Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Batal


__ADS_3

Happy Reading.


***


Kak Edwan masih menuruni anak tangga. Ia kelelahan untuk berlari menuruni anak tangga.


Kak Saga mengajak El untuk masuk ke lantai 8. Mereka berdua berlari ke arah lift.


Kak Edwan berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "Lari kemana sih dia?. Kenapa dia mengajar Sam?. Kenapa dia tidak minta penjelasan dariku?",bisik Kak Edwan bertanya pada dirinya. Lalu ia mengambil ponsel dari dalam saku dan memanggil El.


Tut... Tut....Tut...


"Kok gak diangkat sih?",keluh Edwan sambil memanggil lagi.


***


Disisi lain El berlari bersama Kak Saga menuju parkiran.


"Ponselku berbunyi Kak?",ucap El.


"Palingan juga si Edwan. Udah gak usah diangkat!",sahut Kak Saga yang masih memegang lengan El.


Mereka langsung menaiki mobil Saga. Saga langsung menarik pedal gas.


El duduk di samping pengemudi. Ia menyandarkan punggungnya. "Terimakasih ya Kak, udah nolong aku?",ucapnya.


"Sama-sama, El".


"Kenapa Kakak bisa tahu kalau aku ada di tangga darurat?",tanya El.


"Tadi pintu lift lama terbuka. Jadi Kakak inisiatif lewat tangga darurat. Karena Kakak khawatir akan terjadi sesuatu sama kamu!",jawab Kak Saga masih fokus dengan mengemudinya.


"Kamu ngapain ke apartemennya si Edwan?",tanya Kak Saga serius.


"Aku mau ngasih bukti perselingkuhannya Kak. Biar dia gak macam-macam sama aku lagi!",jawab El.


"Tapi gak seperti ini juga, El?. Ini sama aja membahayakan diri kamu sendiri!",sahut Kak Saga.


"Sebenarnya tadi aku berniat cuma mau ngasih paper bag yang berisi flash disk, tapi aku langsung di tarik oleh Sam, Kak!",tutur El.


"Jadi Sam tadi disana?",tanya Saga tidak percaya.


"Iya. Aku tadi mau ngejar Sam, tapi malah ketahuan sama Kak Edwan di depan pintu lift!",jawab El.


"Dasar si Sam, gak ngelindungi kamu malah kamunya masuk kandang buaya!",sahut Saga tidak terima.


"Ini gak salahnya Sam, Kak!",ucap El lemas.


"Kenapa sih kamu tuh, masih aja belain dia terus?. Buktinya dia mau ngecelakain kamu?",sahut Kak Saga tidak terima.


"Sekarang aku udah sadar kok Kak, kalau penantianku selama ini sia-sia!",kata El.


"Semua gak ada yang sia-sia, El!. Mungkin timingnya yang gak pas!",sahut Kak Saga.


"Aku harus bisa lupain Sam, Kak!. Bagaimanapun caranya!. Mungkin jalan satu-satunya aku mau pergi ke New York?",ucap El tiba-tiba.


"New York?",tanya Kak Saga tidak percaya.


"Iya. Aku berkesempatan untuk menjadi salah satu pertukaran mahasiswa",jawab El.


"Kamu udah ngabarin orang tua kamu?",tanya Kak Saga.


El menggelengkan kepala. "Belum. Aku belum siap untuk bicara sama mereka. Mereka pasti akan tanya juga tentang Kak Edwan, tentang pertunangan ini",jawab El.


"Sabar ya, pasti akan ada jalan kok".


"Aku gak mau Kak mereka kecewa gara-gara pembatalan pertunangan ini. Aku takut, mereka akan marah?",ucap El.


"Yakin aja. Yang pasti Kakak akan ada buat kamu!. Kamu harus tegas sama si Edwan, dia lama-lama akan ngelunjak",saran Kak Saga.


"Iya Kak. Terimakasih ya Kak, sarannya?",ucap El melihat ketulusan hati Kak Saga.


"Dari tadi kamu bilang terimakasih terus lho, nanti numpuk gimana?",goda Kak Saga.


"Hahahaha....!",tawa El lepas. "Kakak bisa aja!",lanjutnya. Aku bersyukur di negara ini aku bisa bertemu dengan kamu Kak, walaupun kamu dulu nyebelin!.


***


Disisi lain Edwan masuk kedalam apartemennya. Ia sedikit kecewa karena tidak bisa mengejar El.


"Ini apa sayang?",tanya Chika membuka paper bag yang ada dimeja makan.


"Gak tahu!",jawab Edwan duduk di sofa sambil menyalakan televisi.

__ADS_1


"Flash disk",ucap Chika yang mengambil dari paper bag.


Kak Edwan langsung mengalihkan perhatiannya kepada flash disk. "Flash disk?",ucapnya bingung.


