
...Happy Reading....
...***...
Olivia sedang berdiri di dekat pagar sambil melihat pemandangan sungai.
Satria yang melihat Olivia sendiri langsung menghampirinya. "Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya?",tanya Satria yang berdiri di samping Olivia.
"Aku sedang ingin sendiri".
"Why?",tanya Satria penuh tanda tanya. "Bukankah kalau kita berada di keramaian, kita selalu bahagia ya?".
"Tidak semua keramaian membuat hati seseorang bahagia, Sat. Kadang, keramaian yang membuat hati kita sepi dan sedih. Karena keramaian itu akan hilang seketika. Dan saat seperti inilah hatiku sekarang",jujur Olivia yang mengalihkan pandangan ke arah lawan bicaranya.
Satria terenyuh mendengar pengakuan Olivia. Tidak semua orang kaya merasa bahagia dan senang mendapatkan pangkat yang tinggi. "Apa kamu kesepian?".
"Kesepian tidak. Tapi, aku merasa kurang bersyukur apa yang aku miliki sekarang. Mereka saja yang serba kekurangan selalu bersyukur apa yang mereka miliki saat ini, dan selalu menjadi orang yang selalu bahagia. Apakah sesederhana itu mengukur kebahagiaan mereka?",tanya Olivia lagi.
"Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan seseorang Oliv. Karena kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda. Makanya, kita tidak bisa tahu seperti apa kebahagiaan yang mereka inginkan. Lalu kebahagiaan seperti apa yang kamu inginkan saat ini?",tanya Satria.
"Aku hanya ingin memiliki rasa bersyukur saat ini dan seterusnya. Mungkin, dengan kita yang selalu bersyukur terus menerus akan membuat hati kita selalu bahagia. Bukan begitu Sat?",tanya Olivia balik.
Satria tersenyum manis. Ternyata Olivia sangat cekatan dalam mengambil kesimpulan. Dia seperti Raina yang selalu membalikkan pertanyaannya. Tapi, ngomong-ngomong kenapa aku malah memikirkan wanita culun itu? pikir Satria tidak masuk akal. "Mungkin".
"Aku mau tanya sama kamu, boleh?",tanya Olivia mencari persetujuan dari Satria.
"Silahkan!. Mau tanya soal apa?".
"Kenapa dulu kamu menelepon nomerku tidak jadi?. Mungkin baru tersambung beberapa detik dan langsung kamu matikan?. Apakah ada masalah?",tanya Olivia intens.
Oops... Satria tercengang mendengar pertanyaan dari Olivia. Memang dulu ia sempat menghubungi Olivia, tetapi ia membatalkan panggilan itu karena ia mungkin tidak sepadan dengan Olivia. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Why?".
"Hmmm... Mungkin dulu aku salah pecet. Makanya aku langsung mematikannya",jawab Satria terbata-bata.
"So, kamu menyimpan nomerku?. Dari mana?",tanya Olivia lagi.
Mati aku. Kenapa aku merasa menjadi laki-laki paling bodoh saat di samping Olivia. Mana keberanianku yang dulu! batin Satria. "Hmmm... Dari adikku, El!".
__ADS_1
"El...!. Jadi, kamu sudah melihatku pada saat aku bersama El?".
"Iya. Mungkin karena ketidak sengaja melihat kamu, pada saat aku dan El melakukan video call. Dan saat itu, El tidak mematikan ponselnya dan kameranya menyorot kewajah kamu. Dan saat itu juga, aku minta nomer kamu dari El. Apakah ada yang salah?",jelas Satria panjang lebar.
"Buat?".
"Menambah pertemanan".
"Tidak ada yang lainnya?",tanya Olivia sarkas.
"Tidak".
"Bukan untuk menambah koleksi mantan pacar kamu!".
"What?",ucap Satria kaget dan tidak percaya.
Olivia berjalan berpindah ke samping kanan Satria. Ia ingin membuat seorang Satria mati kutu. "Aku tahu seluk beluk kamu".
"Maksudnya apa ya?. Aku tidak mengerti?".
"Kamu seorang Satria Putra Wibowo. Seorang playboy yang terkenal di kampus, cukup terkenal maksudnya. Dan banyak para korban yang kamu buat sakit hati!".
"Tunggu....tunggu...tunggguuuu!",ucap Satria tidak terima. "Kamu tahu dari mana?. Kita baru saja pergi beberapa jam yang lalu, dan kamu sudah bilang dan menilai aku seperti itu. Maksudnya apa?",lanjut Satria.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi Olivia. Kamu tidak tahu tentang aku. Dan karena seseorang bilang seperti itu, kamu langsung mengambil kesimpulan seperti itu. Yang tahu tentang hidupku adalah aku, keluargaku dan orang terdekatku. Dan siapakah yang menyebarkan berita hoaks itu?",jelas Satria panjang lebar.
