
Happy Reading.
***
Sam mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu El lagi.
"Ini lho Sam, wanita yang aku ceritain kemarin?",bisik William.
Sam menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya akan di jodohkan dengan El. "Ini gila Will!",sahut Sam sambil berjalan mundur. "Aku gak bisa?",tolaknya.
"Gila!. Maksud kamu apa?",tanya William.
Sam langsung berjalan menuju pintu kafe, ia memegang handel pintu.
"Kalau kamu keluar dari kafe ini, kita tidak akan bertemu lagi!",teriak El yang sudah berkaca-kaca.
Deg. Sam langsung diam ditempat. Ia menarik tangannya kembali yang tadi sempat memegang handel pintu.
William yang ada di tempatnya merasa bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?.
"Apa kamu tidak mau untuk sekedar menyapaku?. Apa kamu tidak mau tahu, bagaimana kabarku selama dengan Kakak kamu?",teriak El sambil terisak-isak. Ia tertunduk, merasakan hatinya sesak.
Sam masih diam ditempatnya. Ia ingin mendengar apa yang dirasakan El selama tiga tahun ini.
"Maafin aku Sam.... Maaf !",ucap El terbata-bata sambil menangis.
Adele yang mendengar itu langsung keluar dari dapur. Ia melihat El menangis terisak-isak.
"Sam apa maksud dari El?",tanya William yang mendekati Sam. Ia meminta penjelasan semua ini.
"Aku tahu Sam, aku salah?. Tapi kamu tidak perlu membalaskan semua ini dengan cara seperti ini?. Kamu terlalu jahat, Sam!",kata El sambil menangis. Hiks... Hiks...
Sam berjalan mendekati El. "Memang aku jahat, El?. Itu semua gara-gara kamu?. Kamu yang membuat aku seperti ini!",sahut Sam dengan amarah yang luar biasa. "Kamu gak tahu bagaimana rasa sakit hatiku selama tiga tahun ini?. Kamu gak tahu bagaimana aku bisa menjalankan dan melanjutkan hidupku tanpa kamu?. Kamu gak tahu, El?. Setiap malam aku selalu berdoa sama Tuhan, supaya aku bisa menghapus memori-memori tentang kamu?. Kalau perlu bisa hilangkan ingatanku sekalipun tentang kamu?. Tapi, Tuhan tidak mengabulkan doa-doaku. Aku selalu tersiksa dengan perasaanku sendiri?. Sakit El.... Sakit....!",ucap Sam menjelaskan.
El menangis sejadi-jadinya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia mencoba meredakan tangisnya.
Sam melihat cincin tunangan yang tersemat di tangan kiri jari manis El. Ia sadar, bahwa dia sekarang sudah bertunangan dengan Kakaknya. "Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa tentang semua ini!. Semua sudah jelas. Kamu tidak perlu lagi mengungkit masa lalu, karena masa lalu yang dulu kita hiasi dengan kenangan-kenangan yang indah sekarang sudah terkubur rapi di relung hatiku. Dan tanda cincin itu sudah menjelaskan semuanya!",ucap Sam kesal.
El membuka matanya dan menurunkan kedua tangannya. Ia langsung melihat cincin yang tersemat di tangan kiri jari manisnya.
"Aku cukup tahu diri El?. Sekarang kamu sudah bertunangan dengan kakakku?. Aku akan berusaha bisa menerima kamu sebagai Kakak iparku. Karena selama tiga tahun ini, aku mencoba untuk bisa menjadi seseorang yang lebih ikhlas lagi, walaupun itu sangat susah bagiku!",kata Sam yang langsung berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
"Apaan nih?. Aku benar-benar gak ngerti maksud kalian?",teriak William yang merasa bingung.
Sam memegang handel pintu.
"Tunggu!",teriak El.
"Apa lagi mau kamu, El?",tanya Sam yang masih memegang handel pintu. "Apa kamu kurang puas untuk menyakiti hatiku?",lanjutnya.
El langsung berjalan menuju Sam. Ia melewati Adele dan William. Padahal mereka berdua sedang menunggu penjelasan dari El. Tetapi, El tetap berjalan mendekati Sam yang sedang berdiri diambang pintu. "Kamu harus tahu ini?",ucap El yang ada dibelakang Sam.
Sam langsung menghadap ke arah El. Ia melihat El sedang melepaskan cincin pertunangannya.
"Kamu gak seharusnya melakukan ini semua?. Karena selama ini aku menunggu kamu, Sam?",kata El. Ia memegang tangan Sam dan meletakkan cincin pertunangannya di tangan Sam. "Karena, hanya nama kamu yang selalu ada di hatiku. Walaupun itu semua sudah terlambat buat aku!",lanjutnya.
Sam menerima cincin pertunangan El. Ia melihat sebuah nama di balik cincin itu. Samuel. Deg. Jantung Sam seakan tidak berdetak. Ia tidak menyangka bahwa El akan melakukan ini. Cincin yang dulu ia berikan kepada El, ternyata selama ini El sematkan di jari manisnya.
"Maafin aku Sam?... Maaf...?",ucap El lirih.
