Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Menutup Hati


__ADS_3

Happy Reading.


***


El duduk di balkon setelah Kak Edwan pamit untuk pulang. Ia merasa keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang tepat. Ia tidak mau kalau harus merasa terkekang oleh tunangannya itu.


Sella datang dan langsung duduk di samping El. "Bagaimana?",tanyanya.


"Aku udah mutusin semuanya. Mungkin dia agak gak terima keputusan yang aku ambil, tapi dia juga gak mau kehilangan Chika pacarnya itu",ucap El sambil memandang langit yang begitu indah.


"Terus dia gak mikirin gimana perasaan orangtuanya?",tanya Sella.


"Dia lagi mikirin kedepannya bagaimana. Nanti aku akan dikabarin keputusan kayak gimana!",jawab El.


Sella memegang bahu El memberi dukungan. "Aku yakin kok, kamu pasti bisa melewati semua ini",kata Sella.


Ting... Ting...


Suara bel berbunyi tanda ada tamu yang datang.


"Siapa lagi yang datang?",ucap El malas.


"Biar aku aja. Dia tamuku kok!",ucap Sella langsung mencegah El untuk membukakan pintu. Ia langsung berlari ke pintu.


"Tamu. Siapa?",tanya El pada dirinya sendiri.


Sella membukakan pintu. "Hallo Kak Billy!",sapa Sella dengan senang hati.


"What, Billy?. Ngapain Sella ngundang Billy ke apartemen ini?",ucap El tidak percaya.


Sella dan Billy langsung berjalan kearah balkon.


"El.....!",ucap Billy kaget karena ada El di apartemen ini. "Kamu kok disini?",tanyanya.


"Menurut Kak?",tanya El balik.


Sella cuma tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.


"Ya udah kalian lanjutin aja, aku udah ngantuk!",ucap El sambil berjalan menuju kamar.


Sella langsung menarik lengan El. "Kok kamu kayak gitu sih, gak mau nemenin aku!. Kalau kayak gini, aku jadi seperti mengkhianati Kak Alan?",ucap Sella.


"Siapa suruh Kak Billy datang kesini",sahut El.


"Tapikan dia mau main El?",jawab Sella.


"Kan masih ada hari esok, Sel. Aku capek, aku mau istirahat!",pamit El pergi masuk kedalam kamar.


"Aku pulang aja Sel, aku gak mau ganggu kalian",ucap Billy langsung berdiri.


"Aku minta maaf ya Kak?. Aku malah gak enak sama Kakak!",ucap sella


"Gak apa-apa kok. Aku jadi gak enak sama El",kata Kak Billy sambil berjalan ke pintu.


"Maaf lho Kak sekali lagi?",ucap Sella.


"Iya. Aku pamit dulu ya, Bye?",pamit Kak Billy keluar dari kamar apartemen.


Sella menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Huft....


***


Pagi hari.


Sella sudah menyiapkan sarapan kesukaan El, sebagai tanda minta maaf atas perbuatannya. Ia tidak mau El marah terhadapnya.


El keluar dari kamar dan melihat Sella yang tengah sibuk.


"Selamat pagi?",sapa Sella dengan penuh suka cita.


"Tumben banget kamu masak, ada acara apa nih?",tanya El curiga.


Sella mempersilahkan El untuk duduk. "Buat kamu dong. Lalu buat siapa lagi!",jawabnya.


El duduk dengan senang. "Kirain buat Kak Billy?",godanya.


"Kak Billy, apa hubungannya dengan Kak Billy?",tanyanya balik.


"Siapa tahu kamu jatuh cinta sama dia?",ucap El mengambil sandwich rasa daging yang sangat lezat.

__ADS_1


"Hahahaha",Sella tertawa terpingkal-pingkal.


"Gak usah tertawa. Gak lucu?",kesal El.


"Kamu tahu gak, kamu itu seperti orang yang lagi cemburu sama aku",jawab Sella asal.


"Buat apa cemburuin kamu?. Aku cuma kasihan aja sama Kak Alan, di selingkuhin sama pacarnya sendiri!",seru El.


