Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Kehilangan


__ADS_3

Happy Reading.


***


El membuka pintunya dengan cepat. Ia menangis di balik pintu.


Hiks... Hiks...


"Apa yang terjadi dengan pak Sam mbak?",tanya Ardi khawatir.


El masih terdiam dan menangis sejadi-jadinya.


"Mbak El!",tanya Ardi memaksa. Ia lalu membuka pintu dan melihat kondisi Sam.


Sam sedang menangis dengan keadaannya. Ia tidak sanggup untuk mengingat apapun itu.


"Mbak El, apa yang terjadi di dalam?",tanya Ardi cemas.


"Saya menyerah pak!. Saya tidak akan pernah bisa bersatu sama Sam!. Percuma, kalau saya terus berusaha untuk menyembuhkan Sam. Karena kita tidak akan pernah mendapat restu dari orang tuanya Sam!",kata El sambil menangis. Ia tidak sanggup lagi untuk berbicara. Ia saat ini benar-benar tertekan.


Ardi kaget kalau El akan mengatakan itu. Ia lalu memegang kedua bahu El dengan kuat. "Mbak yakin!. Apa mbak El tidak kasihan sama Sam!. Ingat mbak, kalian telah bersahabat cukup lama. Mungkin Sam saat ini benar-benar butuh mbak El!",ucap Ardi meyakinkan El.


"Tapi Pak, saya tidak mau kalau mereka mencari-cari kesalahan saya apa lagi menyangkut keluarga saya. Saya merasa dipojokan sama keluarganya. Bapak tahu itu!. Saya sudah tidak diizinkan untuk bertemu Sam!. Kalau mereka tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya!. Itu membuat saya merasa tertekan oleh keadaan Pak!",jawab El sambil menangis melawan sesak di dalam dadanya.


"Mbak, saya akan membantu mbak El semampu saya!. Saya akan melindungi mbak El. Saya janji itu mbak!",ucap Ardi serius.


Hiks... Hiks... El menangis terisak-isak. Ia melihat Sam dari balik pintu yang masih sedikit terbuka. Di sana Sam sedang memegang kepalanya sambil menangis.


"Mbak, saya mohon mbak?",ucap Ardi meneteskan air mata. "Ini demi kebaikan Sam mbak?",lanjut Ardi sedih.


"Tapi kalau saya menyerah pak?",ucap El lemas.


"Pak Sam tidak akan membiarkan hal itu terjadi!",jawab Ardi yakin.


El menelan ludahnya dengan susah payah. Ia berjalan menghampiri Sam yang masih duduk di ranjang sedang frustasi.


Sam melihat El berjalan kearahnya. Sorot matanya tajam melihat El yang lemah berjalan kearahnya. "Kenapa kamu kembali lagi?. Bukankah kamu mau pergi!",bentak Sam marah.


El tetap berjalan kearah Sam. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi, yang membuat Sam menjadi lebih tenang menghadapi musibah ini.


"Pergi!.... Pergi dari ruangan ini!",bentak Sam keras.


El tidak peduli lagi. Ia benar-benar kehilangan arah dan tujuan.


"Pergi!",bentak Sam lagi. "Jangan dekati aku lagi!. Kamu cuma pembohong ulung yang ada di dalam hidupku!", lanjut Sam dengan amarah yang tidak bisa di kontrol.


El meneteskan air matanya. Sesakit ini, kalau kita di caci dan di maki oleh orang yang kita sayang!. Tuhan, bolehkah aku bertukar peran di sini?.


"Berhenti!. Aku bilang berhenti di sana!", bentak Sam yang sudah kehilangan kesabaran. "Berhenti!",lanjutnya.


El masih terus berjalan kearah Sam berada.


