
Happy Reading.
***
Edwan dan Chika keluar dari ruangan CEO. Mereka sedang berdebat kecil.
Tamara dan El melihat mereka berdua merasa risih. Sedang El menyiapkan diri untuk pergi meeting bersama CEO Sementara itu.
"Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon saya aja ya?",pesan Tamara.
"Iya mbak. Siap!",sahut El merasa lega telah mempunyai seseorang yang sangat akrab dan baik di kantor ini.
"Pokoknya aku mau ikut sayang?",ucap Chika manja.
"Ini urusan kantor sayang. Ngapain juga kamu ikut!",sahut Edwan tidak terima.
Mereka berdua sampai di meja sekertarisnya.
"Pokoknya kalau kamu pergi sama wanita ini (Tamara), aku gak akan ikut!. Tetapi, kalau kamu pergi sama wanita ini (El), aku mau ikut!",kata Chika menjelaskan.
"Terus kalau aku metting kamu mau ngapain di sana?. Udahlah sayang, kamu nunggu di kantor aja ya?",kata Edwan.
"Nggak mau, titik!",kata Chika penuh penekanan. "Aku belum percaya kalau dia (El) udah move on dari kamu!",lanjutnya.
"Mbak Chika, saya tidak akan suka lagi sama Pak Edwan. Karena saya tidak mau masuk ke lubang yang sama!",sahut El mencari kebenarannya.
"Siapa tahu nanti kamu tergoda lagi!. Karena, sekarang jabatannya CEO perusahaan ini!",kata Chika.
"Terus apa hubungannya dengan saya?. Saya tidak gila jabatan apa lagi sampai tergila-gila sama Pak Edwan!",sahut El tidak terima. "Ya udah Pak, saya tunggu di bawah!. Silahkan Bapak berdebat dengan pacar Bapak itu!",kata El yang sudah menenteng beberapa berkas untuk metting nanti. Ia segera berjalan ke arah lift.
***
Di lobi El menunggu kedatangan CEO baru itu. Ia merasa bosan karena CEO dan pacar reseknya itu belum menampakkan dirinya. "Mana sih mereka, lama banget!",kesal El mengoceh sendiri.
Edwan dan Chika berjalan menghampiri El yang sudah menunggu di sana.
"Kita jadi metting gak sih Pak?. Kita bisa terlambat datang ke sana!",kata El memperingatkan.
"Kenapa kamu jadi yang bawel?. Hak Edwan lah mau kemana?. Bukan urusan kamu!",sahut Chika.
"Maaf ya mbak Chika yang terhormat, saya di sini menjalankan tugas!. Dan ini urusan tentang perusahaan ini!. Kalau mbak Chika dan Pak Edwan sedang ada masalah, jangan di bawa-bawa ke dalam urusan perusahaan!",kata El kesal.
Sebuah mobil berhenti di depan perusahaan.
"Bukankah itu mobil Sam?",bisik El pada dirinya sendiri.
Pak Ardi keluar dari mobil yang biasa dipakai oleh Sam. "Silahkan Pak Edwan?",kata Ardi mempersilahkan setelah membuka pintu mobil.
Pak Ardi, ngapain dia jadi sopir pribadinya si Edwan? batin El tidak terima.
Edwan tersenyum dan menggandeng lengan Chika supaya masuk kedalam mobil.
El melihat Chika masuk kedalam mobil. "Ngapain juga wanita itu ikut pergi ke metting!",bisik El kesal.
"Silahkan masuk mbak El?",ucap Ardi setelah menutup pintu mobil. Ia membuka pintu depan samping sopir.
El berjalan kearah mobil. "Terimakasih sebelumnya Pak. Tapi lain kali, saya akan buka pintunya sendiri. Karena saya cuma anak magang Pak?",kata El sopan.
"Tidak apa-apa mbak. Sudah menjadi tugas saya. Saya tidak mau kalau mbak El kenapa-kenapa selama Pak Sam di rumah sakit!",jawab Ardi.
"Iya Pak. Terimakasih banyak sudah membantu saya selama ini",kata El tulus. Ia masuk kedalam mobil.
Ardi menutup pintu mobil dan berjalan menuju tempat duduk pengemudi. Ia mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang.
"Kamu sengajakan masuk KKN di perusahaan keluarga Dirga?",tanya Chika sinis.
El menyandarkan punggungnya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan dari Chika. Buat apa di tanggapi!.
"Eh jawab!. Punya mulutkan!",bentak Chika sambil menendang kursi penumpang yang diduduki oleh El.
__ADS_1
"Chika, saya tidak ada urusan dengan kamu!. Jangan pernah ganggu saya pada saat jam kerja!",jawab El malas.
