
Happy Reading.
***
Malam Hari.
El baru saja keluar dari kamar mandi. Ia sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia berjalan mengambil ponselnya yang ada di meja belajar.
"Kamu ikutkan ke acara seminar?",tanya Bella.
"Ikut. Kamu mau berangkat sekarang?",tanya El.
"Iya. Aku tunggu di bawah ya,nanti sekali aku kenalin sama teman-teman yang lainnya!",pamit Bella dan keluar dari kamar.
El segera bergegas ganti baju. Ia tidak mau Bella dan teman-temannya menunggu terlalu lama.
Beberapa menit kemudian.
El menghampiri Bella dan teman-temannya yang sedang berbincang-bincang. "Hai!",sapa El.
Bella langsung memperkenalkan El kepada teman-temannya. Mereka sangat ramah dan tamah. Dan mereka langsung pergi ke gedung aula yang ada di kampus ini.
Gedung aula sudah dipadati oleh mahasiswa-mahasiswi yang akan mengikuti seminar. Mereka sangat antusias dengan seminar ini.
El memilih duduk dengan Bella , teman satu kamarnya. Semua mata para laki-laki langsung mengalihkan perhatiannya kepada El. Mereka tersenyum manis melihat El yang cantik rupawan.
Bella yang risih dengan laki-laki buaya itu langsung memperingatkan El supaya ia tetap fokus pada seminar ini.
Para petinggi, dosen dan para tamu undangan memasuki aula dan tempat duduk yang disediakan.
"Mana narasumbernya?",tanya Alex salah satu teman Bella.
"Iya. Katanya pengusaha muda, kaya raya, tapi kok gak ada",keluh Jesica.
"Udahlah. Kita tunggu aja napa!",sahut Bella.
El melihat kesana kesini untuk mencari seseorang yang mungkin ia kenali. Tetapi nihil.
Pak dosen memberi pengumuman bahwa narasumber yang menjadi tamu istimewa hari ini datang sedikit terlambat karena masih ada urusan di kantor.
Para mahasiswa dan mahasiswi langsung membuat gaduh suasana ruangan itu.
"Aku ke toilet dulu ya?",pamit El yang langsung berjalan meninggalkan teman-temannya barunya. Ia menyusuri jalan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba ia menabrak seseorang yang sedang berjalan dengan langkah seribu.
Bruk....
El terjatuh di lantai. "Aduh.... lututku?",rintih El merasa kesakitan memegang lututnya.
Seseorang itu mengulurkan tangannya untuk membantu El berdiri.
El memandang seseorang itu dengan serius. Seseorang itu memakai kacamata, dia tinggi dan gagah perkasa.
"Aku lagi buru-buru, mau aku bantu tidak?",kata seseorang itu dengan santai.
El tidak menjawab. Ia tetap memandang laki-laki itu dengan misterius.
Seseorang itu tidak sabar. Ia segera mengejar waktu yang terbuang. Ia lalu berjalan meninggalkan El sendiri di samping aula.
El memandang punggung seseorang itu sampai menghilang. Ia tersadar bahwa lututnya sakit akibat terbentur lantai keramik. "Aduh....sakit!",kata El mencoba berdiri dan pergi ke kamar mandi.
***
Di aula.
Tamu istimewa itu sedang menceritakan awal mula karirnya. Ia tidak menyangka bahwa perusahaannya maju dengan pesat akibat campur tangan darinya. Ia sangat bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepadanya.
El berjalan tertatih sambil menahan rasa sakit lututnya. Ia masih mendengar dengan jelas suara seseorang yang sedang pidato di aula. Ia seperti mengenali suara itu. Ia berjalan tergesa-gesa untuk melihat narasumber yang sedang menjadi pembincangan hangat dikalangan teman-temannya.
Sesampai di depan aula El berjalan dengan pelan namun pasti. Ia semakin yakin bahwa yang menjadi narasumber adalah orang yang ia rindukan selama ini.
__ADS_1
Seseorang itu dengan gagah berdiri di atas mimbar yang disediakan oleh kampus itu sambil bercerita.
Deg. El kaget setengah mati. Jantungnya berdetak tidak seperti biasanya. "Sam!",lirihnya. Ia melihat Sam di atas mimbar. Itu benaran kamu, Sam! batin El.
Bella yang melihat El sedang berdiri didepan aula langsung memanggilnya untuk duduk disampingnya lagi.
El langsung mengikuti perkataan Bella. Ia tidak mau menyia-nyiakan memandang wajah orang yang ia rindukan selama ini.
"Kamu kok lama banget sih?. Tuh, narasumbernya bentar lagi mau selesai?",kata Bella.
"Iya maaf Bel",jawab El, matanya masih fokus dengan narasumbernya.
"Terimakasih kepada semuanya, saya merasa sangat terhormat karena bisa menjadi tamu di universitas ini. Karena, universitas XXX adalah universitas yang sangat unggul di negara ini. Sampai saya sendiri tidak bisa ada di universitas ini. Terimakasih semuanya!",kata Sam sebagai ucapan penutup. Ia segera turun dari mimbar.
"Ya kok udah tutupan aja sih!",kesal Jesica.
"Nantikan kita bisa minta foto bareng sama tanda tangannya!",kata Bella.
"Serius Bel?",tanyaJesica penasaran.
"Iya serius. Ya udah yuk kita langsung turun aja,ngantri minta tanda tangan exclusive sama bintang tamu yang ganteng itu!",ajak Bella menarik tangan El.
