
Hal yang pertama Ling Zhen lakukan setelah sampai di Istana Chu adalah mengunjungi sebuah tempat dimana Rubah Putih menghilang. Setelah itu Ling Zhen menghabiskan waktu bersama enam istrinya beserta Ibunya.
Saat malam tiba, Ling Zhen tidak berhenti memanjakan Ji Yanran yang terlihat begitu buncit dibagian perutnya.
“Kakak Ji, menurutmu dia laki-laki ataupun perempuan?” Ling Zhen mengelus perut Ji Yanran dan memeluk mesra wanita itu dari belakang.
Ji Yanran menyenderkan kepalanya kebelakang dan tersenyum, “Aku ingin perempuan.”
“Jika laki-laki bagaimana?” Ling Zhen berhenti mengelus dan bertanya.
“Kita akan akan terus membuatnya sampai aku melahirkan perempuan.” Ji Yanran tersenyum menggoda.
“Tetapi aku sudah membicarakan ini dengan yang lain. Kami akan melahirkan satu anak untukmu. Lagipula apa kau tidak berpikir jika dirimu ini kelak akan memiliki puluhan anak?” Ji Yanran menatap Ling Zhen yang tersenyum mendengar ucapannya.
“Kalian membicarakan semua itu tanpaku? Sepertinya aku harus menghukummu malam ini, Kakak Ji. Aku tidak peduli kau ini istri pertama dan ditakuti mereka berlima. Malam ini, dimataku kau terlihat begitu menggoda.”
Saat Ling Zhen hendak mencium pipi Ji Yanran, Chu Xiulan muncul dan membuat Ling Zhen menghentikan aktivitasnya.
“Maaf mengganggu. Zhen‘gege, kami akan membicarakan hal penting denganmu.” Chu Xiulan melihat ekspresi Ji Yanran yang tersipu malu, “Sepertinya Kakak Ranran sudah memberitahunya. Jadi bagaimana pendapatmu?”
Setelah Chu Xiulan berkata demikian, Ling Zhen tersenyum saat melihat empat wanita datang mendekatinya.
__ADS_1
“Kita telah berkeluarga. Kalian semua adalah istriku. Aku menghargai keputusan kalian. Aku hanya bisa mengatakan ini pada kalian semua...” Ling Zhen melepaskan pelukannya dan menatap Ji Yanran, Yue Rou, Chu Xiulan, Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara secara bergantian.
“Kalian adalah wanitaku. Kalian adalah milikku. Jaga kehormatan kalian hanya untukku.” Ling Zhen terlihat tegas malam ini. Pemuda yang sebentar lagi akan menginjak usia delapan belas tahun dan menjadi seorang ayah itu akhirnya dapat mengatakan hal yang membuat keenam istrinya semakin mencintainya.
____
Beberapa hari setelah berada di Istana Chu, akhirnya hari yang ditunggu Ling Zhen tiba. Pemuda itu dipenuhi perasaan yang campur aduk.
Ling Zhen terlihat tetap tenang saat Que Mi dan beberapa tabib sedang merawat Ji Yanran. Ibu Ling Zhen terkejut melihat anak semata wayangnya bersikap dewasa menemani proses persalinan Ji Yanran.
“Kenapa kamu terlihat tidak panik, Zhen‘er?” Ibunya bertanya, Ling Zhen tersenyum tipis sambil menyatukan kedua tangannya.
Ling Zhen menggenggam telapak tangan Ji Yanran sambil tersenyum hangat melihat wanita itu.
“Ran‘er, bertahanlah. Aku yakin kamu bisa melahirkan anak pertama kita.” Bisikan lembut Ling Zhen membuat Ji Yanran tenang.
Keringat tipis membasahi wajah cantik Ji Yanran bersamaan dengan suara erangannya yang berusaha melahirkan buah hatinya bersama Ling Zhen.
“Ran‘er, berjuanglah... Semua akan baik-baik saja. Kau adalah wanitaku, aku yakin kau bisa melaluinya.” Ling Zhen berkata penuh rasa sayang, namun tatapannya menunjukkan kecemasan yang luar biasa.
Melihat pemuda yang usianya lebih muda darinya itu tentu membuat perasaan Ji Yanran tenang. Rasa sakit yang dia alami menghilang saat pikirannya terpusatkan untuk melahirkan buah hati mereka dengan selamat.
__ADS_1
“Zhen‘gege!” Ji Yanran menggenggam tangan Ling Zhen dan berteriak. Dengan arahan tabib, Ji Yanran berulang kali mengejan berusaha melahirkan buah hatinya.
Ditemani Ling Zhen yang berada disampingnya membuat Ji Yanran tenang. Pemuda itu benar-benar memberikan pengaruh besar saat proses persalinan.
Perhatian, ucapan sayang dan sikap Ling Zhen yang tidak menunjukkan kepanikan itu membuat hati Ji Yanran luluh. Wanita itu merasa sangat bahagia menjadi istri pemuda itu dan melahirkan bayi untuk pemuda yang merupakan suaminya itu.
Ling Zhen mengusap keringat yang membasahi pipi dan dahi Ji Yanran. Senyuman hangatnya membuat Ji Yanran kembali tenang saat merasakan putus asa setelah melewati proses persalinan selama berjam-jam namun sang buah hati tak kunjung keluar.
Saat kepala bayi sudah terlihat, Ji Yanran mengejan dibarengi dengan suara teriakannya. Telapak tangannya menggenggam erat telapak tangan Ling Zhen.
Tabib memberikan arahan kepada Ji Yanran untuk kembali mengejan. Nafas Ji Yanran putus-putus. Dalam penggalan-penggalan nafas yang tersisa, Ji Yanran terus berjuang hingga akhirnya suara tangisan buah hati pecah memenuhi telinganya.
Ji Yanran mengalami rasa sakit, khawatir dan takut akan kondisi sang buah hati. Tanpa sadar air mata menetes saat melihat Ling Zhen menggendong sang buah hati disampingnya, tepat setelah tabib memeriksa kondisi bayi dan membersihkannya.
“Malam ini adalah malam yang istimewa. Saat umurmu genap berumur tiga puluh tahun, kau menjadi seorang Ibu, Ran‘er.” Ling Zhen tersenyum dan mengecup kening istrinya.
“Lihat, matanya mirip denganmu.” Ling Zhen menunjukkan sang buah hati pada Ji Yanran.
Ibu Ling Zhen yang melihat proses persalinan secara langsung bersama Yue Rou, Chu Xiulan, Xue Lianhua, Que Mi dan Mizuhara hanya tertegun melihat bagaimana Ling Zhen bisa bersikap sedemikian rupa.
Ji Yanran memegang jari kelingking sang buah hati lalu berkata, “Selamat datang anakku...”
__ADS_1