Chika berjalan menghampiri Edwan. Ia memberikan flash disk itu kepada Edwan.


Edwan menerimanya dan mengambil laptop disamping tempat duduknya. Ia memasukkan flash disk itu ke laptopnya. Sebuah file baru masuk dan membukanya.


Sebuah video sedang berputar.


Deg. Mata Edwan dan Chika tercengang melihat dan mendengar video itu.


"Apa-apaan nih?",marah Edwan dengan emosi menggebu-ngebu.


"Sayang, siapa yang memberikan paper bag itu?",tanya Chika penasaran.


"Aku gak tahu. Aku harus tanya langsung sama El, soalnya tadi dia ada di gedung ini!",sahut Edwan.


"Aku ikut?",pinta Chika.


"Ngapain kamu ikut?. Kamu di sini aja, aku gak mau masalah tambah runyam!",jawab Edwan pergi mengambil jaket.


"Tapi aku ingin sekali melihat El, dan berkenalan dengan tunangan kamu itu?. Secantik apa sih dia sampai-sampai Mama kamu begitu sayang kepadanya?",seru Chika.


"Kalau kamu ikut, dia malah curiga tentang kita?. Aku gak mau sampai kita ketahuan sama orang tuaku",jawab Edwan.


"Tapi bukankah malah bagus dia tahu?. Kita jadi bisa menikah?. Tidak ada lagi orang ketiga?",kata Chika polos.


"Mamaku belum menyukai kamu?. Bagaimana bisa mendapatkan restu dari mereka?",sahut Edwan bingung.


"Tapi sayang, aku gak mau kalau kamu benar-benar jatuh cinta sama perempuan itu. Aku takut, takut kehilangan kamu",cicit Chika sambil memeluk Edwan sayang.


"Kenapa kamu takut kehilanganku?. Siapa yang akan meninggalkan kamu?. Apa kamu masih kurang yakin?. Kita udah hidup berdua disini selama tiga tahun ini?",kata Edwan.


"Tapi, kenapa kamu belum bisa melepaskan dia dari kita?",tanya Chika.


"Kamu udah tahukan, dia cuma aku manfaatin supaya Mamaku percaya aku sudah tidak punya hubungan lagi sama kamu. Aku gak mau kamu dalam masalah besar sama Mama",jawab Edwan sambil membelai rambut Chika. "Sebelum aku mendapat restu dari Mama dan Papa, aku tidak akan melepaskan El begitu aja!",lanjutnya.


"Aku percaya sama kamu",jawab Chika.


Mereka berdua langsung berciuman dengan mesra.


"Aku pergi dulu ya?. Nanti kalau udah selesai aku akan segera pulang!",pamit Edwan langsung pergi meninggalkan Chika sendiri.


***


El datang membawa dua cangkir coklat panas. Ia lalu memberikan satu cangkir kepada Sella.


"Terimakasih sayang?",ucap Sella.


"Kembali",jawab El. "Bentar ya, aku telpon Bunda dulu?",ucap El sambil menekan tombol Bunda dan melakukan video call.


"Assalamualaikum anak sholeha Bunda?",sapa Bunda.


"Walaikumsalam Bunda El yang cantik!",balas El menggoda bundanya. "Bunda tahu gak, El sedang bersama siapa?",tanya El.


"Sama siapa?. Bunda gak tahu?",jawab Bunda.


Sella tiba-tiba mengambil ponsel El. Dan menampilkan wajahnya. "Assalamualaikum Bunda?",sapa Sella dengan bahagia.


"Masya Allah, walaikumsalam nak Sella. Kamu udah sampai disana?",tanya Bunda.


"Alhamdulillah sudah Bunda. Pesenan Bunda sudah siap meluncur ketuannya lho?",kata Sella.


"Terimakasih ya nak Sella?",ucap Bunda.


"Sama-sama Bunda!",jawab Sella.


El langsung mengambil ponselnya kembali. "Bunda, El bentar lagi ke New York lho?",ucap El.


"New York, ngapain sayang?",tanya Bunda kaget.


"El berkesempatan untuk menjadi salah satu pertukaran mahasiswa disana. Bolehkan Bunda?",kata El.


"Alhamdulillah. Boleh sekali sayang. Semoga lancar ya?. Kapan berangkatnya?",tanya Bunda.


"Minggu depan Bun. Nanti El kabarin lagi ya?".


"Iya sayang. Oke. Ya udah kamu nikmatin malam kamu bersama nak Sella ya?. Jangan tidur malam-malam lho ya?".


"Baik bunda. Assalamualaikum?",pamit El.


"Walaikumsalam sayang!",jawab Bunda yang langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


El meletakkan ponselnya ke meja. Lalu berdiri di pagar pembatas bersama Sella.


"Tadi aku ketemu sama Sam?",ucap El tiba-tiba.


"Terus?".


