
Happy Reading.
***
Sam memasuki apartemennya dengan keadaan marah. Apa yang ada disampingnya langsung ia ambil dan lemparkan ke sembarang tempat. "Arghhhh!",teriaknya beberapa kali. Ia meluapkan marahnya dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia tidak henti-hentinya menghancurkan perabot rumah yang tidak bersalah itu. "Arghhhhhhhhh!".
Ardi yang baru saja datang dibuat kaget oleh keadaan apartemen milik bosnya itu. "Mas Sam... Mas...!", panggil Ardi beberapa kali sambil melangkah mencari majikannya itu.
Sam yang sedang ada dikamar tamu memporak-porandakan seprai dan bantal-bantal. Ia tidak lupa memecahkan minyak wangi yang berjejeran di meja rias. Lalu ia tidak berhenti sampai di situ, ia juga mengambil sebuah tongkat untuk menghancurkan televisi yang terpajang di dinding kamar. "Duarrrr!". Suara televisi meledak begitu saja.
Ardi yang kaget langsung berlari kekamar tamu. Ia melihat Sam sudah duduk tersungkur di lantai. Ia melihat kamar tamu seperti gudang yang tidak terpakai lagi. "Mas Sam!",teriak Ardi yang langsung menolong Sam dengan cara memapahnya. "Mas Sam tidak apa-apa?",tanya Ardi yang ketakutan dengan kemarahan majikannya itu.
"Kenapa dia bersama laki-laki lain!. Kemarin laki-laki itu, sekarang beda lagi laki-lakinya!. Siapa dia!",teriak Sam yang sudah mulai berdiri lagi.
"Saya sudah bilang sebelumnya sama Mas Sam, jangan ikuti Mbak El. Mbak El sedang bekerja Mas!. Mungkin dia sahabatnya atau rekan kerjanya!",kata Ardi yang mencoba menenangkan majikannya itu.
"Tapi kenapa dia menangis lalu tersenyum manis kepada laki-laki itu!",tanya Sam yang tidak ada hentinya mempertanyakan laki-laki yang duduk berhadapan dengan El direstoran. "Arghhhhh!",teriak Sam yang seperti kesetanan. Ia lalu berjalan kearah kamar El sambil membawa tongkat yang siap untuk memukul benda-benda yang ada disekitarnya.
"Jangan Mas, itu kamar Mbak El!",cegah Ardi yang merentangkan kedua tangannya tepat di depan pintu kamar.
"Minggir tidak!. Atau kamu mau aku pukul!",bentak Sam yang sudah tidak bisa dikondisikan.
"Tenang Mas!. Mbak El akan marah bila mas Sam menghancurkan barang-barangnya!",kata Ardi yang tidak mau Sam berbuat nekat.
"Saya tidak peduli!. Dia tidak tahu bahwa aku sedang terluka!",teriak Sam sambil menunjukkan dadanya. Matanya memerah yang siap untuk menangis.
"Saya mohon Mas, jangan!. Jangan lakukan itu, bisa-bisa Mbak El akan marah sama Mas Sam!",kata Ardi yang mengingatkannya.
Sam siap untuk memukul Ardi karena dia banyak bicara. Lalu Ardi menyingkir. Sam mencoba membuka pintu kamarnya tapi tidak bisa. Kamarnya telah di kunci oleh El. "Sialannnnn!", teriak Sam. Ia lalu memukul handle pintu dengan sekuat tenaga dengan tongkat.
Ardi yang merasa kuwalahan menenangkan Sam, ia tidak langsung tinggal diam. Ia segera menelepon El yang mungkin sudah pulang bekerja.
"Assalamualaikum Pak!",sapa El.
"Walaikumsalam Mbak!",jawab Ardi ketakutan.
"Ada apa Pak?".
"Mbak, saya mohon pulanglah Mbak!. Mas Sam sedang marah besar!",kata Ardi.
"Arghhhhh!",teriak Sam yang terdengar di telinga El.
"Suara siapa itu Pak?",tanya El penasaran.
"Suara Mas Sam Mbak. Mas Sam membuat apartemen rusak dan hancur mbak. Sekarang Mas Sam sedang menghancurkan pintu kamar Mbak El!",jelas Ardi.
"Apaaaaaaaa!",teriak El tidak percaya. Lalu ia langsung mematikan ponselnya tanpa mengucapkan salam.
"Ada apa El?",tanya Sella khawatir.
El tidak bicara apapun. Ia memilih mengemasi barang-barangnya yang ada di atas meja.
"Apa apa El?", tanya Dony penasaran.
El berdiri yang siap untuk berjalan keluar. "Aku tidak bisa bercerita sekarang!. Nanti kapan-kapan aku akan cerita sama kalian!",kata El yang berpamitan sambil cium pipi kanan dan kiri bergantian Raina, Sella dan Yasmine.
"Aku antar ya?",tawar Sella yang merasa El tidak sedang baik-baik.
