Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Berbohong


__ADS_3

Happy Reading.


***


Akhirnya tengah malam pun tiba. El dan Saga masih terjaga di dalam mobil. Setelah mereka makan malam bersama di restoran bintang lima. Mereka berdua langsung pergi ke rumah sakit.


El tadi sempat berganti baju di restoran setelah makan malam. Sekarang ia memakan baju casual dan celana jeans yang berwarna denim.


"Kamu serius mau masuk ke dalam ruangan Sam?",tanya Saga tidak yakin.


"Aku serius Kak. Nanti aku di bantu sama Pak Ardi di dalam. Kakak gak usah khawatirin aku ya?",ucap El meyakinkan.


"Gimana aku gak khawatir sama kamu?. Kamu ada di dalam sana lho El, nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu bagaimana?. Kalau mereka sampai menangkap kamu bagaimana?",sahut Saga khawatir dan cemas.


"Itu gak akan Kak. Kakak percaya deh sama aku. Kalau nanti terjadi sesuatu sama aku, pasti Pak Ardi orang pertama yang menolong aku dari bahaya. Karena hanya Pak Ardi lah, orang yang masih di percaya oleh keluarga Dirga!",jawab El.


"Ok kalau itu mau kamu. Tapi, Kakak akan nungguin kamu di mobil ya?. Kakak gak mau terjadi sesuatu sama kamu?".


"Sebelumnya terimakasih Kak, tapi lebih baik tidak usah Kak. Kakak istirahat aja di rumah, nanti kalau terjadi sesuatu sama aku, aku akan kabari Kakak!",pesan El.


"Tapi El?",tolak Saga.


"Please Kak. Aku gak mau merepotkan Kakak. Kakak udah banyak bantuin aku selama ini. Jadi, aku mohon?",sahut El cepat karena ia tidak maua kalau Saga menunggunya di mobil.


Tring... Tring... Tring...


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel. El segera membukanya.


"Mbak ada dimana?. Cepat segera keruangan!. Para pengawal sedang tertidur lelap!".


Pak Ardi.


"Pak Ardi sudah memberikan pesan ke aku. Aku pergi dulu ya Kak?",kata El membuka pintu mobil.


"Kamu serius?",tanya Saga tidak yakin.


"Aku serius Kak. Demi Sam!",jawab El tegas. Ia menutup pintu mobil.


Saga membuka kaca mobil supaya bisa berbicara sama El. "Ya udah, kamu hati-hati ya?. Kalau ada apa-apa telepon Kakak!",pesan Saga.


"Iya Kak. Kakak cepat pulang ya?. Lalu istirahat?. Assalamualaikum!",pamit El segera berlari kedalam rumah sakit.


"Walaikumsalam!",jawab Saga. Ia melihat punggung El semakin lama semakin menjauh. Aku akan menunggu kamu di sini El?. Aku gak mau sesuatu terjadi sama kamu! batin Saga.


***


El berjalan menuju keruangan ICU. Ia mengirimi pesan kepada Ardi.


"Bapak ada dimana?. Ini sudah menuju ruang ICU?".


El.


"Pak Sam sudah dipindahkan keruang VVIP kelas 1 mbak. Mbak langsung kesini saja!".


Ardi.


El berhenti setelah membaca kata pindah. "Sam udah pindah keruang VVIP!",lirih El langsung berjalan menuju lift. Semoga para pengawal masih tertidur dengan pulas! doa El dalam hati. Pintu lift terbuka, ia segera bergegas keruang VVIP. Di sana Ardi menunggu kedatangannya.


"Mbak El!",panggil Ardi pelan.


El berjalan menghampiri Ardi. Ia melihat para pengawal tertidur dengan pulasnya. "Ini para pengawal kenapa Pak?",tanya El heran.


"Tadi aku kasih kopi mereka berdua. Dan aku beri obat tidur!",jawab Ardi tersenyum.

__ADS_1


El tercengang tidak percaya. "Bapak serius?".


"Kenapa tidak. Sekarang mbak El segera masuk. Sebelum para suster melihatnya!",bisik Ardi.


"Iya Pak. Terimakasih banyak!",ucap El tidak lupa mengucapkan terimakasih. Ia segera masuk kedalam ruangan.


Deg.


El melihat Sam sedang berbaring diranjang dengan mata tertutup. Nafasnya teratur. Ia mendekati tempat tidur. Ia memandang wajah Sam dengan iba. "Maafkan aku Sam, maaf telah membuat kamu dalam masalah sulit sekarang. Aku tahu, mungkin aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Tapi, aku janji, aku akan bantu kamu dalam masa pemulihannya nanti",lirih El sedih. Ia kemudian menyentuh dengan lembut kepala sampai pipi. "Aku sangat merindukanmu, Sam!",ucap El sedih. Ia menundukkan kepalanya menahan air mata supaya tidak terjatuh.


