Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Membuat Gila


__ADS_3

Happy Reading.


***


Di Perusahaan XXX.


El sedang belajar bersama sekertaris Tamara. Ia diberi arahan bagaimana membuat jadwal meeting, membatalkan jadwal metting ketika si bos sedang ada urusan mendadak dan cara berbicara yang benar.


Kring... Kring... Kring...


Sebuah telepon berbunyi di depan El. Tamara segera memberikan arahan.


"Coba kamu angkat?",perintah Tamara.


"Baik mbak!",jawab El dengan yakin. "Hallo dengan perusahaan XXX, bisa di bantu?",kata El dengan sopan.


"Kenapa jadi kamu yang angkat?",tanya seseorang di seberangsana.


Sam, ngapain dia telepon? guman El dalam hati. Ia lalu mengarahkan perhatiannya kepada Tamara yang sedang sibuk mengecek beberapa berkas-berkas. "Maaf Pak, soalnya sudah menjadi tugas saya!",cicit El.


"Kasih teleponnya kepada Tamara?", perintah Sam dengan nada tinggi.


"Baik!",jawab El langsung meletakkan gagang telepon di meja.


"Lho kok di tutup teleponnya?",tanya Tamara bingung.


"Pak Sam mbak yang telepon. Beliau mau bicara sama mbak",kata El.


Dengan sigap Tamara langsung mengambil gagang teleponnya. "Bagaimana pak?".


El melihat raut wajah Tamara dengan seksama. Di wajahnya terlukis sebuah kebingungan yang membuat mengenyitkan dahinya. El merasa begitu penasaran apa yang di bicarakan di telepon itu. Sepertinya bukan tugas dari perusahaan, tapi sebuah kekesalan yang mereka sedang bahas.


"Baik Pak!",jawab Tamara menutup teleponnya dengan kasar. "Huft....!". Ia mengambil nafas dengan sedikit menahan emosinya.


"Ada apa mbak?",tanya El yang begitu penasaran.


"Tidak apa-apa. Kamu disuruh masuk kedalam ruangan Pak Sam",kata Tamara.


"Buat apa mbak?. Tapi, pekerjaan sama bagaimana ini?",tanya El yang melihat tugasnya belum ia selesaikan.


"Itu perintah dari atasan kita, El. Tolong, apa yang saya katakan langsung kamu kerjakan ya?. Saya tidak mau kalau pekerjaan kita semakin runyam!",kata Tamara.


"Maaf mbak. Baik saya akan ke ruangannya pak Sam!",jawab El merasa ada yang janggal. Ia kemudian berjalan menuju ke ruangannya Sam. Suara sepatu yang hanya berbunyi di ruangan ini. Ia membuka pintu dengan yakin. Disana sudah terlihat dengan jelas Sam sedang berdiri di depan tembok kaca yang besar.


El langsung menghampiri dengan suara sepatu yang sedikit berbunyi. Ia berdiri di belakang bosnya itu. "Ada yang bisa saya bantu Pak?",tanya El dengan sopan. Ia tahu bagaimana cara berbicara dengan formal. Karena sekarang ia menjadi anak buah dari Sam.


"Pak. Ngapain kamu manggil aku dengan sebutan Pak?. Emang aku setua itu apa?",kata Sam yang masih membelakangi El.


"Sam, aku ingin bekerja secara profesional. Aku gak mau jadi bahan omongan karena kedekatan kita dan aku juga gak mau nanti di bilangin manfaatin kamu. Tolong ngertiin aku sedikit, Sam!",cicit El.


"Secara proporsional. Baiklah kalau itu mau kamu!",jawab Sam dengan tegas.


"Maafkan aku, Sam. Aku gak mau semua orang memandang rendah aku. Aku ingin buktikan semuanya, kalau aku bisa. Dan aku tahu, kamu tadi sempat marahin mbak Tamara kan, karena aku mengangkat telepon kantor?",tanya El.

