
Happy Reading.
***
Disisi lain seseorang sedang melihat El dan Sella. Ia senang karena melihat wanita yang ia cintai. Ia segera menghampirinya. "El....!",panggil seseorang itu.
Sella dan El langsung menoleh ke sumber suara. Mereka berdua tercengang melihat laki-laki itu.
Sella langsung menghampiri seseorang itu. "Ngapain kamu di sini?",tanya Sella marah dan kesal menjadi satu.
"Kamu siapa?",tanya Sam bingung.
"Kamu gak ingat sama aku!. Ha!",bentak Sella yang langsung memegang krah baju Sam.
"Sella!",teriak El yang berlari kearah mereka berdua. "Jangan Sel, dia sedang sakit!",kata El mencegah Sella supaya tidak berbuat yang aneh-aneh.
"Biarin aja nih cowok!. Lama-lama cowok ini kurang ajar sama kamu, El!",kata Sella yang sudah siap buat menonjok.
El langsung melerai Sella supaya tidak berbuat main hakim sendiri. "Aku mohon Sel, jangan ya!",kata El.
Sam tidak hanya diam saja. Ia langsung mengibaskan tangan Sella yang memegang krah bajunya. "Apaan sih!. Kenal aja gak sama kamu!. Mau nonjok aja kamu!",kesal Sam yang berdiri di samping El.
"Kamu gak kenal sama aku?. Atau kamu pura-pura gak ingat sama semuanya!. Atau....perlu aku ingatkan lagi!",tanya Sella yang siap untuk memukul.
"Jangan Sel, aku mohon!",teriak El yang berdiri di depan samping.
"Tapi cowok itu kurang ajar, El!".
"Tidak Sel. Aku mohon jangan!",mohon El.
"Awas aja kamu ya?. Kalau sampai El terluka gara-gara kamu, aku gak akan tinggal diam!. Mengerti kamu!",ancam Sella yang sudah marah sampai ubun-ubun.
"Itu bukan urusan kamu!",jawab Sam santai. "Ayo pulang!",ajak Sam yang menarik lengan El. "Jangan banyak bergaul sama wanita gak jelas ini!",lanjut Sam.
"Apa kamu bilang!",teriak Sella tidak percaya akan pertuturan Sam.
"Aku ambil tas dulu!",kata El lalu ia berbisik kepada Sella. "Aku mohon jangan marah!. Please!",mohon El yang mengambil tas di kursi.
"Aku pulang dulu!",pamit El kepada Sella.
Sam memegang lengan El dengan kuat. Mereka berdua pergi.
"Kalau gak gara-gara El yang minta, udah aku sikat kamu habis-habisan!",teriak Sella kesal.
***
Sam dan El pergi ke parkiran. Sam dengan sangat keras membuka pintu mobil penumpang dan memaksa El untuk masuk ke dalam.
Ardi yang melihat adegan itu bertanya-tanya. Ada kejadian apakah di dalam restoran sana?. Lalu kenapa mbak El bisa ada di sini?.
Sam langsung masuk di samping kanan tempat duduk di belakang. "Jalan Pak!",perintah Sam sangat marah.
Ardi dengan cepat menancapkan pedal gasnya.
"Dia itu sebenarnya siapa sih?. Dasar wanita bar-bar!",kesal Sam yang tidak habisnya menjelek-jelekkan Sella.
"Makanya kalau ada orang lagi bicara, di dengarkan!. Gak asal main nyeret aja!",sahut El.
"Kamu juga!. Kenapa kamu sama wanita itu!. Bukankah kamu habis kerja langsung pulang!",tanya Sam dengan wajah marah.
"Kamu masih ingatkan perjanjian kita. Aku gak mau kalau kamu ikut campur dalam urusan pribadiku. Masih ingat kan?",tanya El mengingatkan Sam kembali.
"Iya aku masih ingat. Tapi, kalau kamu pergi sama wanita bar-bar itu, aku gak suka!".
"Dia bukan wanita bar-bar, Sam. Dia sahabat aku. Dan dia juga sahabat kamu!",ucap El menjelaskan.
"Sahabat macam apa, kalau main tangan seperti itu?",tanya Sam tidak mau kalah.
"Karena dia lagi emosi sama kamu. Makanya dia mau nonjok kamu. Karena dia mau melindungi aku dari laki-laki kurang ajar!".
"Kok kamu ngatain aku?".
__ADS_1
"Aku gak ngatain kamu. Bukankah seorang sahabat melindungi sahabatnya. Mungkin itu, dia marah sama kamu!".
"Memang siapa sih mbak, wanita bar-bar itu?",tanya Ardi ikut berkomentar.
"Sella pak. Sam aja terlalu emosi tadi!",jawab El.
