Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Rumah Sakit


__ADS_3

...Happy Reading...


...***...


El, Dino dan pasangan sejoli Sella, Alan masih menikmati makanan.


"Abang kamu jadi nyusul kesini tidak sih El?",tanya Sella.


El mengangkat kedua bahunya karena tidak tahu sama sekali. "Aku ke toilet dulu ya!",pamit El yang langsung pergi ke kamar mandi. Di sana ia membasuh muka menghilangkan rasa gelisah yang ada di hati dan pikirannya. Abang Satria kemana ya? kata-kata yang selalu dalam pikiran El. Ia segera keluar dari kamar mandi dan secara bersamaan seseorang juga masuk kedalam.


Seseorang yang mau masuk kedalam kamar mandi kaget karena El keluar dengan tiba-tiba.


"Astagaaaaa!",kata seseorang itu yang melihat kebawah.


"Maaf-maaf ya Kak!",ucap El yang tidak enak.


"Tidak apa-apa Kak",jawab seseorang itu melihat kearah El.


"Mbak Tamara!".


"El",ucap mereka bebarengan.


El seketika memeluk Tamara dengan erat. "Mbak, El kangen banget sama Mbak!",kata El melepaskan kerinduan terhadap sang sahabat.


"Mbak juga kangen banget sama kamu",jawab Tamara melepaskan pelukannya. Dan memegang kedua bahu El. "Kamu sekarang tambah cantik!",kagum Tamara.


"Dari dulu kan seperti ini mbak. Mbak yang sekarang tambah cantik dan segar. Hmmmmm... pasti sudah jatuh cinta ya sama Pak bosnya!",goda El sambil tersenyum-senyum.


Mimik wajah Tamara berubah setelah El menggodanya terhadap Saga sang bosnya. "El... kamu baik-baik saja?",tanya Tamara ragu.


El mengenyitkan keningnya bingung. "Aku baik-baik saja Mbak. Memang harus ada yang menyedihkan gitu?",tanya El balik karena bingung terhadap pertanyaan Tamara.


"Aku dan kamu baru saja bertukar pesan".


"Iya".


"Dan kamu sepertinya tidak kelihatan sedih".


"Maksud mbak apa sih?. Dan aku tidak membalas pesan dari mbak, apa lagi kita saling bertukar pesan. Oh... ya...mungkin Abang Satria yang membalasnya",ingatan El pilih seketika mendengar kata ponselnya. "Dan pesan apa yang mbak kirim ke aku?".


"Jadi ponsel kamu ada ditangan Abang kamu?",tanya Tamara tidak percaya karena yang ia pikirkan balasan itu dari El sendiri.


El hanya mengangguk kepala tanpa dosa.


"Ok. Ayo ikut aku sekarang!",ajak Tamara memegang lengan El dan mengajak El keluar dari kamar mandi.


"Kita mau kemana Kak?",tanya El bingung dan pasrah kemana arah Tamara tertuju.


"Kamu diam aja!. Nanti juga sampai. Kamu kesini sama siapa?",tanya Tamara.


"Sama adik, Sella dan Kak Alan Kak".


"Mereka ada dimana?".


"Sedang makan!".


Tamara langsung mengajak El ketempat duduk yang dimaksud oleh El. "Kamu lebih baik izin sama mereka dan titip adik kamu untuk mengantarkan adik kamu ke rumah".

__ADS_1


"Tapi Mbak, kenapa tidak mengajak mereka sekalian?".


"Tidak bisa. Karena adik kamu belum cukup umur".


El langsung terdiam tanpa mengikuti langkah Tamara lagi. "Sebenarnya ada apa Mbak?. Pesan apa yang Mbak Tamara kirim ke ponselku?",tanya El khawatir sesuatu terjadi apa-apa.


"Maaf El. Mbak tidak bisa menjelaskan sekarang. Lebih baik, kita segera bergerak cepat".


"Kalau aku bergerak lebih cepat, apa untungnya buat aku, Mbak. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Berikan kejelasan sedikit aja Mbak!".


"Kalau kamu segera ingin tahu, maka cepatlah. Bila kamu ragu ajakan ku, maka aku tidak akan memaksamu kembali. Simpelkan!",kata Tamara.