"Tidak usah Sel. Aku naik taksi saja!",jawab El yang berjalan tergesa-gesa. "Dan buat kamu Sel, nanti malam aku akan tetap mengantar kamu ke bandara. Kamu tenang saja, nanti kita akan ketemu lagi nanti malam!. Buat Yasmine, Dony dan Teh Raina maaf banget aku harus pamit dulu. Nanti malam kita lanjut lagi ya?",lanjut El yang sudah berjalan keluar restoran.
"Ada apa sih Kak?",tanya Yasmine khawatir.
"Aku juga tidak tahu Yas. Kita tunggu El bercerita malam ini!",jawab Sella.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang telepon sih?. Kenapa El panik sampai begitu?",tanya Dony.
"Kalau aku tebak, pasti Sam berbuat yang aneh-aneh sampai Pak Ardi menelepon El!",jelas Sella.
"Loh kok menelepon El?. Apa hubungannya sama El?. Kata kamu, Tante Violla memutuskan pertunangannya?. Kenapa malah El yang selalu maju!",tanya Dony yang tidak mengerti maksudnya.
"Sebenarnya El dan Pak Ardi mau menolong Sam supaya cepat dalam memulihkan ingatannya. Tapi, itu juga tanpa sepengetahuan Tante Violla",jelas Sella.
"Kalau tanpa sepengetahuan Tante Violla, kenapa juga El mau menolong Sam?. Aku tahu kita sahabat dari kecil, tapi ini sudah berbeda ceritanya!",sahut Dony. "Ya sudah Sel, aku mau ikuti El. Yuk, kita cari tahu keberadaannya!",ajak Dony.
"Iya Dik. Tolongin El, mungkin dia sedang membutuhkan kita!",kata Riana.
"Iya Kak. Kasihan Kak El!",sahut Yasmine yang juga merasa khawatir tentang keadaan El.
"Ya sudah, Teteh dan Yasmine tetap disini ya!. Aku dan Dony akan mengikuti El!",pinta Sella.
"Iya Kak. Hati-hati ya?",pesan Yasmine.
"Ok. Yuk, Don!. Kamu berjalan di depan sambil melihat El naik taksi yang mana!. Aku akan mengambil mobil yang ada di parkiran!", perintah Sella yang sambil berjalan beriringan bersama Dony menjalankan tugas mereka masing-masing.
Dony segera berlari keluar restoran setelah pintu lift terbuka. Ia masih bisa melihat El yang sedang menunggu taksi. "Itu dia!",lirih Dony.
El melambaikan tangan untuk menghentikan mobil taksi. Setelah mobil taksi berhenti ia segera masuk ke dalam dan taksi melaju dengan kecepatan sedang.
Dony mengejar mobil taksi itu. Ia untung masih bisa melihat plat nomer kendaraannya.
Sella datang tepat pada waktunya membawa mobil pribadinya. Dony segera masuk dan mengarahkan Sella untuk mengikuti taksi tersebut.
"Kamu yakin kan, Don?",tanya Sella yang fokus mengemudi dan melihat taksi di depan mata.
"Yakin 100% Sel. Jangan sampai lolos Sel!",kata Dony memastikannya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil taksi berhenti disebuah gedung bertingkat tinggi yang cukup baru untuk wilayah tersebut. El segera turun dari taksi.
"Lebih baik kamu turun dulu, Don!. Biar aku yang memarkir mobilnya!", perintah Sella.
"Ok, nanti aku kabari dimana aku berada!",jawab Dony yang langsung membuka pintu mobil dan mengikuti kemana langkah El berjalan.
El berjalan dengan tergesa-gesa, ia memikirkan keadaan Sam saat ini. Pikirannya dipenuhi oleh Sam yang terus ada di bayangannya.
Ting.
Pintu lift terbuka. Ia segera masuk dan menutup pintu lift.
Dony berhenti tepat di depan pintu lift. Ia melihat angka yang terus berganti. Dan ia menemukan lantai dimana El berhenti. Ia segera masuk ke lift sebelahnya. Ia tidak mau sampai ketahuan mengikuti El sampai di apartemen ini. Ia tidak lupa mengirim pesan kepada Sella untuk segera menyusulnya.
El baru saja keluar dari lift. Ia berjalan menuju apartemennya yang ada di paling pojok.
Dony baru saja juga keluar dari lift. Ia melihat El yang berjalan lurus menuju apartemen yang berada paling pojok. Dony terus mengabari Sella yang sedang menuju keatas.
El langsung membuka pintu apartemen. Ia tercengang melihat keadaan apartemen yang kacau balau. Semua furniture pecah dan barang-barang berantakan kemana-mana.
Ardi yang melihat El masuk, langsung menghampirinya. "Mbak El, Mas Sam sedang ada di kamar Mbak El!",kata Ardi.
El masih terdiam melihat apartemen ini seperti sampah yang tidak digunakan lagi. "Kenapa dia melakukan ini semua Pak?",tanya El yang masih melihat ke sekeliling.
"Mas Sam mengikuti Mbak El kemana Mbak El pergi!",jawab Ardi.
El lemas, ia mencari topangan untuk bisa berdiri tegak. Tubuhnya seperti terkena pukulan yang bertubi-tubi. Kenapa dia melakukan itu semua?. Buat apa coba? pikir El. Ia segera berlari kedalam kamarnya.