"Saya bakalan ganggu kamu!. Karena kamu satu perusahaan dengan calon suamiku. Dan aku curiga kalau kamu bakal merebut Edwan dari tanganku lagi!",ucap Chika menohok.
"Kalau aku mau merebut dia dari tanganmu lagi, kenapa harus menunggu lama. Kenapa tidak sekarang saja!",sahut El kesal.
Ardi tersenyum puas mendengar jawaban El yang lucu.
"Awas aja, kalau kamu sampai merebut calon suamiku!. Aku tidak akan tinggal diam!",kata Chika tidak terima. Ia langsung memegang lengan Edwan dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Edwan.
"Udah... Udah, kalian berdua mengganggu suasana aja!",kesal Edwan mendengar El dan Chika mengoceh. "Sayang, nanti kamu tidak usah ikut metting. Aku gak mau kalau kamu ganggu acara metting nanti!",kata Edwan.
"Tapi sayang, aku mau ikut metting. Aku gak mau ya, kalau kamu dekat-dekat sama tuh cewek!",sahut Chika tidak terima.
"Siapa yang dekat-dekat sama El?. Kamu lihat aku dekat-dekat sama dia?. Nanti yang metting tidak berdua aja sama dia, tetapi sama kolega-kolega yang lainnya. Kamu percaya sama aku kan?",kata Edwan.
"Aku percaya sama kamu. Tapi, aku tidak percaya sama dia(El)!",sahut Chika.
"Seharusnya kamu percaya sama saya bukan sama dia!",sahut El menggoda.
"Kalau aku percaya sama kamu, sama aja aku telah membohongi diriku sendiri!",sahut Chika.
El mengangkat bahu tidak mau tahu. Ia senang sekali dapat menggoda Chika.
"Udah, udah. Kalian buat aku pusing tahu gak!",kesal Edwan.
"Dia tuh yang mulai, sayang!",sahut Chika tidak terima disalahkan oleh Edwan.
"Chika!",bentak Edwan marah. "Udah, stop!",lanjut Edwan.
"Pokoknya aku ikut!",kata Chika.
"Tidak bisa Ka. Aku tidak mau kalau kamu membuat masalah pada saat metting sama kolega-koleganya. Lebih baik kamu belanja aja!",kata Edwan yang langsung mengeluarkan ATM limited.
Chika tersenyum dan berbunga-bunga. Tidak biasanya Edwan memberikan ATM limited buat dirinya. "Ini serius?",tanya Chika tidak percaya menerima ATM limited itu.
"Iya. Asal kamu tidak ikut dalam acara metting ini?".
"Dasar cewek matre!",bisik El malas.
Edwan menyuruh Ardi untuk berhenti di toko-toko ternama. Setelah itu Chika keluar dari mobil dan mobil melaju kembali.
"Aku turut prihatin ya, atas musibah tunangan kamu?",ucap Edwan sombong.
El dan Ardi diam seketika. Apa maksud dari perkataan Edwan ini?. Mereka berdua berpikir sama.
"Sekarang kamu tahukan siapa yang jadi pemenangnya?. Ya, walaupun dari awal aku sudah kalah!. Tapi, kenyataannya berbanding terbalik kan!",ucap Edwan lagi.
"Silahkan anda memuji diri anda sendiri. Saya tidak akan ikut campur dalam urusan anda!",sahut El yang tidak mau membahasnya.
"Aku jadi sedih. Kata dokter, Sam di diagnosa Amnesia. Jadi, dia bakal lupa dong sama kamu?. Apa lagi sama perusahaannya!",kata Edwan memancing kemarahan El.
"Iya. Dan kamu bisa bebas bermain sesuka hati kamu!",sahut El skak mat. "Aku heran sama tante Violla, kenapa beliau masih mempercayai kamu sebagai CEO Sementara di perusahaan Sam?. Padahal tingkah laku mu tidak sesuai dengan prestasimu!",lanjut El sadis.
"Terserah kamu mau bicara apapun itu. Itu tidak akan mengubah keadaan. Dan kamu cuma KKN di perusahaan ini paling gak masih dua bulan lagi. Sekarang berbicaralah sesuka hatimu itu!",tantang Edwan.
"Mungkin sekarang saya tidak bisa berbuat apa-apa!. Tapi, lain waktu saya akan membongkar kebusukan kamu!",sahut El.
Edwan bertepuk tangan dengan senang. "Hebat sekali kamu sudah berani melawan CEO perusahaan XXX?. Apakah kamu juga bersama Sam seperti ini?",tanya Edwan tidak percaya.
"Itu tidak penting buat kamu. Yang harus kamu lakukan adalah jalani sesuai dengan pemikiran Sam, bukan pemikiran kamu!",kata El memperingatkan.
