
[Permaisuri Jia Lun atau yang memiliki nama asli Zhing Lun berumur 40 tahun dan dia adalah seorang janda dengan keanggunan dan kecantikannya yang tiada tara]
IW 152 - Jia Lun
“Bagaimana aku memanggilmu? Sayang atau Zhen‘er?” Jia Lun tersenyum nakal melihat Ling Zhen keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan sebenang pakaian.
Ling Zhen tersenyum tipis, “Terserahmu Nyonya Jia.” Ling Zhen duduk disamping Jia Lun dan memperhatikan Jia Lun yang duduk di pangkuannya.
“Zhen‘er, kau bisa memanggilku Bibi Lun. Malam ini aku adalah hadiah utamamu.” Jia Lun duduk tepat diatas pusaka Ling Zhen yang sudah tegak berdiri dengan gagahnya kearah langit.
Ling Zhen memeluk perut Jia Lun dan menggigit tengkuknya, “Kalau begitu aku akan mengambil hadiah utamanya dan menikmatinya.”
Mendengar bisikan mesra Ling Zhen serta sentuhan tangannya yang mulai meremas gunung besarnya Jia Lun tersenyum dengan wajah merah merona.
“Sudah jangan banyak bicara lagi dan nikmati saja hadiahmu ini.” Jia Lun yang sudah tidak tahan membalikkan tubuhnya dan mencium bibir Ling Zhen.
“Emmsssh...” Nampak keduanya menikmati ciuman mereka. Jia Lun meneteskan air mata mengingat kehidupannya yang pahit dan merangkul leher Ling Zhen ingin memberikan segalanya pada pemuda ini.
Ling Zhen sendiri menerima perasaan Jia Lun dan menikmatinya. Tangannya meremas dua aset yang menggunung dan lebih besar dari milik Gong Ning. Ling Zhen dalam hati tersenyum sambil memainkan ujungnya menggunakan jari-jarinya.
“Emmsssh... Ah... Zhen‘er! ” Pinggul Jia Lun bergoyang diatas pangkuan Ling Zhen.
Merasa tidak tahan akhirnya Jia Lun menindih tubuh Ling Zhen saat pemuda itu melepaskan pakaian atasnya. Sambil melepaskan pakaian bawahnya, Jia Lun menatap Ling Zhen penuh hasrat.
“Zhen‘er, aku ingin merasakannya. Bibi Lun sekarang adalah milikmu. Aku adalah permaisurimu.” Jia Lun memegang pusaka Ling Zhen dengan mata terbelalak dan senyum mengembang.
“Ini sangat besar dan panjang. Sudah berapa perempuan yang merasakan ini?” Jia Lun menyipitkan matanya menggoda sambil memainkannya menggunakan telapak tangannya.
“Apa perlu aku menjawabnya Bibi Lun?” Ling Zhen melihat Jia Lun sambil menjawab. Apa yang dilakukan wanita paruh baya itu melebihi ekspetasinya.
Ling Zhen menekan kepala Jia Lun dan Jia Lun menikmati perlakuan ini. Ling Zhen tersenyum puas untuk sesaat karena Jia Lun duduk diatas perutnya dan memperlihatkan isi mulutnya.
“Inyi mmm sangmmat mmm banyak.” Setelah itu suara ludah terdengar, “Glek...” Jia Lun tersenyum sambil memposisikan pusaka Ling Zhen kedalam tempat semestinya.
“Aku sudah berapa kali diperkosa dan kau ingin melakukannya denganku? Apa kau tahu, milikmu ini sangat besar dan perkasa. Para pecundang itu sama sekali tidak pernah memuaskanku, kuharap kau mampu memuaskanku Zhen‘er... ” Jia Lun menurunkan pinggulnya penuh kehati-hatian.
Ling Zhen dan Jia Lun melihat bagaimana tubuh mereka berdua menyatu. Mata Jia Lun terbelalak walaupun baru ujungnya saja yang masuk. Sedangkan Ling Zhen memegang pinggul Jia Lun dan meremas bongkahan kenyal padat dan bisa dibilang semok.
“Ennngghhh- Akh-” Rumit Jia Lun menggambarkan ekspresinya saat mengetahui pusaka Ling Zhen sulit ditelan.
Ling Zhen bisa merasakan pusakanya dicengkeram erat dan sepertinya disedot kedalam. Akhirnya Ling Zhen memeluk punggung Jia Lun dan mengambil alih permainan.
“Akh! Zhen‘er! Pelan sayang!” Jia Lun terkejut saat mengetahui milik Ling Zhen hanya masuk setengahnya saja, “Hanya setengah? Punyamu... Ah... Terlalu besar...”
