Ellena Season 2 (Takdir Cinta)

Ellena Season 2 (Takdir Cinta)
Barang Branded


__ADS_3

Happy Reading.


***


Tok... Tok... Tok...


Suara ketokan pintu membuyarkan lamunan El. Ia segera bergegas membuka pintu. Ia tahu bahwa yang ada di depan pintu itu bukanlah Bella. Karena, ia sepakat kalau kunci kamar asrama ini di bagi menjadi dua bagian. Ia membuka pintu dan di depan pintu ada seseorang yang berdiri membawa beberapa paperbag.


"Kamar 345 ya Kak?",tanya seseorang itu.


El melihat seragam yang dikenakan seseorang itu. Dialah kurir sebuah paket. "Iya. Ada yang bisa saya bantu Kak?",tanya El sopan.


"Ini ada paketan atas nama Ellena Putri Wibowo?",kata petugas paket.


El mengenyitkan dahinya. Ia tidak memesan sesuatu, tetapi ada beberapa paperbag atas nama dirinya. "Kalau boleh tahu dari mana ya Kak?",tanya El curiga.


"Saya kurang tahu Kak. Soalnya saya cuma disuruh untuk mengantar pesanan ini!",jawab petugas paket. "Ini ada nama dan alamat butiknya, Kakak langsung telepon saja ke nomer yang tercantum di paperbag ini!",ide petugas paket. Lalu ia memberikan paperbag ke tangan El.


"Terimakasih Kak!",kata El sebelum petugas itu pergi. Ia kemudian membawa beberapa paperbag ke dalam kamar asramanya. Ia mengambil ponsel yang ada di atas ranjang, ia menekan tombol nomer ponsel yang ada di paperbag.


Tut.... Tut... Tut...


"Selamat siang, dengan butik XXX. Bisa saya bantu?",sapa seseorang dari seberangsana.


"Iya Kak. Saya Ellena, saya mau tanya tentang pengiriman barang atas nama Ellena Putri Wibowo. Kalau boleh tahu siapa pengirimnya ya Kak?",tanya El.


"Bentar ya Kak, saya cek dulu!",jawab seseorang disana. "Iya betul, disini ada yang tertera atas nama Ellena Putri Wibowo. Bisa saya bantu Kak?",tanya seseorang lagi


"Saya Ellena Putri Wibowo Kak. Saya tidak merasa memesan semua barang-barang branded disana. Kalau boleh tahu siapa orang yang memesan ya Kak?".


"Maaf Kak. Kalau itu pertanyaan dari Kakak, kami tidak bisa memberitahukan informasi mengenai pelanggan kami. Mohon maaf Kak sebelumnya",jawab seseorang.


"Tapi Kak, saya harus tahu siapa yang memesan barang-barang semua ini. Ini terlalu banyak Kak buat saya. Saya tidak bisa menerima semua ini, karena semua ini terlalu mahal",jelas El.


"Maaf Kak, kami benar-benar tidak bisa memberikan informasinya. Kalau Kakak ada complain atau semacamnya, Kakak langsung datang ke butik kami. Terimakasih!",kata seseorang itu yang langsung mematikan teleponcomp


Tut... Tut... Tut...


"Kok dimatiin sih!",kesal El mematikan ponselnya. Ia lalu membongkar paperbag yang ada di depan mata. Ada beberapa helai gaun yang sangat elegan. Ia membuka paperbag satunya lagi ada 3 kotak high heels yang berwarna hitam, peach dan putih. "Ya ampun, kok banyak banget sih!. Habis berapa puluh juta buat belanja barang-barang branded ini!",keluh El sedih. Lalu ia membuka paperbag satunya lagi, yang berisi aksesoris dan tas yang sangat banyak dan elegan. El ternganga melihat barang-barang branded yang ada di kamarnya sekarang.


Tring... Tring... Tring...


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Ia segera membuka pesan itu.


"Bagaimana barang-barangnya sudah sampai?. Tolong nanti malam memakai gaun yang dikirim itu ya?".


See you....


Sam.


Deg. El kaget membaca pesan dari Sam. Ia menyandarkan punggungnya di pinggiran tempat tidur. Ia lemas melihat semua barang branded di depan matanya. Dia menghabiskan berapa puluh juta untuk belanjaan seperti ini?. Aku tidak bisa menerimanya, karena aku tidak pantas memakai barang-barang ini.


***


Malam Hari.


El berdiri di cermin merias sedikit wajahnya dengan bedak. Ia tidak mau terlalu glamor untuk acara makan malamnya.


Bella masuk ke dalam kamar asrama, ia baru saja pulang dari tempat kerja. "Wowwww..... Mau kemana kamu, El?",tanya Bella takjub melihat penampilan El malam ini.


El sedang berdiri di depan Bella. Ia memakai gaun merah yang sedikit terbuka, ia sebenarnya tidak nyaman dengan gaun itu, tetapi ia harus menghargai pemberian dari Sam. Ia sengaja mengambil satu helai gaun yang di berikan tadi siang dari butik.