"Siapa yang selingkuh El?. Aku dan Kak Billy cuma ngobrol kayak temen aja!",jawab Sella tidak terima.


"Ngobrol, terus ke blabasan dan akhirnya lama kelamaan jadi baper. Iya kan?",seru El sambil mengunyah sandwichnya.


"Kamu kok bilangnya gitu!. Kamu harus tahu ya, dia deketin aku cuma mau tanya informasi tentang kamu!",sahut Sella.


"Kenapa dia gak tanya aja sama aku sendiri?. Kenapa dia malah tanyanya sama kamu?",sahut El.


"Ya kali El, orang yang sedang jatuh cinta tanya langsung sama orang yang ia cintai, malulah!",ucap Sella. "Katanya kamu sangat-sangat cuek sama dia, terus dia harus tanya sama siapa dong?",lanjutnya.


"Bukan urusanku juga!",sahut El langsung berjalan ke kamar.


"Eh...aku belum selesai ngomong!",teriak Sella kesal.


El menutup pintu kamar. Ia harus bergegas untuk pergi ke kampus.


***


Di kampus.


Edwan masih menunggu di parkiran. Ia ingin sekali bicara berdua dengan El. Setelah tadi malam ia menerima sebuah pesan dari Bunda, bahwa El mendapatkan kesempatan pertukaran mahasiswa di New York.


El turun dari busway. Ia berjalan menuju gedung kampus.


Edwan yang melihat dari kejauhan langsung berlari menghampiri El.


El masih sibuk dengan ponselnya, tanpa ia sadari seseorang sudah ada di depan matanya.


"Kita harus bicara!",ucap Edwan.


El mendongakkan wajahnya melihat Kak Edwan sudah ada di depan matanya lagi. "Bicarain apa Kak, bukankah tadi malam sudah selesai, tinggal menunggu keputusan dari Kakak!",sahut El.


"Ini alasan kamu mutusin pembatalan pertunangan, karena kamu mau ke new York?",tanya Edwan sarkas.


"Siapa lagi, kalau bukan Bunda!",jawab Edwan.


El mengangga tidak percaya, bahwa Bunda akan memberitahukan rencananya ke negara lain.


"Apa semua ini, El?. Kamu mau mengejar cintanya Sam?",tanya Edwan marah.


"Sam. Ini semua gak ada hubungannya dengan Sam Kak!. Aku kesana karena direkomendasikan oleh dosenku. Bukan karena Sam!",jawab El mencari kebenaran.


"Lalu kenapa harus New York!. Kenapa harus negara itu?",tanya Kak Edwan marah.


"Ada apa dengan New York Kak?",tanya El balik, karena tidak mengerti maksud dari mantan tunangannya itu.


"Kamu gak tahu apa pura-pura gak tahu?",sahut Kak Edwan.


"Aku benar-benar gak tahu Kak?. Sumpah!",jawab El.


"Karena Sam tinggal di negara itu!", jawab Kak Edwan.


Deg. El kaget. Ia tidak menyangka bahwa Sam selama ini ada di negara itu. Ia mundur beberapa langkah dari hadapan Kak Edwan. Ia harus membatalkan pertukaran mahasiswa di negara itu. Ia tidak mau lagi Sam merasa tersiksa karena keberadaannya. "Aku tidak bisa.... Aku tidak bisa....!",ucap El beberapa kali. Ia langsung berlari menemui pak Downey.


"El... El....!", panggil Kak Edwan beberapa kali.


El terus berlari menuju kantor Pak Downey. Ia tidak mengerti bahwa selalu ada masalah di setiap keputusannya. Ia berhenti di depan pintu Pak Downey, nafasnya ngos-ngosan. Ia mencoba mengambil nafas dalam-dalam.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!",perintah Pak Downey.


El membuka pintu secara perlahan. Ia berpikir bagaimana cara berbicara dengan baik dengan pak Downey untuk membatalkan rencananya.


"Eh... nak El, silakan masuk!",ucap Pak Downey dengan senyuman khasnya.


El berjalan dan duduk di depan meja Pak Downey.


"Ada apa Nak El, ada yang bisa saya bantu?",tanya Pak Downey.