El terpaksa mengikuti kemana Bella menarik tangannya.
"Aku gak usah aja Bel!. Buat apa?",kata El menolak dengan halus.
"Kamu gak terpesona sama ketampanannya El?",tanya Bella penuh tanda tanya. "Apa jangan-jangan kamu-?",ucap Bella terputus dengan pemikirannya.
"Kamu apa Bel?",tanya El tidak mengerti.
"Itu ....!".
"Astagfirullah...!",bisik El. "Ya gaklah Bel, enak aja. Aku masih normal".
"Ya siapa tahu El!",goda Bella.
El berdiri tepat di belakang Bella. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ia takut kalau ia harus menerima sikap dingin dari Sam lagi. Tetapi ia harus mencobanya dari sekarang.
Akhirnya Bella sudah ada didepan mata Sam. Sam melirik sekilas ke arah belakang Bella.
"Boleh minta fotonya pak?",tanya Bella. "Maksudnya foto selfi kita berdua?",lanjut Bella salah tingkah.
Sam melirik lagi kearah El melihat mimik wajah El. Mata mereka bertemu menyatukan sesuatu yang tidak biasa.
"Pak boleh tidak?",tanya Bella lagi penasaran.
"Oh...silakan!",sahut Sam langsung.
Bella menyuruh El untuk memotretnya. Ia langsung berdiri disamping Sam.
El menerima ponsel Bella dengan perasaan yang kacau. Ia membuka aplikasi kamera dan memfokuskan kameranya ke Sam dan Bella yang sedang berpose. Ia tidak sengaja memandang wajah Sam dengan jelas.
"Gimana El, sudah belum?. Kok lama banget sih!",tanya Bella.
Tanpa El sadar ia masih memandang wajah Sam. Wajah yang selalu ia rindukan.
"El, kok ngelamun sih!",teriak Bella.
"I...iya!",sahut El cepat.
Klik...
Akhirnya sebuah foto terambil dengan sempurna. Bella langsung berterima kasih kepada Sam karena sudah mau foto bersama.
Sam menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman.
Bella mengambil ponselnya dari El. Ia melihat hasil fotonya dengan bahagia. "Thanks El!",kata Bella kegirangan dan langsung keluar.
Sam duduk menyandarkan punggungnya. Memandang wajah El dengan leluasa.
__ADS_1
"Sama-sama Bella!", jawab El sebelum Bella pergi. Ia berdiri di depan Sam dengan perasaan campur aduk. Ia terdiam memandang Sam yang sedang memandang dirinya.
"Ada yang sedang kamu inginkan?",tanya Sam.
"Hmmmmm....!",kata El salah tingkah.
Sam menaikkan alisnya tanda tidak mengerti.
"Oh... sebenarnya tidak. Tadi terpaksa di ajak sama teman!",sahut El tanpa sadar,karena ia takut kalau jawabannya akan salah.
Sam mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu.
Tring...
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel El. El otomatis langsung meraihnya dari sakunya. Nomer baru. Tetapi, ia memasukkan kembali ponselnya.
"Kenapa gak dibaca?",tanya Sam sambil memasukkan ponselnya.
"Tidak penting. Soalnya nomer baru!",sahut El.
Dia masih polos seperti dulu. Nomer yang tidak dia kenali, dia tidak mau mengubrisnya! Pikir Sam. "Buka aja!", perintah Sam.
"Kenapa kamu mengatur?",tanya El.
"Ya siapa tahu penting. Kalau kamu tidak mau membukanya juga tidak apa-apa kok, aku juga gak rugi!",sahut Sam.
El dengan terpaksa mengambil kembali ponselnya dari saku. Ia membuka pesan sambil melirik kearah Sam yang sedang memandangnya.
"Aku tunggu kamu di kafe dekat kampus!".
Sam.
Deg. El melihat dengan mata yang tidak percaya. Ia memandang ponselnya dengan tangan yang gemetar.
Sam tersenyum melihat reaksi El yang berlebihan seperti melihat artis korea yang sedang ngetren dikalangan anak muda.
El mengalihkan perhatian dari ponsel layar ke arah Sam. Ia melihat Sam sedang tersenyum memandangnya. "Kamu serius?",tanya El tidak percaya.
"Menurut kamu?",tanya Sam kembali.
El masih terdiam. Ia seperti mimpi mendapatkan pesan dari Sam.
"Tunggu aku disana kurang lebih lima belas menit lagi!",perintah Sam.
El otomatis melihat antrian panjang yang ada dibelakangnya. "Gak mungkin!".
"Kenapa gak mungkin!. Kamu meragukanku?",tanya Sam tidak percaya.
"Bukan. Bukan itu!",sahut El cepat.
"Lalu?".
"Antriannya masih panjang. Gak mungkin kamu menyelesaikan dalam waktu lima belas menit!",kata El.
"Kata siapa. Kalau kamu cepat meninggalkan ruangan ini, akan lebih cepat aku menangganinya!",sahut Sam mendekat.
"Kamu ngusir aku?", tanya El kesal.
"Aku gak ngusir kamu. Aku pingin bicara sesuatu sama kamu, secepatnya!",jawab Sam.
El memandang mata Sam penuh dengan keseriusan. Ia langsung berjalan meninggalkan ruangan itu.
Sam memandang punggung El yang semakin lama, semakin menghilang. Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu lagi El! batin Sam dengan perasaan bahagia.
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1