"Dia ninggalin aku sendiri di apartemen Kakaknya. Dan aku sampai ketahuan kakaknya. Paling bentar lagi dia kesini",jawab El.


"Siapa?",tanya Sella penasaran.


Ting.... Ting....


Suara bel pintu berbunyi.


"Itu dia!",jawab El langsung berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu, ternyata felling ya benar.


"Boleh masuk?",tanya Kak Edwan.


"Silakan!",jawab El singkat.


Tumben banget dia bolehin aku masuk kedalam? batin Edwan heran. Lalu ia masuk kedalam.


El menutup pintunya. Lalu mengikuti langkah kaki Kak Edwan. "Ada apa Kakak kesini?",tanya El.


"Kamu pasti tahu kedatanganku kesini mau apa!",jawab Kak Edwan.


"Maksud Kakak?",tanya El pura-pura tidak mengerti.


Tiba-tiba Sella datang dan menyapa. "Eh... Kak Edwan, apa kabar?",sapa Sella.


Edwan kaget ternyata didalam apartemen El ada kedatangan tamu. "Alhamdulillah baik-baik",jawab Kak Edwan. "Kamu ada disini juga?",tanya Edwan mencoba santai.


"Iya Kak. Kemarin habis ada kerjaan disini. Ya udah, mampir ke apartemennya El aja. Ya udah Kak, lanjutin ngobrolnya, aku masih ada kerjaan!",lanjut Sella.


"Oke!",jawab Edwan.


Sella lalu masuk kedalam kamar.


"Pantes aja kamu bolehin aku masuk kedalam!",ucap Kak Edwan tiba-tiba. "Ternyata ada teman kamu!",lanjutnya.


"Itu gak penting Kak. Kakak kesini punya tujuan apa?",tanya El.


"Kita ngobrolnya di luar aja!",sahut Kak Edwan.


"Aku gak mau!".


"Why?".


"Karena aku gak mau terjebak lagi dalam permainan Kakak. Ada atau gak adanya Sella disini, itu gak penting. Apa maunya Kakak?",tanya El to the point.


Kak Edwan diam tidak bisa berkata-kata.


"Aku juga punya hati Kak. Aku udah ngorbanin tiga tahun ini, tapi Kakak bermain bersama wanita lain. Kakak tahu, aku selama ini terkekang Kak dengan sifat Kakak. Aku bingung harus bagaimana, apa yang sebenarnya Kakak inginkan dariku?. Aku ingin bebas Kak, aku ingin itu!",kata El kesal.


"Aku minta maaf El. Gak seharusnya aku libatin kamu dalam masalah ini. Jujur, aku dulu pernah jatuh hati sama kamu. Tapi, aku gak bisa menggapai kamu, karena kamu susah untuk aku gapai. Aku sadar, kalau adikku Sam selama ini suka sama kamu, aku seperti ingin memiliki kamu seutuhnya. Ternyata itu cuma obsesi belaka. Dan aku tidak bisa lepas dengan Chika. Aku sangat mencintainya, El. Sungguh. Tapi, karena-?",putus Kak Edwan.


"Karena kakak gak pernah dapat restu dari Mama kan!",sahut El.


Kak Edwan menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"Kak, kalau Kakak menutupi semua kesalahan selama ini, sampai kapan Kakak akan jujur?. Sampai Mama dan Papa tahu kelakukan Kakak yang sebenarnya?",kata El.


"Jangan El, aku takut sesuatu terjadi dengan Chika. Mereka belum saatnya tahu tentang ini",sahut Kak Edwan.


"Dan aku masih punya bukti, kalau Kakak sempat memberikan aku minuman dengan obat tidur?",kata El sarkas.


Deg. Edwan kaget setengah mati. Ia tidak menyangka bahwa El akan tahu yang sebenarnya dan mempunyai sebuah bukti.


"Kakal gak maukan bukti itu masuk ke ponsel Mama dan papa?",ancam El.


"Aku mohon jangan El?. Aku gak mau terjadi sesuatu dengan Chika?. Aku mohon El?",mohon Kak Edwan.


"Kakak gak pernah mikirin perasaan aku dan keluargaku. Kakak cuma mikirin Chika, pacar Kakak. Apa Kakak tahu, kalau aku akan cerita semua ini ke keluargaku, mereka akan sedih terutama sahabat Kakak, Abang Satria. Kakak gak pernah ngertikan?",ucap El sedih.


"Maafin aku El?. Aku emang salah. Gak seharusnya aku ngancam kamu dengan video itu?. Aku minta maaf El?",ucap Kak Edwan sedih.


El membelakangi Kak Edwan. "Aku mau pertunangan ini di batalkan Kak?",ucap El sambil menengok kebelakang dan memberikan sebuah cincin permata pemberian Edwan dulu.


"Apa?",sahut Edwan tidak percaya.


***


Jangan lupa komen, like dan vote.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2