Sam merasa ada yang aneh di pipinya. Ia merasakan sentuhan yang sangat lembut dan tulus. Ia lalu membuka matanya lebar. Dan...


Ia terkejut bukan main, karena ada sesosok wanita yang ada disampingnya. Ia langsung bergerak riflek memundurkan badannya.


El tercengang melihat ada sesuatu yang bergerak ditangannya. Dan...


Ia mendongakkan wajahnya. Ia menggangga tidak percaya. "Sam!".


Sam menelan ludahnya dengan susah payah. "Kamu siapa?",tanya Sam kebingungan.


"Hm...!",ucap El bingung. Ia langsung menghapus air matanya yang menetes dipipi cantiknya itu. Apa benar bahwa Sam dinyatakan amnesia?. Kenapa dia tidak mengingat aku sama sekali?. Kalau dia ingat, pasti langsung memeluk aku! batin El sedih dan khawatir.


"Kamu siapa?. Apakah kamu hantu?",tanya Sam lugu. "Kenapa datang malam-malam sekali!. Apakah gak ada hari esok kesini?. Kayak gak ada waktu aja!",lanjut Sam kesal.


El masih mematung memandang Sam yang setengah duduk. Kalau aku jujur sama kamu, aku takut aku tidak akan bisa melihat kamu lagi, Sam!. Aku takut! batin El menangis.


"Eh!. Ditanya kok malah diam aja sih!. Punya mulut gak sih!",marah Sam.


El tersenyum lebar. "Kenalkan, aku Ane!",ucap El sambil mengulurkan tangannya untuk bisa bersalaman dengan Sam. Maafkan aku Sam, kalau aku berbohong sama kamu. Aku gak mau kalau orangtua kamu tahu, kalau aku berkunjung kesini malam ini! batin El.


Sam membalas jabat tangannya. "Terus ngapain kamu di sini malam-malam?".


"Aku datang pada saat tengah malam. Aku di suruh nungguin kamu di sini pada saat tengah malam!. Mungkin Papa dan Mama kamu tidak mau kalau kamu sendirian di sini!",terang El.


"Kenapa kamu tahu namaku?",tanya Sam mencari jawaban.


Sam masih memandang El dengan kebingungan yang mendalam. Hati dan jantungnya tidak bekerja dengan baik saat ada dia di sampingnya.


"Kamu ngapain lihatin aku seperti itu?",tanya El. Ia berdoa dalam hati supaya Sam masih mengingatnya dalam ingatannya.


Sam langsung melengos ke segala arah. "Tidak ada apa-apa!",jawab Sam. "Tolong ambilkan minum!. Aku haus?",perintah Sam.


El dengan sigap mengambil segelas air dari nakas meja. Ia menyodorkan gelas itu dengan penuh senyuman. Karena ia sangat bahagia bisa melihat Sam di rumah sakit ini.


Sam mengambil segelas air dari tangan El. Ia segera meneguknya dengan cepat, karena tenggorokannya sangat kering. "Terimakasih!",ucap Sam yang sudah memberikan gelas yang tandas kepada El.


"Sama-sama, Sam",jawab El. Ia lalu meletakkan kembali gelas di atas nakas.


"Kok kamu manggil aku dengan sebutan Sam?. Apa kamu tidak dimarahi sama majikan kamu?",tanya Sam.


"Ups... Maaf!. Aku tidak biasa memanggil kamu dengan sebutan tuan. Karena, kita seperti seorang teman. Makanya, aku manggil kamu dengan sebutan nama!",jawab El.


"Memang kamu sudah berapa tahun bekerja sebagai perawat di rumah ku?",tanya Sam penuh selidik.


"Cukup lama. Kamu tidak ingat sama sekali?",tanya El balik.


Sam mencoba mengingat-ingat masa lalunya, tetapi ia gagal tidak mengingat sama sekali. "Auh... Kepalaku sakit!. Aku tidak bisa mengingat apapun itu!",teriak Sam kesakitan.


Jadi benar, Sam amnesia! batin El merana.


Sam meronta-ronta memegang kepalanya. Ia merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya.


"Sam...kamu jangan memaksakan untuk mengingatnya?. Aku tidak butuh itu!",ucap El sambil menenangkan Sam.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak ingat semuanya!. Sebenarnya apa yang terjadi!",teriak Sam frustasi.


"Maaf, maafkan aku yang membuat kamu menjadi frustasi seperti ini. Aku mohon, hentikan Sam!. Aku tidak mau sesuatu terjadi sama kamu!",ucap El lemas.


