Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 139 - Keindahan Lugu


__ADS_3

Ling Zhen menceritakan secara singkat kepada Li Hua tentang dirinya dan sosok Ibunya yang bernama Ling Fanmin. Mengetahui itu, Li Hua bisa melihat jelas bagaimana kesedihan Ling Zhen.


“Maaf, Zhen‘gege... Aku tidak mengerti keadaan dan memikirkan yang tidak-tidak...” Li Hua menyeka air matanya.


Ling Zhen tersenyum dan kembali mengecup kening Li Hua, “Tidak apa, Hua‘er. Justru aku yang berterimakasih padamu karena telah memilih diriku untuk menjadi suamimu. Aku bukanlah lelaki setia terhadap satu wanita, namun kau tetap memilihku dan memberikan kepercayaan padaku...”


Ling Zhen mengecup telapak tangan Li Hua dan menggenggam lembut tangan halus itu. Wajah Li Hua memerah mendengar ucapan Ling Zhen.


‘Aku hampir saja menodai Hua‘er karena amarahku dan emosi ini...’ Setelah itu Ling Zhen mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang, ‘Sial, kenapa aku harus menguping pembicaraan mereka berdua! Kenyataan ini membuatku gila!’


“Hua‘er, aku tidur dulu. Terimakasih karena telah mendengarkan ceritaku.” Ling Zhen berkata sambil membaringkan tubuhnya. Umur Li Hua memang lebih tua darinya, sehingga Ling Zhen terlihat seperti seorang adik yang sedang berbicara kepada kakak perempuannya.


“Zhen‘gege, bolehkah aku tidur seranjang denganmu?” Li Hua mengatakan itu tanpa berani menatap Ling Zhen.


‘Apa dia memberi isyarat padaku agar melakukan itu malam ini?’ Ling Zhen membatin setelah memejamkan matanya. Sekarang matanya kembali terbuka menatap Li Hua seutuhnya.


“Tentu saja boleh, Hua‘er. Kau adalah istri sahku.” Ling Zhen memberikan ruang pada Li Hua untuk tidur disebelahnya.


‘Apa Zhen‘gege tidak meminta itu padaku?’ Li Hua berharap cemas sambil membaringkan tubuhnya disamping Ling Zhen.


Kini keduanya berbaring seranjang dengan lengan yang saling menempel. Ling Zhen memejamkan matanya dan menikmati suasana hatinya yang perlahan membaik berkat Li Hua.


Disisi lain Li Hua tidak berhenti menahan debaran jantungnya karena akhirnya dirinya tidur seranjang dengan Ling Zhen. Walaupun tidak pernah bergaul, tetapi Li Hua bukankah gadis bangsawan polos yang tidak mengerti tugas seorang istri kepada suami dimalam pertama mereka.


Ling Zhen sendiri tidak dapat memejamkan matanya sepenuhnya karena keberadaan Li Hua. Akhirnya Ling Zhen membalikkan badannya ke posisi menyamping dan memeluk tubuh Li Hua.


Ling Zhen mengambil inisiatif dan bertanya, “Hua‘er, apakah aku boleh meminta itu malam ini?”


Ling Zhen menahan nafas berat saat mengatakan itu. Tubuh Li Hua merupakan idaman para pria, gadis bangsawan yang terjaga dan tidak pernah bergaul dengan sembarang orang ini penuh akan keindahan yang tak terjamah oleh siapapun.


Li Hua menggeser badannya tanpa sadar menjauh dari Ling Zhen karena malu, tidak ada jawaban dari Li Hua. Gadis itu justru bingung harus bersikap seperti apa karena bagaimanapun dirinya memang berniat melakukan tugasnya sebagai seorang istri sah Ling Zhen, namun pengalaman Li Hua kosong tentang percintaan.


Ling Zhen melepaskan pelukan tangannya, “Maaf, Hua‘er...” Dalam hatinya Ling Zhen merasa malu karena mengira Li Hua menolak untuk dia sentuh.


“Tidak!” Li Hua tercengang karena melihat ekspresi sedih dan bersalah Ling Zhen. Ini semua salah sangka, sebenarnya Li Hua justru berniat melakukan tugasnya sebagai seorang istri sah Ling Zhen.


