Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Dadakan


__ADS_3

Happy Reading.


***


Sam sedang mengadakan meeting di salah satu restoran terkenal di New York. Ia di dampingi oleh El yang ia anggap sebagai sekertaris pribadinya.


El tidak menyangka bahwa Sam akan melakukan hal yang senekat itu karena El belum pernah berpengalaman dalam hal sekertaris. Ia berusaha sekuat tenaga mempresentasikan hasil saham bulan ini.


Akhirnya metting berjalan dengan baik. Sam dan El langsung keluar dari tempat pertemuan tadi.


Sam berjalan duluan dan El ada dibelakangnya mengikuti kemana sang bos akan membawanya.


"Kamu terlalu berlebihan Sam?. Untung aku sedikit tahu tentang semua ini?. Kalau gak, aku bisa mati kutu berdiri di depan para pendiri saham di perusahaan kamu!",oceh El pada sang bosnya.


"Mana mungkin sih, aku mengrekrut karyawan yang gak pandai?. Kan gak mungkin!",jawab Sam santai.


El semakin menahan emosi mendengar jawaban dari Sam. Ia tidak tahu bahwa jantungnya mau copot.


Sam tiba-tiba berhenti di tempat.


Otomatis El juga berhenti secara mendadak. "Kenapa berhenti?",tanya El.


"Aku lupa, aku mau nagih satu permintaanku itu?",kata Sam tiba-tiba.


"Iya. Aku masih ingat kok kalau aku masih punya hutang permintaan sama kamu!",jawab El.


"Bagus kalau kamu ingat!", sahut Sam.


"Terus kamu mau minta apa?",tanya El menantang.


"Permintaanku adalah, kamu menerima aku sebagai calon tunangan kamu!",jawab Sam santai.


Deg.... Uhuk.... Uhuk... tiba-tiba El tersedak. "Kamu serius?",tanya El tidak percaya dengan perkataan Sam.


"Iya",goda Sam. "Nanti malam kita kan gak bisa keluar, aku mau besok malam kita dinner berdua!",lanjutnya.


"Besok malam?. Kok mendadak sih?. Akukan belum siap-siap Sam?",seru El.


"Tenang aja. Nanti akan ada kurir yang nganterin gaun ke asrama kampus!",sahut Sam kemudian berjalan kembali.


El mengikuti langkah Sam. "Gak usah!. Aku gak mau pakai baju mahal dari kamu!",jawab El yang mengikuti langkah Sam. "Dan aku juga gak mau menerima lamaran dadi kamu!",lanjutnya.


"Kenapa?",tanya Sam penasaran.


"Ingat Sam, aku masih kuliah!. Aku belum lulus",jawab El.


"Oh...jadi kamu mau keluarga kamu tahu,kalau kamu kerja separuh waktu di kafe itu?",kata Sam berbalik badan menghadap El sambil memperlihatkan video yang sedang di putar di ponsel Sam.


El mengangga tidak percaya melihat video itu berputar. "Kamu dapat dari mana?",tanya El yang berusaha merebut ponsel dari tangan Sam.


Sam tersenyum senang menggoda El yang ketakutan. "Gimana mau nerima lamaranku tidak?",goda Sam.


"Kamu mengancamku?",tanya El marah.


"Kalau itu berhasil!",jawab Sam.


"Aku gak mau. Dulu Kakak kamu mengancamku, sekarang kamu gitu?",seru El tidak terima.


"Ya udah kalau gak mau!",seru Sam yang berjalan dengan cepat.


"Sam.... Sam.... Sam ....!",panggil El kesal.


***


Malam Hari.


Sam berdiri di depan mobil sambil bermain ponsel. Ia berpenampilan casual dengan kaos t-shirt dan celana panjang dengan kacamata hitam yang melekat di kedua matanya.


El segera turun dari kamar asramanya setelah mendapat pesan dari Sam. Karena Sam berjanji akan menjemputnya untuk menemui Mama Violla. Ia berhenti sejenak melihat pemandangan yang cukup indah itu. Pemandangannya adalah Samuel yang sedang berdiri dengan sangat casual. Ia menuruni anak tangga dengan langkah pelan-pelan supaya bisa puas memandang Sam. Aku gak tahu Sam harus bahagia atau sedih?. Yang aku tahu, aku bersyukur karena kita sudah balikan seperti dulu lagi? batin El dalam hati.


Sam yang sadar akan pandangan El langsung melihat El yang sedang berjalan menghampirinya. "Baru sadar ya kalau aku gantengnya maksimal?",goda Sam.


El melotot mendengar Sam yang berbicara dengan tiba-tiba. "Ih.... Pede banget kamu!",ketus El.


"Ya pedelah,kalau gak pede mana mungkin aku bisa seperti ini!", seru Sam percaya diri.


"Terserah kamu aja deh!. Jadi gak nih kerumah Mama?",tanya El.


"Jadi dong!",jawab Sam membuka pintu mobil untuk El.


