Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Bersikap Egois


__ADS_3

Happy Reading.


***


"Sam!", panggil Dony yang melihat Sam dengan tatapan lembut.


Sam mengalihkan perhatiannya terhadap Dony. Laki-laki yang bertemu dengan El di restoran itu. "Kamu!",kata Sam. Ia langsung berdiri menghampiri Dony dengan tangan yang mengepal.


Dony melihat Sam dengan amarah yang memuncak. Ia seperti tidak mau kalau Sam seperti itu.


Sam langsung memegang krah baju Dony. "Siapa kamu?. Kenapa kamu duduk berdua dengan El?",tanya Sam dengan mata yang memerah.


El yang melihat adegan ini tidak percaya. Ia menutup mulutnya. "Jangan Sam!. Aku mohon!",lirih El sambil meneteskan air mata.


"Sam!",bentak Sella supaya Sam tidak melakukan hal senekat itu.


Dony mengarahkan sebuah gerakan supaya El dan Sella tidak cemas. "Kita bisa selesaikan ini baik-baik, Sam!",kata Dony lembut. "Namaku Dony, aku adalah sahabat kamu sedari kecil. Kamu tidak ingat?",tanya Dony menatap kedua mata Sam. Ia mencoba meyakinkan Sam supaya tidak mudah emosi.


Sam menggeleng kepala. Ia tidak ingat sama sekali. Kepalanya terasa sangat sakit. "Aku tidak peduli, kamu siapa!. Yang pasti kamu sudah berduaan sama El!. Aku tidak suka itu!",jawab Sam yang dengan kuat masih memegang krah baju Dony.


Dony tersenyum, ternyata rasa cemburu Sam dari dulu tidak luntur. Bahkan saat dia masih sakit saja bisa-bisanya masih cemburu.


"Kenapa kamu tersenyum?. Kamu nantang saya!",tanya Sam dengan suara tinggi.


"Kamu sedang cemburu?",tanya Dony.


"Apa!",tanya Sam sambil tertawa mengejeknya. "Buat apa saya cemburu sama kamu!".


"Iya Sam. Kamu sedang cemburu sama aku!",tegas Dony.


Sam sudah kesal mendengar ocehan dari Dony. Lalu ia memukul pipi kanan Dony dengan cepat dan pasti.


"Arghhhhhh!",teriak El yang merasa bersalah karena membiarkan mereka bertengkar.


"Auhhhh!". Bibir kanan Dony sedikit berdarah. Ia kesakitan mendapat pukulan yang tidak pantas ia dapatkan.


"Stoppp Sam!",bentak Sella tidak terima. Ia langsung melerainya dengan kasar. "Kamu seharusnya tidak seperti ini!",lanjutnya marah.


Sam terdorong beberapa langkah. "Kenapa kamu ada di sini wanita bar-bar?",ejek Sam sambil menyunggingkan senyuman.


Sella tidak terima dan langsung menampar Sam. Pyarrrr!.


Sam tercengang tidak percaya mendapat sebuah tamparan dari seseorang wanita bar-bar.


"Aku sudah peringatan dari awal. Jangan sakiti sahabat saya. Terutama El",kata Sella mengancam.


Sam tersenyum menyunggingkan bibirnya meremehkannya. "Memangnya kamu siapa?. Mengatur saya, ha?",ucap Sam sarkas.


"Kamu benar-benar ya!",bentak Sella sengaja sambil melayangkan tangannya supaya Sam takut.


El seketika berteriak memperingatkan Sella, supaya tidak menamparnya lagi. "Jangan Sel, aku mohon!".


"Tampar!. Tampar saja saya!",bentak Sam sambil melototi.


Sella kesal dan "ih!". Ia lalu memegang krah baju Sam. "Kamu ingin tahu, siapa sebenarnya, El?",tanya Sella dengan nada ketus.


"Siapa dia!. Kenapa kamu mengatakan seperti itu, seolah-olah El sangat penting dalam hidupku!".


"Memang El sangat penting dalam hidup kamu. Karena dia adalah......?",kata terputus dari Sella.


El menitihkan air matanya supaya Sella tidak membongkar siapa dirinya.


"Adalah siapa?",tanya Sam tidak sabar.


"Dia adalah tunangan kamu!",jawab Sella sambil melepaskan tangannya yang memegang krah baju Sam.


Deg. Sam tercengang dengan pengakuan ini. Bagaimana bisa ia tidak mengingat tunangannya. Pantas saja, jantungnya berdetak tidak karuan pada saat ia ada di dekat El. "Tidak mungkin!. Lalu kenapa Mama tidak pernah bicara soal El?. Kenapa!".

__ADS_1


"Karena Mama kamulah yang memisahkan kalian berdua. Dan......",sella mengambil cincin yang ada di ranjang El karena tadi terpental ke sana. "Ini adalah bukti, bahwa kamu pernah melamar El!",jelas Sella yang meletakkan cincin permata di tangan Sam.