Sam mencoba untuk mengatur emosinya. Ia benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi. "Tadi Mama dan Papaku datang kesini. Mereka bilang, mereka adalah orang tua ku. Kenapa aku tidak ingat apa-apa?. Apa lagi sama kamu?",ucap Sam sambil memandang wajah cantik El. Ia mencoba memegang wajah El dengan lembut. Ia ingin merasakan lagi getaran-getaran yang membuat hati dan jantungnya berjalan.


El mencoba melepaskan rasa rindu terhadap Sam. Ia sangat-sangat merindukan Sam. Ia menutup matanya, menyalurkan rasa rindu yang terpendam di dalam hatinya.


"Aku mohon, tinggallah sejenak di sini?. Aku benar-benar merasa ingin kamu ada di sampingku?",mohon Sam seperti anak kecil yang meminta sesuatu.


El memegang tangan Sam yang sedang memegang pipinya. Air matanya mengalir di kedua pipi. Tuhan, sembuhkanlah dia!.


"Kenapa kamu menangis?. Ada apa?",tanya Sam lemah.


Aku sangat merindukan kamu, Sam?. Aku mohon, ingatlah aku walau hanya satu menit! doa El yang masih memegang tangan Sam.


"Hei!. Kamu baik-baik saja?".


El masih terdiam. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya terhadap Sam. Andai saja dia tidak pulang, pasti kejadiannya tidak seperti ini!.


"Hei!. Kenapa kamu diam aja!",bentak Sam kesal.


"Iya, aku baik-baik saja!",sahut El langsung melepaskan tangan Sam dari pipinya. "Ya udah, kamu istirahat saja!. Aku nunggu kamu di sofa!",ucap El.


"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?".


"Tanya soal apa?",sahut El sambil membersihkan sofa.


"Aku tidak punya pacar ya?. Kalau aku punya pasti pacarku akan menemani aku di sini?. Lalu sampai sekarang kok tidak ada yang menjenguk aku selain kamu?",tanya Sam penasaran.


El menghela nafas panjang. Ternyata dia masih memikirkan tentang pacar?. Kirain kalau amnesia bakal lupa segala-galanya! batin El.


"Hei!. Kalau ditanya tuh di jawab, malah bengong aja!",kesal Sam.


"Ya mana aku tahu, kamu punya pacar atau gak!. Tanya aja sama Mama dan Papa kamu aja!",sahut El kesal.


"Katanya kamu perawat aku!. Seharusnya kamu tahu dong tentang masa lalu ku!".


"Emang aku seorang perawat. Tapi, aku gak mau ikut campur dalam urusan majikannya. Memang kalau kamu, aku kepoin kamu emang mau?. Enggakkan!",kata El yang menjawab sendiri pertanyaannya.


"Lalu aku harus cari informasi dari mana?. Aku pun gak kenal sama siapa-siapa!",ucap Sam pasrah. "Ya udah, aku mau tidur!. Jangan ganggu aku lagi!",lanjut Sam menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


El menghela nafas panjang. Ia duduk di sofa untuk bisa melihat wajah Sam dengan leluasa.


Di sisi lain seseorang berjalan ke arah ruangan VVIP.


Ardi dengan sigap masih berdiri di depan pintu ruangannya. Pak Edwan. Ngapain beliau malam-malam ke sini? batin Ardi bingung. Ia melihat para pengawal masih tertidur dengan pulasnya. Ardi mencoba untuk membangunkan para pengawal supaya mereka terbangun. Tetapi hasilnya nihil. "Sialan!. Kenapa dia datang kesini sih!",oceh Ardi kesal.


Semakin dekat dan dekat, Edwan sudah berdiri di depan Ardi yang mencoba untuk membangunkan para pengawal. "Ada apa ini?",tanya Edwan.


Ardi mendongakkan wajahnya ke atas, ia berfikir untuk memcari alasan yang logis. "Pak Edwan. Ini Pak, para pengawal tertidur, mungkin mereka mengantuk!",kata Ardi tenang.


Edwan marah dan kesal. Ia lalu membangunkan para pengawal dengan cara menendangnya.


"Jangan seperti itu Pak!. Kasihan mereka!",ucap Ardi merasa bersalah.


"Keluargaku bayar mahal-mahal hanya untuk tidur di rumah sakit!. Buat apa!",bentak Edwan.


Di sisi lain, El yang ada di dalam mendengar teriakan dan cacian dari depan ruangan ini. Gawat, ada yang berkunjung malam ini! batin El panik. "Aku harus mencari tempat sembunyi, sebelumnya mereka menemukanku!", pikir El.


Tetapi para pengawal masih tidak membuka matanya. Edwan merasa ada yang mengganjal dengan semua ini. Ia lalu melihat pintu ruangan VVIP itu penuh curiga.


***

__ADS_1


Jangan lupa untuk komen, like dan vote.


Terimakasih.


__ADS_2