
Happy Reading.
***
Duk...
Mereka berdua terjatuh.
Kepala El kepentok pintu kamar dan Sam jatuh di atas El.
El kesakitan karena kepalanya, ia langsung membuka mata. Ia melihat Sam tidur di atas tubuhnya.
"Haaaaaaaaaaaa!",teriak El yang terkejut.
Sam melihat El yang ada dibawahnya. Ia sama terkejutnya karena posisi ini bahaya dalam hidupnya.
El sekuat tenaga memukul kepala Sam dengan keras. "Minggir!",bentak El.
"Aduh!. Sakit!",kata Sam kesakitan. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya kesamping kanan.
El segera berdiri untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka berdua. "Kamu mau ngapain saya?",tanya El mencoba mencari benda-benda yang tumpul buat melindungi dirinya.
Sam kesakitan sambil memegang kepalanya. Ia mencoba berdiri. "Kamu tahu gak, aku kesakitan!",bentak Sam.
El melihat ke sekeliling kamar. Ia melihat benda-benda yang tidak asing di dinding dan di meja belajar. Ia segera menghampiri benda-benda. "Ini bukankah barang-barang punyaku!",kata El yang memegang foto keluarga.
"Iya, kalau bukan barang-barang punya kamu, lalu punya siapa!",jawab Sam yang sudah berdiri dengan tegak.
"Kamu mindahin semua barang-barang ku yang ada di asrama?",tanya El bingung.
"Enak aja saya!. Yang mindahin semua anak buahku. Mana mungkin saya mindahin barang-barang kami, kurang kerjaan tahu!",jawab Sam kesal.
"Itu sama aja!".
"Seharusnya kamu bilang terimakasih karena saya telah membopong kamu sampai ke sini, malah kepala saya yang kena pukul dari kamu!",ucap Sam.
"Ya udah, cepat keluar!. Aku mau tidur!",usir El yang kesal dan menahan amarah.
"Kok kamu ngusir saya, memang ini apartemen siapa?",sahut Sam tidak terima.
Ya Ampun, memang kalau amnesia sifatnya berubah 180 derajat apa!. Kenapa si Sam malah seperti ini! keluh El dalam hati. "Ok... Ok... Ok... Aku lelah, aku ingin istirahat!. Kamu ngerti gak sih?",kata El dengan nada marah.
"Gak ngerti!",jawab Sam polos.
Ih.... Kenapa si Sam tambah plus nyebelin sih! kesal El dalam hati. Lalu ia mengambil nafas dalam-dalam, membuang rasa kesal dan marah. "Lalu kamu mau apa?",tanya El dengan penuh kelembutan.
"Begitu dong!. Kamu harus sopan sama saya, karena kamu masih punya hutang sama saya!",kata Sam mengingatkan.
"Ok. Maaf kalau aku tadi marah-marah sama kamu", jawab El pasrah. Ia melihat jam dinding yang ada di kamarnya waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, rasa kantuknya semakin menjadi.
"Ya udah, aku lapar. Buatkan aku salad sayur!",perintah Sam yang langsung berjalan keluar dari kamar.
"Astaga!",keluh El yang berjalan dengan malas.
***
Kring... Kring... Kring...
El meraba-raba jam beker, ia mematikan tombolnya. "Kayaknya baru tidur beberapa menit, kok sudah pagi aja sih!",ucap El malas beranjak dari tempat tidur. Ia merasa nyaman tidur di ranjang yang berukuran big size dan ditambah lagi kasurnya yang begitu empuk. Tetapi, ia harus segera bangun untuk melakukan kegiatan pagi.
Setelah ia membuang hajat dan sholat subuh, ia segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Ia ingin sekali membuat pancake untuk menu sarapan pagi. Mumpung di apartemen yang megah ini. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Apartemen ini tidak asing baginya. "Bentar...bentar, bukan kah ini apartemen yang pernah aku kunjungi sama Sam!",kata El. Ia segera keluar dari apartemen ini. Ia ingin memastikan apakah benar, ini apartemen itu?.
Dan...
El tercengang melihat apartemen ini. "Ya Allah, benar, ini apartemen yang aku dan Sam kunjungi!",ucap El lemas. Ia segera masuk lagi kedalam apartemen. Ia berjalan menuju dapur membuat sesuatu yang bisa buat sarapan. Tapi, ditengah-tengah dapur ia berpapasan dengan Sam.
"Dari mana kamu?",tanya Sam sarkas.
"Dari depan!",jawab El yang langsung berjalan kearah dapur.
Sam mengambil air putih dari dalam kulkas. Ia selalu melirik El yang sedang sibuk memasak.
"Ngapain kamu lirik-lirik gak jelas gitu?. Ada apa?",tanya El yang sedang mengocok adonan.
