
Dua bulan telah berlalu, Qian Yu malam ini mendapatkan mimpi terindahnya dimana dirinya memiliki seorang anak. Pemuda yang telah membuatnya mejadi wanita yang sesungguhnya adalah Ling Zhen, suami mudanya itu telah membuatnya hamil.
Pagi ini Qian Yu sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan pagi, wanita paruh baya itu memanggil Xue Lianhua yang habis berlatih begitu juga dengan Ling Zhen yang semalam meminta jatah padanya.
Saat Ling Zhen dan Xue Lianhua sudah berada diruang makan, Xue Lianhua menceritakan kepada Qian Yu jika dirinya tidak bisa fokus berlatih.
“Bibi Qian, aku merasa akhir-akhir ini mulai merasa mual. Apa aku...” Xue Lianhua tidak melanjutkan perkataannya karena dihadapannya Qian Yu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Qian Yu merasakan dalam perutnya mulai bergejolak, “Huek... Huek...” Segera Xue Lianhua berdiri, begitu juga dengan Ling Zhen yang memijat leher belakang wanita paruh baya itu.
Ling Zhen tersenyum melihat Xue Lianhua dan Qian Yu mengalami kondisi seperti ini akhir-akhir ini.
“Bibi-” Ling Zhen setengah jongkok dan mengusap bibir Qian Yu yang masih ada cairan, “Bibirmu basah, Yu‘er.”
Xue Lianhua menghela nafas ringan, “Gege, aku rasa diriku ini sedang hamil. Dan Bibi Qian juga..”
Qian Yu tanpa sadar menangis. Akhirnya dirinya dapat merasakan hamil, namun dia tidak pernah menyangka ayah dari bayi didalam rahimnya adalah Ling Zhen.
Ling Zhen memeluk tubuh Xue Lianhua dan Qian Yu lalu mengelus perut keduanya penuh kasih sayang, “Aku akan berusaha agar bisa menjadi suami dambaan kalian.”
“Gege, terimakasih.” Qian Yu mengecup pipi Ling Zhen tanpa malu.
Xue Lianhua ikut mengecup pipi Ling Zhen. Mendapatkan dua kecupan istrinya dipagi hari membuat Ling Zhen bahagia.
Setelah itu mereka bertiga sarapan pagi bersama, Ling Zhen sendiri merasa bahagia karena Xue Lianhua dan Qian Yu telah mengandung anaknya.
Dan Ling Zhen akui dirinya tidak pernah menyangka akan membuat Qian Yu sebagai istrinya, terlebih wanita paruh baya itu sekarang sedang mengandung anaknya.
Setelah Xue Lianhua dan Qian Yu hamil, Ling Zhen tidak pernah memaksa keduanya untuk berhubungan badan. Ling Zhen akan melakukannya jika Xue Lianhua dan Qian Yu yang meminta.
“Aku harus mencapai Pendekar Dewa Tahap Awal, apapun yang terjadi aku harus mencapainya sebelum umurku menginjak sembilan belas tahun.” Ucap Ling Zhen mantap saat melihat Xue Lianhua dan Qian Yu sedang mengobrol diteras rumah.
__ADS_1
Rumah yang ada di Lembah Dewa sudah dia renovasi lebih besar. Ling Zhen tersenyum bahagia saat melihat ekspresi cerah Xue Lianhua dan Qian Yu. Senyuman istrinya adalah kebahagiaannya.
Kembali Ling Zhen berlatih, namun seperti biasa Ling Zhen tidak dapat meningkatkan kemampuannya. Ling Zhen tidak menyangka kondisi tubuhnya yang terkena Kutukan Roh Dewa Kematian membuatnya sulit menembus Pendekar Dewa Tahap Awal.
“Sebaiknya aku mempelajari ini...” Ling Zhen mulai berlatih membuat pil karena dirinya pernah berlatih bersama Que Mi.
Dalam kurun waktu lima bulan Ling Zhen sudah lebih mahir membuat pil menggunakan Api Phoenix. Setelah matahari terbit, Ling Zhen tersenyum melihat Pil Pesona Surgawi ditangannya dan pil kecantikan yang dirinya buat dia beri nama Pil Jelita Abadi.
Ling Zhen berniat untuk melihat kondisi Chu Xiulan dan Yue Rou, sehingga dia akan mengajak Xue Lianhua dan Qian Yu ke Kekaisaran Chu.
Sesampainya di rumah, Ling Zhen melihat Qian Yu sedang masak didapur. Perut wanita paruh baya itu sedikit membuncit. Melihat keindahan itu Ling Zhen menelan ludah karena penampilan Qian Yu pagi ini sangat membuat hasrat yang telah lama dia tahan naik, istri ketujuhnya itu sangat menggoda dengan pakaian putih tipis yang dikenakannya.
