Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Pupus


__ADS_3

...Happy Reading....


...***...


Akhirnya mereka berempat tiba di sebuah supermarket. Olivia berinisiatif untuk berbelanja. Ia berbelanja semua kebutuhan pokok yang setiap hari di gunakan. "Dino mau apa?",tanya Olivia sambil mendorong troli besar.


"Tidak mau apa-apa Kak. Ini semua buat kebutuhan Kakak?",tanya Dino yang melihat troli penuh dengan bahan makanan dan sembako.


Olivia tersenyum melihat pertanyaan anak kecil itu. "Kalau ini semua kebutuhan Kakak, pasti kamu tidak percaya",jawab Olivia.


"Lalu?".


Olivia berhenti dan duduk berjongkok di depan Dino. "Ini semua buat teman-teman Dino yang ada di pemukiman".


Dino tercengang mendengarnya. Ia melihat isi troli yang penuh itu. "Kakak serius?".


"Iya sayang. Kakak serius. Kamu senang?".


Dino dengan cepat mengganggukan kepalanya beberapa kali. Ia lalu memeluk Olivia. "Terimakasih Kak. Pasti teman-teman Dino bahagia bisa kedatangan tamu istimewa seperti Kakak!".


"Sama-sama sayang. Kamu yang sudah mengajarkan Kakak tentang hal baik ini. Kakak sangat beruntung bisa mengenal Dino",jawab Olivia membalas memeluk Dino.


***


El duduk termenung di balkon. Belum ada kabar dari sang dosen tentang skripsinya. Tiba-tiba ponselnya berdering dan ia langsung mengangkatnya. "Hallo Wil",sapa El yang melihat sepintas di layar ponselnya tadi.


"Ada dimana?",tanya William.


"Ada di asrama. Sedang menunggu kabar dari dosen".


"Aku ke asrama kamu ya?. Ada Adelle kan?".


El memeriksa ke arah dalam, belum ada tanda-tanda Adelle pulang dari kafe. "Tidak ada. Dia belum pulang".


"Dasar Adelle tidak bisa di ajak rundingan!",gerutu William. "Ke kafe yuk, daripada kamu suntuk!",idenya.


"Terimakasih Wil atas tawarannya. Tapi, saat ini aku malas keluar",jawab El malas.


"Kenapa, masih belum bisa move on dari dia?",tanya William.


El terdiam mendengar pertanyaan dari sang sahabat. Hatinya seperti teriris belati. Rasa yang belum pernah tapi sekarang harus ia lupakan begitu saja. "Wil, jangan mulai deh!".


"Makanya, ayo keluar!. Anggap aja cari udara segar!",ajak William yang tidak henti-hentinya membujuk.


El memandang surat pemberian dari Sam di atas meja. Apa yang di katakan oleh William ada benarnya juga. Ia saat ini butuh udara segar. "Ok. Tunggu aku di bawah 10 menit lagi ya!",pesan El berubah pikiran. Ia segera mematikan ponselnya dan mengambil sebuah hoodie berwarna peach.


William belum sempat menjawabnya langsung dimatikan ponselnya secara sepihak oleh El. Ia merasa senang karena El mau keluar bersamanya. Ia menunggu di depan mobil yang sudah terparkir di asramanya El. Ia melihat El sedang berjalan menuruni anak tangga. El masih seperti dulu, yang selalu tampil cantik dan anggun di setiap waktu.


El berjalan menghampiri William yang duduk di depan kap mobilnya. "Pasti sudah lama menunggu ya?",ucap El.


William hanya menjawab dengan sebuah senyuman. "Mau kemana?",tanya William yang tidak henti-hentinya memandang El seperti ingin memakannya.


"Kok malah tanya sama aku!. Bukannya tadi kamu yang ajak aku, buat keluar dari asrama?",tanya El balik. "Dan biasa aja lihatnya!",keluh El yang merasa risih di buat oleh William.


"Aku kangen banget sama kamu. Sudah beberapa bulan kamu pergi dari hadapanku, El!",cicit William.


El menyenggol lengan William. "Lebay!. Ini jadi tidak kita keluar?. Kalau tidak aku mau masuk lagi ke asrama, dingin banget soalnya!",ancam El yang merasa kedinginan di luar. Karena cuaca beberapa hari ini terasa sangat dingin.


"Jadi dong. Mau ke kafe mana?".


"Ya terserah kamu. Bagaimana kalau kafe dekat-dekat sini aja?",ide El.


