
...Happy Reading...
...***...
Olivia memandang kedua mata Satria penuh harap. "Aku sudah melihat mata kamu, Sat. Kamu tidak akan pernah mau mengikuti kemanapun aku berada. Aku tahu dari sorot kedua mata kamu!",lirih Olivia melepaskan tangan Satria yang terletak dibahunya. "Aku tidak akan memaksa kamu, Sat. Aku tahu, permintaanku sangat berat bagi kamu. Tapi, aku juga tidak memintanya. Hanya kondisi yang memaksa aku untuk stay disini",sambung Olivia melangkah beberapa langkah kaki yang langsung dicegah oleh Satria dengan menarik lengan Olivia.
"Kamu salah membaca sorot mataku, Liv!!".
Olivia langsung menengok ke arah belakang. "Aku salah membaca sorot mata kamu. Lalu apakah kamu mau jadi bagian dari hidupku Sat?",tanya Olivia lagi karena ia belum percaya dengan pengakuan dari Satria.
"Insya Allah, aku mau Liv".
Olivia tersenyum manis mendengar pengakuan dari Satria. "Kamu serius?".
"Iya, aku serius... Tapi.....?".
"Tapi apa?",tanya Olivia karena Satria menggantung kata-katanya.
"Tapi kamu mau menerimaku apa adanya?",tanya Satria.
"Kamu tidak usah meminta itu, aku sudah melakukannya Sat!",lirih Olivia bahagia.
Satria memeluk Olivia dengan erat. Hatinya saat ini benar-benar lega merasakan cinta yang sebenarnya. Ia belum pernah merasakan cinta tulus seperti ini, cinta yang tidak mengenal siapapun itu dan dimana pertama mereka bertemu. Cinta yang selalu hadir dalam suka dan duka.
Olivia membalas pelukan Satria yang begitu dalam. Karena ia merasa nyaman di pelukan Satria.
*
*
*
Saga, El dan Dino sedang bermain Monopoli bersama di balkon ruang tengah. Mereka asyik bermain sampai tawa mereka pecah seisi ruangan. Ponsel Saga tiba-tiba berdering, ia melihat sekilas ponselnya ada sebuah panggilan nomer baru. Nomer siapa ini. "Bentar ya El, kakak angkat telepon dulu!",ucap Saga meminta izin dari El.
El hanya mengangguk tanda setuju. Tidak biasanya kak Saga meminta izin kepada dirinya.
Saga berdiri dekat dengan pagar pembatas. "Hallo selamat malam!",sapa Saga sopan.
"Apakah ini tuan Saga Rahardian?",tanya seseorang dari seberang sana.
"Iya saya sendiri".
"Ini saya Aqila, anak dari Dr. Smith",jawab Aqila.
Deg. Saga tidak percaya bahwa Dr. Smith benar-benar melakukan perkenalan ini secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Tuan Saga tidak usah berpikir aneh-aneh dulu. Saya hanya ingin meminta maaf sama tuan, karena papa selalu meminta nomer ponsel kepadanya lalu memberikan kepada saya. Karena papa ingin saya segera menikah!",jelas Aqila supaya tidak ada salah paham.
Hati Saga menghangat mendengar anak Dr. Smith berbicara. Tutur kata yang lembut dan sopan. Saga hanya tersenyum sendiri dalam hatinya. "Tidak apa-apa nona Aqila. Saya maklumi. Karena biasanya orang tua ingin yang terbaik anaknya, apa lagi putri semata wayangnya. Jadi tidak heran bila Dr. Smith melakukan hal seperti itu".
"Tapi saya tidak enak sama tuan, karena papa saya sudah secara tidak sengaja mengganggu privasi tuan karena nomer ponsel tuan jatuh ke tangan saya!",ucap Aqila.
"Hanya nomer ponsel jatuh ke tangan kamu. Bagaimana kalau hati saya juga ikut jatuh ke hati kamu?",cerocos Saga tersenyum malu-malu.
"Hahahaha... mana ada tuan Saga akan jatuh hati sama saya. Saya tuh orangnya jelek, hitam, dekil dan cerawatan!",oceh Aqila.
"Biasanya seorang wanita berbicara seperti itu, malah sebaliknya",kata Saga telak.
Deg. Aqila mati kutu. Ia tidak bisa saat ini membuka hatinya buat laki-laki baru. Ia sudah berprinsip bahwa ia tidak mau berpacaran dahulu.
"Kamu masih kuliah?",tanya Saga.
"Masih tuan".
"Dimana?".
Diam. Tidak ada jawaban dari Aqila.
Saga semakin tertantang ingin berkenalan dengan Aqila secara dalam dan jauh. "Ok kalau nona Aqila tidak mau mengumbar privasi nona tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Saya akan menjaga privasi nona Aqila".
"Terima kasih tuan. Senang bisa berkenalan dengan tuan!".