"Bukankah mbak Sella itu sahabat mbak El?",tanya Ardi lagi.
"Iya. Mungkin bisa dikatakan sebagai saudara aku Pak".
"Saudara dari mana!", sahut Sam kesal. "Saudara kok kasar kayak gitu!",cicitnya.
"Ya karena aku dan Sella bersahabat dari kecil. Makanya aku dan Sella itu seperti saudara. Bukan kayak kamu, tukang marah-marah aja!",kesal El.
"Betul itu mbak. Seorang sahabat pasti akan melindungi saudaranya!",sahut Ardi ikut nimbrung.
"Pak Ardi kok malah membela mereka berdua!. Yang di sini sebenarnya yang majikan siapa sih?. Saya atau El!",kata Sam tidak terima kalau Ardi membela El.
"Maaf-maaf mas. Saya becanda",kata Ardi minta maaf. Lalu Ardi kembali fokus untuk mengemudi.
"Lalu kamu ke restoran ngapain?",tanya El penasaran.
"Mau pergi ke restoran kek, ke pasar kek, ke mall kek, itu bukan urusan kamu!",jawab Sam.
"Iya, memang bukan urusan aku. Tapi, aku khawatir nanti akan terjadi sesuatu sama kamu".
"Aku laki-laki El. Dan tidak usah khawatirin aku secara berlebihan itu!. Aku tidak butuh itu!",jawab Sam.
"Maaf kalau aku khawatir sama kamu",jawab El pasrah. Ia lalu melihat keluar jendela. Ia melihat pemandangan yang begitu indah. Andai waktu bisa aku putar, aku akan putar pada saat aku masih SMA. Dimana saat kamu menjadikan aku permasuri di hatimu. Tapi, waktu tidak akan berulang ke masa lalu. Masa dimana, kamu tidak mengenal diriku.
***
Malam Hari.
El sedang duduk di balkon sambil melihat bintang dan bulan bersinar terang. Ia sambil memangku laptopnya. Ia mencoba menghubungi keluarganya yang ada di Indonesia. Dan akhirnya video call tersambung.
"Assalamualaikum sayang?",sapa bunda dengan wajah yang berseri-seri.
"Biasa. Habis bikinin sarapan buat ayah",jawab bunda. Beliau melihat wallpaper yang ada di belakang El. "Kamu ada dimana sayang?",tanya Bunda curiga.
"Oh... El sedang keluar bunda cari udara segar. Biasa menghilangkan rasa lelah di tubuh",jawab El mencari alasan yang masuk akal.
"Memang kamu kurang berapa hari lagi sih di New York?".
"Kurang satu bulan bunda. Sabar ya bunda, El akan pastikan setelah dari sini, El akan sungguh-sungguh buat skripsi dengan cepat. Supaya tahun ini dapat sidang dengan lancar!",kata El.
"Iya sayang. Bunda akan doakan supaya kamu lancar menjalankan skripsinya. Dan lancar dalam sidangnya!",doa bunda.
"Aamiin Bunda. Terimakasih Bunda!",kata El sayang.
"Iya sayang".
Dino datang berlari ke layar laptop yang sedang menampilkan Bunda. "Halo Kak. Adik udah kangen banget sama Kakak!",seru Dino yang sekarang sudah bertambah besar dan tampan
"Ya ampun adik Kakak, sekarang tambah ganteng dan tambah keren!",kata El yang kagum terhadap adiknya.
"Iya dong Kak. Sekarangkan aku udah SMP. Mana para cewek-cewek pada ngantri untuk jadi pacarku!",kata Dino asal.
"Hus, apaan sih Dino ini!. Pacar-pacar, sekolah dulu yang benar!",sahut Bunda tidak terima.
"Iya-iya Bunda. Adik cuma bercanda Bunda",sahut Dino.
El yang ada di sana tertawa melihat tingkah laku Dino.
"Dino tahu Bunda. Abang kan juga belum punya pacar, masa Dino mau ngalahin Abang sih. Kan gak lucu Bun!",kata Dino.
"Kamu tuh masih kecil. Jajan aja masih minta sama orang tua. Gak malu apa!",kata Bunda.
"Iya-iya Bunda. Dino paham kok!",jawab Dino.
El yang melihat gambar hanya tersenyum bahagia. Andai dia ada di sana saat ini, pasti kebahagiaannya bertambah.
__ADS_1
"Ya sudah ya sayang, Bunda mau berangkat dulu ke butik?",pamit Bunda.
"Iya Bunda. Hati-hati ya Bunda. Assalamualaikum?", pamit El.
"Walaikumsalam sayang!",jawab Bunda yang langsung mematikan sambungan video call.
"El.... El... El...!",panggil Sam yang berjalan ke balkon.