"Tidak. Aku tidak suka kafe yang dekat-dekat sini. Tidak enak, rasanya hambar!",jawab William sambil membukakan pintu mobil. "Masuk!",perintah William.


"Terserah kamu mau ajak kemana. Ke kafenya Adelle juga tidak masalah!". El masuk kedalam mobil, ia duduk di samping pengemudi. Dan William masuk kedalam mobil juga.


William mengendarai dengan kecepatan sedang. "Bagaimana negara New York, apakah ada yang istimewa?",tanya William mencoba mencairkan suasana.


"Sudah banyak orang yang tanya seperti itu. Dan jawabku tetap sama, biasa. Tidak ada yang istimewa!",jawab El. "Dan menurutku yang istimewa di negara ini. Ketemu sama teman-teman yang baik, seperti kamu!",goda El.


"Aku tidak percaya, kalau di sana tidak seseru di sini!".


"Kenyataannya begitu Will. Justru, aku ingin di negara ini sekaligus KKN, tapi yang di New York sudah aku lalui, mau apa lagi".


"Apakah gara-gara kamu memutuskan pertunangan dengan Samuel sehingga kamu tidak mau di sana?",tanya William sarkas.


"Aku mencoba untuk melupakannya Will. Sampai kapanpun rasa ini tidak akan pernah sampai ke dia. Toh tante Violla tidak setuju dengan hubungan kami. Mau apa lagi!",ucap El mengangkat bahunya mencoba tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


"Aku turut prihatin atas hubungan kalian. Tapi aku sebagai teman kamu maupun temannya Samuel hanya bisa mendoakan kalian, semoga kedepannya akan lebih baik lagi",doa William.


Hela nafas El terhempas terlalu tinggi. Ia berharap apa yang terjadi ini hanyalah sebuah mimpi, tapi kenyataannya tidak begitu. Ini nyata yang harus ia lalui sendiri batinnya dalam hati. Ia melihat lampu-lampu yang berjejeran sudah menyala dengan terang benderang.


***


Rombongan Satria sudah sampai di pemukiman yang lumayan kumuh. Mereka menyapa anak-anak supaya segera berkumpul di lapangan yang telah tersedia di samping desa itu.


Olivia dan Saga tidak henti-hentinya tersenyum manis melihat keakraban anak kecil itu dengan anak-anak lain.


"Kita beruntung ya Dik, mempunyai tempat tinggal yang mewah, mau belanja dan makan apapun kita tersedia di meja. Sedangkan mereka, anak-anak yang kurang beruntung mendapatkan makanan dan mainan yang tidak seberapa saja sudah senang dan bahagia. Apa lagi kita, yang sangat-sangat beruntung ini!",lirih Olivia yang berdiri di samping adiknya itu.


"Kita beruntung Kak, mengenal mereka dengan cara yang sederhana. Karena kebahagiaan yang mereka mau hanya sesederhana ini!",kata Saga melihat anak-anak dan para warga lainnya menerima sembako dan mainan.


Satria membantu adiknya memberikan dan mengangkat sembako yang telah di sediakan oleh Olivia. Ia tidak henti-hentinya memperhatikan Olivia dari kejauhan. Benar-benar berhati malaikat dia! batinnya.


Dino yang melihat abangnya itu menyenggol lengannya. "Kak Olivia memang cantik Bang. Tapi sepertinya Kak Olivia tidak menyukai Kakak!",sindir Dino.


"Dasar bocah cilik!",gemas Satria yang langsung mengacak rambut adiknya itu. "Kenapa sih kamu itu selalu ikut campur urusan Abang?".


"Lalu kenapa Abang ikut campur urusan aku?",tanya Dino balik. Ia saat ini merasa paling menang.


"Awas ya!",ancam Satria yang langsung menjauh dari adiknya yang usil itu.


Saga dan Olivia ikut terjun membagikan sembako dan beberapa vitamin buat menjaga daya tahan tubuh.


***


Kafe Lon n Love.


William dan El duduk di pojokan sambil melihat jalan raya yang begitu ramai.


"Kalian itu benar-benar mengganggu pekerjaanku ya!",keluh Adelle. Ia meletakkan dua minuman pesenan William dan El.


"Tanya tuh sama William, kenapa dia ngajak aku keluar malam-malam seperti ini",seru El yang mengaduk cokelat panasnya.


"Di apartemen suntuk Del. Kamu aja yang belum pulang dari kafe ini. Padahal rencanaku ingin main ke asrama kalian. Dan daripada aku dan El di asrama hanya berdua, lebih baik kita kumpul di kafe ini",jawab William.