"Gak usah Sam. Aku bisa sendiri kok!",tolak El secara halus.

__ADS_1


"Aku tahu kamu bisa sendiri, tapi tidak bagiku, karena kamu sangat berarti dalam hidupku!",kata Sam yang masih ada di depan pintu mobil.


"Kamu tahu gak, banyak laki-laki yang mendekati aku, tapi cuma kata-kata gombalanmu yang membuatku ingin terus tertawa!",jawab El masuk kedalam mobil.


Sam menutup pintu dengan malas. Bisa-bisanya El bicara seperti itu, kirain dia akan terbang melayang, ternyata harapannya sia-sia. Sam langsung masuk kedalam pengemudi dan mengemudikan mobilnya.


Dret... Dret... Dret...


Ponsel El berbunyi tanda ada panggilan masuk.


Kak Saga.


Memanggil.


El segera mengangkat telepon dari Kak Saga. "Assalamualaikum Kak?",sapa El dengan senyuman yang mengembang.


Sam merasa heran. Siapa gerangan yang telepon itu?. Kenapa El begitu semangat dan senang? batin Sam sambil melirik ke samping tempat duduk El.


"Alhamdulillah Kak, aku baik-baik aja",jawab El. "Lalu bagaimana kabar Kakak?",tanya El.


"Alhamdulillah Kakak udah baikkan El. Gimana dengan urusan kknnya?",tanya Kak Saga.


"Kalau urusan kknnya udah selesai kok Kak. Kakak tahu gak, dimana aku kknnya?",kata El.


"Emang dimana El?",tanya Kak Saga diseberangsana.


"Di perusahaannya Sam Kak",jawab El bersemangat.


Deg. Kak Saga tidak percaya bahwa El kkn di perusahaan milik Sam.


"Kakak tahu gak, aku dan Sam sekarang sudah baikan?",kata El tiba-tiba.


"Syukur kalau kamu udah baikkan sama dia",jawab Kak Saga sedih. "Kaki ikut senang!",lanjutnya.


"Terimakasih Kak. Oh...iya Kak, Kak Olivia sudah pulang belum ke New York?",tanya El.


"Belum. Dia masih stay disini untuk sementara waktu. Katanya sih masih ada sedikit urusan disini",jawab Saga.


"Ya semoga Kak Olivia cepat pulang kesini Kak, jadi aku dan Kak Olivia bisa ketemuan disini!",seru El.


"Nanti kalau udah mau pulang ke New York, Kakak kabari deh!",ucap Saga.


"Oke Kak. Aku tunggu kabarnya ya Kak?".


El tersenyum. "Iya Kak. Nanti El salamkan sama Sam. Assalamualaikum?",pamit El.


"Walaikumsalam!",jawab Saga memutuskan pembicaraan dan menutup teleponnya. Ia sedang berdiri di depan balkon sambil melihat pemandangan alam sekitarnya. "Kenapa seperti ini El, kenapa kamu di pertemuankan lagi dengan Sam?. Belum sempat aku menaklukkan hati kamu tapi hati kamu sudah berpaling lagi dengan Sam?. Bertahun-tahun El aku menunggu kamu bisa menjemput cinta kamu, tapi itu semua cuma angan-anganku. Pada saat kamu ada di sini, tapi hati kamu jauh dari pandanganku. Andai kamu bisa melihat aku sedikit saja, mungkin kamu akan jatuh hati padaku. Tapi mana mungkin?. Hati dan pikiran kamu sudah di penuhi oleh bayangan seseorang yang selalu hadir untukmu, yaitu Sam!",lirih Saga pada dirinya sendiri.


***


Disisi lain El memasukkan ponselnya kedalam tas slempangnya.


"Dari siapa sih, semangat bener?", tanya Sam begitu penasaran.


"Kepo!",jawab El.


"Siapa juga yang kepo, palingan juga dari Abang Satria!",tebak Sam.


"Sok tahu kamu!. Kalau Abang Satria pasti aku bilangnya Abang, bukan Kakak!",jawab El.


"Lalu?",tanya Sam lagi karena tebakannya salah.


"Aku akan jawab pertanyaan dari kamu. Tapi, ada syaratnya?",kata El.


"Syarat. Syaratnya apa?".


"Syaratnya kamu harus terima salam dari seseorang tadi. Karena tadi dia titip salam sama aku. Bagaimana?",tanya El.


"Gak penting salam itu. Yang aku tanyakan orangnya bukan salamnya!",kesal Sam.


"Iya aku tahu Sam. Aku akan beritahu kamu. Tapi kamu harus terima salam darinya?",ucap El.


"Terserah kamu. Aku gak butuh orang seperti itu!",jawab Sam.


"Ya udah, aku gak akan memberitahu kamu, siapa yang telpon tadi",jawab El sambil menjulurkan lidahnya. Kenapa sih Sam gak penasaran siapa yang telepon tadi?. Biar dia dan Kak Saga baikkan seperti sediakala! batin El sambil melihat Sam yang lagi fokus menyetir.


