Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Banyak Alasan


__ADS_3

Happy Reading.


***


El menutup matanya, melupakan kejadian naas yang menimpa Sam. "Karena dia...karena dia...karena dia..?",kata El tidak sanggup mengatakan kepada Sam.


"Meninggal?".


El menatap matanya Sam dengan tajam. Ia mau Sam mengingatnya sendiri tanpa ia beritahu. Tapi, mana mungkin?. Dia sedang sakit. Dia sedang membutuhkan orang yang bisa dipercayai tapi sampai kapan aku berada di sampingnya?. bahkan kedua orang tuanya tidak mau kalau aku ada di sampingnya. Kalau saya boleh meminta Oh... Tuhan, aku memohon kepadaMu, tolong sembuhkan lah Sam dalam waktu satu Minggu ini. Karena setelah satu Minggu berlalu, aku tidak akan ada disampingnya lagi! doa El dalam hati.


"Lelah nungguin jawaban dari kamu!",ucap Sam yang tidak sabar menunggu jawaban dari El. Ia segera mengambil kotak makan dan pergi kearah pintu keluar.


El hanya melihat kepergian Sam untuk pulang kerumahnya. "Tunangan aku adalah kamu Sam",lirih El pelan.


Dan Sam keluar dari apartemen.


El duduk dikursi sofa. Ia memijat keningnya yang terasa pusing.


***


Di sebuah mobil mewah, Sam duduk di kursi penumpang. Ia melihat keluar jendela. "Tolong awasi dia!", perintah Sam kepada asisten pribadinya.


"Baik Mas. Ada lagi?",tanya Ardi memastikan.


"Tolong ikuti dia dan foto semua kegiatan dia!",lanjut Sam memerintah.


"Jadi saya ganti profesi gitu mas maksudnya?",goda Ardi.


"Saya serius Pak. Tolong setiap kegiatan dia, kirimi saya fotonya",perintah Sam tegas.


"Apa tidak berlebihan mas. Saya takut kalau mbak El sampai tahu kalau itu perintah dari Mas",kata Ardi memberikan masukan.


"Ya jangan sampai ketahuan dong, Pak!. Percuma saya bayar Bapak mahal-mahal untuk jadi asisten pribadi saya",jawab Sam tidak mau gagal dalam misinya.


"Baik Mas. Saya akan usahakan".


"Ngomong-ngomong Bapak sudah kenal sama dia berapa tahun?",tanya Sam yang masih fokus dengan pemandangan kota New York.


"Kenalnya sih lama Mas. Pada saat dia masih SMA, karena saya sempat menjemputnya beserta rombongan sahabat-sahabatnya",jawab Ardi jujur.


"Bapak sopir taksi?".


"Bukan Mas".


"Lalu ngapain Bapak menjemput beserta sahabat-sahabatnya?. Bukankah Bapak sudah lama bekerja di rumah saya!",tanya Sam curiga.


"Ya karena mereka juga sahabat dari mas Sam. Makanya saya yang antar pada saat itu",jawab Ardi.


"Maksud Bapak, El juga salah satu sahabat saya?".


"Iya Mas. Mas Sam mempunyai 3 seorang sahabat. Dialah Mbak El, Mbak Aurel, Mas Dony dan salah satunya Mbak Sella yang Mas Sam maki-maki itu",jawab Ardi polos.


"Serius Pak!. Kok saya gak ingat ya!",sahut Sam bingung sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Kan Mas Sam sedang sakit. Mana mungkin Mas Sam akan ingat".


"Tahu lah Pak. Pokoknya besok saya tunggu kabar dari Bapak. Bapak tahu sendiri besok saya mau kontrol!",kata Sam.


"Baik Mas. Tunggu kabar dari saya!",jawab Ardi pasti.


***


Disisi lain El berjalan menuju balkon lagi. Ia ingin sekali menikmati malam yang cerah, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering. Dilayar menampilkan nama yang tidak asing baginya. "Assalamualaikum Kak!",sapa El.


"Walaikumsalam. Lagi ngapain?",tanya Saga diseberang sana.


"Lagi melihat bintang dan bulan di atas langit".


"Sama dong".


"Oh...ya, kok bisa samain gitu ya Kak!",ucap El yang disela tawa.


"Tumben belum tidur?".


"Belum ngantuk Kak".


"Keluar yuk, bentar aja?",ajak Saga memohon dalam hati. "Please!".


El melihat ke arah pintu melihat arah jam yang ada di dinding. Masih jam 8. "Boleh Kak. Dimana?",tanya El.


Saga tersenyum bahagia karena El mengiyakan ajakannya. "Di kafe tempat biasa ya?".


"Jangan jauh-jauh ya Kak, bagaimana kalau kalau di kafe dekat sini aja!",ide El.

__ADS_1


"Boleh. Dimana?".


"Nanti aku kirim lewat pesan aja Kak".


"Ok. Aku tunggu ya?. Assalamualaikum!".