Ardi berhenti di sebuah parkiran di restoran XXX.
El segera keluar dari mobil ini. Karena merasa jengah melihat Edwan ada di dalam mobil.
Ardi membukakan pintu Edwan dengan sopan dan santun.
Edwan keluar dengan merapikan jasnya. "Dimana kita akan metting?",tanya Edwan dengan suara tinggi.
__ADS_1
El tidak menjawab. Ia langsung berjalan mendahului CEO Sementara itu.
"Eh.... Dasar cewek belagu!",teriak Edwan tidak terima di dahului. Lalu ia berjalan mengikuti langkah El.
Ardi melihat El merasa tenang. Karena, El tidak seperti dulu. Sekarang dia menjadi pemberani dan bersikap seharusnya. "Terimakasih Mbak El, sudah membantu Pak Sam sampai sejauh ini. Walaupun Mbak El sudah tidak menjadi tunangannya Pak Samuel",bisik Ardi.
El berhenti di salah satu meja yang sudah Tamara pesan. Ia duduk tanpa harus menunggu sang CEO sementara itu.
"Kamu punya sopan dan santun tidak sih?",kata Edwan marah.
"Saya punya. Tetapi, bukan untuk anda!",sahut El.
Edwan duduk di depan El. Ia memandang El kesal. "Untung Mama sudah memutuskan pertunangan kamu dengan Sam. Sehingga aku tidak punya adik ipar kayak kamu!",oceh Edwan.
El masih fokus dengan berkas-berkasnya. Terserah, aku tidak peduli. Yang aku khawatirkan adalah kondisi dari Sam?. Sekarang dia lagi apa ya? batin El merindukannya.
Tring... Tring... Tring...
Ponsel El berbunyi tanda ada pesan masuk.
"Alhamdulillah El, Sam sudah membuka matanya dan sadar!".
Sella.
El sangat senang melihat pesan masuk. Ia tersenyum manis. Alhamdulillah ya Allah ! doa El dalam hati.
"Terimakasih ya Sel, udah mau memberi kabar ke aku. Aku sangat senang Sel. Lalu bagaimana Sam sekarang?. Apa benar dia mengalami amnesia?".
El.
"Aku tidak tahu El. Yang aku tahu sekarang dia sudah membuka matanya. Aku tidak di izinkan untuk masuk kedalam oleh anak buah dari Tante Violla".
Sella.
"Lalu kamu tahu dari mana kalau Sam sudah membuka matanya?".
El.
"Tadi pagi sebelum para pengawal datang, aku sudah sempat menjenguk Sam. Dan para tim dokter mengecek kondisinya. Disini pengawalannya sangat ketat El, aku takut kalau kamu tidak diizinkan oleh mereka!".
Sella.
El menutup ponselnya. Ia tak tahu harus bagaimana. Karena dirumah sakit pengawalannya sangat ketat.
"Serius banget balas chat nya!. Darimana sih?",tanya Edwan memperhatikan El
"CEO dan karyawan mempunyai privasi sendiri-sendiri. Anda tidak membaca dalam aturan di perusahaan?",jawab El sinis.
"Saya tahu setiap perusahaan mempunyai aturan dan larangan. Tetapi, sekarang kamu sedang berdua bersama saya di restoran?. Apakah tidak boleh kalau aku curiga kamu merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya buat saya!",sahut Edwan.
"Percaya diri sekali kamu!".
"Ya siapa tahu kamu mau balas dendam sama aku!",tebak Edwan. "Karena kesalahanku di masa lalu!".
"Saya bukan tipe orang seperti anda. Kalau saya mau balas dendam sama anda, ngapain jauh-jauh datang kemari. Dan kalau saya membalas dendam sama anda, tidak ada bedanya saya dengan anda!",jelas El.
"Sekarang kamu semakin pintar, El. Gak sia-sia adiknya sahabatku sekolah dari negaranya sendiri!", kata Edwan.
"Oh, anda masih sahabat dari abang saya?. Kirain udah putus hubungan sama abang saya!",sahut El menggoda.
"Selama kamu tidak membicarakan keburukan ku, kita masih sahabatan seperti sediakala!".
"Dan kalau saya sampai membocorkannya?. Bagaimana ya, nasib persahabatan kalian!",ucap El mengancam. "Saya tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Abang Satria!. Karena adik perempuannya disakiti oleh lelaki yang dia anggap sebagai sahabatnya bahkan saudaranya!",lanjut El yang sudah muak melihat tingkah laku mantan tunangannya itu.
Edwan kesal dengan ancaman dari El. Bisa-bisanya ia mengancam balik.
***
Jangan lupa komen, like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.