“Kau masih sempit Bibi Lun. Ini melebihi ekspetasiku. Mari kita lihat seberapa kuat hadiah ku ini.” Ling Zhen menggerakkan tubuhnya keatas kebawah secara lembut.
Suara Jia Lun yang tercekat berulang kali terdengar. Jia Lun tidak ingin diam dan bergerak naik setelah itu turun berusaha menelan pusaka Ling Zhen.
__ADS_1
“Aaahhhkkk! Ini sangat besar Zhen‘er!” Jia Lun menggigit bibirnya berulang kali namun sedetik kemudian mulutnya terbuka lebar setiap dia menurunkan tubuhnya.
Hanya dua gerakan itu suara ranjang berderit terdengar keras ditambah erangann Jia Lun menggema seisi ruangan.
Sementara pinggulnya bergerak naim turun, kepala Jia Lun terlihat mendongak, “Ini sangat berbeda! Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya! Aku sudah basah dan sensasi ini! Akh! Aku... Aku keluar!”
Ling Zhen segera memeluk tubuh Jia Lun dan membuat mereka berdua dalam posisi menyamping. Ling Zhen menggerakkan tubuhnya cepat dan bertenaga membuat Jia Lun menjerit dan mendesahh hebat.
Jia Lun kembali merasakan surga dunia yang belum pernah dia rasakan saat Jia Bao menjebaknya menjadi istrinya ataupun saat dirinya diperkosa para petinggi Aliansi Bulan Darah.
“Ahh! Pelan-” Terdekat suara Jia Lun saat Ling Zhen kembali membuat miliknya semakin basah.
Ling Zhen masih menggerakkan tubuhnya. Jia Lun yang hampir kehilangan kesadarannya memegang belakang kepala Ling Zhen dan menyatukan bibir mereka.
“Mmmmppphh! Oooh!” Jia Lun nampak kacau saat pinggul Ling Zhen bergerak dan menghentak kuat dan kedua tangannya meremas gunung kembar besarnya.
Ling Zhen mengubah posisi dan menindih tubuh Jia Lun tanpa melepaskan tubuh mereka berdua.
“Hnnngg- Zhen‘er! Kau membuatku gila Akh!” Jia Lun pasrah saat tubuhnya dibolak-balikan oleh Ling Zhen.
“Sayang... Ooooh... Sayang aku mau lagi!” Telapak tangan Jia Lun menyentuh pipi Ling Zhen.
Ling Zhen yang mengerti langsung membungkam mulut Jia Lun dan menghentakkan tubuhnya sekuat mungkin hingga suara ranjang menderit dan patah.
“Argh!” Ling Zhen dan Jia Lun mencapai pelepasan bersamaan.
“Bibi Lun... Ooohh... Punyamu mencengkeram erat... Kita belum selesai sayang. Aku akan menikmatimu hingga membuatmu tidak bisa berjalan.” Ling Zhen mengangkat tubuh Jia Lun tanpa melepaskan penyatuan mereka berdua.
“Eh?” Jia Lun terkejut saat kedua pahanya dipegang Ling Zhen dan merasa malu karena dalam posisi berdiri seperti ini.
“Zhen‘er berhenti! Ini memalukan- Akh-” Ling Zhen tidak membiarkan Jia Lun menolak.
Terlihat pusaka Ling Zhen membengkok saat Ling Zhen menghentakkannya dengan kuat. Jia Lun menjerit dan sudah kacau mengikuti permainan Ling Zhen.
Ranjang yang patah tidak bisa digunakan kembali membuat Ling Zhen menatap lantai beralaskan kain tebal.
Hingga akhirnya Jia Lun kembali dipaksa dalam posisi tengkurap mengikuti permainan Ling Zhen. Jia Lun dengan matanya yang sayu mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
“Zhen‘er, kau benar-benar perkasa. Kau mengeluarkannya didalam sangat banyak. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku tidak meminum pil itu untuk jaga-jaga aku diperkosa atau melayani kaisar mayat itu. Bagaimana jika aku hamil? Kau telah menghamili wanita berumur empat puluh tahun, dasar bocah mesumm...” Jia Lun tersenyum puas sambil merasakan miliknya yang mencengkeram erat milik Ling Zhen.
“Aku akan bertanggung jawab. Kau tangguh, Bibi Lun. Kau hadiah terbaik dan nikmat rasanya.” Ling Zhen mengubah posisinya dan memeluk tubuh Jia Lun dari belakang.
