Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Berusaha


__ADS_3

Happy Reading.


***


Tangan mereka saling menyentuh satu sama lain. Dan mata mereka bertemu mengisyaratkan rasa rindu yang tidak akan pernah terbalaskan.


"Hm... Hm...!". Justin berdehem membuyarkan lamunan El dan Sam.


El segera menarik tangannya dari meja dan menundukkan kepalanya malu.


"Maaf!",ucap Sam yang tersadar akan tangannya yang nakal itu. Ia lalu mengambil kapas yang sudah di berikan alkohol untuk membersihkan luka El. Ia lalu melihat Justin yang masih berdiri di samping Sam. "Pak Dokter ngapain masih di sini?",sindir Sam supaya Justin sadar diri.


"Oh...maaf Pak. Saya permisi dulu!",kata Justin meruntuki kebodohnya dan pergi.


Sam dengan perlahan mengobati luka El. "Maafkan Kak Edwan ya sudah membuat kamu seperti ini?".


"Tidak apa-apa. Mungkin Kak Edwan masih mempunyai rasa dendam sama aku, makanya dia melakukan hal seperti ini",jawab El yang mencoba menahan perasaan yang tidak menentu.


"Dan maaf kalau aku datang terlambat untuk menolong kamu!",lanjut Sam yang tidak henti-hentinya melihat wajah El.


El menjadi salah tingkah. "Lebih baik aku obati luka aku sendiri ya?",minta El. "Aku tidak enak sama lainnya!",lanjut El sambil melihat sekitarnya.


"Kenapa, kamu tidak suka?".


"Bukan. Bukan itu maksudku, hanya saja aku tidak enak di lihati sama semua karyawan kamu",lirih El tidak enak.


"Memangnya kenapa?. Bukankah kita sudah tidak ada lagi hubungan spesial?",sahut Sam.


"Aku tahu itu. Kita hanya rekan sesama karyawan dan bos. Tapi, aku takut kalau mereka mengira kita masih mempunyai hubungan spesial. Karena semua orang tahu kalau kamu sudah menerima Laura sebagai tunangan kamu. Makanya, aku tidak mau ada fitnah",jelas El supaya tidak ada salah paham.


"Ok!",jawab Sam yang langsung memberikan kapas ke tangan El. "Kamu obati saja sendiri!",lanjut Sam yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


El bingung dengan tingkah laku Sam. Haruskah Sam membiarkan aku mengobatinya sendiri?.


"Kamu masih bisa kan?",tanya Sam menunggu.


El menundukkan kepala. "Iya, aku masih bisa kok!",jawab El tanpa melihat sorot mata Sam.


"Baik. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku yang masih terbengkalai!",jelas Sam yang pergi meninggalkan El sendiri.


El melihat kepergian Sam. Ia tidak menyangka bahwa Sam sudah memberikannya jalan untuk bebas dari kehidupannya.


Kamu bebas menentukan apa yang kamu inginkan, El. Aku sudah tidak berhak lagi berada di sampingmu saat ini. Kamu yang memilih untuk pergi dari sampingku dan aku masih menunggu kamu berada di sampingku kembali! batin Sam yang berjalan meninggalkan El.


***


Kabar mengenai penangkapan Edwan sudah tersebar di media cetak maupun media elektronik. Disana banyak keterangan yang bermunculan tentang penangkapan Edwan seperti korupsi, pertengkaran, pelecehan seksual, pencemaran nama baik dan tentang perselingkuhan. Dimana-mana selalu membuat statement yang berbeda-beda.


"Sayang kenapa kamu melaporkan Kakak kamu sendiri?",tanya Violla yang sudah duduk di sofa ruang CEO.


"Biarkan Ma. Biarkan Kakak merasakan hotel bintang lima!",jawab Sam santai.


"Kamu tidak sadar, mereka diluaran sana membuat statement yang aneh-aneh tentang Kakak kamu. Lalu kamu mau buat konferensi pers kapan sayang?. Kasihan Kakak kamu!",kata Violla sedih.


"Itu semua kan benar adanya. Ngapain Mama sangat mencemaskannya, toh Kakak melakukan semuanya".


"Itu tidak benar sayang!. Dia anak Mama dan dia juga Kakak kandung kamu".


"Kalau dia Kakak kandungku, mana mungkin dia akan menghancurkan perusahaanku Ma!. Melukai para sekertaris yang bekerja disini. Mama bisa bayangkan, mereka bisa menuntut Kakak secara adil loh Ma?. Kakaknya aja yang sudah tidak ada akhlaknya. Cuma mikirin si Chika itu!",kesal Sam pada Violla yang terus menerus membela Edwan.