Sam tidak bisa lagi tenang. Kepalanya begitu sakit yang tidak bisa di tahan. "Auw.... Auw....!",rintih Sam kesakitan. Ia kemudian mengambil sebuah pot bunga yang terdapat di nakas samping ranjang. Ia lalu melemparkan ke sembarang yang mengarah kepada El yang berjalan kearahnya.


Pyaar!.


Pot bunga itu melayang dengan sempurna di kening El. Darah segar mengucur ke pipi manisnya hingga sampai di tangannya.


Ardi yang melihat adegan itu langsung menangkap El dengan sigap. Ia terlalu terlambat untuk menolong El menghindari pot bunga itu. "Mbak El!",panggil Ardi khawatir.


El jatuh kedalam pelukan Ardi. Ia sangat syok melihat darah mengalir dari keninganya. Ia melihat cahaya yang semakin lama semakin gelap.


"Mbak El!",panggil Ardi beberapa kali. Lalu ia membopong El ke IGD sambil berlari mencari bantuan para suster.


Sam melihat darah segar di lantai yang bercucuran. Ia lalu mengingat-ingat sebuah kejadian naas di dalam sebuah pesawat. "Auw.... Auw... Auw....!",teriak Sam.


Para suster langsung berlari ke ruangan Sam. Ia memberikan suntikan obat tidur pada jarum infus.


***


IGD.


Ardi berjalan kesana dan kemari untuk menenangkan pikirannya. Sebelum ia menunggu di ruang tunggu depan IGD, ia terlebih dahulu memberikan informasi kepada para suster untuk menenangkan sang majikannya.


Ia mencoba mencari ponsel El ke dalam tas El. "Maafkan saya mbak El, sudah membongkar isi tas kamu!",kata Ardi pada dirinya sendiri. Ia kemudian menemukan sebuah ponsel dan mencari nomer ponsel Sella sang sahabat.


Ia menekan nomer Sella.


Tut... Tut... Tut...


"Assalamualaikum sayang, ngapain tengah malam telepon aku?",sapa Sella yang masih ada di balik selimut.


"Walaikumsalam mbak!",jawab Ardi cemas.


Sella yang mendengar suara cowok langsung melihat layar ponselnya. 'Ellena Sayang'. Ia merasa ada yang janggal dengan suara itu. "Ini bukankah nomer hpnya El?",tanya Sella khawatir.

__ADS_1


"Iya mbak, saya Ardi!", sahut Ardi cepat.


Sella yang masih di balik selimut langsung duduk dengan tegak. "Pak Ardi, ada apa bapak tengah malam telepon saya?. Apakah ada sesuatu terjadi sama El?",tanya Sella yang sudah tidak sabar.


"Iya mbak. Mbak El sekarang masuk di ruang IGD!".


"Apa?",jawab Sella kaget.


"Sekarang saya mohon, mbak datang kemari ya?. Saya tunggu!".


"Ok Pak. Assalamualaikum!",pamit Sella yang langsung mematikan ponselnya.


Ardi duduk di kursi ruang tunggu. Ia memasukkan ponselnya lagi kedalam tas. Ia tidak sengaja melihat sebuah kotak cincin. "Maafkan aku mbak, udah berani membuka privasi mbak El!",kata Ardi pada dirinya sendiri. Lalu ia membuka kotak cincin itu. Di sana masih terselip surat kecil yang dilipat sangat kecil. "Kertas apa ini?",tanya Ardi. Ia lalu membuka dan membaca surat itu. Ada dua lembar kertas surat. Ardi membaca dengan serius.


Beberapa menit kemudian.


Sella berlari menghampiri Ardi yang tengah serius membaca sesuatu. "Pak Ardi!",panggil Sella.


"Mbak Sella!",ucap Ardi gelagapan. Ia kemudian melipat kertas tadi dan memasukkan ke dalam tas.


"Itu bukankah tasnya El?",tanya Sella yang merebut tas yang di pegang Ardi. "Iya, ini tas El. Bapak ngapain buka-buka tas milik El?",tanya Sella curiga.


