
Dihadapan Pedang Pencabut Nyawa, Ling Zhen meneteskan darah segar dari jempolnya dan berkata, “Saat darahku menyentuh tanah, maka mereka bertiga akan menjadi benang merah hidupku, begitu juga dengan ketiga istriku.”
Seketika langit menghitam dan petir bergumuruh. Terlihat Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara yang sudah berdandan dengan anggun berdiri disamping Ling Zhen.
Sementara Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan menyaksikan ritual pernikahan suci bersama Ibu Ling Zhen.
Petir menyambar tubuh Ling Zhen, Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara. Lalu selang beberapa detik, tubuh Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan juga tersambar namun mereka semua tidak terluka sedikitpun.
Ling Zhen melihat sebuah tanda rantai berwarna hitam muncul dibadannya lalu menghilang. Kemudian dia melihat Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara secara bergantian.
“Telapak tangan kananku?” Que Mi memperhatikan telapak tangan kanannya yang memiliki tanda ukiran petir.
Xue Lianhua dan Mizuhara juga memiliki tanda yang sama bahkan Ji Yanran, Yue Rou dan Chu Xiulan juga ada.
Ling Zhen berkata, “Itu adalah tanda bahwa langit telah menghendaki dan merestui pernikahan ini. Kalian adalah istriku, kalian adalah kebanggaanku.”
Ibu Ling Zhen tidak percaya melihat anak semata wayangnya begitu pandai mengatakan hal yang membuat enam wanita cantik dihadapannya langsung takluk akan perkataannya.
Ada perubahan dari tatapan dan raut wajah Ling Zhen setelah ritual pernikahan selesai. Pemuda itu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
‘Aku akan membahagiakan mereka. Mereka adalah keluargaku, jika aku kehilangan arah, aku ingin kau mengambil alih tubuhku dan membunuhku. Aku tidak ingin menyakiti siapapun.’ Ling Zhen berkata kepada Kutukan Roh Dewa Kematian melalui telepati didalam pikirannya.
‘Sumpah ini disaksikan langsung olehku dan ingatan Para Dewa. Mulai saat ini mereka berenam adalah istrimu. Aku tidak akan membunuhmu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan?’ Kutukan Roh Dewa Kematian menjawab sambil tertawa keras dialam bawah sadar Ling Zhen.
‘Jangan memendam semua masalahmu sendirian. Ada mereka berenam yang menjadi pendamping hidupmu, kau bisa menceritakan masalahmu kepada mereka.’ Kutukan Roh Dewa Kematian memberi saran.
Seketika Ling Zhen mengingat Rubah Putih, karena bagaimanapun ucapan Kutukan Roh Dewa Kematian sama persis ketika Rubah Putih memberi nasehat kepada dirinya.
‘Ya, kau benar. Aku melupakannya. Aku mempunyai mereka. Aku tidak akan mati sampai menemukan kebahagiaanku.’ Ling Zhen menatap penuh rasa sayang kearah Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan, Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara.
Tak lama terlihat Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara memeluk tubuh Ibu Ling Zhen. Ketiga perempuan itu tersenyum cerah setelah resmi menjadi istri Ling Zhen.
Pernikahan yang sangat berbeda dari biasanya, Ling Zhen sendiri ingin melakukan sesuatu yang mewah. Tetapi dia menyadari jika Xue Lianhua dan Que Mi merupakan pendekar dari Sekte Lembah Perawan.
__ADS_1
Pernikahan tertutup terlintas dalam pikirannya. Ling Zhen mengikuti arahan Kutukan Roh Dewa Kematian melalui ingatan Roh Dewa, kemudian mengukir sumpah diatas langit dan menerima restu kehendak langit.
Ditengah-tengah kebahagiaan itu, Ling Zhen memberikan waktu bagi keenam istrinya untuk mengobrol bersama Ibunya.
“Ranran, jadi sekarang kau telah hamil? Bibi tidak lama lagi akan mempunyai seorang cucu.” Ibu Ling Zhen tertawa pelan begitu juga dengan Ji Yanran.
“Ibunda, aku juga akan memberikan cucu untukmu.” Chu Xiulan nampak malu mengatakan itu. Tetapi wajahnya menunjukkan keseriusan jika dirinya juga ingin cepat-cepat menyusul Ji Yanran.
“Xiuxiu, mulai sekarang kalian bisa menganggapku sebagai Ibumu. Ini tidak berlaku untuk Xiuxiu saja, melainkan kalian semua.” Ucap Ibu Ling Zhen dan disambut senyuman bahagia oleh Ji Yanran, Yue Rou, Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara.
Ling Zhen yang melihat situasi ini ingin bersembunyi, dia merasa begitu bahagia melihat semua ini sekaligus malu disaat yang bersamaan karena menyadari dirinya berada diantara ketujuh perempuan.
“Zhen‘er, kamu memiliki kharisma yang unik. Sayangi dan cintai istri-istrimu ini. Ibu mendukungmu Nak.” Ibu Ling Zhen tersenyum jahil kearah Ling Zhen.
Ling Zhen salah tingkah, dia memalingkan wajahnya saat keenam istrinya menatap dirinya.