Ling Zhen menatap Li Hua dan bertanya, “Kenapa berteriak, Hua‘er?” Ling Zhen sendiri mengira Li Hua takut pada dirinya.

__ADS_1


“Tidak, bukan begitu maksudku Zhen‘gege. Aku... Aku... Bersedia...” Li Hua mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap Ling Zhen dengan debaran jantungnya yang berdetak kencang, “Aku bersedia melakukan tugasku sebagai istrimu malam ini. Aku akan memberikan mahkotaku padamu.”


Li Hua memantapkan hatinya, Ling Zhen duduk dan mendekat. Lalu keduanya saling menatap satu sama lain. Ling Zhen memperhatikan wajah cantik dari gadis yang tiga tahun lebih tua darinya.


“Apa kamu yakin, Hua‘er?” Ling Zhen bertanya. Suara ludah Li Hua terdengar. Mendengar itu Ling Zhen tersenyum bersamaan dengan anggukan kepala Li Hua yang lemah.


Ling Zhen mengecup kepala Li Hua untuk menenangkan gadis itu. Tangannya membelai rambut halus Li Hua dan sesekali mencium wanginya.


“Aromamu sangat menyejukkan...” Ling Zhen merasa tenang saat mencium wangi rambut maupun badan Li Hua.


Detik berikutnya Ling Zhen mengambil ciuman pertama Li Hua. Ling Zhen menuntun Li Hua secara perlahan. Li Hua terlihat kikuk dan terkejut. Ekspresi rumit Li Hua merupakan sesuatu yang membuat gairah Ling Zhen semakin naik.


“Mmmm...” Ling Zhen menikmati bibir tipis merah jambu yang merekah. Alami dan harum wangi Li Hua membuat Ling Zhen semakin menggebu-gebu.


“Emmmmhhhh...” Li Hua mencoba mengikuti arahan Ling Zhen saat pemuda itu menatapnya penuh kehangatan.


Ling Zhen menikmati setiap rongga mulut Li Hua, lidahnya menari-nari didalam sana menikmati setiap sensasi didalam rongga mulut gadis yang tiga tahun lebih tua darinya.


Ling Zhen melepaskan ciumannya dan menatap wajah Li Hua yang bersemu merah, “Kamu sangat cantik, Hua‘er. Terimakasih karena telah mencintaiku. Tenang saja, malam ini semua akan baik-baik saja. Aku akan membimbingmu..."


Ling Zhen berbisik sambil merebahkan tubuh Li Hua dan menindihnya, “Hua‘er, apa kamu yakin akan memberikannya padaku malam ini?”


Gadis yang terbaring dibawahnya begitu mempesona. Kulit putih dengan kehalusan serta aroma wanginya, ditambah dua aset yang Ling Zhen kira kecil ternyata lebih besar dari yang dia bayangkan.


“Oughhh... Ssshhh... Zhen‘gege, ini geli aaaahhhh!” Li Hua menggeliat saat Ling Zhen mengusapkan tangannya dari luar pakaiannya.


Dua gundukan yang sekal dan ranum itu terasa kenyal dan kencang ditelapak tangan Ling Zhen. Terlebih milik Li Hua sangat pas dengan genggaman tangan Ling Zhen membuat Ling Zhen meremasnya dengan penuh gairah dan terkadang memilin ujungnya sesekali mencubitnya.


“Aaaahhh aduh! Jangan dicubit Zhen‘gege!”


Ling Zhen sudah dalam posisi siap bertempur melihat Li Hua yang tergolek pasrah. Telapak tangan kanannya masuk kedalam kain yang menutupi dua aset berharga dan membelainya, sedangkan telapak tangan kirinya menyelusuri perut kebawah dan bersarang dicelah pahanya yang merapat.


“Hua‘er, usahakan untuk tidak berteriak..." Ling Zhen menggigit lembut daun telinga Li Hua. Kedua tangannya mulai aktif, dimana yang satu meremas gundukan kenyal yang belum terjamah sedangkan yang satunya mulai menggesek dan menekan aset paling berharga yang paling dijaga Li Hua.


