
Happy Reading.
***
"Masuk!", perintah Sam marah.
El hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah. Ia lalu membuka pintu mobil depan. "Kamu gak sekalian pulang sama aku, Bel?",tanya El yang masih berdiri di depan pintu mobil. Ayo Bel, aku mohon kamu ikut pulang bareng, aku gak mau di omelin sama nih orang! mohon El dalam hati.
"Gak usah El. Aku belum waktunya pulang. Kamu dulu aja!",jawab Bella.
"Oke. Maaf ya sebelumnya!",ucap El sebagai penutup. Ia kemudian masuk kedalam mobil.
Sam memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. "Kamu apa-apa sih!. Ngapain kamu masuk ke dalam bar!. Buat apa?",bentak Sam dengan emosi yang membara.
"Maafin aku, Sam",jawab El tertunduk.
"Apa jangan-jangan kamu sekarang berkeliaran di bar?",tebak Sam.
Deg. El langsung mendongakkan wajahnya. "Tidak. Tadi aku lihat kamu masuk ke dalam bar. Aku tadi ada di kafe di seberang jalan depan bar",jawab El mencari pembenaran.
"Kamu buntuti aku?",tanya Sam kesal.
"Enggak Sam. Aku cuma penasaran aja, ngapain kamu di di dalam bar!",sahut El.
"Itu bukan urusan kamu, El!".
"Iya aku tahu, itu bukan urusanku. Tapi, tapi aku penasaran!".
"Kalau di dalam bar sana tadi gak ada aku, apa jadinya dengan kamu sekarang!",seru Sam.
"Iya, aku minta maaf. Dan terimakasih udah menolongku bersama temanku tadi!",kata El.
"Apa kamu pernah pergi ke bar sebelumnya?",tanya Sam yang begitu penasaran. "Karena, yang aku lihat kamu sangat penasaran apa yang terjadi di dalam bar!",lanjutnya.
El langsung melihat ke arah Sam. Ia tidak tahu harus bercerita dari mana.
"Jawab El!",bentak Sam.
El menutup mata karena merasa nafasnya sesak di bentak-bentak oleh Sam. "Pernah",jawab El mencoba untuk jujur.
"Apa!",kata Sam kaget. "Ngapain disana?".
"Karena aku di paksa sama kakak kamu. Aku di kasih obat tidur dan obat perangsang saat aku pergi ke toilet!",jawab El.
Shitttttt! umpat Sam sambil memukul stir. "Terus sama siapa lagi ke bar?",tanya Sam lagi. "Pasti sama teman-teman kamu kan?",tebak Sam.
"Enggak. Aku gak pernah ke bar bersama teman-temanku, kecuali sama Kak Sa-ga!",ucap El pelan.
Sam spontan langsung mengerem mendadak.
Duuukkkkk....
Jidat El kepentok bagian mobil depan. "Aduh....sakit Sam!",kesal El memegang kening.
"Sama orang brengsek itu!",sahut Sam marah. "Ngapain kamu sama tuh orang El?", tanya Sam yang sudah marah sampai ubun-ubun.
"Emang kenapa kalau sama Kak Saga, dia orangnya baik, kamu aja yang pikirannya negatif thinking terus!",jawab El mengelus keningnya.
Sam melihat kening El memerah gara-gara kepentok bagian depan mobil. Ia semakin tidak tega marah-marah sama dia.
"Kalau gak ada Kak Saga, mungkin aku udah gak ada disini sekarang!. Mungkin, aku sudah menjadi seorang istri!",kesal El terhadap Sam yang bertingkah semaunya.
"Dan kamu menyesali semuanya?",tanya Sam kesal.
"Emang tadi aku bilang gitu?. Enggak kali!",sahut El, karena ia tidak terima.
"Ya siapa tahu kamu menyesal, karena tidak jadi nyonya Edwan Natawijaya!",ucap Sam semaunya.
__ADS_1
El tidak terima Sam berbicara seenaknya. Ia langsung memukul bahu Sam dengan keras. "Oh... Jadi kamu mau kalau aku jadi nyonya Edwan Natawijaya?",teriak El marah.
"Sakit El!. Kamu apa-apa sih!",teriak Sam karena bahunya merasa sakit.