__ADS_1


"Dasar wanita ngadu!",omel Sam.


"Dia tidak mengadu sama aku, Sam. Tapi, aku bisa membaca raut wajahnya. Kamu pasti maki-maki diakan?",kata El skakmat.


"Aku maki-maki dia atau gak, itu bukan urusan kamu!",bentak Sam kesal.


"Iya, itu bukan urusanku. Tapi, aku gak mau cuma gara-gara aku, mbak Tamara kena impasnya. Sam, aku mau kita bekerja secara profesional pada saat di kantor?",ungkap El.


"Aku profesional atau gak, itu bukan urusanmu El. Ini perusahaanku, aku yang mengatur semua tentang karyawan dan pegawaiku. Ngapain juga mikirin orang lain, apa lagi karyawan atau pegawai itu, aku bayar dia, bukan untuk duduk manis!",jawab Sam marah.


El menutup matanya, ia lelah bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada orang yang sedang berdiri dihadapannya itu. Baiklah.... Baiklah, ini perusahaan kamu kok!. Kamu bebas melakukan sesuka hati kamu!.


"Jangan panggil aku dengan sebutan Pak, aku gak suka!",jelas Sam menghadap ke arah El.


"Tapi?".


"Tidak ada tapi-tapian. Ini perintah!",sahut Sam cepat sebelum El menceramahinya lagi.


"Lalu aku harus manggil kamu apa, Sam?. Gak mungkinkan, aku manggil kamu dengan sebutan nama di depan karyawan dan pegawai kamu?",kata El.


"Kamu harus manggil dengan sebutan nama Abang!",ungkap Sam.


"Apaaaaaaa........ Abang!", kesal El semakin menjadi. "Kamu gila Sam?",tanya El tidak percaya.


"Aku serius. Kecuali pada saat meeting!",lanjut Sam sambil tersenyum manis.


El tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Ia sangat susah buat menelan ludahnya sendiri. Bagaimana ini, bagaimana kalau semua orang tahu tentang kelakuan Sam terhadapku. Ih ....dasar Sam!. Maunya menang sendiri!.


"Oh...ya, aku hampir lupa, nanti malam jangan lupa!",kata Sam mengingatkannya.


"Jangan dong!. Nanti kalau penuh, wajah aku yang ganteng ini bagaimana dong!",ucap Sam dengan wajah yang berseri.


Glek... Akhirnya El dengan usaha keras menelan ludahnya. Bagaimana ini, kenapa watak dan pikiran Sam berubah 100 derajat. Apa dia pernah gagar otak! pikir El dalam hati.


***


Disisi lain Violla dan beberapa orang baru saja keluar dari lift yang berada di puncak gedung perusahaan Sam. "Pak Sam ada mbak?",tanya Violla pada Tamara.


"Ada bu",jawab Tamara yang langsung berjalan membuka pintu untuk bos besarnya.


Violla dan para suruhan langsung masuk kedalam membawa Edwan dan Chika masuk ke dalam.


El dan Sam langsung terpukau melihat Violla dan segerombolan masuk ke dalam.


"Ini dia yang di tunggu-tunggu!",ucap Sam pelan.


"Aku mohon jangan ada keributan lagi, Sam!",mohon El dengan bicara dengan pelan.


"Aku gak yakin!",jawab Sam pasti. Ia langsung menghampiri Mamanya tercinta.


El masih diam di tempat. Ia bingung bagaimana cara menghadapi situasi ini. Tuhan, bantu hambamu ini!.


"Sekarang kalian boleh keluar!",perintah Violla pada anak buahnya.

__ADS_1


"Baik Bu",jawab serentak yang langsung keluar dari dalam ruangan Sam. Mereka tidak lupa menutup pintu itu kembali.


"Sekarang kalian berempat duduk!",perintah Violla tegas.


Sam duduk di kusi ganda. Edwan dan Chika duduk di kursi panjang, sedangkan Violla duduk di single kursi.


