak?".


Edwan meletakkan satu amplop putih keatas meja kerjanya.


"Saya tidak mau basa-basi Pak. Saya masih ada kerjaan disana-?".


"Buka aja!",sahut Edwan cepat tanpa memberi ruang bicara kepada El.


El ragu. Ia hanya melihat sebuah amplop putih diatas meja Edwan. Ia tahu, ini pasti tidak baik baginya. "Apa isinya?",tanya El tanpa mau melihat isi amplop putih itu.


"Kenapa kamu tidak membukanya, kalau kamu ingin tahu?",tanya Edwan balik. Ia menyenderkan punggungnya di kursi.


"Saya sebenarnya tidak ingin tahu. Tapi, rasa penasaran saya yang terlalu ti-?".


"Nanti malam Samuel akan melangsungkan pertunanganya dengan Laura!",sahut Edwan cepat.


Deg. Tubuh El lemas seperti tidak bertulang. Ia kemudian memegang kursi yang ada di depannya untuk membuat tubuhnya tetap seimbang.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2