Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Keputusan Terbaik


__ADS_3

Happy Reading.


***


El berjalan kearah rooftop. Ia berdiri disana sambil melihat pemandangan yang indah, melupakan semua yang ia rasakan saat ini.


"Saya tidak menyangka bahwa mbak El mengambil keputusan seperti ini!",kata seseorang dari belakang punggung.


El sudah tahu suara siapakah itu. Ia lebih memilih untuk diam mendengarkannya.


Ardi berjalan mendekati pagar yang menjadi pembatas. Ia berdiri disamping El. "Apa mbak sudah siap menanggung konsekuensinya?",tanya Ardi memastikan.


"Saya tegaskan sekali lagi Pak, saya dan Bapak Samuel sudah tidak terikat oleh sebuah ikatan cinta. Apapun yang terjadi nanti, semoga saya bisa ikhlas menerimanya".


"Termasuk kehilangan Mas Samuel?",tanya Ardi melihat kearah El.


El diam. Ia lebih tertarik melihat pemandangan di depan matanya daripada pertanyaan dari orang yang ada disampingnya.


"Mbak El bisa kehilangan Mas Samuel, tapi apakah Mas Samuel akan mengikhlaskan Mbak El bersama orang lain?",tanya Ardi. "Menurut saya tidak, karena Mas Samuel sangat menginginkan Mbak El dalam hidupnya. Mbak El tahukan bahwa hotel yang ada di Bandung yang di dirikan oleh mas Sam dengan sebuah nama Samnel, mbak El tahukan artinya?. Apakah mbak El masih meragukan cinta Mas Sam?",tanya Ardi beruntun.


El menutup matanya menelan kepedihan yang ada. Ia tahu bahwa Sam sangat mencintainya, tapi apakah ia akan bisa berdamai dengan kedua orangtuanya Sam?. Apakah ia akan mendapatkan restu dari kedua orangtuanya?. "Bapak tidak mengerti perasaanku!",lirih El sambil menunjuk ke dirinya sendiri. "Kalau seandainya bapak di posisi saya, bapak lebih milih siapa, kehormatan kedua orangtua bapak ataukah ego perasaan bapak itu sendiri?",tanya El yang merasa hatinya terasa sesak dan akhirnya air mata yang ia tahan tumpah juga. "Aku tahu Sam sangat menyayangiku, aku tahu Sam sangat mencintaiku. Apakah cukup hanya sayang dan cinta untuk keluarga besar kita?. Tidak Pak. Tidak semudah itu. Dulu memang Tante Violla mengharapkan saya untuk menjadi menantunya, tapi sekarang sudah berbeda Pak. Tidak seperti dulu lagi. Mereka sekarang membenciku dan mungkin kita tidak akan bisa bersama lagi seperti dulu. Kalau aku boleh meminta sama Tuhan sekali lagi, aku tidak mau mengenal Sam lagi didalam hidupku. Tapi, kenapa takdir selalu mempertemukan aku dan Sam, Pak!",ungkap El berlinang air matanya. Hatinya terasa sesak dan sulit untuk mengutarakan semuanya ini. Hiks...hiks...


Mata Ardi berkaca-kaca mendengar pengakuan El. Ia tahu bahwa dulu sang majikan juga seperti ini, merasa putus asa dan tidak ada harapan lagi.


"Hatiku tersiksa Pak. Dulu Kak Edwan melamarku, dengan paksaan karena sebuah ancaman. Lalu adiknya, Samuel melamarku sampai berkali-kali selalu gagal di tengah jalan. Dan akhirnya aku memilih untuk menyerah, itu jawaban yang paling tepat dan masuk akal. Karena perbedaan kita jauh banget, bagaikan langit dan bumi, bagaikan minyak dan air yang tidak akan pernah bisa menyatu!",jelas El dengan perasaan campur aduk.


"Tapi, bukankah perbedaan yang akan membuat kita bersatu!",sahut seseorang dari arah punggung.


El dan Ardi serempak menoleh ke belakang. Ya, disana Sam berdiri dengan gagahnya menggunakan kaos kasual dan celana jeans.


"Sam!". El menelan ludahnya dengan susah payah.


"Sampai kapan El aku harus menunggu lagi. Menunggu... menunggu... menunggu dan menunggu lagi. Aku lelah El. Aku sekarang berdiri disini, menunggu keputusan kamu!",jelas Sam.


"Mengapa kamu tidak membiarkan aku sendiri?. Aku tidak bisa Sam. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menyaingi dirimu. Aku lelah, iya sungguh aku sangat lelah. Maka dari itu, aku yang akan pergi dari hidup kamu. Dulu, kamu pergi dari hidupku. Sekarang, biarkan aku pergi dengan keputusanku ini!",sahut El menjelaskan kegundahan yang ada di dalam hatinya.


