Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 115 - Tanggung Jawabku


__ADS_3

Jauh didalam ruangan bawah tanah Paviliun Bulan Biru yang biasa digunakan untuk mengurung para penjahat yang berniat mengusik kelompok dagang ini digunakan untuk mengekang Qian Yu.


Tubuh Qian Yu penuh dengan luka lebam akibat dipukuli dan ditendang Hu Gu. Bahkan yang lebih parah Hu Gu mencambuk tubuh Qian Yu hingga membuat wanita paruh baya itu memiliki sejumlah luka lebam berdarah disekujur bagian tubuhnya.


Qian Yu duduk dengan tubuh yang lemah, dia tidak menyangka hidupnya akan hancur seperti ini. Dalam hatinya dia merasakan rasa sakit yang menyayat saat mengetahui Hu Gu berniat menjajakan tubuhnya pada pendekar Serigala Hitam.


Saat Qian Yu larut dalam lamunannya, seorang pemuda datang membuka jeruji besi bersama seorang perempuan cantik. Sementara dua wanita paruh baya yang menemani pemuda dan perempuan cantik itu telah pergi.


“Bibi Qian...” Pemuda yang tak lain adalah Ling Zhen menyapa Qian Yu yang duduk merenung.


Lamunan Qian Yu terbuyarkan saat melihat wajah Ling Zhen yang terlihat lebih tampan dibandingkan saat keduanya terakhir bertemu.


“Zhen‘er? Tidak, maksudku Tuan Muda Ling? Apakah ini benar-benar dirimu?” Qian Yu meneteskan air mata, dia tidak menyangka orang yang akan menyelamatkan dirinya bukanlah suaminya melainkan Ling Zhen.


“Maafkan aku, Bibi Qian. Kau seperti ini karena salahku.” Mata Ling Zhen tidak lepas dari kulit tubuh Qian Yu yang dipenuhi luka lebam.


‘Separah-parahnya aku sebagai seorang manusia, aku tidak pernah memukul seorang wanita...’ Ling Zhen memejamkan matanya. Saat ini perasaannya dipenuhi melodi kemarahan.


Xue Lianhua memegang tangan Ling Zhen untuk menenangkan suaminya itu, “Gege...”


Ling Zhen membuka matanya dan menatap Xue Lianhua yang mengerti perasaan dirinya.


“Aku mengerti, Lian‘er.” Ling Zhen mendekati Qian Yu dan membungkukkan badannya.


“Bibi Qian, kau boleh melampiaskan semua ini padaku. Akulah penyebab penderitaanmu ini.” Ling Zhen menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk tidak lepas kendali karena dia paling tidak suka melihat seorang wanita disiksa.


Kini dihadapannya terlihat Qian Yu dengan tubuh yang memprihatinkan dan tentu itu membuat Ling Zhen begitu marah. Umur Qian Yu sendiri lima tahun lebih muda dari Ibunya, tentu melihat Qian Yu dalam kondisi seperti ini membuat darah Ling Zhen mendidih.


Qian Yu meneteskan air matanya dan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Semua ini terlalu berat untuk dia tanggung, tanpa sadar wanita itu memegang pundak Ling Zhen dan membuat pemuda itu berdiri tegak dihadapannya.

__ADS_1


Lalu Qian Yu menangis didada Ling Zhen sambil memeluk tubuh pemuda itu. Melihat itu Xue Lianhua memejamkan mata karena mengetahui bagaimana perasaan Qian Yu yang dipenuhi kesedihan.


Ling Zhen hendak mengelus rambut Qian Yu namun tangannya berhenti, ‘Bibi Qian seperti ini karena kesalahanku... Aku akan menebus dosaku ini yang telah membuat wanita ini menderita...’


Ling Zhen memejamkan matanya dan membiarkan Qian Yu menangis didadanya. Butuh waktu lama bagi Qian Yu untuk menenangkan dirinya.


“Zhen‘er... Apa boleh Bibi Qian memanggilmu begitu seperti dulu?” Qian Yu hendak menyeka air matanya, namun jari-jemari Ling Zhen lebih dulu menyeka air matanya.


“Tentu saja boleh, Bibi Qian.” Ling Zhen menatap wajah Qian Yu yang berkerut tetapi harus dia akui Qian Yu masih terlihat cantik.


Qian Yu memegang telapak tangan Ling Zhen lalu menatap Xue Lianhua, “Sepertinya kau tidak datang dengan Nona Ji?”


Ling Zhen menjelaskan kepada Qian Yu tentang kelahiran anak pertamanya dan Ji Yanran yang menetap di Ibukota Chudong bahkan Ibunya yang telah bangun. Mendengar semua itu membuat Qian Yu tersenyum, namun beberapa saat wajahnya tampak sedih.


“Aku tidak menyangka Nona Ji akan memiliki seorang anak... Pastinya anak kalian sangat menggemaskan. Aku jadi ingin melihatnya.” Qian Yu mengatakan itu dengan senyuman. Ling Zhen yang melihat senyuman itu merasakan kesedihan yang mendalam.