"Walaikumsalam Kak!",jawab El yang mematikan ponselnya. Ia segera mengirim alamat kafe yang terdekat dari apartemennya. Ia segera mengambil hoodie dan pergi keluar.


***


El sudah duduk di kafe yang dimaksudnya. Ia memesan minuman coklat panas. Ia sesekali mengaduknya sambil melihat ke sekeliling. Ia melihat Saga yang berjalan memasuki kafe.


Saga melihat El sudah datang di tempat. Ia menghampirinya. "Hai...!",sapa Saga yang langsung duduk di depan El.


"Hai Kak. Akhirnya tahu juga tempat ini".


"Iya tahu lah. Udah pesan?",tanya Saga.


"Udah Kak. Kakak silakan pesan!".


"Mbak!",panggil Saga dengan menangkat satu tangan.


Mbak pelayan langsung menghampiri meja El dan Saga. "Ini Kak buku menunya!".


Saga mengambil buku menu dan membacanya sekilas. "Kamu mau pesan apa lagi ?".


"Tidak. Tidak usah Kak. Aku masih kenyang".


"Ok",kata Saga. Ia menutup buku menu. "Saya pesan kopi cappucinonya satu ya mbak?".


"Baik Pak. Tambahannya apa lagi?",tanya pelayan.


"Tidak mbak. Itu aja. Terimakasih!",jawab Saga.


"Iya Pak. Di tunggu ya Pak!",kata pelayan dan langsung pergi.


"Kakak gak makan?".


"Tidak. Aku masih kenyang. Soalnya tadi habis metting sama klien",jawab Saga. "Oh...iya, maaf ya, yang soal kemarin makan malamnya. Aku yang buat Janji, aku yang ingkari!",kata Saga menyesal.


"Tidak apa-apa kok Kak. Aku ngerti".


"Tapi aku tidak enak El sama kamu. Kamu baik-baik saja kan?. Katanya ada yang kamu omongin sama aku?. Apa?",tanya Saga.


Saga masih menunggu jawaban yang pasti. Ia melihat gerak-gerik El yang merasa tidak nyaman.


Pasti Kak Saga curiga soal aku mau pinjam uang untuk menutupi kerugian rumah sakit milik Sam. Tapi, aku sekarang sudah satu atap sama Sam. Tidak mungkin aku akan pinjam! batin El. "Oh...dulu ya Kak, iya dulu aku mau tanya soal Kak Olivia!",kata El mencari alasan yang masuk akal. Maafkan aku ya Bang!. Maaf, karena Abang mencari alasan El.


"Kak Oliv. Kenapa dengan dia?".


"Abang Satria Kak, kayaknya dia suka sama Kak Oliv. Iya, suka!",sahut El salah tingkah. Mati aku, kalau sampai Abang tahu, bisa dikeluarin dari kartu keluarga aku! batin El takut.


"Masa sih!. Memang mereka udah saling kenal ya?",tanya Saga bingung.


"Belum sih. Belum sempat ketemu".


"Lalu?. Dari mana Abang kamu melihat Kak Oliv?",tanya Saga penasaran.


"Hm, dari video call. Abang lihat Kak Oliv pada saat aku sedang metting sama beliau. Malah sampai dia ketiduran melihat kecantikan Kak Oliv. Katanya sih!",jawab El.


"Bukannya Abang kamu, maaf ya, playboy!",kata Saga sadis.


"Astaghfirullah Kak Saga!. Memang iya sih, Abang di cap playboy. Tapi sebenarnya tidak kok. Yang playboy itu, Kak Edwan. Bukan Abang aku Kak!",jelas El kesal.


"Memang begitu ya. Ya karena dia abang kamu, makanya kamu bela-belain terus!",goda Saga.


"Kak Saga. Aku tahu ya Kak, Abangku seperti apa!. Dan kalau dia mau macam-macam saya wanita, pasti dia ingat, kalau dia punya adik perempuan!. Itu sih, kata Ayahku!",jelas El.


"Kenapa sekarang kamu jadi baperan sih!".


"Maksudnya?",tanya El tidak mengerti.


"Aku tahu bagaimana kedua orangtua kamu mendidik anak-anaknya sampai ia menghargai dan menghormati orang lain. Kakak cuma bercanda aja kok!. Gak serius!",jelas Saga menahan tawa.


El menutup wajahnya, malu. "Apa-apaan sih Kak!. Jadi malu aku!",kesal El.


"Kenapa harus malu. Kamu aja yang terlalu baperan!".


"Enggak Kak. Enak aja!",bela El tidak mau kalah.


Lalu mereka melalui malam dengan penuh tawa. Mereka tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang merekam adegan mereka.


***

__ADS_1


Pagi Hari.


El sudah stay di kantor tempat ia KKN. Ia setiap hari harus datang lebih pagi untuk menyiapkan laporan-laporan yang akan dibahas pada saat metting berlangsung.