"Maafkan saya mbak. Saya lancang membuka-buka tas milik mbak El. Tapi, saya mau cari sebuah petunjuk mbak, supaya mas Sam segera sembuh dari amnesianya!",jelas Ardi meminta maaf.


"Pak, amnesia itu lama penyembuhannya!. Tidak langsung instan. Semua ada proses-proses!",jelas Sella.


"Tapi bagaimana kondisinya mas Sam, mbak?. Saya tidak akan tega beliau dikhianati oleh kakak kandungnya sendiri!",sahut Ardi.


"Dikhianati kakak kandungannya sendiri atau tidak, itu bukan urusan bapak!. Apa untungnya sih buat bapak!".


"Saya tahu mbak. Tapi, saya menemani mas Sam berjuang dari nol sampai ia sukses seperti ini. Saya tidak mau, usaha yang di bangun oleh mas Sam hancur sia-sia, karena satu orang yang tidak suka sama mas Sam!", ungkap Ardi.


"Saya tahu bapak ikut andil dalam usahanya Sam. Tapi, mau bagaimana pun yang berkuasa saat ini adalah keluarganya, bukan orang lain!".


Ardi tertunduk. Perkataan Sella ada benarnya. Semua yang berkuasa disini bukan sopir ataupun oranglain apa lagi hanya asisten pribadinya Sam.


"Lalu buat apa bapak mengambil kertas ini?. Supaya Sam sadar, bahwa El adalah tunangannya?",tanya Sella.


"Maunya begitu mbak!".


"Pak, bapak percaya sama keajaiban cinta?. Kalau mereka berdua memilih sebuah ikatan, apapun rintangan dan halangan, pasti mereka bisa melaluinya bersama!".


"Iya mbak, saya percaya itu. Tapi, mungkin setelah kejadian seperti ini, mbak El tidak akan menyukai mas Sam lagi!",jelas Ardi.


"Karena tadi mas Sam melempar sebuah pot bunga kearah mbak El!",kata Ardi.


"Apa!. Kok bisa!. Benar-benar gila ya tuh Sam!",marah Sella.


"Mungkin dia tidak sengaja mbak!".


"Tidak sengaja bagaimana?. Dia sudah melempar pot lho pak ke El?. Bagaimana bapak bilang tidak sengaja!. Saya harus membuat perhitungan sama Sam!",kata Sella yang langsung berjalan cepat keruangan Sam.


"Mbak.... Mbak... Mbak Sella!",panggil Ardi mengejar berlari.


Sella terus berjalan menuju ruangan VVIP. Ia sudah tidak bersabar diri menghadapi kelakuan Sam saat ini.


"Mbak, mas Sam sedang sakit saat ini. Mungkin beliau masih belum terima tentang kondisinya!",ucap Ardi menjelaskan keadaan Sam.


"Bapak lebih baik diam saja. El sudah menderita gara-gara dia dari dulu!. Apakah masih belum cukup!",sahut Sella tidak terima kalau El selalu dipojokan.


"Mbak, saya mohon!. Jangan!",ucap Ardi.


Sella dengan kasar membuka pintu kamar ruangan Sam.


Duar!.


Suara pintu bertemu dengan tembok yang cukup keras.


Dan.


Sella berhenti sejenak melihat keadaan kamar yang kacau balau.


Ardi ikut berhenti melihat kamar yang seperti kapal pecah. "Mas Sam!",ucap Ardi yang khawatir tentang keadaan Sam.


Sam terduduk di dekat sofa yang sudah berwarna merah menyala karena sebuah darah yang keluar dari kepala Sam. Ia seperti orang yang sudah kehilangan arah dan tujuannya. Ia menangis dan merintih kesakitan.


Ardi segera membawa Sam ketempat ranjangnya. Ia segera menekan tombol menghubungi para suster.