"Hmmmm... bagaimana ya tuan, bukannya saya tidak mau. Tapi, besok ada kegiatan di kampus",jawab Aqila menolak halus.
"Ok... ok... tidak masalah. Mungkin belum jodohnya aja kita bertemu. Next time aja!". Saga merasa kecewa atas jawaban dari Aqila.
"Ok tuan. Maaf sudah mengganggu waktu tuan. Selamat malam!".
Klik. Sambungan telepon mati. Saga merasa sangat kecewa dengan apa yang Aqila perbuat. Belum aja berkenalan lebih dalam dia asal matikan sambungan aja!. Sebenarnya dr. Smith niat tidak sih memperkenalkan putrinya kepadaku?.
El hanya melihat tingkah Saga yang aneh. "Bentar ya Dik!". Ucap El kepada sang adik yang asyik bermain. Ia menghampiri Saga yang termenung. "Ada apa kak?".
"Tidak... tidak ada apa-apa kok, El!",jawab Saga diiringi dengan senyuman canggung.
"Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa Kak".
Saga memandang El penuh dalam. Ia mencoba untuk membuka hatinya buat wanita lain. "Kamu ingat tidak, dokter yang menangani kamu disaat kamu masuk UGD?".
El menerka-nerka mengulangi memori yang ada di UGD. "Aku tahu dokternya kak, tapi lupa. Memang kenapa kak?".
"Itu namanya dr. Smith. Dokter itu ingin memperkenalkan kakak sama anaknya. Terus anaknya tadi telepon kakak!".
__ADS_1
El merasa berbunga-bunga karena ini kabar sangat bagus. "Terus bagaimana reaksi anaknya kak?",tanya El yang sudah tidak sabar.
Mimik wajah Saga berubah menjadi rasa kecewa. "Itu dia masalahnya, anaknya tidak mau untuk bertemu atau berkenalan dengan kakak!".
"Lalu buat apa dia telepon kakak?. Buat memastikan bahwa nomernya aktif gitu!",keluh El menghela nafas kasar.
Saga mengangkat kedua bahunya tidak mengerti apa maksud wanita tadi. "Dia malah minta maaf sama kakak. Karena sifat dr. Smith yang ingin memperkenalkan dia sama kakak. Mungkin pikirannya dia, kakak ini om-om apa!".
"Oh... atau mungkin wanita itu pikir kakak ini Daddy sugar!",goda El yang tertawa puas melihat Saga yang ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.
"Sialan kamu, El!!!",kesal Saga yang mengacak rambut El gemas. Andai kamu tahu El, aku lakukan ini supaya hatiku terbuka buat wanita lain. Tidak selamanya aku mengharapkan kamu terus menerus El untuk mencintai ku. Itu tidak akan mungkin, karena kamu telah menjadi milik Sam.
Dino merasa kesal melihat El dan Saga yang bermesraan di depan wajahnya. "Kak!!!. Jadi tidak sih mainnya!!!",tanya Dino yang cemberut.
"Ya ampun, maaf ya Dino!!!. Kakak jadi lupa!",jawab Saga yang melupakan anak kecil yang sedang berada ditengah-tengah mereka berdua.
El segera mengikuti permainan mereka berdua dengan bahagia.
*
*
*
Sam yang sedang berjuang habis-habisan di kantor mengerjakan beberapa dokumen yang menumpuk di atas meja. Kurang beberapa hari keputusan pemilik saham akan diumumkan di rapat tahunan. Ia tidak boleh gegabah dalam urusan ini. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
Sam, jangan lupa malam ini Abang Satria akan pulang!!. Kamu ikut tidak mengantar ke bandara?. El.
Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponsel Sam. Ia membaca sekilas pesan itu. "Aduhhh, harus banget ya hari ini Abang Satria pulang!",keluh Sam yang masih fokus ke laptop. Ia lalu menekan ponsel angka satu untuk menghubungi Ardi sang asisten. "Dimana?".
"Di kantor ruangan saya pak. Ada apa pak?".
"Kamu segera kesini ya, lanjutkan tugas ini. Saya ada urusan dadakan!".
"Baik pak".
Sam segera keluar dari ruangannya. Pergi untuk menemui El dan keluarganya.
Seseorang masuk kedalam ruangan Sam tanpa Sam sadari. Ia mengendap-endap masuk kedalam sana. Ia berjalan ke arah meja kerja Sam dan segera mencari sesuatu yang sangat berharga di sana. Sedangkan Ardi pergi ke kamar mandi untuk membuang hajatnya yang sudah ia tahan sejak tadi.
Seseorang itu mencari kedalam laci-laci kecil yang terdapat dimeja kerja Sam. Dan ia menemukan dokumen yang ia cari selama ini. Ia tersenyum puas dan licik telah mendapatkan dokumen tersebut. Lalu pergi dari ruangan Sam.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...
__ADS_1
...Terimakasih ...