Sam terenyuh memandang cincin permata yang bertuliskan namanya itu. Apa benar ia penah melamar El?.


"Kita masih peduli Sam sama kamu. Kita kesini memberikan kamu dukungan supaya kamu cepat sembuh dalam mengingat memori kamu!",kata Dony.


Kepala Sam terasa sakit tidak tertahan. Ia memegang kepalanya. Memori yang dulu hilang, kini berputar-putar dipikirannya seperti kaset yang sedang di nyalakan. Cincin yang ada di genggamannya jatuh dengan sendirinya. Ia terjatuh dengan sendiri dan kepala bagian pelipis terpentok sudut meja. Dan darah segar keluar dari pelipis itu.


"Sammmmmmmm!",teriak semua orang yang ada diruangan itu. Mereka dengan cepat menolong Sam walaupun sedikit terlambat karena kejadian itu terlalu cepat.


Dony dan Ardi membopong Sam ke ranjang El karena ranjang itu yang terdekat dari sana.


"Sam, bangun Sam!. Aku mohon!",pinta El sambil memegang tangan Sam khawatir.


Ardi langsung menelepon dokter khusus keluarga Dirga. Ia tidak mau terjadi apa-apa dengan tuannya.


"Semoga Sam tidak terjadi apa-apa!. Aku merasa bersalah karena tadi sempat menamparnya!",kata Sella panik.


"Kamu tenang saja, Sel. Pasti Sam kuat menahan rasa sakit itu!",kata Dony menenangkan Sella.


Ardi mengambil air hangat dan kain buat menyeka darah yang mengalir di pelipis Sam. Ia sangat hati-hati merawat tuannya itu.


"Bagaimana dokternya Pak?",tanya El sambil membantu Ardi membersihkan bekas darah yang mengalir di pipinya.


"Dokter sedang dalam perjalanan kesini. Kita tunggu saja!",jawab Ardi.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya tim dokter datang mengecek kondisi pasien.


Ardi, Sella, Dony dan El keluar dari kamar, karena mereka membiarkan para dokter bekerja dengan serius.


"Bagaimana kalau nanti Tante Violla sampai tahu tentang kejadian ini Pak?",tanya Dony.


"Saya sudah bersekongkol sama tim dokter untuk menyembunyikan masalah ini. Semoga tim dokter tidak membocorkannya",jawab Ardi khawatir.


"Kalau sampai tahu?",tanya Sella yang merasa akan ketakutan yang akan dialami oleh sahabatnya El lagi adalah kehilangan seseorang yang El sayangi.


"Di pecat!",sahut El cepat.


"Iya Mbak El".


"Tapi Pak, saya tidak akan terima kalau bapak sampai dipecat. Maafkan saya dan Sam karena membuat masalah ini?",ucap El merasa bersalah.


"Mbak dan Mas Sam tidak bersalah. Jadi, ini keputusan saya sendiri. Dan semoga tidak terjadi apa-apa dengan Mas Sam!",jawab Ardi.


Beberapa menit kemudian para tim dokter keluar dari kamar. Dokter yang menangani Sam mengajak Ardi untuk berbicara empat mata.


El, Sella dan Dony masuk kedalam kamar. Mereka melihat Sam masih terbaring lemas diranjangnya dengan mata tertutup.


Sella melihat jam tangannya untuk mengetahui waktu. Waktu sudah menunjukkan pukul lima delapan malam. Ia berbisik kepada Dony bagaimana cara ia berpamitan dengan El yang sedang bersedih.


El memandang Sam dengan perasaan bersalahnya. Maafkan aku, Sam. Maaf membuat kamu semakin hari, semakin merasakan kesakitan. Aku juga tidak tahu bagaimana harus menghadapi semua ini. Aku sayang sama kamu, Sam. Tapi, sampai kapan kita akan terus seperti ini! batin El sedih.


Dony mendekati El, menenangkan hatinya yang sedang sedih. "Aku tahu pasti tidak mudah melewati ini semua El. Tapi, aku yakin, pasti kamu bisa. Karena Allah tidak akan menguji hambanya dibatas kemampuannya!",kata Dony merengkuh kedalam pelukannya.


El meneteskan air mata kesedihan. Ia tidak mau melewati ini semua seorang diri. Ia butuh sandaran yang dapat membuat bangkit dari keterpurukannya.


Sella ikut memeluk erat sang sahabat. Ia sebenarnya ingin pamit untuk mengejar penerbangannya. Tetapi, ia tahan beberapa menit dahulu.


Ardi mengantarkan tim dokter sampai pintu apartemen. Ia segera pergi ke kamar El untuk menjenguk tuannya.


"Bagaimana kondisinya Sam, Pak?",tanya El yang sudah tidak sabar mendengarkan kabar baik dari tim dokter.


"Saya tidak bisa memastikan. Kata dokter, besar kemungkinan Mas Sam mengalami depresi. Kita tunggu Mas Sam siuman dulu!",jawab Ardi.