"Kamu cantik banget El malam ini?",kata Bella yang tidak berkedip melihat El yang berbeda dari hari-hari biasanya.


"Terimakasih Bel. Tapi, aku sedikit gak nyaman sih pakai gaun ini?",kata El ragu.


"Kenapa El?. Kamu pantas memakai gaun ini. Benar-benar cocok ?",ucap Bella tidak henti-hentinya memuji. Bella melihat di meja ada beberapa paperbag yang bertuliskan butik XXX yang terkenal di kota ini. Ia lalu mendekat dan melihat isi dalam paperbag itu. "Kamu habis belanja dari butik ini?",tanya Bella tidak percaya.


"Itu semua kiriman dari Sam, Bel",jawab El.

__ADS_1


"Sam?",kata Bella berfikir. "Sam pendiri perusahaan XXX itu, El?",tanya Bella tidak percaya.


El menjawab dengan mengangguk kepalanya.


"Serius?".


"Iya Bel. Aku mengambil satu helai gaun ini, buat menghargai pemberian dia. Dan semua barang-barang yang masih di paperbag, aku akan mengembalikannya. Aku gak enak banget sama dia, terlalu mahal buat aku",jawab El.


"Beruntungnya kamu punya sahabat seperti dia. Aku iri banget lho sama kamu?",kata Bella.


"Biasa aja kali Bel. Aku malah sering banget berantem sama dia. Soalnya dia nyebelin banget sih!",ucap El tiba-tiba.


"Nyebelin tapi kamu suka kan!",goda Bella.


El tersenyum mendengar godaan dari Bella. Hatinya memanas , pipinya bersemu merah. Ia tahu sekarang ia telah jatuh cinta kepada Sam.


"Cieeee .....yang hatinya sedang berbunga-bunga!",goda Bella lagi.


"Apaan sih Bel. Kita cuma sebatas sahabat aja Bel!",sahut El.


Tok... Tok... Tok...


Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu.


Bella berinisial membuka pintu. Ia membuka pintu dengan cepat. "Waowwwww....!",matanya terbelalak melihat sesosok orang tampan berdiri di depan pintu kamar asramanya. Ya Tuhan, inikah jodoh dari Mu?. Yang kau kirimkan untukku?.


"Mbak... Mbak...?",panggil Pak Ardi beberapa kali.


Bella terbangun dari lamunan. "Iya Om. Bisa saya bantu?",tanya Bella penuh semangat.


"Om!",ucap Pak Ardi pada dirinya sendiri. "Ini kamar asramanya Nona El, maksud saya Ellena?",tanya Pak Ardi dengan tegas.


"Iya. Anda siapa ya?".


"Saya driver pribadi dari Pak Sam. Saya kesini mau menjemput Nona El",jawab Pak Ardi.


El yang melihat tingkah laku Bella bingung. Tidak biasanya Bella seperti itu. "Siapa Bel, tamunya?",tanya El penasaran.


Bella segera menghampiri El dengan hati yang tidak karuan. "Dia ganteng banget El. Kenapa kamu gak bilang bahwa drivernya se-ganteng itu?",kata Bella sambil tersipu malu.


"Ganteng. Driver. Siapa ?".


"Itu. Drivernya Sam!".


Deg. El terdiam. Ia masih teringat jelas apa perkataan dari Sam, ia akan di jemput oleh Sam sendiri. Tetapi, kenapa Pak Ardi yang menjemputnya?.


"Kok kamu diam aja sih, cepat bergegas?. Pasti Om-Om itu nunggu lama di depan!",kata Bella.


"Namanya Pak Ardi, Bel. Bukan Om-Om!",seru El.


"Siapalah namanya, itu gak penting. Yang penting sekarang kamu cepat keluar!",kata Bella.


"Iya-iya",jawab El. Ia berdiri dari kursi riasnya. Ia menenteng beberapa paperbag. Ia memakai jaket kulit untuk menutupi kulit mulusnya dari mata anak-anak kampus lainnya.


Pak Ardi masih berdiri di depan pintu kamar asrama. Ia melihat El keluar dari kamar membawa paperbag yang begitu banyak. "Mbak El, kok bawa barang banyak?",tanya Pak Ardi yang langsung menghampiri El.


"Iya Pak. Ini semua dari Sam tadi siang. Saya tidak enak di kirimi dan di belikan semua barang-barang branded ini. Saya mau mengembalikan kepada Sam, Pak!",jelas El.


"Tapi, apakah Pak Sam mau mbak?. Soalnya ini pasti barang-barang wanita semua?",tanya Pak Ardi.


"Tapi ini semua belanjaannya menghabiskan puluhan juta Pak. Saya tahu branded apa saja Pak yang termahal di negara ini. Dan branded ini termasuk dalam kategori branded tertinggi disini. Saya tidak enak Pak sama Sam!",kata El.