Sam bergegas keluar dari kafe itu. Ia langsung naik mobil dan mengendarai dengan kecepatan tinggi.
"Sam.... Sam....!",panggil William.
El terduduk lemas di depan pintu kafe. Hiks... Hiks... Tangisannya pecah.
"El...!",teriak Adele yang berlari dan membantu El untuk bisa berdiri. "Yuk... Aku bantu kamu?",kata Adele memegang lengan El.
"Del, jagain El ya?. Aku ngejar Sam dulu?",kata William.
"Oke. Hati-hati ya?",jawab Adele.
El langsung memegang lengan William, ia butuh penjelasan dari William. "Jangan pergi Will?. Aku mohon?",mohon El.
William langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia juga butuh penjelasan dari El.
***
"Shiittttttttttt!",umpat Sam sambil memukul stir mobil. "Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?. Aku sudah berusaha mati-matian untuk mengubur hidup-hidup perasaanku ini?. Tapi tiba-tiba perasaan itu muncul lagi!. Bangsattttttt!",umpat Sam berkali-kali. Ia mengusap wajahnya dengan keras. Ia melihat sebuah cincin permata yang ia letakkan di depannya itu. "Apa mau kamu El?. Kamu sudah menyiksa aku selama ini, dan kamu juga akan menyiksa Kakakku dengan cara seperti ini?. Apa yang sebenarnya terjadi?",kata Sam yang sudah sangat frustasi.
***
El duduk di kursi pengunjung bersama William. Ia meminta tolong kepada Adele untuk berjaga di meja kasir. Ia tidak mau gara-gara masalah ini, managernya marah.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Sam, El?",tanya William serius.
"Maaf Will, aku tidak bisa menjelaskan secara detailnya",jawab El. "Justru aku mau tanya sama kamu, ada hubungan apa kamu sama Sam?",tanya El balik.
"Aku sama Sam bersahabat cukup lama. Tapi kita jarang bertemu, paling lewat komunikasi doang",jawab William santai. "Apakah kamu daru masa lalunya Sam?",tanyanya.
"Kita dulu bersahabat, bahkan seperti lem dan prangko. Kita tidak akan terpisahkan. Tapi, karena sebuah kesalahan, aku dan dia seperti orang asing yang tidak pernah saling kenal. Aku sadar, aku yang salah. Aku yang selalu mementingkan egoku dan tidak menghargai perasaannya",ungkap El.
"Aku gak nyangka kalau wanita yang di ceritakan oleh Sam selama ini adalah kamu. Wanita yang cantik, anggun dan baik hati!",jawab William. "Jadi laki-laki yang jemput kamu itu adalah Kakaknya Sam?",tanyanya.
"Iya, maaf ya, aku bohong sama kamu!",jawab El tidak enak.
"Kenapa kamu bohong sama aku?. Bukankah kita adalah sahabat?",tanya William.
"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf sama kamu, Will?. Aku gak bermaksud nyakitin hati kamu, tapi aku gak mau menambah beban pikiran kamu!. Cukup Adele dan Jo yang tahu masalah aku dan Kak Edwan?",ungkap El minta maaf.
"Jadi mereka berdua tahu masalah kamu?",tanya William tidak percaya.
"Iya. Mereka berdua tahu. Aku gak tahu lagi harus cerita sama siapa lagi. Yang pasti, aku juga terpaksa bertunangan dengan Kak Edwan",ungkap El.
"Maksud kamu apa?. Aku gak ngerti?",tanya Edwan balik.
"Karena aku bertunangan sama dia, karena sebuah ancaman!",kata El.
"Ancaman. Kak Edwan ngancam kamu?",tanya William lagi.
"Iya. Dia ngancam aku. Aku gak bisa nolak pada saat itu, karena itu menyangkut harga diri keluarga aku. Aku bingung Will, disatu sisi ada hati yang sangat terluka gara-gara pertunangan ini?. Akhirnya aku menyerah, Will?. Menyerah dengan semua takdirnya. Aku ingin buktikan bahwa aku baik-baik aja, tapi, aku sedang tidak baik-baik aja. Aku gak mau persahabatan Kak Edwan dan Abang aku jadi rusak cuma gara-gara aku, cukup persahabatan aku dan teman-teman aku yang hancur",ungkap El yang membuat hatinya teriris.
William memegang tangan El memberi kekuatan. "Aku gak nyangka, ternyata masalah hidup kamu serumit ini. Aku akan bantu kamu untuk baikkan sama Sam?",ucap William.
"Gak usah Will. Dia pasti gak mau ketemu sama aku lagi!",sahut El. "Tapi aku udah lega, karena udah ngasih cincin itu sama dia",kata El.
"Cincin itu pasti sangat berhargakan buat kamu?",tanya William.
"Iya, sangat berharga dari apapun. Makasih ya Will, kamu udah pertemuankan aku sama dia?. Walaupun tanpa kamu sengaja. Tapi aku bersyukur, sudah bertemu dia empat mata!",kata El.
"Sama-sama El. Aku juga gak tahu, kalau kalian saling kenal. Mungkin ini semua adalah takdir",jawab William.
***
Jangan lupa komen like dan vote.
__ADS_1
Terimakasih.