"Maaf sebelumnya Pak, kedatangan saya kemari, ingin membatalkan pertukaran mahasiswa di New York Pak?",ucap El tidak enak.

__ADS_1


"Lho... Lho... Bukannya kamu sudah setuju dengan pertukaran mahasiswanya?. Kok tiba-tiba kamu membatalkan begitu aja?",tanya Pak Downey intensif.


"Saya, saya takut aja Pak, kalau saya tidak bisa membanggakan kampus ini dengan prestasi saya yang ada disana!",jawab El mencari alasan yang masuk akal.


"Kenapa tidak bisa?. Menurut saya kamu sangat kompeten dalam masalah pendidikan. Bahwa kan kamu selalu mendapat ranking pertama setiap semester",jawab Pak Downey.


"Tapi Pak?",sahut El.


"Ada masalah pribadi?",tanya Pak Downey.


Mau tidak mau El harus menjawab dengan jujur. Ia menganggukkan kepalanya.


"Masalah apa?",tanya Pak Downey.


"Biasa Pak. Masalah keluarga. Maaf Pak, saya tidak bisa menjelaskan secara detail",jawab El.


"Tidak apa-apa nak El. Itu hal yang wajar. Tapi kamu juga tidak bisa membatalkanny, karena semua berkas-berkas kamu sudah saya masukkan ke atasan!",jawab Pak Downey.


Deg. El tidak bisa berkutik. Mau tidak mau ia harus tetap melanjutkan pertukaran mahasiswa di negara New York.


"Maafkan saya nak El?",ucap Pak Downey.


"Tidak apa-apa kok Pak. Mungkin saya yang salah, karena selalu mengambil kesimpulan dengan cepat. Saya permisi pak!",pamit El langsung pergi keluar dari kantor Pak Downey.


Ia berlari menuju toilet. Ia membutuhkan ruang untuk sendiri. Hiks... Hiks... Hiks... Bagaimana ini, bagaimana nanti aku bertemu dengan Sam disana, bagaimana aku menjelaskan semuanya?. Tuhan, apakah ini sudah takdir jalanku? tangisannya El pecah.


***


Di kafe.


El sedang melamun sambil menunggu pembeli datang. Pikirannya saat ini sedang buntu. Ia butuh solusi saat ini.


Dret... Dret....


Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


"Kamu dimana?. Aku lagi sama Sam?".


Sella.


El langsung memasukkan ponselnya kedalam saku. Ia tidak mau mendapatkan kabar buruk tentangnya.


Dret... Dret...


Sebuah pesan masuk lagi. Ia segera membukanya.


"Malam ini Sam kembali lagi ke New York!".


Sella.


El menutup matanya, mencoba berpikir jernih. Ia tidak mau gegabah mengambil keputusan. Karena Sam sudah mengingatkannya untuk melupakan dirinya.


Ting... Suara pintu cafe berbunyi. El langsung melihat seseorang berjalan ke arahnya. Kak Saga.


Kak Saga berjalan sambil membawa paper bag. Ia tersenyum melihat El sedang menatapnya. "Hai!",sapa Kak Saga melambaikan tangan.


El membalas senyuman yang sangat menawan itu. Ia segera menghampiri Kak Saga.


Kak Saga memberikan paper bag. "Ini buat kamu?",ucapnya.


El menerimanya. "Apaan ini Kak?",tanya El penasaran.


"Buka aja!",sahut Kak Saga.


El membuka secara perlahan. "Buku?".


Kak Saga menganggukkan kepalanya.


El mengeluarkan buku-buku itu. "Kak, ini berlebihan, bukankah ini buku limited edition ciptaannya XXX?",kata El merasa tidak pantas mendapatkan buku itu.


"Iya. Kamu pantas mendapatkan buku itu kok!",jawab Kak Saga sambil mengusap kepala El dengan lembut.


El tertegun. Ia merasa senang, karena Kak Saga masih sangat perhatian terhadapnya. Tetapi, hatinya masih ragu untuk mengulang kisah yang dulu sempat ia ragukan. Ia memilih untuk menutup hatinya, mungkin ini yang terbaik buat semuanya.


***


Jangan lupa komen, like dan vote.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2