El mengambil nafas dalam-dalam mengambil keputusan yang saat ini entah apa yang terjadi. Ia segera menghampiri Sella, Alan dan juga adiknya. Ia meminta tolong kepada Sella dan Alan untuk mengantarkan Dino pulang. Dan ia segera kembali ke Tamara.


"Yuk!",ajak Tamara yang langsung merangkul El.


*


*


*


Sam memandang Saga penuh haru. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia ingin marah karena nama tunangan selalu disebutkan tapi apa daya Saga berbaring di ranjang.


"Lihat!",ucap Olivia sambil menunjuk ke arah Saga yang berbaring. "Dia selalu menyebut nama seseorang. Pasti kamu sangat mendengarnya nama siapa yang dia sebut!",sambung Olivia menggebu-gebu.


"Oliv!",bentak Amira memperingatkan anaknya supaya tidak banyak bicara lagi.


"Tidak apa-apa Tante. Biarkan Kak Olivia mengekspresikan kemarahannya terhadap saya",jawab Sam.


"Tidak nak Samuel. Maafkan anak-anak Tante yang keterlaluan sama kamu",ucap Amira tidak enak terhadap Sam.


"Diam Kamu, Oliv!. Kontrol dulu amarahmu!",perintah Amira terhadap Olivia.


Olivia kesal karena Amira selalu membela Samuel dan ia keluar begitu saja dengan membanting pintu dengan keras. Dan....


Deg....


Satria masih berdiri di depan pintu kamar VVIP yang ditempati oleh Saga.


Mereka saling menatap satu sama lain.


Di sisi lain Amira mendekati Samuel. "Terimakasih nak Samuel sudah menjenguk anak tante",ucap Amira tulus. "Sudah beberapa tahun kita tidak berjumpa dan bertegur sapa. Tante kangen. Dulu kalian selalu bermain bersama-sama dihalaman rumah. Bercanda dan bergurau bersama-sama. Tante kangen dengan kalian berdua. Andai waktu bisa tante putar, Tante akan membiarkan Saga pergi mengikuti kakaknya kesini. Dan tidak akan terjadi perkelahian yang sangat memalukan itu. Tante tahu betapa hancur hati kamu, saat sahabat kita mengkhianati persahabatan itu. Tapi, Saga sudah menghukum dirinya sendiri atas penyesalan yang dia lakukan terhadap kamu, nak Samuel".


"Tante, maafkan Samuel bila sudah menyakiti hati Tante. Samuel tidak berniat menghancurkan persahabatan kita, Tante. Mungkin saya sangat kecewa atas perlakuan Saga terhadap saya, saya harap maklum itu. Karena dulu Saga begitu mencintai wanita itu. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa dia menghancurkan persahabatan ini".


"Kamu tidak pernah salah nak Samuel. Mungkin dulu emosi Saga belum bisa terkontrol memikirkan hal seperti itu. Dan mungkin juga Saga yang terlalu anak kecil karena........",ada kata terjeda dari Amira. "Tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang papa. Mungkin nak Samuel sudah tahu itu".


"Tante, ada atau tidaknya sosok seorang ayah, itu tidak masalah. Tapi saya bangga, Tante sudah membesarkan Kak Olivia dan Saga dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hingga mereka berdua sukses bersama".


"Itu sudah menjadi kewajiban Tante membesarkan mereka berdua nak Samuel",jawab Amira. "Sekarang kamu bertambah dewasa semakin bertambah juga pola pikiran kamu. Tante bangga sama kamu, nak Samuel",sambung Amira memuji.


"Terimakasih Tante. Ini semua berkat Papa dan Mama yang selalu memberikan dukungan kepada saya",ucap Sam yang telah dipuji oleh Amira.


"Tante tinggal dulu. Silahkan kalian berbicara dari hati ke hati. Tante tahu, kalau kalian saling menyayangi satu sama lain!",kata Amira lalu ia pergi meninggalkan ruangan.