"Tapi bagaimana benturan itu Pak?. Apakah akan mempengaruhi masa pemulihannya?",tanya Sella penasaran.


"Semoga tidak. Kita tunggu hasilnya dulu dari dokter!",jawab Ardi. Lalu ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk. "Hallo Nyonya!",sapa Ardi.

__ADS_1


Sella, Dony dan El langsung kaget mendengar jawaban dari Ardi. Nyonya, bukankah itu Mamanya Sam!. Itu dalam pikiran mereka bertiga.


"Apa!. Baik Nyonya, saya akan buka pintunya!",kata Ardi yang langsung menutup ponselnya.


"Ada apa Pak?",tanya El antusias.


"Gawat, Ibu Violla ada di depan pintu!",ucap Ardi ketakutan.


"Apa!",teriak mereka bertiga.


"Aduh, bagaimana ini?",panik Sella berjalan kesana dan kemari.


"Udah, aku yang akan hadapi Tante Violla. Lebih baik, kalian sembunyi di kamar lain!",ucap El serasa hidupnya dititik terakhir.


"Tidak... Tidak... Tidak... El!. Aku tidak bisa, kamu dihina dan dicaci maki sama Mamanya Sam!",cegah Sella.


"Tapi bagaimana lagi Sel?. Kasihan Pak Ardi. Kita tidak boleh egois dan keras kepala. Ini demi kesembuhan Sam!",kata El meyakinkan para sahabatnya.


"Aku akan dukung kamu, El!. Karena kamu tidak salah!",ucap Dony.


"Ya udah, kalian sembunyi ya!. Aku tidak mau kalian dalam masalah ini!",pesan El. Ia dan Ardi segera berjalan ke depan untuk membuka pintu apartemen.


Cekrek...


Pintu terbuka memperlihatkan Violla dan para bodyguard yang diutus oleh Violla.


"Saya sudah mempercayai kamu, Ardi!. Saya sudah menganggap kamu sebagai salah satu saudara saya. Tetapi, kamu menghianati kepercayaan saya!",ucap Violla tegas.


"Maafkan saya Nyonya, saya melakukan ini semua semata-mata demi kebaikan Mas Sam!",kata Ardi menundukkan kepalanya.


El yang ada disana menggelengkan kepala tidak percaya. Setunduk itukah Pak Ardi!.


"Apa!. Demi kebaikan Mas Sam!. Saya yang tahu mana yang terbaik buat anak saya!. Kamu tidak usah ikut campur dalam keluarga saya!. Saya sudah peringatankan kamu dari awal kan!. Dan kamu akan menanggung konsekuensinya jika kamu melanggar. Dan sekarang, kamu melanggar perintah saya!",kata Violla dengan nada tinggi karena amarahnya sudah membakar hatinya atas penghianatan dari Ardi.


"Sekali lagi saya minta maaf Nyonya. Tapi, saya akan menanggung konsekuensinya. Saya akan keluar dari pekerjaan saya!",kata Ardi tegas dan terima atas perlakuan majikannya kepada dirinya.


"Jangan Tante!. Saya mohon!",Kasihan Pak Ardi!",sahut El mencoba sebagai penengah diantara mereka.


Pyarrrrr!.


Satu tamparan melayang di pipi kanan El.


El syok tiba-tiba mendapat satu tamparan yang sangat kuat di pipi kanannya. Tubuhnya gemetar dan air matanya menetes perlahan.


"Kamu tidak berhak untuk ikut campur dalam masalah ini!. Gara-gara kamu, anak saya terluka seperti ini!. Kamu seharusnya pergi sejauh-jauhnya dari anak saya!. Karena, kamu tidak pantas buat anak saya!",kata Violla dengan menunjukkan satu jari ke wajah El.


Dony dan Sella bersembunyi di balik tirai. Mereka berdua melihat adegan tadi sangat kesal dan marah. Sella mencoba untuk menenangkan Dony supaya menahan emosinya.


"Maafkan saya, Tante. Tante bisa memperlakukan saya seperti ini. Tapi, tidak dengan Pak Ardi!",kata El terisak-isak.


"Saya tidak peduli lagi sama Ardi. Karena dia sudah menghianati saya dari belakang. Sekarang, keluar dari Apartemen anak saya!",bentak Violla dengan kasar.


El menggelengkan kepalanya. Bolehkan kali ini aku bersikap egois!. "Saya tidak bisa Tante!",sahut El tegas.


"Kenapa?. Kamu ingin memilikinya?",tanya Violla melototi mata El tidak percaya.


Maafkan aku, Sam. Maaf karena sikap egoisku yang sudah tidak bisa aku kendalikan. "Karena, apartemen ini adalah milik saya!",ucap El melihat kedua mata Violla terkejut.


Violla tercengang tidak percaya. Mana mungkin seorang Ellena bisa membeli apartemen mewah ini?. Dari mana uangnya?. Ia menyunggingkan senyumnya meremehkan keadaan El.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.


Nb : Maafkan akyu ya, baru bisa update!.

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2