"Aku tidak bisa memberitahu kamu, Sat. Mungkin sebagian dari orang dari masa lalu kamu ada yang tersakiti, aku juga tidak tahu. Dan, kamu sepertinya Abang yang baik buat adik-adik kamu. Beda ceritanya dari orang-orang itu", ungkap Olivia.
Satria memandang jauh ke depan. "Aku heran sama orang-orang yang selalu menebarkan keburukan, aku sebenarnya salah apa sih sama mereka. Padahal aku menganggap mereka teman, atau mereka aja yang merasa percaya diri bahwa aku suka sama dia. Padahal dari sekian perempuan, aku hanya memiliki dua mantan. Lalu yang mereka anggap playboy itu letaknya dimana?. Aku jadi bingung!",ungkap Satria. "Padahal yang playboy cap kadal itu hanya laki-laki brengsek yang dulu menipu adikku itu. Ataukah mereka juga menganggap aku sebagai laki-laki playboy, karena aku dan dia bersahabat!",pikir Satria.
"Aku tidak tahu kalau soal itu. Itu masalah hidup kamu Sat. Bukan urusanku. Kamu playboy atau bukan, kamu bukan tipe saya. Jadi, tidak ada hubungan apapun itu dan tidak akan merubah apapun",ungkap Olivia.
Ya benar Oliv, itu bukan urusan kamu. Dan kamu tidak perlu penjelasan ku! batin Satria memandang Olivia dalam. Tapi, ada apa dengan hatiku ini. Apakah aku jatuh cinta sama kamu Olivia? lanjut Satria yang masih memandang lekat-lekat wajah cantik Olivia.
***
Adelle dan El baru saja turun dari mobilnya William. Dan di parkiran William langsung pamit kepada mereka berdua.
Dan disinilah El dan Adelle berada, mereka sedang berjalan menuju asrama mereka berdua.
__ADS_1
"William orangnya baik ya!",oceh Adelle.
"Iya".
"Ganteng, pinter, anak orang terpandang dan yang pastinya baik hati. Kamu tidak jatuh cinta sama dia, El?",tanya Adelle.
"Berikan satu alasan, apa yang membuat aku harus jatuh cinta sama dia, Del?",tanya El menghentikan langkahnya dan duduk di anak tangga nomer tiga.
"Itu tadi alasannya. Apakah kurang?",sahut Adelle mengikuti El duduk di anak tangga.
"Itu bukan alasan Del. Itu sudah menjadi ciri signifikannya",jelas El.
"Jadi, kamu tidak suka sama William?",tanya Adelle serius.
El menggelengkan kepalanya. "Aku hanya menganggap William sebagai sahabat dan Kakak bagiku Del. Kamu jangan salah sangka bila aku dan William jalan berdua. Karena, kamu tahu bahwa William mengenal Samuel dengan baik. Makanya kita seakrab itu. Dan apakah kamu suka sama Wiliam?",tanya El memaksa supaya Adelle juga terbuka tentang perasaannya dengan William.
Adelle hanya diam mendengarkan pertanyaan dari El. Iya tahu bahwa perasaannya terhadap William ada perasaan lebih. Tapi, apakah pantas ia bersanding dengan William?. Mengingat William orang kaya dan orang terpandang di kampus.
El memegang bahu Adelle. "Kalau kamu suka sama dia, bilang sama aku. Aku akan mencoba tanya sama William baik-baik!".
"Jangan!",elak Adelle cepat.
El mengenyitkan dahinya tidak mengerti kenapa begitu cepat Adelle menjawabnya. "Kenapa?".
"Hmmm.... Hmmm... Aku tidak mau merepotkan kamu, El. Kisah cinta kamu saja sudah rumit. Apa lagi nanti tambah masalahku. Aku tidak mau kalau kamu sakit. Biarkan masalahku akan aku hadapi sendiri!",kata Adelle.
El tersenyum merekah.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?",tanya Adelle bingung.
"Jadi kamu suka sama William?",tanya El tidak percaya.
Adelle tersipu malu. "Kirain kamu tersenyum karena apa. Membuatku takut saja!",kesal Adelle.
"Cie... yang sedang jatuh cinta!",goda El menyenggol bahu Adelle sampai tergoncang.
"Apaan sih!". Adelle sangat malu, ternyata seorang El sangat peka dengan situasi ini. Ia merasa bahagia bisa mengenal El dan apa lagi mengenal seorang laki-laki tampan dan baik bernama William.
...***...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote....
...Terimakasih....