Sam mengambil nafas dalam-dalam mendekati dan duduk di samping ranjang Saga. Ia saat ini harus menghilangkan rasa benci dan egois yang tumbuh dari hatinya. "Maafkan aku, Ga",kata Sam keluar pertama kali dari mulutnya dan mata yang sudah berkaca-kaca. "Aku tahu, kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk meminta maaf kepadaku. Tapi, aku selalu mengacuhkan permintaan maaf dari kamu. Maafkan aku yang terlalu egois ini. Kamu tahu sendiri bahwa sifat ku yang seperti ini",kata Sam dengan berat mengeluarkan perkataan seperti itu. "Aku sudah memaafkan kamu, Ga. Sebelum kamu meminta maaf kepadaku pada saat aku sudah pindah ke Jakarta. Maafkan aku yang telah menyakiti hati kamu, karena kebohongan ku tidak memaafkan mu. Apakah kamu memaafkan ku kali ini?".

__ADS_1


Saga mendengarkan ketulusan hati Sam dengan mata yang masih tertutup. Matanya mengeluarkan air mata. Hatinya terenyuh mendengar pengakuan dari sang sahabat.


"Ga, aku mohon, sadarlah!. Aku menunggu kamu disini. Aku tidak mau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya",ucap Sam yang sudah meneteskan air mata. "Aku ingin mengulang masa-masa indah kita. Bermain basket bersama. Pergi nongkrong bersama teman-teman. Nonton bioskop. Nonton pertandingan. Aku ingin mengulanginya bersama kamu, Ga!",sambung Sam memegang tangan Saga.


*


*


*


El dan Tamara turun dari mobil. Tamara menyuruh sopirnya untuk memarkirkan mobilnya di tempat parkiran.


El yang merasa bingung melihat kesekeliling gedung yang tinggi. "Bukankah ini rumah sakit mbak?",tanya El yang masih polosnya.


"Iya. Yuk kita masuk kedalam!",ajak Tamara merangkul El supaya El lebih tenang.


"Siapa yang sakit mbak?",tanya El yang sudah tidak sabar lagi.


Tamara menghela nafas pelan. "Ayo, kita masuk!. Nanti kamu juga akan tahu!",paksa Tamara yang merangkul El.


El hanya pasrah mengikuti kemana Tamara akan membawanya masuk kedalam.


El berjalan seperti ada gejolak yang menyakiti hatinya. Tapi, entah itu apa.


Satria, Amira dan Olivia duduk diluar menunggu Sam dan Saga yang sedang berbicara dari hati ke hati.


"Mami percaya akan tidak terjadi apa-apa dengan Saga?",tanya Olivia yang tidak percaya sama sekali terhadap Sam.


"STOP LIV!!!!. Mami tahu apa yang terbaik buat anak Mami!",peringatan dari Amira.


Olivia kesal melihat maminya peduli sama Samuel. Dan Satria hanya bisa diam tidak berbuat apa-apa dan tidak mau ikut campur urusan orang lain.


El dan Tamara sudah sampai dilantai khusus VVIP. El melihat Satria duduk bersama Amira dan Olivia.


"Abang!",panggil El yang langsung berlari kearah sang Kakak.


"El...!",ucap Satria yang kaget adiknya ada di depan matanya. Ia langsung merangkul sang adik dengan tenang.


"Ada apa Bang?. Siapa yang sakit?",tanya El khawatir. Ia dirangkul oleh kakaknya.


"Selamat siang Bu Amira dan Bu Olivia",sapa Tamara dengan sopan.


"Terimakasih Tamara, sudah mau menjenguk anak saya!",ucap Amira.


El menutup mulutnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh Amira, Mama dari Saga.


"Sudah menjadi kewajiban saya, untuk datang ke sini demi Pak Saga Rahardian, Bu!",sambung Tamara.


"Kak Saga. Kak Saga kenapa Bang?",tanya El histeris sudah menangis sejadi-jadinya.


Satria menenangkan El sambil memeluk erat sang adik. "Tenang ya Dik!....".


"Kak Saga kenapa Bang!. Jawab Bang!",tanya El yang sudah meronta-ronta untuk dilepaskan pelukannya. "Kak Sagaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!".


...***...


...Jangan lupa untuk komen, like dan vote...

__ADS_1


...Terimakasih...


__ADS_2