Jia Lun berdetak kencang jantungnya mendengar jawaban Ling Zhen. Terlebih dia merasakan pusaka Ling Zhen tetap keras didalam sana. Perlahan dia menggoyang pinggulnya pelan.
“Bibi Lun, jika milikku bangun apa kau akan bertanggung jawab?” Ling Zhen yang gemas dengan sikap Jia Lun akhirnya mengelus perut wanita paruh baya itu.
“Nikahi aku, Zhen‘er.” Jia Lun tersenyum manis saat mengatakan itu.
Ling Zhen semakin gemas melihat tingkah Jia Lun dan meremas dua gunung besar yang mengembang itu membuat Jia Lun kaget.
__ADS_1
“Akh! Zhen‘er jangan meremasnya kuat-kuat sayang! Sakit!”
Ling Zhen hanya tertawa sebelum akhirnya dia mengecup belakang kepala Jia Lun mesra, “Aku akan menikahimu sayang.”
Akhirnya keduanya terlelap setelah pertempuran panjang yang menguras tenaga.
Seharian keduanya tertidur dan menjelang sore barulah Ling Zhen terbangun.
“Bibi Lun, bangun.”
Jia Lun merasakan tubuhnya benar-benar remuk, “Zhen‘er, kau sangat perkata. Lihat sekarang, aku tidak bisa berjalan bahkan kau membuat kedua pahaku perih.”
Ling Zhen mengecup bibir Jia Lun dan melepasnya sedetik kemudian, “Itu karena kau sangat cantik dan menggoda di umurmu yang tidak lagi muda sayang.”
Jia Lun cemberut, “Jadi menurutmu aku ini sudah tua?”
“Tidak, bukan itu maksudku.” Ling Zhen menggelengkan kepalanya dan kembali berkata, “Kau benar-benar membuatku ketagihan.”
Wajah Jia Lun merah padam dan memalingkan wajahnya saat mereka berdua saling berpandangan.
“Zhen‘er, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini mengenai orang-orang di Istana Jia. Aku akan memberitahu keberadaan Ruan‘er jika kau mau membantu masalah Istana Jia dan bersedia menjadi Kaisar Jia.” Jia Lun membenamkan kepalanya didada Ling Zhen yang berbaring disampingnya.
“Seorang Kaisar Jia?” Ling Zhen mengerutkan keningnya.
“Iya, sayang. Dengan statusku ini maka semua orang akan mengakuinya. Terlebih kau memiliki perasaan pada Ruan‘er bukan? Jika Ruan‘er menjadi istrimu maka tidak ada yang bisa menolaknya ditambah dukungan dariku.” Jia Lun menatap dada bidang Ling Zhen dan memainkan jari-jarinya diatas sana.
“Untuk itu kau harus melenyapkan para tikus kotor di Istana Jia yang menyengsarakan rakyat. Aku sendiri merasa tidak ada yang lebih pantas menjadi seorang Kaisar kecuali dirimu.” Jia Lun menatap wajah Ling Zhen dan menanti jawaban pemuda itu.
“Aku tidak terlalu tertarik.” Ling Zhen tidak terlalu peduli.
“Ini adalah permintaanku sayang. Apa kau tidak ingin bertemu Ruan‘er?” Jia Lun tersenyum nakal.
Ling Zhen menatap Jia Lun tajam sebelum menghela nafas panjang, “Baiklah, aku akan menjadi seorang Kaisar Jia.”
Ling Zhen sendiri tidak bisa mengancam Jia Lun setelah keduanya melakukan hubungan yang sangat intim. Selain itu dia penasaran dengan rencana Jia Lun ini.
Jia Lun tertawa renyah, “Hihihi, ini baru suami mudaku.”
“Hentikan, apa kau ingin membuat kamar ini lebih berantakan?” Ling Zhen sendiri menelan ludah saat merasakan kehangatan tubuh Jia Lun.
“Bawa aku ke kamar mandi dan kita akan melakukannya disana.” Jia Lun menjawab dengan wajah menantang.
Ling Zhen segera mengangkat tubuh wanita paruh baya itu dan berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian suara teriakan dan erangann Jia Lun terdengar berulang kali sebelum akhirnya keduanya kembali bertempur hebat dalam posisi berdiri.
“Aku lapar Zhen‘er, kau tega melakukan ini pada wanita yang lebih pantas menjadi Ibum sampai tidak bisa berjalan. Dasar bocah nakal.” Jia Lun tersenyum puas dan menyuruh Ling Zhen mengambil makanan.
Ling Zhen sendiri benar-benar melupakan waktu karena terlalu asyik menikmati hadiah ini.
__ADS_1