"Tapi keluarga kita akan tercoreng dengan nama yang tidak baik sayang. Mama tahu Kakak kamu melakukan banyak kesalahan, tapikan bukan seperti ini hukumannya".


"Lalu apa Ma?",tanya Sam balik. Lalu memberikan berkas-berkas keuangan yang di gelapkan oleh Edwan. "Mama bisa cek sendiri!".

__ADS_1


Violla dengan cepat mengambil berkas-berkas yang ada di atas meja. Ia tercengang melihat angka-angka yang berjejeran dengan rapi. Ia sampai tidak percaya dan membolak-balik kertas. "Ini kelakuan Kakak kamu?",tanya Violla.


"Iya Ma. Tagihan itu belum termasuk saham-saham yang telah di jual kepada perusahaan lain. Dan aku harus ganti rugi yang cukup banyak. Mama masih ingin membelanya?",ucap Sam.


Violla melemparkan berkas-berkas yang di gelapkan oleh anak sulungnya itu dengan kasar ke atas meja. "Tagihannya terlalu banyak untuk membeli keperluan wanita murahan itu!. Mama sampai bingung bagaimana menyingkirkan wanita murahan itu!".


"Mama mau menyingkirkan dia. Mana mungkin Mama bisa. Anak Mama aja yang tergila-gila sama dia!",jelas Sam tidak yakin.


"Lalu dimana semua uang yang dikeluarkan oleh Kakak kamu?. Pasti buat wanita murahan itu!",marah Violla.


"Dia seharusnya sudah bisa mikir Ma. Mana yang baik dan buruk. Apa lagi sama wanita matre itu!. Udahlah Ma, Sam lelah. Sam mau keluar sebentar!".


"Mau kemana sayang?".


"Sebentar saja kok Ma!",pamit Sam yang langsung pergi meninggalkan ruangan.


***


Disisi lain El sedang menunggu Tamara yang sedang istirahat karena efek dari obat biusnya.


Dret... Dret... Dret...


Sebuah panggilan masuk. El segera mengangkat teleponnya. "Assalamualaikum!".


"Walaikumsalam El. El, apa benar di berita bahwa Edwan di tangkap oleh polisi?",tanya Saga yang ada di seberangsana.


"Iya Kak".


"Kok bisa, bagaimana ceritanya?",tanya Saga yang tidak sabar menunggu penjelasan dari El. "Maaf... maaf...maaf...aku terlalu antusias mendengarkan penangkapan terhadap Edwan!".


"Tidak apa-apa kok Kak. Aku hanya saja tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan keluarga Sam".


"Maaf ya?".


"Tidak apa-apa Kak".


"Iya Kak. Kemungkinan begitu setelah hasil magang aku di perusahaan Sam keluar, aku akan pergi dari negara ini. Dan aku tidak akan lagi melihat Sam ada di sampingku sekarang!",kata El sedih.


Disisi lain Sam sedang berdiri di tirai yang hanya sebagai pembatas. Ia mendengarkan perbincangan antara El dan Saga. Hatinya tersayat pilu, sebesar itukah El akan melupakannya.


"Setelah aku lulus wisuda, aku akan pulang Kak ke Indonesia. Aku ingin melupakannya, melupakan semua tentangnya yang ada di negara ini maupun London. Apakah nanti aku bisa Kak melewatinya?",ungkap El menahan rasa sakit yang ada di hatinya.


"Kamu pasti bisa El, kakak yakin itu!".


"Semoga ya Kak. Dan dia pasti akan bahagia dengan Laura Kak, wanita pilihan tante Violla".


Saga tidak bisa lagi berkata-kata. Ia lebih baik mendengarkan cerita-cerita dari El.


Sam yang masih di balik tirai meratapi hatinya yang pilu. Tapi aku tidak cinta El sama Laura. Laura hanya pelampiasan ku untuk membuktikan kepada Mama bahwa aku tidak akan mendekati kamu lagi. Karena aku tidak mau kamu terluka oleh ulah Mama maupun Kak Edwan. Aku ingin melindungi kamu dari ancaman mereka! pikir Sam lalu ia berjalan meninggalkan ruangan kesehatan.


***


Ardi mengantarkan Tamara dan El sampai di rumah Tamara. Ia ditugaskan oleh Sam untuk mengantar mereka berdua. Dan saat ini Ardi sedang memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Tamara. "Udah sampai mbak!".


"Iya Pak. Terimakasih banyak ya Pak. Saya sudah merepotkan Pak Ardi?",ucap Tamara sambil membukakan pintu mobil.


