
...Happy Reading....
...***...
Dua minggu kemudian.
Akhirnya sidang skripsi sudah di lalui El, ia mengerjakan dengan sempurna walaupun sekali revisi. Ia merasa bahagia mengerjakan tugas skripsinya. Karena ia sudah tidak sabar untuk memegang toga. Dan disinilah ia sekarang, menunggu pengumuman yudisium.
"El...!",panggil Adelle sambil berlari menghampirinya.
"Hai Del. Sudah keluar belum?",tanya El balik.
Adelle ikut duduk di sampingnya. "Belum. Katanya sebentar lagi".
"Oh...!". El melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas siang.
Seseorang melihat dari kejauhan. Ia tersenyum melihat tingkah laku El yang sedang bersenda gurau dengan sang sahabat. Ia membawa sebuket bunga mawar merah dan bunga warna putih.
Salah satu dosen memasang sebuah pengumuman yang berisi tentang kelulusan dan nilai akhir. Dan para mahasiswa dan mahasiswi berebut tempat supaya dapat melihat nilai mereka masing-masing.
El dan Adelle tidak sabar ingin melihat hasil akhir. Ia ikut berkumpul dengan teman-teman yang lainnya.
El mencari namanya dan ia menemukannya dengan peringkat nomer tiga. Ia merasa bahagia dan senang. Kemudian ia mencari Adelle yang belum menemukan namanya.
Para teman-teman berlompat gembira karena mendapatkan nilai akhir yang bagus. Mereka tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa.
El tertunduk sedih. Karena sebentar lagi, ia akan meninggalkan kampus ini. Tiga tahun setengah aku menempuh prestasi disini. Dari sedih, suka, duka maupun bahagia, aku lalui bersama dengan sahabat. Ia duduk di salah satu tempat duduk yang ada di taman. Ia melihat Adelle yang sedang bercakap-cakap dengan temannya. Aku pasti akan merindukan suasana seperti ini?. Kampus, perpustakaan, halaman ini, dan salah satu tempat aku dan dia bertemu pertama kalinya setelah tiga tahun aku tidak bertemu dengannya. Apakah pendidikan dan kisah cintaku berakhir disini?.
Seseorang berdiri dihadapan El. "Permisi, apakah kamu yang bernama Ellena Putri Wibowo?",tanya seorang gadis yang membawa sebuket coklat yang berukuran jumbo.
"Iya. Saya Ellena Putri Wibowo. Ada yang bisa saya bantu?".
Seorang gadis itu tersenyum manis. Mengisyaratkan bahwa ia kagum dengan seseorang gadis yang berparas cantik ini. "Ini ada sebuah hadiah dari seseorang laki-laki tampan untuk kamu!",kata gadis itu sambil memberikan buket coklat itu.
El kuwalahan membawa buket coklat yang berukuran jumbo itu. "Buat saya. Dari siapa?",tanya El memastikannya.
"Maaf saya tidak bisa memberitahukan namanya. Laki-laki itu sangat tampan berperawakan tinggi dengan rambut bermodel undercut. Pasti kamu sangat mengenalinya",jelas gadis itu.
Siapa ya?. Bahkan aku tidak tahu! batin El bingung.
Lalu gadis itu berpamitan untuk pergi. El mengiyakan kepergian gadis itu.
Seseorang yang masih berdiri didekat pohon sambil membawa buket bunga hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia memegang tangkai bunga dengan kekuatan tenaga dalam.
El yang hanya pasrah membawa buket itu kedalam pelukannya. Ia tidak tahu siapa pemberi buket sebesar ini. Ia lalu duduk kembali untuk melihat sepucuk kertas yang terselip disana. Ia mengambil sepucuk kertas itu dan meletakkan buket besar itu di kursi. Lalu ia membuka dengan perlahan.
Dear : Gadis yang tidak akan pernah bisa aku lupakan.
Selamat atas kelulusannya. Aku yakin kamu pasti mendapatkan nilai yang sangat memuaskan. Aku bangga kepadamu. Maaf aku tidak bisa memberikan ini langsung kepadamu, karena aku tahu, kamu tidak menginginkan aku ada di samping kamu dan menemani di setiap langkah kaki kamu melangkah.
Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu.
Sekali lagi selamat atas keberhasilan kamu di negara yang sangat asing ini.
Mulai hari ini, dunia adalah ruang kelasmu dan hidup adalah gurumu.
Maka, Nikmatilah!.
^^^From : Yang selalu merindukan kamu.^^^
Disisi lain seseorang memakai topi dan kacamata hanya bisa memandang dari kejauhan dari lantai atas kampus. Ia begitu sangat memperhatikan setiap gerak-gerik El. Aku yakin El, kamu pasti tahu siapa pengirim coklat itu!..