Sam meneguk minuman dengan paksa. Ia tahu saat ini El pasti sedang curiga terhadapnya. "Siapa yang lirik-lirik kamu, percaya diri banget kamu!",sahut Sam kesal.
"Kenapa kamu pilih apartemen ini?",tanya El. Ia ingin tahu alasan apa yang dimiliki oleh Sam.
"Saya gak tahu, kenapa saya milih apartemen ini. Memang sebelumnya kamu pernah datang kemari?",tanya Sam balik.
El terdiam. Ia ingin sekali tahu alasan yang masuk akal dari Sam.
__ADS_1
"Saya tanya sama kamu, kenapa kamu diam aja!",bentak Sam.
"Maaf Sam. Kamu ingin tahu yang sebenarnya?",tanya El balik.
"Huum. Apa?".
"Ini adalah apartemen yang aku idaman kan!",jawab El tegas.
"Hahaha",gelak tawa Sam pecah memenuhi isi ruangan. "Yakin kamu bisa beli apartemen ini?",tanya Sam meledek.
El berhenti mengocok adonan. "Yakin. Malah ada seseorang yang mau membelikan apartemen ini untukku!",jawab El santai. Ia ingin Sam mengingat walaupun hanya sedikit saja.
Wajah Sam langsung berubah masam. "Serius, sekaya apa orang yang mau membelikan apartemen ini untuk kamu?".
"Dia kaya melebihi kamu. Dia pintar, dia mandiri, dia tampan dan dia selalu ingin dimanja sama aku!",jawab El jujur.
"Ok. Terserah apa kata angan-angan kamu. Saya tidak peduli!",jawab Sam kesal. Kenapa tiba-tiba ada rasa yang bergejolak didalam dadaku?. Siapakah wanita yang ada didepan mataku saat ini?.
"Lalu kenapa kamu memilih aku untuk tinggal satu atap sama kamu?",tanya El penasaran.
"Ya untuk melunasi hutang kamulah!".
"Selain itu?".
"Memang kamu mau apa?",tanya Sam menantang.
"Aku tidak mau apa-apa sih. Cuma aku penasaran aja, apa maksud dari aku tinggal disini?".
Karena aku penasaran sama kamu! batin Sam menjawab.
"Ditanya kok malah diam sih!".
"Bukan urusan kamu!",jawab Sam dengan nada tinggi. Ia segera meninggalkan El yang sedang memasak.
"Ditanya kok malah marah-marah sih!",kesal El. Ia melanjutkan tugas yang tertunda.
Setelah masak ia segera mandi dan berganti baju. Ia tidak mau terlambat ke kantor untuk tugas KKN nya. Lalu ia meraih ponsel yang ada di tasnya. Ia menemukan ponselnya yang mati. "Kok mati sih!",ucap El. "Padahal kan kemarin ponselnya baterai masih penuh?", pikir El keras. Ia segera mencari charger untuk mengisi baterai yang kosong. Ia mencoba menekan tombol off on yang lama dan akhirnya ponselnya menyala. Baterainya masih penuh, kenapa ponselnya mati. Di ponsel terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang masuk kedalam WhatsApp.
"Kamu dimana El?". Kak Saga.
"El, tolong angkat teleponnya!. Aku khawatir!". Kak Saga.
"El, kamu dimana sih?. Kamu pindahan atau apa?". Bella.
"El, Kak Saga sedang mencari kamu!. Kamu dimana?". Sella.
"El, aku mohon, maafkan aku yang terlambat datang karena ada metting mendadak!. Maafkan aku!". Kak Saga.
"El, tolong aktifkan ponsel kamu!. Aku mohon!". Kak Saga.
Dan masih banyak lagi pesan yang masuk.
"Astaga!",kata El mengusap wajah dengan gusar. Banyak sekali orang-orang yang mengkhawatirkan dia. Ia segera menelepon Kak Saga. "Halo, Assalamualaikum Kak!",sapa El.
"Walaikumsalam El. Kamu dimana?. Aku khawatir sama kamu?",tanya Saga beruntun.
"Maafkan aku Kak. Aku gak tahu kalau ponselku mati".
"Kamu dimana?. Aku jemput sekarang!",sahut Saga.
"Tidak perlu Kak. Aku baik-baik saja. Maafkan aku yang membuat Kakak khawatir. Aku tidak bermaksud untuk itu".
"Sekarang kamu dimana El?",tanya Saga yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari El.
"Maaf Kak, kali ini aku tidak bisa bilang sama kakak. Tapi, Kakak tidak usah mencemaskan keadaanku. Keadaan ku baik-baik saja Kak",jawab El.
"Tapi El?".
"Maafkan aku Kak!".