“Ooouuuhhh... Ssshhh... Aaaahhhh!”


Tubuh Li Hua sangat sensitif saat jari-jemari Ling Zhen terus menggerayangi setiap bagian penting tubuhnya. Sensasi yang baru pertama kali dirasakannya itu membuat nafas Li Hua tidak beraturan.

__ADS_1


Sungguh beruntung Ling Zhen menjadi lelaki pertama yang menjamah keindahan ini. Ling Zhen sendiri menikmati setiap suara erangan Li Hua ataupun gerakan tubuhnya. Dia menekankan miliknya ke perut Li Hua dan menggoyangkan badannya.


Li Hua terkejut saat merasakan perutnya bersentuhan langsung dengan sesuatu yang keras dan panjang melambangkan kebesaran dan kegagahan Ling Zhen.


“Zhen‘gege, akh! Tolong menjaulah! Aku... Aku merasa ada yang mau keluar!” Li Hua tanpa sadar berteriak saat merasakan tubuhnya mendapatkan perasaan lega.


Ling Zhen tersenyum saat jarinya basah, dia melepaskan pakaian Li Hua dengan gerakan yang cepat seolah-olah sudah terbiasa dengan semua ini.


Tubuh Li Hua masih gemetaran, kedua dada indahnya naik turun seiring nafasnya yang kembang kempis. Ling Zhen menelan ludah melihat tubuh indah Li Hua yang terawat dan terjadi tergolek lemas dibawanya yang bersiap untuk dia arungi malam ini.


“Zhen‘gege... Aku... Aku... merasa aneh...” Li Hua menutup kedua dadanya dengan telapak tangannya, sedangkan kedua pahanya secara otomatis merapat saat Ling Zhen melihatnya, “Berhenti menatapku. Itu memalukan...”


“Aku akan memulainya.” Ling Zhen tersenyum tipis dan berdiri.


Li Hua memperhatikan Ling Zhen yang membuka seluruh pakaiannya dan membuangnya kesembarang arah. Alangkah terkejutnya Li Hua saat melihat sesuatu yang keras dan tegak berdiri mengacung-acung kearah celah pahanya.


“Ini...”


Mata Li Hua terbelalak dan tenggorokannya menelan ludah saat melihat telapak tangan Ling Zhen tidak melingkar sepenuhnya dibenda besar itu.


“Zhen‘gege, ini terlalu besar...”


Ekspresi Li Hua sama halnya dengan para istrinya saat pertama kali melihat ini. Ling Zhen menyukai ekspresi ini, dia sengaja menggesekkan miliknya keperut Li Hua.


“Hua‘er, jika ragu aku tidak akan memasukkannya...” Ling Zhen sendiri penasaran dengan milik Li Hua, dia membuka kedua paha gadis itu dan matanya melebar melihat celah rapat yang tidak terjamah.


Suara ludah Ling Zhen terdengar. Sedangkan Li Hua terlihat ragu karena melihat ukuran yang tidak normal milik Ling Zhen.


“Zhen‘gege, tolong pelan-pelan... Aku takut...”


Ling Zhen mengecup kening Li Hua dan tangannya mengusap wajah Li Hua dengan lembut sambil berkata, “Hua‘er, awalnya memang sakit, tapi selebihnya nikmat. Tahan sebentar sayang.”


Ling Zhen mengecup singkat bibir tipis Li Hua yang merekah. Li Hua tampak pasrah dengan kedua bola mata sayu karena berulang kali matanya melirik benda besar yang tegak berdiri menggesek perut mulusnya yang tidak memiliki lemak berlebihan.


“Iya Zhen‘gege, pelan-pelan ya suamiku. Ambil mahkotaku malam ini dengan perasaan, aku takut.” Li Hua berusaha tersenyum sambil memegang pipi Ling Zhen menggunakan telapak tangannya.


“Hua‘er, tahan sebentar sayang.”

__ADS_1


Ling Zhen tersenyum. Dia tidak akan mundur dan akan menuntaskannya dengan Li Hua malam ini.


__ADS_2