"Kamu yang apa-apaan. Aku berjuang selama tiga tahun untuk bisa bertahan hidup di negara London bersama Edwan, kakak kamu yang kurang ajar itu, dengan susah payah. Dan akhirnya aku bisa lepas dari dia, kamu malah ngomongnya kayak gitu. Kamu kenapa gak menghargai aku sama sekali Sam?. Kalau andai saja bunda dan ayah tahu, sekarang juga aku pasti akan di suruh pulang!",omel El marah.
"Udah ngomelnya!. Panas nih kupingku!",sahut Sam.
"ihhhhhhh.....!",teriak El yang menahan amarahnya.
***
Pagi Hari.
El masih mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ia membayangkan kejadian tadi malam yang sangat menyebalkan baginya.
Tring... Tring... Tring...
Ponsel El berdering, di layar terdapat sebuah nama Sam_el.
"Ngapain nih orang telpon lagi!",oceh El yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Udah angkat aja!",sahut Bella yang baru beranjak dari tempat tidurnya.
"Sammmm, Bel. Aku gak mau diomelin lagi. Tadi malam aja udah di ceramahi kemana-mana!",kesal El.
"Siapa tahu penting!. Dia itu sekarang bos kamu, bukan sahabat kamu!",kata Bella.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Bella. Dia sekarang menjadi atasanku! batin El. Ia kemudian menggeser tombol hijau.
"Dimana?", tanya Sam.
"Assalamualaikum!",sapa El.
"Walaikumsalam".
"Cepat turun!. Aku tunggu di bawah!",jawab Sam langsung mematikan sambungan telepon.
"Astaghfirullah... Kok di matiin!",kesal El. Ia langsung mengambil tas dan beranjak dari meja rias. "Aku berangkat dulu ya, Bel!. Assalamualaikum!",pamit El yang berlari keluar dari kamar asrama.
Sam sudah menunggu di depan mobil seperti kemarin. Ia memakai jas lengkap beserta dasi yang melengkapinya.
El sudah ada di depan mobil Sam. Ia mengatur nafasnya karena berlari menuju ke mobil Sam.
"Telat 5 detik!",ucap Sam sambil melihat jam tangan.
"What?",teriak El sambil bernafas ngos-ngosan. "Aku kesini susah payah lari Sam. Dan kamu bilang telat 5 detik!",kata El sambil mengangga tidak percaya.
"Siapa suruh kamu telat!",kata Sam membuka pintu mobil pengemudi.
El dengan kesal masuk ke dalam mobil Sam. Ia dengan sangat terpaksa duduk disamping pengemudi.
Sam mengemudi dengan kecepatan sedang. "Sebagai hukumannya, kamu hari ini ikut aku metting!", perintah Sam.
"Aku gak nyuruh kamu jemput aku. Dan aku kerjanya di kantor kamu, Sam. Bukan ngikutin kamu kemana aja!",sahut El tidak terima.
"Oh.... Kamu belum terima kalau aku bos besar dalam perusahaanku?",cicit Sam dengan gaya yang sok cool.
"Hmmmm!",jawab El malas. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kepada pemandangan yang ada di luar jendela.
"Pokoknya tugas kamu tuh cuma ada disampingku. Karena kamu sekarang sekertaris pribadiku!",tegas Sam.
"Emang sebelumnya kamu gak punya sekretaris apa?",tanya El balik.
"Punya. Tapi, kali ini beda!".
"Beda. Bedanya apa Sam?. Bukankah tugasnya sama ya, mengecek dan membuat jadwal meeting kamu!",jawab El heran.
__ADS_1
"Ya ini lebih plus-plus!",goda Sam yang diiringi tertawa terbahak-bahak.
"Ih....nyebelin!",kesel El dengan wajah cemberut. "Plus-plus dari mana ya?. Bukankah sekertaris dan resepsionis kamu cantik-cantik dan seksi-seksi. Apalagi sekertaris kamu yang ada di lantai 55, waowww.... tubuhnya seperti gitar spanyol!. Beda jauh dari aku!",kata El menjelaskan.
"Kalau gak cantik dan gak seksi, mana mungkin propertiku sampai laris manis di pasaran El!",jawab Sam.
"Lalu buat apa, kamu menjadikan aku sebagai sekertaris pribadimu?",tanya El.
"Maksudnya sekertaris pribadi dalam hidup dan matiku, El!",jawab Sam yang fokus dengan mengendarai mobilnya.
"Haaaa....!",ucap El kaget. Ia tidak menyangka bahwa Sam akan berbicara seperti itu.