Disisi lain Dony berdiri di depan pintu. Ia sambil melihat situasi keadaan didalam. Keadaan di dalam sungguh memprihatinkan.
Sella tiba-tiba datang berjalan ke arah Dony. "Bagaimana Don?",tanya Sella yang mengendap-endap melihat keadaan di apartemen.
__ADS_1
"Sepertinya Sam ngamuk dan marah besar. Semua barang-barang pecah berantakan",jawab Dony.
"Ya sudah, kita masuk saja!",ajak Sella yang langsung membuka pintu.
Dony mengikuti langkah Sella masuk kedalam.
Ardi yang melihat dua orang masuk apartemen langsung menghampirinya. Dan beliau kaget, ternyata ada kedatangan tamu yang sangat jauh. "Mas Dony. Mbak Sella!",kata Ardi.
"Dimana El?",tanya Sella.
"Mbak El sedang ada dikamar Mbak!",jawab Ardi. "Mas Dony, lama tidak berjumpa. Apa kabar mas?",tanya Ardi balik.
"Alhamdulillah baik Pak. Lalu Sam ada dimana Pak?",tanya Dony.
"Mas Sam ada di dalam kamar Mbak El, Mas!",jawab Ardi.
Disisi lain El terkejut melihat keadaan Sam yang sedang duduk bersimpuh di lantai dekat meja nakas. Sam sedang memandang sebuah foto dirinya dengan El. Dan tangan kiri Sam memegang sebuah cincin permata yang bertulis nama Samuel. Langkah El berhenti tak kala melihat Sam yang begitu serius memandang foto itu.
"Sebenarnya kamu siapa?. Kenapa kamu begitu mesra sama aku?",tanya Sam dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
El terdiam mendengar pertanyaan dari Sam. Ia merasakan sesak di dalam dadanya. Beginikah rasanya bila kita sudah jatuh hati kepada seseorang?.
"Kenapa diam, hah!",bentak Sam yang sudah tidak sabar lagi. "Kenapa kamu mempunyai cincin permata dengan bertuliskan namaku!. Siapa kamu sebenarnya!",lanjut Sam dengan nada tinggi. Ia bangkit dari tempat duduknya. Ia memandang tajam kearah El.
El meneteskan air matanya. Rasanya begitu menyakitkan terus menerus membohonginya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya terasa kelu.
"Apa kamu tunanganku?",tanya Sam lemas yang masih memandang El begitu dalam.
El terus menerus meneteskan air matanya. Kalau saja Sam tahu yang sebenarnya, apa ia masih dianggap sebagai tunangannya?.
"Jawab!",bentak Sam.
Disisi lain Sella dan Dony mendengar beberapa kali El di bentak oleh Sam. Mereka ingin sekali masuk melerai pertikaian yang terjadi, tetapi mereka di cegah oleh Pak Ardi.
"Kalau kamu tunangan ku, kenapa kamu pergi bersama laki-laki lain yang berbeda-beda!. Kenapa!",tanya Sam dengan nada tinggi. "Arghhhhhhh!",teriak Sam yang merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ia membanting foto kesembarang tempat.
Pyarrr....
El menutup mulut tidak percaya. Haruskah Sam membanting fotonya bersama dia. "Sam, aku bisa jelasin semuanya!. Semuanya!. Tapi, aku mohon kamu tetap tenang. Aku mohon!",mohon El memelas.
Kepala Sam seakan ingin pecah. Terasa menyiksa tubuhnya. Ia tidak henti-hentinya memegang bekas lukanya. "Jelasin apa lagi, hah!. Jelasin kamu sama laki-laki lain!",bentak Sam.
"Laki-laki siapa yang kamu maksud. Kemarin itu Kak Saga, dia sahabatku. Dan hari ini, aku bertemu dengan Dony. Dia juga sahabat aku, sahabat kita. Aku tidak ada hubungan apa-apa sama mereka. Percayalah sama aku?",jelas El yang mendekati Sam supaya tetap tenang.
"Kalau dia sahabat kita, lalu kemana aja mereka selama ini!",tanya Sam yang masih dengan nada tinggi. "Arghhhh!",jerit Sam kesakitan.
Disisi lain Dony dan Sella sudah tidak sabar lagi. Mereka memaksa ingin melihat situasi kamar.
"Kita tidak bisa membiarkan Sam menyiksa dirinya sendiri Pak?. Ini terlalu berbahaya buat dia!",ucap Sella.
"Aku setuju Sel. Kasihan Sam. Dia terus menerus kesakitan seperti itu!. Kita harus menolongnya!",kata Dony yang langsung masuk ke dalam kamar El.
"Tapi Mas?",cegah Ardi yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Dan Sella menyusul masuk kedalam.
"Sam!", panggil Dony yang melihat Sam dengan tatapan lembut.
Sam mengalihkan perhatiannya terhadap Dony. Laki-laki yang bertemu dengan El di restoran itu. "Kamu!",kata Sam.
***
Jangan lupa untuk komen, like dan vote.
Terimakasih.
__ADS_1