Sella yang merasa melihat keadaan Sam prihatin. Ia tidak tega akan memarahinya. Ia masih membeku didepan pintu kamar.


Para suster dan dokter langsung memberikan tindakan pertama. Ardi dan Sella di tidak boleh ada di dalam ruangan.


Ardi memegang lengan Sella untuk keluar dari ruangan. "Ayo mbak Sella!",ajak Ardi.


Suster segera menutup pintu kamar ruangan.

__ADS_1


Sella masih syok dan teringat akan kejadian tadi. Ia menempelkan tubuhnya ketembok supaya bisa berdiri dengan tegak.


"Lebih baik mbak Sella menunggu mbak El yang ada di IGD. Biar saya yang menjaga mas Sam!",ide Ardi.


"Apa Pak Ardi takut, kalau saya ada di sini?. Dan kedua orangtua Sam tahu bahwa El berkunjung disini?",tanya Sella.


"Mereka tidak akan tahu bahwa mbak El berkunjung kesini mbak. Saya sudah membereskan semuanya!",jawab Ardi tegas.


"Terus saya harus membanggakan diri, kalau Pak Ardi mampu membereskan semuanya!",sahut Sella tidak terima atas perlakuan Sam terhadap El. Ia langsung pergi meninggalkan Ardi yang menunggu di depan ruangan VVIP.


***


Keesokan Hari.


El membuka matanya pelan. Rasa perih kini menjalar ke seluruh tubuh. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang berwarna putih. Rumah sakit. Ia melihat Sella yang masih tertidur di kursi dekat ranjangnya. "Sella".


Sella yang mendengar suara sayup-sayup langsung terbangun. "Alhamdulillah El. Kamu sudah sadar?",kata Sella.


"Apa yang terjadi, kenapa aku bisa terbaring disini?",tanya El bingung. Ia memegang kain perban di keningnya.


"Ceritanya panjang. Mau minum?",tawar Sella.


"Boleh".


Sella mengambil segelas air putih dari nakas. Ia memberikan kepada El.


El dengan setengah duduk meneguk gelas air putih. "Terimakasih Sel?".


"Sama-sama",jawab Sella.


Tring... Tring...


Ponsel El tiba-tiba berdering. Sella dengan sigap mengambil dari tas El. Kak Saga.


"Dari siapa Sel?", tanya El.


"Dari Kak Saga".


El mengambil dari tangan Sella. Ia segera mengangkatnya. "Assalamualaikum Kak!".


"Walaikumsalam El. Kamu dimana?. Kamu sudah pulang?".


"Aku masih dirumah sakit Kak".


"Kamu tidak kerja?".


"Aku beberapa hari mau minta cuti dulu".


"Kenapa?".


"Tidak apa-apa Kak".


"Gara-gara Sam?",tebak Saga.


"Tidak Kak. Kakak ada dimana?",tanya El mengalihkan perhatian.


"Kakak masih dirumah sakit!".


"Kakak tidur di mobil?".


"Iya. Aku khawatir sama kamu. Makanya kakak tidur didalam mobil".


"Astaga Kak. Maafin aku ya Kak, aku gak tahu Kakak masih disini".


"Tidak masalah. Kamu baik-baik saja?", tanya Saga curiga.


Sella merasa ada yang janggal dengan perkataan El. "Kak lebih baik Kakak masuk aja!. El sakit Kak!",teriak Sella.


"Itu bukankah Sella El?",tanya Saga.


"Sella, ngapain kamu bilang?",bisik El kepada Sella.


"Habisnya kamu gak bilang-bilang sama Kak saga!",sahut Sella.


El menghela nafasnya, kesal. "Iya Kak. Dia Sella".


"Kamu sakit?. Sakit apa?. Kamu dimana?",panik Saga yang langsung keluar dari mobil.


Sella yang ada disamping El tertawa puas. Ia sangat senang untuk bisa mengerjai El dengan Kak Saga.


***


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2