
Semua pertanyaan yang dilontarkan Ling Zhen dijawab oleh Jian Gu. Mulai dari Aliansi Bulan Darah yang bekerjasama dengan Sekte Pemuja Iblis untuk mengkudeta Kekaisaran Jiang, munculnya Perintah Tiga Raja, keberadaan Jia Ruan dan seputar dunia persilatan Kekaisaran Jia selama dua tahun belakangan ini.
Yang menjadi perhatian khusus Ling Zhen adalah Aliansi Bulan Darah yang telah menempatkan beberapa petinggi di beberapa kota yang merupakan bagian wilayah dari keluarga bangsawan. Kebanyakan para petinggi Aliansi Bulan Darah mengambil alih kekayaan keluarga bangsawan yang telah mereka tundukkan.
Setelah mendapatkan semua informasi yang ingin dia ketahui, Ling Zhen melepaskan aura pembunuh dalam jumlah besar. Aura pembunuh dan Aura Kematian bercampur menjadi satu.
“Tuan Pendekar, kenapa anda membohongiku?” Jian Gu memucat wajahnya, belum sempat dirinya mendengar jawaban Ling Zhen, kepalanya sudah terlepas dari badannya.
Ling Zhen mengibaskan Pedang Pencabut Nyawa dan mendecakkan lidahnya, “Aku tidak membutuhkan pengikut sepertimu. Saat ini suasana hatiku sedang buruk.”
Ling Zhen tidak menyangka jika Jia Ruan akan diperjual belikan layaknya barang. Walaupun Ling Zhen pernah disakiti Jia Ruan, namun sebagian hatinya mengatakan yang sejujurnya jika dia memiliki perasaan khusus pada Jia Ruan.
Saat Ling Zhen membersihkan halaman depan rumah Li Hua. Bau amis menghilang diganti dengan bau gosong yang menyengat. Kedatangan Li Hua yang menyelamatkan Li Jingshan serta Li Rong membuat Ling Zhen memudarkan amarahnya.
“Tuan Ling!” Li Hua tersenyum cerah menghampiri Ling Zhen yang telah menghabisi seluruh anggota Aliansi Bulan Darah yang dipimpin Jian Gu.
Ling Zhen membalas senyum Li Hua, “Nona Li, syukurlah Ayah dan Ibumu baik-baik saja.”
“Semua ini berkat arahan dan pertolonganmu, Tuan Ling.” Li Hua menatap Ling Zhen yang menyimpan Pedang Pencabut Nyawa.
__ADS_1
Ling Zhen tidak menjawab ucapan Li Hua, melainkan menghampiri Li Jingshan dan Li Rong. Kedatangan Ling Zhen kemari bukan tanpa alasan karena setelah mendengar kabar tentang pergejolakan hebat di Kekaisaran Jia, dirinya sudah memantapkan langkahnya untuk terlibat langsung dan mengakhiri semua yang terlibat dengan Sekte Pemuja Iblis.
Perjodohan yang dilakukan Li Jingshan membuat Ling Zhen semakin kuat untuk mengikat ikatan batin dengan Li Hua. Ling Zhen memberi hormat kepada Li Jingshan yang datang menghampirinya.
“Paman Li.” Ling Zhen menyapa Li Jingshan yang terlihat babak belur.
“Minumlah ini.” Melihat itu Ling Zhen memberikan sebuah pil yang berkhasiat untuk menyembuhkan luka.
“Pendekar Ling, bagaimana kau bisa mengetahui kejadian ini?” Li Jingshan nampak kaget karena Li Hua mengatakan sesuatu yang singkat tentang keberadaan Ling Zhen di Kekaisaran Jia.
“Aku ingin memastikan jika keadaan Paman Li baik-baik saja.” Ling Zhen menjawab asal. Li Jingshan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa.
“Aku pikir kau ingin bertemu dengan Hua‘er. Jadi bagaimana, Pendekar Ling?” Li Jingshan bertanya.
Li Jingshan dan Li Rong saling memandang dalam bingung. Ekspresi raut wajah Ling Zhen tentu saja membuat Li Jingshan penasaran, bahkan ekspresi malu Li Hua seolah-olah memberi isyarat jika Ling Zhen akan menceritakan sesuatu yang tidak terduga tentunya.
Li Jingshan mempersilahkan Ling Zhen untuk masuk kedalam kediamannya. Ling Zhen menerima ramah sambutan Li Jingshan lalu dia masuk kedalam kediaman keluarga Li bersama Li Hua yang berjalan disampingnya.
“Pendekar Ling, apa kau ingin melanjutkan hubunganmu dengan Hua‘er kearah yang lebih serius?” Li Rong bertanya sambil memperhatikan raut wajah anaknya dan sesekali menatap Ling Zhen dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Ling Zhen tersenyum tipis, “Aku akan meresmikan hubunganku dengan Nona Li, Bibi Li. Aku ingin meminta restumu dan tentu saja aku juga meminta restumu, Paman Li.” Seketika ekspresi raut wajah Li Jingshan dan Li Rong berkaca-kaca.
Tubuh Li Hua terhuyung karena terkejut mendengar pengakuan Ling Zhen. Baginya ini adalah masalah serius. Li Hua menutup dirinya kepada orang lain, selain orang tuanya. Namun semenjak pertemuannya dengan Ling Zhen, Li Hua mulai terbuka dan mencoba mempercayai orang lain.
Tentu saja pengakuan Ling Zhen adalah sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya. Li Hua menatap Ling Zhen serius seolah-olah ingin memastikan bahwa pemuda itu tidak sedang mengatakan sesuatu yang bercanda.
“Syukurlah, aku akan mempunyai seorang menantu. Akhirnya anak gadisku yang selalu mengurung diri dirumah akan menikah.” Li Jingshan terlihat begitu lega karena akhirnya Ling Zhen akan benar-benar mengungkapkan perasaannya kepada anak semata wayangnya.
“Jadi kapan kalian menikah? Apa kita perlu mengadakan pesta jamuan yang besar?” Li Rong terlihat semakin antusias.
“Ayah! Ibu!” Li Hua tersipu malu melihat kedua orang tuanya sangat antusias menanggapi ucapan Ling Zhen.
“Duduklah, Zhen‘er. Oh, boleh Bibi memanggilmu seperti itu?” Li Rong menatap Ling Zhen yang sedang menatap penuh makna Li Hua.
Ling Zhen mengalihkan pandangannya menatap Li Rong dan menganggukkan kepalanya pelan, “Tentu saja boleh Bibi Li.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan teh dan makanan.” Buru-buru Li Rong ke dapur. Li Hua segera menyusul Ibunya untuk membantu.
Beberapa saat terlihat Li Hua dan Li Rong datang membawakan teh hangat dan makanan. Saat semuanya berkumpul, Ling Zhen menatap Li Hua dalam.
__ADS_1
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan Tuan Ling?” Li Hua bertanya dan menundukkan kepalanya karena malu pandangan matanya bertemu dengan mata Ling Zhen.
“Aku akan membicarakan tentang kondisi tubuhku dan hidupku...” Ling Zhen menceritakan kisah kehidupannya selama dua tahun belakangan ini atau setelah dirinya terikat perjodohan dengan Li Hua dua tahun lalu.