El mengambil nafas dalam-dalam sebelum memulai percakapan. Ia berjalan dan duduk di samping El.


Edwan memandang Sam penuh dengan kebencian. Api yang selama ini ia simpan rapat-rapat, hari ini akan berkobar dengan besar.


Sam tenang menghadapi situasi ini. Ia tahu permainan kakaknya dengan taktik menjebak. Ia duduk dengan kaki menyilang.


"Oke. Mama akan mulai bicara. Edwan, apa benar kamu dan El membatalkan pertunangan kalian?",tanya Violla bijaksana.


"Mama pasti udah tahu semuanya. Ngapain juga Mama tanya lagi. Belum cukup penjelas dari calon mantu kesayangan Mama itu!",jawab Edwan dengan sedikit menahan emosi.


"Mama butuh penjelasan dari kamu Edwan!. Bagaimanapun kamu harus bertanggung jawab mengembalikan El kepada orangtuanya. Karena, orangtuanya El sudah mempercaya sama kamu. Tapi, kamu malah main serong sama wanita murahan ini!",kata Violla marah.


"Mama boleh menghina aku!. Tapi, Mama gak berhak menghina Chika di depan semua orang!",marah Edwan dengan nada tinggi.


"Kamu lebih membela wanita murahan ini, daripada Mama yang melahirkan kamu, Edwan?",ucap Mama sedih. "Mama, tahu apa yang terbaik buat kamu!".


"Tapi, Mama gak bisa ngasih yang terbaik buat Edwan!",sahut Edwan kesal.


Air mata Mama menetes di pipinya. Ia tidak sanggup menahan hati yang hancur ini. Ia membesarkan anak-anaknya penuh dengan kasih sayang. Tetapi, perilaku mereka sangat jauh berbeda.


"Cukup Kakkkk!",teriak Sam. "Kakak sungguh keterlaluan sama Mama. Mama disini gak salah Kak. Kakak, yang salah memilih wanita yang gak pantes buat mendampingi Kak!",lanjut Sam sambil menunjuk ke arah Chika.


Kedua mata Chika sudah banjir dengan air mata yang sudah menetes di pipi cantiknya itu.


"Jaga ucapan kamu, Sam!",teriak Edwan marah, ia tidak terima kalau Chika disangkutpautkan dengan masalah ini. "Apa kamu terima kalau El benar-benar akan menjadi milikku?",tanya Edwan dengan amarah.


"Itu keputusan El, bukan keputusanku. Ngapain aku harus ikut campur dalam urusan Kakak!. Seharusnya Kakak tanya pada diri sendiri Kakak, apa pantas Kakak bersanding dengan El?",sahut Sam dengan menggebu-gebu.


"Kenapa aku gak pantas buat dia?. Bahkan dia mau menerima tunanganku karena sebuah video itu!",kata Edwan penuh kemenangan.


"Video?",kata Violla pelan.


"Tapi, buktinya Kakak kalahkan!",seru Sam.


"Walaupun aku kalah dalam permainan ini. Tapi, aku menang besar dalam menjamah tubuhnya!",kata Edwan menang dengan senyum menyeringai.


Deg. Semua mata melotot karena keterkejutan dengan pengakuan Edwan.


El yang tadinya duduk sekarang ia berdiri, ia tidak menyangka bahwa Edwan akan memfitnahnya seperti ini. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ini benar-benar membuatku semakin gila berurusan dengan Edwan!.


Beda dengan Sam. Sam langsung mengalihkan perhatiannya kepada El. Ia tidak percaya bahwa kakaknya akan berbicara seperti itu.


Pyarrrr.... Satu tamparan mendarat kepipi kanan Edwan. Violla menampar anak sulungnya itu dengan cukup keras.


Edwan memegang pipi kanannya yang memanas. Ia tidak menyangka akan mendapat sebuah tamparan dari orang yang telah melahirkannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa komen, like dan vote.


Terimakasih.


__ADS_2