"Ya udah kalau itu mau mbak. Sini saya bantu mbak?",kata Pak Ardi.


"Tidak usah Pak. Saya masih bisa kok. Terimakasih sebelumnya!",jawab El sungkan.


"Ya udah mbak. Mari, kita ke mobil",kata Pak Ardi.


Pak Ardi dan El berjalan menuju ke parkiran. Pak Ardi membukakan pintu buat El.

__ADS_1


"Saya duduk di depan saja Pak!",kata El membuka pintu depan.


"Tapi mbak, saya tidak enak sama mbak El?",sahut Pak Ardi.


"Tidak usah sungkan Pak. Saya yang seharusnya Terimakasih sama Bapak. Bapak jauh-jauh jemput saya kesini?",ucap El.


"Sudah menjadi tugas saya Mbak. Silakan masuk!",kata Pak Ardi.


El duduk di samping kemudi. Pak Ardi langsung menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan sedang.


"Maaf ya mbak, yang jemput mbak adalah saya!",ucap Pak Ardi membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa Pak. Lalu kalau boleh tahu Pak Sam kemana ya Pak?",tanya El penasaran.


"Pak Sam sedang menjemput seseorang mbak dibandara. Jadi, saya di utus beliau untuk menjemput mbak El",jelas Pak Ardi.


Seseorang?. Siapakah itu?. Apakah dia istimewa buat Sam sampai-sampai Sam rela menjemputnya? pikir El membayangkan sesuatu yang begitu abstrak. "Iya Pak. Saya tahu Pak Sam sangat sibuk. Dan Makan malam ini adalah pelunas tagihan permintaan beliau",jelas El.


"Iya mbak. Mbak saya mau minta maaf atas kejadian dulu pada saat di rumah sakit itu. Saya terlalu menyakiti hati mbak El?",ucap Ardi ikhlas sambil fokus mengemudi kendaraan.


"Tidak apa-apa kok Pak. Saya yang seharusnya berterima kasih kepada Bapak, karena telah menyadarkan saya akan hal sesuatu yang sangat berharga bagi hidup saya. Karena saya yakin Bapak tidak tahu permasalahannya dari awal. Makanya Bapak bisa berkata seperti itu",kata El.


"Iya mbak. Saya juga tidak menyangka kenapa mas Edwan bisa sejahat dan seegois itu. Padahal mbak El adalah orang baik yang selama saya kenal",sahut Ardi.


"Saya juga masih banyak kekurangannya kok Pak. Mohon bantuannya bila nanti saya melakukan kesalahan yang fatal",kata El.


"Baik mbak!",jawab Ardi.


***


Beberapa menit kemudian sampai di tempat tujuan. Sebuah gedung yang menjulang tinggi.


Pak Ardi membukakan pintu sebelum El membukakan pintunya. "Silakan mbak!",kata Ardi.


El tersenyum menawan. Ia turun dari mobil mewah itu.


Ia melihat gedung yang menjulang tinggi. "Kami akan makan malam disini Pak?",tanya El tidak menyangka bahwa akan makan malam di restoran bintang lima.


"Iya mbak. Memang ada apa ya Mbak?".


"Tidak apa-apa Pak. Saya terlalu grogi masuk kedalam restoran ini", kata El berkeringat dingin.


"Santai saja mbak. Nanti mbak akan terbiasa dengan sendirinya!",jawab Pak Ardi.


"Bapak pasti sedang menertawakan saya kan di dalam hati Bapak?",ucap El.


"Tidak mbak. Mana mungkin saya berani menertawakan mbak El!. Bisa-bisa saya langsung di pecat sama Pak Sam!",jelas Pak Ardi.


Huft... El mengatur nafas. Ia tidak mau memalukan Pak Ardi dan Sam.


"Lebih baik, jaketnya di lepas ya mbak?", perintah Ardi.


"Baik Pak!",jawab El melepaskan jaket kulit yang melekat di tubuhnya.


"Saya antar mbak ke atas!",kata Pak Ardi.


Mereka berdua berjalan beriringan. El tidak mau berjalan di belakang Pak Ardi. Ia selalu di samping Pak Ardi. Mereka berdua menaiki lift membawa mereka ke lantai atas. Setelah lantai atas terbuka dengan lebar. El di buat takjub bahwa seluruh dinding dan lantai maupun atapnya terbuat dari kaca.


"Silakan mbak?", perintah Ardi mempersilahkan.


El berjalan pelan-pelan tapi pasti. Ia mengangga tidak percaya melihat kesekeliling ruangan yang begitu luas dengan pemandangan kota New York. Ia berlari menuju ke dinding kaca.


Ardi melihat El seperti anak kecil yang baru pertama melihat sebuah kota impiannya yang indah. Ardi mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar El yang sedang berlari menuju dinding kaca itu.


***


Jangan lupa komen, like dan vote.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2