“Bibi Qian, aku akan menceritakan semuanya tentang Serigala Hitam dan suamimu...” Ling Zhen mengatakan bahwa dirinya yang telah membunuh semua anggota Serigala Hitam.


“Bibi Qian?” Ling Zhen berpikir jika Qian Yu menangis karena Hu Gu telah mati.


“Aku hanya bingung harus berekspresi seperti apa, Zhen‘er...” Qian Yu menyeka air matanya dan tersenyum, “Aku ingin menyendiri.”


Setelah itu Qian Yu berjalan menuju lantai atas Paviliun Bulan Biru. Ling Zhen dan Xue Lianhua menunggu Qian Yu didalam kamar pribadi milik Ling Zhen.


“Gege, sepertinya aku bisa menebak jalan pikiranmu. Apa kau ingin menanggung semua penderitaan Bibi Qian? Jika benar, maka kau akan melamarnya malam ini bukan?” Xue Lianhua tidak merasa cemburu, bahkan wanita ini merasa bahagia melihat Ling Zhen yang sangat peduli terhadap kondisi Qian Yu.


Ling Zhen menelan ludah karena perkataan Xue Lianhua tentu menjadi pembicaraan yang serius. Pemuda itu menghela nafas panjang dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


“Aku tidak mengerti, Lian‘er! Tetapi aku adalah penyebab semua ini! Bibi Qian sangat lembut seperti Ibu, aku hanya tidak tahan melihat wanita seperti Bibi Qian harus mengalami itu semua.” Ling Zhen bimbang karena dirinya takut menyakiti perasaan Xue Lianhua dan istrinya yang lain.

__ADS_1


“Gege, temui Bibi Qian. Aku takut dia mencoba bunuh diri.” Xue Lianhua menebak jika Qian Yu sedang dalam keadaan hampa.


Ling Zhen mengerutkan keningnya, “Bunuh diri katamu?” Setelah itu Ling Zhen segera bergerak menuju ruangan yang sedang digunakan Qian Yu.


‘Bibi Qian, jangan melakukan tindakan bodoh! Aku mohon!’ Ling Zhen bergerak dengan cepat lalu mendorong pintu dengan keras. Matanya melebar melihat Qian Yu sedang mengarahkan pisau tajam kearah lehernya.


Ling Zhen segera memegang telapak tangan Qian Yu dan membuang pisau tajam iu jauh-jauh.


“Bibi Qian! Apa yang kau lakukan?!” Ling Zhen tidak menyangka Qian Yu akan mencoba bunuh diri.


“Zhen‘er lepaskan! Biarkan aku tenang dalam kedamaian! Aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini! Hidupku sudah hancur!” Qian Yu menangis dan meraung. Wanita itu tidak peduli jika pegawai Paviliun Bunga Raya mendengarnya.


Ling Zhen memeluk tubuh Qian Yu dengan erat lalu mengecup kening wanita paruh baya itu.


“Pasti menyakitkan melalui semua itu sendirian... Maafkan aku karena tidak menyadari semua ini...” Ling Zhen menatap wajah Qian Yu yang membeku.


Melihat Qian Yu yang begitu rapuh membuat telapak tangan mengelus lembut pipi wanita paruh baya itu. Ling Zhen mendekatkan wajahnya ke wajah Qian Yu lalu mengecup singkat bibir wanita paruh baya itu.


“Bibi Qian, aku akan menebus semua dosaku pada dirimu. Aku akan membuatmu bahagia dengan menjadi seorang wanita seutuhnya.” Ling Zhen mengungkapkan perasaan dan pikirannya setelah melihat sendiri kondisi Qian Yu.


“Jadilah pendamping hidupku...” Ling Zhen mengelus jari manis Qian Yu dan melepas cincin yang melingkar dijari manis wanita itu sebelum menggantinya dengan sebuah cincin indah yang berkilauan dan mengandung aura tubuh serta energi kehidupannya.


Jantung Qian Yu berdebar kencang. Tubuhnya lunglai, namun Ling Zhen menahannya. Dalam hidupnya dia tidak menyangka bocah yang sering dijahili majikannya ini melamarnya.


Qian Yu menundukkan kepalanya, ‘Bagaimana ini? Apa aku harus menjawabnya sekarang? Tidak, semua ini tidak benar. Aku sekarang seorang janda dan wanita yang ternoda, sedangkan dia...’


Ling Zhen mengelus pipi Qian Yu dan kembali berkata, “Bibi Qian, apa aku terlalu muda untukmu? Jika kau berpikir begitu, aku berjanji akan membahagiakan dirimu selama kau menerima kekurangan dan kondisiku ini.”


“Zhen‘er...” Suara Qian Yu terasa berat. Wanita paruh baya itu kembali menundukkan kepalanya dan menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Ling Zhen yang melihat itu bertanya, “Apa kau bersedia menjadi pendamping hidupku, Bibi Qian?”


Qian Yu kembali menganggukkan kepalanya lalu menatap wajah Ling Zhen malu-malu, “Aku bersedia, Zhen‘er.” Setelah itu buliran air mata membasahi wajah Qian Yu.


__ADS_2