"Ok, bila itu keputusan kamu. Aku akan membiarkan kamu sendiri dan pergi. Dan jangan harap lagi, kita akan bertemu!",jelas Sam yang langsung pergi dari hadapan El. Hatinya terasa sakit dan sesak yang tidak akan pernah sembuh. Orang yang ia sayang dan cintai dengan sepenuh hati memilih untuk pergi dari sisinya selamanya.


Ardi menyunggingkan senyumannya meremehkan keputusan El. "Selamat Mbak El, sekarang kamu bebas melakukan apapun yang Mbak El mau. Dan sampai jumpa lagi, bila ada waktu untuk sekedar menyapa!",pamit Ardi yang pergi juga dari hadapan El.


El bersimpuh di lantai. Ia melihat Sam dan Ardi pergi dari hadapannya. Ia menangis sejadi-jadinya dan hujan pun turun ke bumi membasahi tubuh mungilnya. Mungkin ini keputusan ku yang tepat. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa meraih dan mengapainya.


***


El memasuki ruangannya. Ia melihat Tamara sedang berkemas, membersihkan barang-barangnya. Ia kedinginan sambil memeluk lengannya.


Tamara melihatnya langsung kaget, karena baju dan tubuh El basah kuyup. "Astaga... El, kamu habis dari mana?",tanya Tamara khawatir.


El langsung memeluk Tamara dengan erat. Ia saat ini membutuhkan seseorang yang bisa memeluknya dengan erat karena saat ini ia sedang rapuh.


"El...kamu kenapa?",tanya Tamara sambil menenangkannya.

__ADS_1


"Sekarang aku sudah melepaskannya mbak!",lirih El sambil terisak. Hiks...hiks...


Tamara melepaskan pelukannya. "Kamu serius?",tanya Tamara tidak habis pikir.


El hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


"El...dia sangat mencintai kamu El!. Seharusnya kamu tidak gegabah melakukan hal seperti ini!".


"Aku lelah mbak. Aku ingin melangkah dengan keputusanku. Aku juga tidak mau menyakiti kedua orangtuaku. Karena bagiku, mereka adalah hidupku",jelas El. "Dan aku tidak mau bergantung pada dirinya!",tekad El kuat.


"Aku tahu, keputusan yang kamu ambil sangat sulit. Tapi, aku percaya itu yang terbaik buat kamu",kata Tamara.


"Semoga mbak".


Dret.... Dret.... Dret....


Sebuah pesan masuk di ponsel Tamara dan El. Mereka segera membukanya.


Dan...


Mereka berdua tercengang melihat isi pesan itu. Dan mereka saling pandang satu sama lain.


Disisi lain Sam dan Ardi sedang berjalan di sebuah gedung restoran. Ardi selalu mengikuti langkah dari tuan mudanya yang berjalan satu langkah di belakang tuan mudanya.


"Bagaimana sudah kamu transfer, Pak?",tanya Sam.


"Sudah Mas Sam. Sesuai nominal yang Mas Sam sebutkan tadi!",jawab Ardi.


"Baik Mas".


***


El dan Tamara duduk di lantai dengan selonjoran di ruangannya. Mereka duduk dengan menyandarkan punggung mereka satu sama lainnya.


"Saya tidak menyangka Mbak, uang pesangonnya terlalu besar!",ungkap Tamara lemas.


Uang itu sudah menjadi hak Mbak, karena sudah mengabdi beberapa tahun disini. Lalu nasib saya bagaimana, uang ini terlalu banyak untuk di ATM saya!",jelas El. "Dan aku tidak bisa menerima uang itu, karena aku disini hanya seorang mahasiswi yang magang. Bagaimana ini mbak, apakah aku transfer lagi ke rekening perusahaan ini?",tanya El tidak enak.


"Aku juga tidak tahu El. Mungkin jalan satu-satunya kamu harus tanya sama Pak Ardi, sekertaris baru dari Pak Bos!",saran Tamara.


"Lalu aku harus berhubungan lagi dengan mereka. Apakah tidak ada jalan lainnya?".


Tamara menggelengkan kepalanya. Tidak tahu. "Tidak ada El. Jalan satu-satunya adalah itu. Mau dan tidak mau kamu harus berhubungan lagi dengan mereka. Karena mereka yang berhak memutuskannya!",jawab Tamara.


El lalu menekuk kedua kakinya. Memeluk erat kedua kaki untuk dijadikan sebagai tempat untuk menyandarkan kepalanya.


"Aku bingung El, antara senang atau tidaknya menerima uang itu. Aku senang karena sebentar lagi hutang-hutangku lunas dan cukup untuk membiayai adik-adikku sekolah. Dan tidak senangnya aku harus meninggalkan kantor dengan sejuta kenangan yang indah bersama teman dan team lainnya. Termasuk kamu El?",ungkap Tamara mengubah arah tempat duduknya untuk bisa menghadap ke depan El. "Kamu yang akan pergi melanjutkan perjalanan kamu untuk meraih cita dan mimpi kamu kemudian meninggalkan negara ini. Lalu aku, apakah aku sanggup untuk bergabung di perusahaan Pak Saga seperti ini?",tanya Tamara sedih.