Tamara baru saja datang. Ia menanyakan berkas-berkas kepada El. Ia sebelum menyerahkan kepada bosnya, ia harus mengecek dahulu supaya tidak ada kesalahan yang fatal. "Aku gak tahu El, kalau nanti kamu sudah keluar dari kantor ini!. Pasti aku akan sibuk banget dan pulang malam terus. Aku bersyukur punya partner kerja yang solid kayak kamu!",kata Tamara bangga.


"Sudah menjadi tugas saya mbak, buat bantu mbak. Kalau nanti seumpama mbak kewalahan sama tugas mbak yang ada di kantor, lebih baik mbak cari deh asisten sekertaris. Pasti nanti Pak Edwan setuju!",ide El.


"Benar juga ya. Soalnya aku tidak kepikiran sampai kesitu. Maklumlah, perusahaan yang di pegang sama pak Samuel dan Pak Edwan jauh berbeda. Dulu pada saat Pak Samuel belum sakit, beliau selalu membantu aku. Tetapi kali ini beda banget!",keluh Tamara.


"Kita doain aja mbak, untuk kesembuhan Pak Samuel".


"Iya El. Semoga beliau lekas sembuh ya!. Aku kok tiba-tiba kangen ya sama beliau!",ucap Tamara.


"Kangen. Apanya yang di kangenin mbak. Orangnya aja nyebelin banget!",sahut El tidak sadar.


"Nyebelin. Maksudnya?",tanya Tamara penasaran.


Oops... El langsung tersenyum. Ia tidak bermaksud menjelek-jelekkan keburukan Sam. "Maksudnya dia kan sukanya memerintahkan mbak, makanya menurutku dia itu nyebelin!",kata El beralasan.


"Ya maklumlah dia memerintah kita, diakan bosnya!".


"Iya juga ya mbak!",jawab El tidak enak hati. Ia tidak mau ketahuan bahwa ia dan Sam tinggal bersama.


Edwan dan Chika baru saja keluar dari lift. Mereka bergandengan dengan mesranya.


Chika dengan sinis memandang El, ia bermaksud untuk merendahkan El karena Edwan batal bertunangan dengan El.


Edwan dan Chika berhenti dimeja sekertaris.


"Bagaimana Tamara, semua dokumen sudah siap semuanya?",tanya Edwan.


"Sudah Pak. Sudah saya cek ulang dan sudah saya siapkan",jawab Tamara tegas.


"Ya sudah, nanti ikut sama saya!",perintah Edwan.


"Saya Pak. Lalu El?",tanya Tamara. Biasanya mereka berduakan yang berangkat metting.


"Kalau El mau ikut, silakan. Supaya bertambah wawasannya!".


"Tidak usah Pak. Terimakasih!",kata El. Ia tidak mau jadi sasaran kemarahan Chika lagi.


"Yakin gak mau ikut?",sindir Chika.


"Buat apa saya ikut. Nanti pacar Bapak cemburu sama saya!",jawab El polos.


"What!. Cemburu sama kamu!. Buat apa?. Palingan nanti Edwan pilih sama saya lagi!",jawab Chika tidak mau kalah.


El langsung membuang muka. Ia tidak mau mencari gara-gara dengan Chika. Si pengacau dalam hidupnya.


Tiba-tiba lift terbuka menampilkan Violla dan seseorang wanita cantik dan elegan masuk kedalam gedung.


Di ruangan El tempat KKN semua mata langsung tertuju ke pintu lift.


Edwan tercengang melihat seorang wanita masuk kedalam ruangan.


Violla dan seseorang wanita itu menghampiri meja sekertaris.


"Mama sama siapa?",tanya Edwan penasaran.


El yang melihat wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut adalah wanita yang bisa dikategorikan berkelas.


Violla menebarkan senyuman yang merekah. "Dia Laura. Calon tunangan Adik kamu, Samuel Nata Wijaya",ucap Violla menyindir.


El tercengang tidak percaya. Secepat itu Mama Violla mencari pengganti tunangan buat anaknya. Hati El teriris, sebencikah Mama Violla terhadapnya?.


Edwan langsung melihat ekspresi wajah El yang kaget. Ia tidak menyangka bahwa El sudah tidak dianggap di keluarga Dirga lagi.


Laura melihat El dengan ekspresi merendahkan El. Ia ingin terlihat sempurna dimata dunia, apa lagi di keluarga Dirga.


"Sayang Laura, tolong kamu perkenalkan diri kamu di ruangan ini. Dan jabatan apa yang pantas buat kamu sayang?",kata Violla lembut.


"Iya Tante. Halo, perkenalkan nama saya Laura Kiehl. Saya adalah calon tunangan dari Samuel Nata Wijaya. Dan posisi saya nanti di ruangan ini adalah asisten sekertaris Bapak Edwan Nata Wijaya", jawab Laura sopan dan manis.


Apa!. Asisten sekertaris Bapak Edwan, seriusan ini! batin Tamara mengeluh.


El terdiam dan hanya melihat tingkah laku Laura yang manja dan tidak berkelas. Memang sih, ia berkelas dalam fashionnya. Tapi, apa mungkin otaknya juga berkelas! pikir El.


Apa itu wanita yang bernama Ellena?.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2