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Maafkan Kakak yang datang terlambat ke restoran soalnya ada metting mendadak. Kamu gak marah kan?",tanya Saga mempertanyakan.
"Ini semua tidak ada hubungannya Kakak datang terlambat. Kakak tenang saja, aku pasti baik-baik saja Kak".
"Tapi sampai kapan kamu pergi?",tanya Saga.
"Kalau gak salah satu minggu Kak".
"Ok kalau gitu. Hati-hati ya?",pesan Saga.
"Iya Kak. Terimakasih Kakak sudah peduli sama aku".
__ADS_1
Karena aku sayang El sama kamu. Andai kamu tahu separuh hatiku sudah mencinta kamu! batin Saga sedih.
"Assalamualaikum Kak!",pamit El.
"Walaikumsalam!",jawab Saga yang langsung mematikan ponselnya.
El segera mengabari Sella dan Bella bahwa ia baik-baik saja. Ia lalu keluar dari kamar dan bersiap untuk berangkat KKN.
***
Di kantor.
Seperti biasanya El sibuk menatap layar monitornya. Ia selalu diberi tugas oleh CEO Sementara itu.
Suara sepatu memenuhi seisi ruangan. Karena ruangan ini sangat sepi dari suara-suara bising.
Beberapa orang menghampiri meja sekertaris. Mereka memandang El dan Tamara.
"Permisi!",ucap seorang wanita paruh baya.
El dan Tamara langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang masuk keruangan ini. "Ibu Violla".
El melihat Ardi ada di kawalan mereka. Ia tahu bahwa Ardi selalu ada di setiap tuan besarnya berada.
"Dimana anak saya berada?",tanya Violla tegas.
"Maksud ibu Bapak Edwan. Bapak Edwan ada Bu di dalam ruangan",jawab Tamara.
"Saya tidak tanya sama kamu!",bentak Violla menunjuk tangan kearah Tamara. "Tapi saya bertanya kepada orang yang ada di samping kamu!",lanjut Violla sangat marah.
El tercengang. Ia melirik sekilas kearah Ardi, mencari jawaban yang pasti.
Ardi memberikan sedikit sebuah gerakan. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan mulut Ardi mengeluarkan sebuah kata jangan.
El menarik nafas untuk tidak gugup menghadapi Violla. Ia ingin seperti dahulu yang selalu santai berbicara sama Violla. "Maksud ibu apa?. Saya tidak mengerti!",jawab El sopan.
"Kamu pasti tahu keberadaan Samuel berada. Dimana Samuel sekarang?",tanya Violla marah.
Tamara tidak percaya bahwa Nyonya besarnya bertanya kepada El. Ia sekarang paham, kepada El selalu dalam masalah diantara kakak beradik.
"Maaf Bu. Saya tidak tahu keberadaan Bapak Samuel. Saya disini hanyalah magang di kantor beliau",jawab El santai.
"Omong kosong!. Dimana anak saya berada!",bentak Violla sambil menggeprak meja.
El dan Tamara kaget setengah mati. Baru kali ini Tamara menghadapi masalah besar.
"Saya tidak tahu Bu. Sungguh!",kata El menjelaskan. "Kalau Ibu tidak percaya, Ibu bisa datang ke asrama saya yang ada di kampus",lanjut El.
"Saya tidak percaya sama kamu. Kamu mau membalas dendam terhadap saya, karena pertunangan kamu dan Samuel di batalkan!",gertak Violla.
El menggelengkan kepalanya.
Tamara tercengang mendengar dengan kedua telinganya bahwa El adalah mantan tunangan samuel sekaligus mantan tunangan dari Edwan.
"Ibu bisa mengejek saya karena saya dua kali gagal bertunangan dengan putra Ibu. Tapi, saya tidak serendah itu untuk menyembunyikan anak Ibu di asrama saya".
"Ok. Kalau itu mau kamu. Anak buah saya biar yang menyelesaikan semuanya!",kata Violla mengancam.
Para anak buah Violla langsung pergi meninggalkan ruangan. Mereka segera menyelesaikan misinya.
Violla bergegas ke ruangan Edwan. Ia ingin berbicara empat mata dengan anak sulungnya.
El mengambil nafas dengan lega. Ia tidak percaya akan menghadapi situasi ini.
"Kamu mau minum?",tanya Tamara khawatir.
"Tidak mbak. Terimakasih",jawab El.
Dret... Dret... Dret...
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel El.
"Mbak tenang aja, biar saya yang urus. Ibu tidak tahu tentang apartemen yang ditempati oleh mas Samuel dan mbak!". Ardi.
Jadi tante Violla tidak mengetahui bahwa Samuel mempunyai sebuah apartemen!. Oh... Tuhan, kenapa aku bisa dalam masalah ini?.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1