"Ngapain kamu lihatin aku seperti itu?",tanya Sam yang sadar akan tatapan El.


El langsung mengalihkan perhatiannya. "Siapa juga yang lihatin kamu!",kebaikkan


Akhirnya sampai juga di sebuah gedung, Sam memarkirkan mobilnya di basemant.

__ADS_1


"Mama Violla tinggal di apartemen?",tanya El yang baru saja turun dari mobil.


"Enggak. Mama tinggal di griya tawang!",jawab Sam.


Mereka berjalan menuju lift dan masuk kedalam lift berbarengan.


Ting.


Pintu tertutup dengan sempurna.


"Ingat pesan aku ya Sam, aku gak mau kamu menjelaskan apapun tentang aku dan Kak Edwan!. Dan biar Kak Edwan menjelaskan sendiri!. Oke?", perintah El.


"Iya. Tapi, kalau kebutuhan mendesak aku gak akan bisa janji!",sahut Sam.


"Kok kayak gitu sih. Pokoknya aku gak mau, titik!",kesal El.


Ting.


Pintu lift terbuka, mereka segera keluar dan masuk kedalam griya tawang milik Mama Violla.


El melihat kesekeliling ruangan itu,begitu luas dan indah setiap sudut rumahnya.


"Hallo... Hallo.... Anak Mama sudah datang?",seru Mama bahagia sambil memeluk El dan Sam.


"Yuk, kita langsung makan malam!", perintah Mama Violla sambil mengiring El dan Sam menuju meja makan.


El dan Sam duduk bersebelahan.


"Kalian belum makan kan?",tanya Mama Violla.


"Belum Ma",jawab El.


Sam memandang Mamanya penuh curiga. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"El ambilkan Ma",kata El sambil mengambil nasi buat Mama, Sam dan dirinya sendiri. Ia tidak lupa memberi lauk pauk disetiap piringnya.


"Udah cocok nih jadi seorang istri?",goda Sam memandang wajah El.


Haaa.... El mengangga tidak percaya, bisa-bisanya Sam menggoda hal seperti itu di depan mamanya.


Mama Violla tersenyum senang. "Terimakasih ya nak El?",ucap Mama Violla.


"Sama-sama Ma",jawab El langsung duduk di tempat. Ia mengambil air putih di depannya dan meneguknya mengurangi rasa grogi.


"Berarti nak El udah siap jadi istrinya Kak Edwan?",ucap Mama Violla.


Uhuk... Uhuk... Uhuk... El tersedak setelah mendengar perkataan dari calon Mama mertuanya itu.


"Kamu gak apa-apa?",tanya Sam menenangkan.


"Gak apa-apa kok. Maaf ya ma?",ucap El sambil mengatur nafas.


"Gak apa-apa kok sayang",jawab Mama Violla. "Ayo, silakan di makan?",lanjutnya.


"Iya ma",jawab El dan Sam serentak.


"Sebenarnya ada apa sih ma, tumben banget Mama ngajak anak-anaknya makan malam?",tanya Sam penuh curiga.


"Mama kangen aja sama kalian. Kitakan udah lama gak ngumpul bareng-bareng",jawab Mama Violla.


"Gak mungkin kalau cuma itu aja Ma. Pasti ada hal yang lainkan?",tebak Sam.


"Sam, suatu saat kamu pasti akan merasakan bagaimana jadi orangtua. Bagaimana jadi panutan buat anak-anaknya, bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, suatu saat kalian pasti akan merasanya saya",jawab Mama Violla. Violla melihat sebuah cincin permata tersemat di tangan kiri jari manis El. "Nak El, hubungan pertunangan kamu sama Kak Edwan baik-baik aja kan sayang?",tanya Violla.


Deg. El berhenti mengunyah makanan yang masih ada didalam mulutnya. Ini terasa sulit bila ia harus menjawab sendirian.


"Ma, kalau Mama mau tanya hubungan pertunangan El sama kakak, ngapain juga libatkan aku disini?"kesal Sam.


"Sam, kamu sebagai adik dan sahabat bagi El, pasti kamu tahu semuanya?",ucap Violla.


"Tahu semuanya apa sih ma!. Seharusnya Mama langsung tanya aja sama Kakak, ngapain juga tanya sama aku dan El. Aku dan El itu kalau sedang berdua kita mengerjakan kknnya El",kesal Sam.


"Ya, karena mama masih melihat cincin pertunangan dari kakak kamu di jari manis El sayang",kata Mama Violla.


Sam dan El langsung tatap menatap, mereka bingung harus bicara seperti apa. Karena, cincin ini adalah cincin pemberian dari Sam.


Sam melihat cincin permata di tangan kiri jari manis El. Benar kata Mama, cincin itu masih ada disana? batin Sam merasa pusing tujuh keliling.


***


Jangan lupa komen, like dan vote.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2