"Kamu cemburu?",tanya Sam.
"Bukan. Bukan masalah cemburu, tadi kami bilang apa barusan?",tanya El penasaran.
"Bilang apa emangnya?",tanya Sam pura-pura lupa.
"Kamu tadi bilang ingin menjadikan aku sekertaris pribadi dalam hidup dan mati kamu?",tebak El.
Oppsss.... Mati aku! batin Sam takut. "Kata siapa aku tadi bilang kayak gitu!. Enggak kok!. Kamu kali yang salah ndengernya!",sahut Sam yang tidak mau ketahuan kalau ia sedang berbohong.
"Aku gak salah denger Sam. Telingaku masih bisa untuk mendengar!",jawab El.
"Ya siapa tahu, tiba-tiba telinga kamu bermasalah. Kan gak ada yang tahu!",asal Sam.
"Kamu doain aku tuli?",marah El.
"Siapa yang doain kamu tuli sih!. Emang aku berdoa, supaya Ellena tuli gitu?. Kan enggak!",kata Sam mencari pembenaran.
"Terserah. Aku capek, bertengkar sama kamu terus!",ucap El yang langsung memejamkan matanya. Lebih baik tidur, daripada denger omelan Sam.
***
Akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah bangunan apartemen yang baru diresmikan oleh perusahaan XXX yang diidam-idamkan oleh Sam.
Sam dan El saat ini sedang menaiki sebuah lift untuk menuju ketempat tujuan. Sam sudah membuat janji dengan klien barunya yang akan membeli beberapa apartemen yang ada di gedung ini.
Sam dan El memasuki ruangan meeting yang terdapat di atas gedung apartemen. Mereka bernegosiasi tentang properti-properti yang ada di apartemen.
Akhirnya setelah beberapa jam menjelaskan, apartemen itu terjual 35 buah. Sam merasa senang karena hasil dari kerja kerasnya membuahkan hasil.
El berjalan melihat sebuah apartemen yang cukup menarik perhatiannya di bangunan ini. Ia memasukinya dengan permisi walaupun tidak ada orang di dalamnya. Ia berjalan menuju jendela kaca yang sangat besar menampilkan pemandangan yang bagus.
Sam terus mengikuti langkah El yang sedang memasuki sebuah apartemen. "Bagaimana menurut kamu, apakah bagus nih apartemennya?", tanya Sam yang mengambil sebuah majalah katolag dimeja.
"Sangat bagus. Pantes saja properti yang kamu jual laku keras!",kata El yang masih memandang pemandangan yang ada di depan matanya.
"Karena aku selalu memilih letak stategis dan pemandangannya sangat indah",jawab Sam. "Apakah kamu mau miliki salah satunya?",tanya Sam memandang El yang sedang berdiri di tembok kaca.
"Buat apa?. Aku gak lama stay disini. Buat apa aku membelinya!",sahut El. "Apa lagi pasti harganya sangat tinggi, aku gak akan mampu!",lanjutnya.
Sam berjalan mendekati El. "Kamu pasti mampu kok. Kalau kamu mau menjadi nyonya besar Samuel Natawijaya?",kata Sam yang sudah berdiri disamping El.
El dengan cepat langsung mengalihkan perhatiannya kepada wajah Sam yang sedang memandang pemandangan hijau di depan matanya. "Kamu melamarku?",tanya El tanpa kedip mata.
"Aku tidak akan melamarmu. Karena, aku ingin langsung menikahimu!",jawab Sam yang langsung menengok ke arah El.
Mata mereka bertemu cukup lama. El memandang Sam dengan perasaan yang sangat senang, tetapi ia sadar bahwa ia harus menjelaskan kepada orangtuanya dan semua orang bahwa pertunangan dengan Kak Edwan sudah berakhir. El tersenyum meremehkan Sam. "Mana mungkin kamu mau menikahiku Sam?. Karena aku mantan tunangan kakak kamu",jelas El. Lalu El meninggalkan Sam yang masih berdiri di tembok kaca itu.
Sam masih mematung di tempat. Ia bingung apa yang harus ia lakukan supaya El terlepas dari ikatan kakaknya itu. Padahal dia dan mamanya sudah tahu bahwa pertunangan El dan kakaknya sudah berakhir. Tapi, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus menjelaskan kepada kedua orangtuanya dan kedua orangtua El tentang niat baiknya itu, tapi bagaimana menjelaskan semua ini?.
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1