"Sama-sama mbak. Sudah menjadi tugas saya mbak!".


"Pak saya turun di sini saja ya!. Saya mau mengantarkan Mbak Tamara masuk kedalam rumah!",kata El.


"Jangan Mbak. Tadi katanya Pak Samuel langsung suruh pulang!",sahut Ardi cepat.


"Tapi Pak, kasihan Mbak Tamara".

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok El. Aku baik-baik saja. Luka kamu juga sakit kan. Lebih baik kamu segera istirahat ya, tadikan kamu tidak istirahat malah menungguku!",sela Tamara.


"Ya sudah kalau gitu!".


Tamara lalu menutup pintu mobil. "Dah... Dah... El...!".


"Dadah Mbak Tamara!",pamit El melambaikan tangan.


Ardi segera menancapkan pedal gasnya. Ia fokus membelah jalanan yang begitu padat. Ia sesekali melirik ke kaca spion untuk melihat El yang duduk di belakang. "Lukanya masih sakit ya Mbak?".


El menyandarkan kepalanya di punggung kursi sambil melihat kearah luar jendela. "Tidak Pak. Bapak pasti di suruh sama Sam ya?",cicit El.


Ardi hanya diam dan melirik sekilas lewat kaca spion.


"Aku tahu Pak ini berat bagi aku dan Sam. Tapi, aku juga tidak mau egois memaksa kehendakku sendiri. Sam pantas bahagia Pak bersama Mbak Laura, karena itu pilihan terbaik buat Sam!",jelas El.


"Tapi apakah mas Sam bisa mbak?".


"Bisa atau tidak, Sam harus bisa. Lalu kenapa Bapak bisa bekerja lagi di tempatnya Sam?. Itu karena usahanya Sam kan?. Maka dari itu, Sam juga harus bisa melepaskan ku, Pak",ungkap El.


"Boleh saya mengatakan sejujurnya?",tanya Ardi meminta pertimbangan.


"Silahkan!".


"Mas Sam tidak pernah mencintai Mbak Laura. Dia hanya pura-pura bersama Laura supaya Mbak El aman dalam situasi ini. Karena bagi Mas Sam, Mbak El adalah hal terpenting baginya!".


El memandang lampu yang bercahaya. Matanya berkaca-kaca mendengar pengakuan dari Ardi. "Itu tidak penting bagi saya. Yang saya harapkan sekarang adalah dia bersama Laura!".


Ardi hanya bisa diam dengan pemikirannya. Perjalanan mengantar El sampai asrama sudah selesai, El segera turun dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.


El berjalan menuju asrama. Ia menaiki tangga setapak demi setapak.


"El...!",panggil seseorang dari belakang.


El diam ditempat dan menoleh kebelakang. "Kak Saga!".


"Hai...!",sapa Saga yang berjalan menghampiri El. "Baru pulang?. Bagaimana lukanya?",tanya Saga beruntun.


"Kakak kok tahu?",tanya El bingung.


"Tadi aku dapat kabar dari Tamara. Aku langsung ke kantor, tapi kamu sudah pulang. Bagaimana masih sakit?",kata Saga khawatir.


"Mbak Tamara!. Dasar!",umpat El kesal. "Iya Kak, aku baru pulang. Soalnya tadi aku nganter Mbak Tamara dulu pulang. Lukanya tidak begitu parah kok!",jawab El santai. "Sudah, Kakak tidak usah khawatir!",lanjutnya


"Bagaimana kalau aku khawatir El?",tanya Saga serius dan menatap bola mata El begitu dalam.


El membalas tatapan mata Saga penuh dalam. Jantungnya begitu berdebar-debar.


"Tidak boleh!",sahut seseorang dari seberang jalan.


El dan Saga langsung mencari sumber suara. Di sana Sam berdiri dengan tegak di dekat sebuah tiang dengan kedua tangan masuk kedalam saku celana.


"Sam!". El tercengang melihat Sam ada disana. Ngapain malam-malam dia ada disini? pikir El.


Sam berjalan menghampiri mereka berdua dengan gaya santai.


"Kamu ngapain malam-malam disini?",tanya Saga yang kaget Sam ada di depan matanya.


"Aku mau kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan El!",kata Sam tanpa basa-basi.


El tercengang sekali lagi. Ia tidak percaya bahwa Sam akan membuat persaingan buat mendapatkan dirinya. Ia menelan ludahnya terasa sangat susah. Bagaimana ini, bagaimana kalau mereka akan bertarung lagi mendapatkan sebuah cinta dari seorang wanita. Ini tidak adil bagiku!.


***

__ADS_1


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.


__ADS_2