"Kafenya sudah mau tutup. Pokoknya kalian harus membayar tipnya. Aku tidak enak sama teman yang lainnya",jelas Adelle.


"Sombong!". Adelle melepas celemeknya yang langsung di lepar ke wajah William. "Jangan sok kaya kamu!".


"Memang aku orang kaya!". William menyombongkan dirinya sendiri.


"Iya-iya anaknya Pak Menteri. Puas kamu!",kesal Adelle yang langsung manyun.


William yang senang melihat tingkah laku Adelle yang selalu manja dan gemas. Hatinya menghangat setelah melihat Adelle ada di sampingnya.


"Ngapain kamu lihatin aku seperti itu?. Nanti jatuh cinta baru tahu rasa kamu!",ancam Adelle sambil menunjukkan jari manisnya ke muka William yang sudah bersemu merah.


El hanya tersenyum melihat mereka berdua berantem. Lalu senyuman itu menghilang setelah mereka mengingatkan dia dan para sahabatnya sedang berkumpul di kafe Ed n Bim. Memorinya berputar seakan seperti kaset yang sedang dimainkan. Ia sedang beradu argumentasi dengan Sam, di setiap memorinya selalu terbayang dengan wajah Sam.


***


Sam yang masih stay di kafe Ed n Bim sedang duduk di kursi yang selalu menjadi langganan tempat duduknya. Ia sedang menyandarkan punggungnya ke kursi dan menyilang kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tajam menatap kursi kosong yang ada di depannya.


Ponselnya selalu berdering di setiap waktu tetapi tidak di hiraukannya.


Mike yang melihat Sam sedang melamun lalu ia mencoba menghampirinya. Ia duduk di depan meja yang ia tatap tajam itu. "Sampai kapan kamu seperti ini?".


"Entah. Aku seperti kehilangan semangat hidup Mike",jawab Sam.


"Aku yakin, kamu bisa melaluinya dan menerima Laura sebagai pasangan kamu",cicit Mike.


"Kalau kamu hanya ingin menertawakan aku, silahkan!. Tapi, jangan pernah membicarakan wanita itu tepat di hadapanku sekarang!".


"Itu kenyataannya Sam. Kalau kamu selalu mengelak akan hal itu, itu mustahil. Karena Mama kamu yang memilih wanita itu buat kamu",sahut Mike.


"Darimana kamu tahu tentang itu?. Aku sudah bisa tebak, dari Sella kan?",tebak Sam kesal melihat Sella yang blak-blakan mengenai hubungannya. "Dasar wanita tidak bisa di percaya!",umpat Sam.


"Karena Sella menganggap aku sebagai sahabatnya, bukan seperti kamu, yang datang lalu pergi begitu saja tanpa bercerita sama sekali!".


"Terserah. Kalau pun aku bercerita sama kamu, kamu tidak akan tahu jalan keluarnya!",seru Sam yang tidak mau di salahkan oleh Mike.


"Aku tahu. Kalau kamu mau cari jalan keluarnya".


"Apa?".

__ADS_1


"Kamu tinggal lurus dan di situ ada pintu. Sudah deh, itu jalan keluarnya!".


Sam menendang kursi meja. "Sialan kamu!. Kamu sudah bosen untuk hidup!",marah Sam karena masalahnya buat bahan bercandaan.


Mike lalu meminta ampun karena sudah membuat Sam marah dan tersinggung.


Sam lalu pergi meninggalkan Mike seorang diri.


"Eh... mau kemana?",tanya Mike dengan suara keras.


Sam menaiki panggung mini yang tersedia di kafe itu. Iya mengambil gitar dan duduk untuk memainkannya.


***


Play Music


Dewa 19_ Pupus


Aku tak mengerti apa yang kurasa


Rindu yang tak pernah begitu hebatnya


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu


Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah ku relakan hatiku padamu


Namun kau masih bisu, diam seribu bahasa


Dan hati kecilku bicara


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Semoga waktu akan mengilhami


Sisi hatimu yang beku


Semoga akan datang keajaiban


Hingga akhirnya kau pun mau


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Baru kusadari


Cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Baru kusadari (uh, baru kusadari)


Cintaku bertepuk sebelah tangan (bertepuk sebelah tangan)


Kau buat remuk seluruh hatiku


Seluruh hatiku, oh-ho, yeah


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote....


...Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2