“Baiklah, Ibu akan pergi bersama mereka bertiga di rumah yang dibuat Xiuxiu. Kalian berempat bisa menggunakan rumah ini.” Ibu Ling Zhen berjalan dituntun Chu Xiulan menuju sebuah rumah yang terbentuk dari pepohonan.
“Zhen‘gege, kau bisa menggunakan rumah yang kubuat didekat Kolam Lima Warna.” Ucap Chu Xiulan memberitahu.
“Rourou, seharusnya kau cemburu dan bukan tersenyum seolah-olah menerima poligami ini!” Ji Yanran sebenarnya kesal, tetapi dirinya tidak memungkiri jika telah menerima kondisi Ling Zhen.
Pemuda yang telah menjadi suaminya itu tentu akan melakukan hal yang lebih tidak terduga daripada ini. Setelah menikahi dua wanita sekaligus di Kekaisaran Chu, sekarang Ling Zhen menikahi ketiga wanita sekaligus di Lembah Dewa.
Ji Yanran mengelus perutnya lalu mengedipkan matanya kearah Ling Zhen membuat pemuda itu tersenyum penuh makna.
Saat hari menjelang malam, Ling Zhen, Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara sudah berada di rumah sederhana yang terbuat dari kayu dan pepohonan disekitar Lembah Dewa.
Rumah sederhana yang terbentuk dari aura tubuh Chu Xiulan sangat praktis karena langsung jadi dalam hitungan menit.
Ruang tengahnya berisi tiga alas yang seperti ranjang tipis berjejer. Ling Zhen memegang kepalanya dan merasa Chu Xiulan sengaja menjahilinya.
Dirumah itu hanya ada dua kamar, Ling Zhen membalikkan badannya menatap ketiga perempuan yang terlihat begitu cantik malam ini dimatanya.
__ADS_1
“Sebaiknya kita mengobrol dulu, kalian bertiga tidak perlu terlalu tegang. Dibawa santai dan biarkan semuanya berjalan dengan alami.” Ling Zhen berusaha mencairkan suasana.
Que Mi langsung melebar matanya, sontak gadis muda itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia mengetahui malam ini dirinya akan kehilangan sesuatu yang paling dia jaga.
“Aku... Aku akan menunggu dikamar ini.” Que Mi gelagapan dan segera masuk kedalam kamar yang ada didekatnya.
Mizuhara kebingungan melihat Que Mi sudah masuk kedalam kamar walau kamarnya belum terkunci sepenuhnya.
“Mungkin sebaiknya kau bisa memulainya dari Kakak Xue. Aku akan menunggu.” Mizuhara pergi meninggalkan Xue Lianhua dan Ling Zhen menuju ruang dapur.
Entah apa yang ada dipikiran Mizuhara, tetapi gadis itu membuat teh hangat untuk menenangkan dirinya.
“Hanya sisa kita berdua. Mereka berdua benar-benar pemalu.” ujar Ling Zhen sambil menggelengkan kepalanya, lalu menatap Mizuhara yang sudah menghilang dari pandangannya.
Xue Lianhua yang sedari tadi diam akhirnya berbicara, “Aku justru heran kenapa kau masih bersikap santai. Ini adalah malam pertama kita, ah lupakan, ini adalah yang pertama untukku tapi tidak denganmu, dasar tukang selingkuh.”
Ling Zhen melihat ada kekesalan dan kecemburuan diwajah Xue Lianhua.
“Bukankah kita sudah resmi menjadi suami istri. Apa tidak ada panggilan yang lebih mesra?” Ling Zhen membalas ucapan Xue Lianhua dengan santai.
Wajah Xue Lianhua memerah, “Kau lebih muda dariku. Aku...” Suara Xue Lianhua tercekat saat telapak tangan Ling Zhen menyentuh pipinya.
“Lian‘er, kau terlihat semakin cantik dari terakhir kali kita bertemu. Sebut namaku dengan benar, sekarang aku adalah suamimu dan kau adalah wanitaku.” Xue Lianhua dibuat tidak berdaya dan takluk karena perkataan yang membius pikirannya dari seorang pemuda yang tujuh tahun lebih muda darinya.
“Gege...” ucap Xue Lianhua malu-malu, kepalanya menunduk dan ingin menyembunyikan ekspresinya namun Ling Zhen menahan dagunya dan mengecup sekilas bibirnya.
“Ini yang ingin kudengar darimu. Kau sempurna malam ini.” Ling Zhen menarik lembut tangan Xue Lianhua menuju kamar kosong dan menutup pintu kamar tersebut dengan rapat.
Ling Zhen mulai melepaskan aura tubuhnya lalu membuat kamar tersebut menjadi kedap suara. Lalu pandangan matanya tajam kearah Xue Lianhua.
“Lian‘er, apa kamu siap?” Sebuah pertanyaan dari Ling Zhen membuat Xue Lianhua gugup.
“Gege, apa tidak bisa kita beristirahat dulu malam ini? Aku ingin tidur untuk melepaskan penatku.” ujar Xue Lianhua beralasan. Perempuan berumur dua puluh lima tahun itu menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan.
__ADS_1
Namun belum sempat Xue Lianhua menoleh kearah Ling Zhen, sebuah pelukan lembut dari belakang membekap dirinya.
“Aku tidak bisa menunggunya, Lian‘er. Kau terlihat begitu cantik malam ini, aku ingin.”