Huft... Untung aja sambungan video call sudah terputus!. Kalau gak, bisa-bisa aku ketahuan sama Bunda! batin El.
Sam berdiri di depan pintu. "Ngapain sih kamu?. Saya panggil-panggil gak ada jawabannya!",kesal Sam.
"Aku lagi sibuk Sam. Ada apa sih teriak-teriak?",tanya El yang masih memandang layar monitor.
"Malam ini aku tidak tidur di sini. Aku akan pulang, Mamaku mencari ku!",kata Sam.
"Itu lebih baik. Karena kamu masih punya kedua orang tua, kamu harus taat kepadanya",sahut El.
"Ya udah, buatin nasi goreng!", perintah Sam.
"Buat apa?",tanya El mengalihkan perhatiannya kepada Sam yang masih berdiri di depan pintu.
"Buat bekal pulang ke rumah!",jawab Sam yang langsung pergi ke ruang tengah.
"Apa?. Aku gak salah dengar. Buat bekal pulang ke rumah. Memangnya di sana tidak punya pembantu apa!",kesal El pada dirinya sendiri. Ia segera pergi ke dapur untuk memasak.
El masak nasi goreng sangat serius sampai-sampai seorang Sam memperhatikannya, ia tidak menyadari itu.
Sebenarnya kamu siapa?. Kenapa setiap aku bersamamu jantung ini berdetak tidak sinkron?. Kalau memang ada cinta di antara kita, lalu kenapa Kak Edwan dan Mama tidak memperbolehkan kita bersatu? pikir Sam dalam hati.
El menata rapi nasi goreng beserta lalapannya di kotak makan serbaguna. Ia berjalan ke arah Sam yang sedang duduk di ruang tengah sambil menenteng kotak makan itu. "Ini khusus buat kamu!",ucap El sambil meletakkan di atas meja.
"Selama saya tidak ada di apartemen ini, peraturan masih berlaku. Kamu berangkat kerja jam 7 dan pulang tepat waktu jam 5. Paham!",kata Sam mengingatkan El kembali.
"Itu udah tugas aku untuk berangkat dan pulang jam segitu. Tapi, kadang-kadang si Bos mengajak aku untuk metting. Ya aku tidak bisa menjamin!",jawab El jujur.
"Dimana sih tempat kamu kerja?. Kalau perlu saya yang akan jemput kamu!",sahut Sam.
"Jangan...jangan...jangan!",tolak El mentah-mentah karena ia tidak mau ketahuan sama satu kantor, bahwa ia masih punya hubungan sama Bosnya.
"Memang kenapa?. Ada yang kamu sembunyikan?. Oh... atau kamu sudah punya pacar di kantor itu?",tebak Sam.
"Bukan begitu. Aku tidak punya pacar dan aku tidak mau pacaran. Tapi, aku punya tunangan!",jawab El.
Deg. Hati Sam tiba-tiba sakit mendengar pengakuan dari El. "Tunangan. Lalu kemana tunangan kamu itu?. Kenapa dia tidak mencari kamu?. Padahal kamu tinggal di apartemen ini?",tanya Sam beruntun karena ia begitu penasaran dengan kisah El.
"Dia tidak mungkin mencari ku",jawab El lemas.
"Kenapa?. Kalian putus!",tebak Sam.
El menggelengkan kepala.
"Atau kekasih yang tak dianggap?",tebak Sam lagi.
El menggelengkan kepala. "Tidak Sam".
"Lalu apa?. Kalau tidak. Dan kalau benar kamu tunangan, mana cincin tunangan kamu?. Seharusnya tersemat di tangan kiri jari manis kamu?",kata Sam ingin penjelasan dari El.
"Ada kok cincinnya. Cincinnya dikamarku. Dia berjanji setelah pulang dari Indonesia, dia akan memasangkan cincinnya di jariku",jawab El dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lalu kenapa sampai sekarang cincin tunangan kamu belum tersemat di jari manis mu?",tanya Sam bertanya-tanya.
El menutup matanya, melupakan kejadian naas yang menimpa Sam. "Karena dia...karena dia...karena dia..?",kata El tidak sanggup mengatakan kepada Sam.
"Meninggal?".
El menatap matanya Sam dengan tajam. Ia mau Sam mengingatnya sendiri tanpa ia beritahu. Tapi, mana mungkin?. Dia sedang sakit. Dia sedang membutuhkan orang yang bisa dipercayai tapi sampai kapan aku berada di sampingnya?. bahkan kedua orang tuanya tidak mau kalau aku ada di sampingnya. Kalau saya boleh meminta Oh... Tuhan, aku memohon kepadaMu, tolong sembuhkan lah Sam dalam waktu satu Minggu ini. Karena setelah satu Minggu berlalu, aku tidak akan ada disampingnya lagi! doa El dalam hati.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.