__ADS_1
El hanya melihat sepucuk surat itu dengan sedih. Ia tidak menyangka akan mendapatkan buket coklat sebesar itu.
Ponsel El berdering ia segera mengangkatnya. "Assalamualaikum Bunda!",sapa El penuh semangat.
"Walaikumsalam sayang. Bagaimana?".
"Alhamdulillah Bunda. El mendapatkan peringkat ketiga".
"Alhamdulillah!",jawab serentak dari seberang sana.
"Selamat Kakakku yang hebat!".
"Selamat adikku yang cantik!".
Satria dan Dino saling berebutan mengucapkan selamat kepada El.
El yang hanya bisa mendengarkan mereka berdua tertawa. "Terimakasih banyak Abang dan Dik Dino. Kalian jadi pergi ke acara wisudaku kan?".
"Jadi dong Kak. Kita sudah ada di bandara internasional Kak. Kita siap-siap untuk berangkat kesana",seru Dino yang sudah tidak sabar naik pesawat terbang.
"Ih... Sayang Dino, kenapa kamu malah membocorkan keberangkatan kita sayang!",keluh Bunda.
"Iya nih adik. Malah tidak jadi menjadi kejutan kan buat Kak El!",oceh Satria.
El yang mendengarnya tertawa. Ia sangat bahagia sebentar lagi ia akan bertemu keluarga yang selalu ia rindukan selama tiga tahun setengah.
William dan Adelle menghampiri El yang sedang duduk di taman.
"Sepertinya ada hati yang sedang berbunga-bunga nih!",goda William yang melihat ekspresi El begitu berseri.
Adelle yang melihat buket coklat langsung mengambilnya tetapi El langsung menahan tangan Adelle yang jaim itu. "Kenapa tidak boleh?".
"Bukankah ini milik kamu?".
"Iya. Tapi, aku tidak tahu pengiriman dari siapa. Cuma ada sepucuk surat aja!",jawab El memberikan sepucuk surat kepada Adelle.
Adelle dan William membacanya dengan seksama.
"Aku yakin, pasti ini penggagum rahasia kamu, El. Buktinya dia memberikan buket jumbo kepada kamu",ucap Adelle.
Sepertinya ini tulisannya Sam. Lalu Sam dimana? batin William sambil mencari sosok Sam yang sedang mengintip entah dimana. Ia melihat sesosok laki-laki yang sedang menatapnya. Dia memakai kaca mata dan topi berwarna hitam. William memperhatikan gerak-geriknya.
Seseorang yang masih berdiri di bawah pohon hanya bisa melihat pergerakan dari William. Ia melihat William melihat sesosok laki-laki yang berdiri di lantai atas.
Laki-laki itu langsung mengalihkan perhatiannya dan pergi begitu saja.
Siapa dia? batin seseorang itu.
William langsung melihat lagi tulisan yang sangat persis dengan tulisan Sam.
"Ada apa Will?",tanya Adelle yang curiga terhadap William.
William langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Mungkin kamu termasuk orang yang istimewa untuknya El. Jadi, jangan pernah takut menerima sesuatu dari seseorang. Kan ada suratnya!",jelas William supaya El menerimanya dengan senang hati.
"Tapi Will, kalau ada racunnya bagaimana. Aku takut!",kata El.
William mengambil satu bungkus coklat. Ia membuka dan menggigit coklat ternama itu. "Enak kok. Buktinya aku tidak masalah kan!",ungkap William memakan satu bungkus coklat itu.
"Iya El. Nanti kalau tidak kemakan malah mubazir loh El!",ucap Adelle mengikuti William membuka satu bungkus coklat dan memakannya. "Emmmmm.... Enak banget. Sumpah!",kagum Adelle dengan cita rasa coklat yang berciri khas.
El hanya memandang pasrah dengan tingkah laku mereka berdua.
__ADS_1
***
Seseorang tiba-tiba datang menghampiri El dan teman-temannya yang sedang bersenda gurau.
"Kak Saga!",ucap Adelle yang melihat Saga berdiri di depannya.
El yang sedang duduk membelakangi langsung menoleh ke belakang. "Kak Saga!". Ia sangat bahagia dan menghampiri orang yang ia rindukan itu.
Saga berdiri membawa buket bunga mawar merah. Ia sangat bahagia bisa melihat El tersenyum lebar.
"Kapan Kakak pulang?. Kenapa tidak mengabariku kalau Kakak sudah pulang kesini?",tanya El dengan pertanyaan beruntun.
"Kakak harus jawab pertanyaan kamu?. Atau -?".
El langsung memeluk Saga dengan bahagia. "Aku sangat merindukan Kakak",lirih El sambil berkaca-kaca.