El lalu memegang kedua tangan Tamara kuat. "Aku yakin Mbak Tamara pasti bisa. Mbak Tamara orang yang sangat cerdas, pintar dan mudah bergaul dengan orang. Aku sangat yakin, Mbak Tamara pasti bisa menghadapi itu semua. Aku sangat bersyukur bisa mengenal Mbak Tamara dan aku sangat berterimakasih kepada Mbak Tamara sudah mengajarkanku banyak pengalaman tentang dunia kerja dan dunia yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Terimakasih banyak Mbak Tamara?",ungkap El berkaca-kaca. Ia lalu memeluk erat Tamara dengan sangat erat. "Semoga aku bisa bertemu lagi sama Mbak Tamara, entah itu kapan!".


Tamara menangis. Ia sangat bersyukur bisa mengenal El lebih dalam. Ia sudah menganggap El seperti adiknya. Karena ia masih mempunyai dua adik yang membutuhkan biaya sekolah.

__ADS_1


***


El masih menunggu jawaban dari Ardi. Ia sebelumnya mengirim pesan mengenai uang yang di kirim oleh Ardi.


"Bagaimana, belum di balas?",tanya Tamara yang sudah beres membersihkan berkas-berkasnya.


"Belum Mbak. Dia pasti sengaja tidak membalasnya. Karena, pasti mereka tidak mau menerima uang itu",menurut El.


"Coba aku telepon ya, pakai telepon kantor?",ide Tamara.


"Boleh Mbak!".


Tamara memecet angka yang ada di tombol telepon kantor. Lalu tersambung dengan nomer Ardi.


"Hallo. Ada apa?".


"Pak Ardi. Ada hal yang perlu saya luruskan disini!".


"Hal. Hal apa ya?. Bukankah semua sudah beres. Dan kamu sudah menerima uang pesangon dari kantor!",jawab Ardi.


"Sudah Pak. Saya sangat berterimakasih, karena nominalnya yang tidak pernah saya bayangkan!".


"Itu hak kamu Tamara. Kamu berhak mendapatkan itu. Dan apakah ada lagi yang kamu tanyakan?",tanya Ardi sebelum memutuskan pembicaraan.


"Ada Pak!",sahut Tamara cepat. "El ingin berbicara sesuatu sama Bapak. Apakah Bapak ada waktu?",lanjut Tamara yang langsung memberikan gagang telepon kepada El karena ia tidak mau nanti Ardi langsung mematikannya mendengar nama El disebut.


El dengan ragu menerimanya. Ia meletakkan gagang telepon kedaun telinga. "Assalamualaikum!".


"Walaikumsalam. Ada apa lagi?",tanya Ardi malas. Ia tidak mau menyebutkan nama El didalam percakapannya. Karena Ia sudah berjanji kepada Sam, ia tidak akan pernah menyebut nama El dalam masalah apapun itu, apa lagi di hadapannya.


"Pak, saya tidak berhak mendapatkan uang ini. Uang ini terlalu banyak buat anak mahasiswa yang baru magang selama tiga bulan?",ungkap El.


"Itu hak kamu. Saya hanya menjalankan tugas dari perusahaan. Mohon diterima dan kerjasamanya!",tegas Ardi.


"Tapi Pak?".


Tut... Tut... Tut... Tut...


Sambungan telepon diputus satu pihak. El langsung meletakkan gagang telepon ketempat semula.


"Sia-sia mbak kalau aku yang menjelaskan kepada mereka. Apapun alasannya mereka pasti tidak akan menerimanya begitu saja",kata El pasrah. "Aku akan transfer balik ke rekening Sam. Disinikan ana nomernya!",ide El.


"Terserah kamu, El. Itu hak kamu",jawab Tamara.


El lalu memproses pengiriman lewat aplikasi bank. Ia mengirimkan sejumlah uang yang masuk pada hari ini kepada rekening atas nama Sam. Dan proses pun berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan sinyalnya.


Mereka berdua langsung membawa perlengkapan yang mereka punya untuk dibawa pulang. El berhenti sejenak, melihat sekeliling ruangan dan terakhir menatap pintu yang bertuliskan ruangan CEO. Aku bahagia Sam, bisa bekerjasama sama kamu di sini. Dulu, kita selalu mengerjakan tugas dari sekolah bersama di rumah maupun di kafe. Sekarang beda, kita bekerjasama dalam dunia bisnis. Semoga kamu bertambah sukses dan berjaya. Aku akan selalu mendoakan kamu, Sam! batin El yang bergegas keluar dari gedung tertinggi yang ada di perusahaan ini.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2