Ling Zhen yang sudah tidak mendapatkan jatah dari kedua istrinya yang tengah hamil itu akhir-akhir ini segera mendekati Qian Yu dan memeluk tubuhnya dari belakang.
“Zhen‘er, ada apa? Pagi-pagi sudah manja...” Qian Yu tersenyum menggoda saat telapak tangan Ling Zhen mengelus lembut perutnya.
“Aku ingin menyapa anakku dan tentunya...” Ling Zhen mencium harum wangi rambut belakang Qian Yu lalu mengecup tengkuknya, “Aku juga ingin menyapa Ibunya.”
Qian Yu berbalik dan mengecup bibir Ling Zhen singkat, tangan Qian Yu menarik Ling Zhen setelah itu dia duduk dikursi dengan Ling Zhen yang berdiri dihadapannya.
Setelah merasa nyaman dengan posisi duduknya, telapak tangan Qian Yu memegang sesuatu yang membesar dan menegang sepenuhnya.
Ling Zhen menelan ludah menikmati sentuhan telapak tangan Qian Yu. Beberapa lama kemudian wanita paruh baya itu menurunkan celana panjangnya membuat benda tumpul yang sudah tegak berdiri itu menampar wajah wanita paruh baya yang duduk dihadapannya.
“Ini...” Mata Qian Yu melebar sepenuhnya, “Bukankah ini semakin besar, Zhen‘er...”
Ling Zhen tersenyum, “Ini milikmu, Bibi Qian. Manjakanlah.”
Qian Yu tersenyum dan kepalanya tepat berada disesuatu yang telah mengeras sempurna itu. Qian Yu tidak lagi jijik seperti saat pertama kali melakukannya, sekarang wanita paruh baya itu sudah lihai memanjakan Ling Zhen.
Tanpa rasa jijik Qian Yu menelan cairan kental yang memenuhi mulutnya. Ling Zhen baru pertama kali melihat Qian Yu seperti ini, biasanya wanita paruh baya itu langsung memuntahkannya.
__ADS_1
“Mmmhhh... Tidak buruk juga, Zhen‘er. Sudah atau mau lanjut?” Tawaran Qian Yu membuat Ling Zhen ingin melanjutkannya, tetapi saat dirinya hendak menarik tubuh Qian Yu, suara langkah kaki Xue Lianhua terdengar.
Cepat-cepat Ling Zhen memperbaiki pakaiannya dan berjalan menuju lantai atas. Tak lama Xue Lianhua datang dengan wajah yang seperti sedang mencari sesuatu.
“Bibi Qian, apa kau melihat Gege?” Xue Lianhua bertanya.
Qian Yu tersenyum, “Tadi dia keatas. Oh iya, Lian‘er, hari ini kita akan ke Kekaisaran Chu. Aku akan mempersiapkan perbekalan, sebaiknya kau mempersiapkan pakaian yang akan kita bawa.”
Xue Lianhua menganggukkan kepalanya, “Baik, Bibi Qian.” Setelah itu Xue Lianhua menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai atas Xue Lianhua terkejut melihat Ling Zhen yang baru selesai mandi dan tidak mengenakan pakaian.
Terlihat milik Ling Zhen sudah berbeda dari terakhir kali dirinya melihat. Ekspresi Ling Zhen yang memerah itu membuat Xue Lianhua tersenyum.
“Gege, aku penasaran..." Xue Lianhua mengunci pintu kamar dan berjalan kearah Ling Zhen lalu duduk ditepi ranjang.
Ling Zhen mendekati Xue Lianhua dan berdiri dihadapannya, “Apa yang membuatmu penasaran?”
Xue Lianhua tersenyum, “Ini...” Telapak tangan Xue Lianhua menggenggam erat sesuatu yang lebih besar dari genggaman telapak tangannya.
Ling Zhen tersenyum, pagi ini dia merasa beruntung karena kedua istrinya sangat memanjakan dirinya. Pagi itu Ling Zhen kembali mendapatkan sarapan pagi dari Xue Lianhua.
“Mmmhhh...” Xue Lianhua menelan cairan kental tanpa jijik lalu berdiri dan memeluk tubuh Ling Zhen, “Gege, tuntaskanlah tapi pelan-pelan...”
Ling Zhen menelan ludah dan segera mendorong tubuh Xue Lianhua kedinding. Pagi itu Ling Zhen menuntaskan hasratnya yang terpendam pada Xue Lianhua.
Sekitar satu jam kemudian, Ling Zhen dan Xue Lianhua sudah bersiap-siap, begitu juga dengan Qian Yu. Lalu ketiganya naik ke punggung Elang Halilintar dan pergi meninggalkan Lembah Dewa.
___
Dua chapter ya hari ini. Arc 3 udah mau end, tenang aja kalau ada yang bosen karena Arc 3 gelutnya sama istri terus, di Arc 4 gelutnya sama musuh.
__ADS_1