Saga membalas pelukannya itu, pelukan yang sangat berarti baginya. Ia sebenarnya sangat merindukan El, tapi tidak ia utarakannya lewat ponsel kemarin pada saat ia sedang ada di Indonesia. Ia membelai rambut El yang terurai dengan lembut. "Kakak juga sangat merindukan kamu, El!".
William melihat adegan itu seakan-akan ingin muntah melihat kelakuan Saga. Ia mengambil ponsel dan mengabadikan moment El dan Saga sedang berpelukan.
Adelle yang melihat William langsung menyeretnya untuk menjauh dari teman-temannya. "Maksud kamu apa, Will?",tanya Adelle marah.
William memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya. "Apaan sih kamu, Del?. Maksud kamu apa menyeret aku kesini?",tanya William kesal.
"Aku yang seharusnya bertanya sama kamu. Buat apa, kamu mengabadikan momen mereka?. Mereka saling merindukan satu sama lain dan kamu seakan-akan iri melihat mereka berdua?. Why?",tanya Adelle kesal melihat tingkah William.
"Karena Saga tidak pantas berada di pelukannya El".
"Lalu siapa yang pantas?",tanya Adelle sarkas dan mengalihkan perhatiannya dari William. "Sam, maksud kamu?. Atau....jangan-jangan kamu sendiri yang pantas ada dipeluknya El?",tanya Adelle melihat William menundukkan kepala. Hatinya terasa sesak mengatakan seperti itu. Mata Adelle sampai berkaca-kaca.
"Bukan begitu Del. Kamu tahu sendiri kan, bahwa Sam sangat mencintai El. Mereka tidak mungkin terpisahkan!",jelas William.
"Apa?. Tidak bisa di pisahkan.... Haloooo... Kamu tahu sendiri bahwa Sam sudah di jodohkan sama keluarganya. Dan kamu menginginkan El tidak mendapatkan kebahagiaan gitu maksudnya?",ungkap Adelle menggebu-gebu. "Aku tidak rela bila El tidak mendapatkan kebahagiaan. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan dari siapapun, termasuk Kak Saga. Kamu tidak berhak ikut campur dalam masalahnya El. Aku tahu kamu sahabat dari Sam, tapi kamu harus ingat, bahwa El sudah tidak ada hubungan apa-apa sama Sam. Dan kamu....",ucap Adelle sambil menunjuk satu jari. "Jangan menjadi pihak ketiga dalam hubungan mereka. Karena El hanya menganggap kamu sebagai seorang Kakak atau seorang sahabat darinya!",tegas Adelle yang langsung pergi dari hadapan William.
William tercengang mendengarkan perkataan Adelle yang panjang lebar. Ia baru melihat seorang Adelle marah. Ia tersenyum manis melihat Adelle yang semakin berjalan menjauh darinya. Ternyata kalau kamu marah semakin cantik saja Del! batin William. Ia memotret Adelle dari kejauhan.
Disisi lain El menerima buket bunga mawar merah dan putih berbentuk boneka. "Terimakasih ya Kak!. Seharusnya Kakak tidak usah repot-repot membawakan aku bunga mawar seperti ini!",ucap El.
"Loh kenapa?. Bukankah bunga mawar merah menandakan cinta dan bunga putih menandakan sayang?",ungkap Saga.
"Bukan begitu Kak".
"Lalu?. Berikan aku satu alasan buat kamu menolak bunga ini dariku?",tanya Saga yang penasaran tentang jawaban dari El.
"Ya karena bunga mawar kan tidak bisa di makan, jadi mubazir kalau di buang. Kan sayang!",jawab El yang membuat gemas Saga.
Saga langsung mencubit kedua pipi El yang sedang merah merona. "Kan bisa di letakkan di pot bunga diberi air El!",keluh Saga gemas.
"Terus setelah beberapa hari layu dan pasti ujung-ujungnya dibuang kan".
"Tidak semua hal bisa diibaratkan oleh bunga, El. Apa lagi tanaman yang hanya bisa bertahan beberapa hari maupun bulan. Karena setiap manusia itu beda-beda. Apa lagi soal hati. Tidak ada yang bisa mengukurnya!",jelas Saga.
"Ok, penjelasan Kakak bisa aku terima. Dan lebih baik Kakak coba deh masuk ke perguruan sastra, aku pastikan Kakak akan lebih jago merangkai kata-kata mutiara yang indah!",goda El yang tersenyum lebar.
Saga tersenyum mendengarnya. Ia lalu mengacak-acak rambut El yang membuatnya gemas.
...***...
...Jangan lupa untuk komen, like dan vote....
...Terimakasih....
__ADS_1