
Tak terasa hampir dua bulan Ling Zhen berada di Istana Chu, awalnya Ling Zhen ingin kembali lebih cepat tetapi dia mengurungkan niatnya karena Ji Yanran dan Ibunya memaksanya untuk melihat perkembangan Ling Feng.
Saat Ling Zhen hendak kembali ke Lembah Dewa, kabar bahagia kembali terdengar ditelinganya karena Que Mi dan beberapa tabib istana menyatakan Yue Rou dan Chu Xiulan tengah hamil mengandung anak darinya.
Pagi hari Yue Rou dan Chu Xiulan merasa mual, terlebih keduanya hamil secara bersamaan. Ling Zhen tidak memungkiri dirinya merasa begitu bahagia karena istri kedua dan ketiganya itu telah mengandung anaknya.
“Akhirnya kalian berdua akan memberikan cucu untukku...” Ibu Ling Zhen melihat Yue Rou dan Chu Xiulan yang sedang duduk diteras bersama Ji Yanran.
“Bibi, mereka berdua hamil bersamaan. Ini sungguh mengejutkan.” Ji Yanran sebenarnya masih tidak percaya karena Ling Zhen melakukannya bertiga. Pikirannya aneh dan setengah hati Ji Yanran merasa begitu kesal karena dirinya tidak pernah melakukannya bertiga.
Ibu Ling Zhen hanya tersenyum mendengar ucapan Ji Yanran. Yue Rou sendiri tidak menyangka telah hamil anak Ling Zhen, sedangkan Chu Xiulan terlihat begitu bahagia karena akhirnya akan memberikan anak untuk Ling Zhen dan Ibunya.
Ling Zhen sendiri sedang memesan makanan di restoran karena kedua istrinya itu ingin dia manjakan. Yue Rou yang biasanya menyukai daging sekarang ingin memakan sayur-sayuran, sedangkan Chu Xiulan yang biasanya menyukai makanan manis ingin memakan makanan pedas.
“Xiu‘er, Rou‘er, ini pesanan kalian.” Ling Zhen melihat kedua istrinya sedang berbincang bersama Ibunya dan Ji Yanran.
“Taruh disini.” Yue Rou memberikan perintah. Ling Zhen mengikutinya, bagaimanapun dia ingin memberikan yang terbaik untuk keduanya sebelum pergi.
Saat Yue Rou dan Chu Xiulan mencicipi makanan yang mereka pesan, Yue Rou memakan tomat dan wortel dengan lahap, sedangkan Chu Xiulan memakan daging ayam pedas dengan pelan.
“Zhen‘gege, sepertinya bayiku menyukainya...” Yue Rou mengelus perutnya dan tersenyum, “Bayiku ingin buah-buahan sekarang.”
Yue Rou dengan suara yang begitu sopan meminta Ling Zhen mengupas apel yang telah dibeli pemuda itu. Ling Zhen segera melakukannya.
Ibu Ling Zhen dan Ji Yanran hanya memperhatikan Ling Zhen sambil membicarakan kondisi Ling Feng.
“Ini, Rou‘er.” Ling Zhen memberikan buah apel yang telah dia kupas kulitnya kepada Yue Rou.
“Suapin.” Yue Rou membuka mulutnya setelah berkata demikian.
__ADS_1
‘Kenapa Rou‘er sangat manja?’ Ling Zhen menuruti dan menyuapi Yue Rou.
“Kenapa rasanya begitu pedas dan tidak pas?!” Ling Zhen tersentak kaget mendengar Chu Xiulan berkata dengan nada tinggi.
“Ada apa Xiu‘er?” Ling Zhen menatap Chu Xiulan, namun istri ketiganya membalas dirinya dengan tatapan begitu tajam.
“Rasanya tidak sesuai dengan lidahku! Bawa makanan ini jauh-jauh! Aku ingin memakan daging ayam bakar yang utuh! Cepat bawakan!” Ling Zhen terperanjat kaget melihat Chu Xiulan dalam mode istri galak.
‘Sifat mereka berdua terbalik.’ Ling Zhen jadi mengingat saat Ji Yanran hamil. Segera dia menaruh makanan yang tidak disukai Chu Xiulan didapur dan membeli makanan yang dipesan istri ketiganya itu.
Butuh waktu lama untuk mendapatkan makanan pesanan Chu Xiulan, bahkan saat Ling Zhen datang membawakan makanannya, Chu Xiulan memarahinya.
“Kenapa lama sekali?! Apa kau tidak peduli dengan bayimu ini?! Sudah, aku tidak memiliki selera makan!” Chu Xiulan pergi menuju kamar pribadinya. Wanita itu dalam kondisi emosional yang tidak menentu.
Ling Zhen menghela nafas panjang dan tidak mempermasalahkannya. Bagaimanapun Chu Xiulan telah bersedia menjadi istrinya bahkan tidak keberatan saat dirinya menikah dengan perempuan lain, setidaknya dia harus bersabar saat dimarahi Chu Xiulan karena masalah sepele.
“Kenapa Ratu marah-marah? Bukankah dia yang paling ingin memiliki anak darimu?” Yue Rou bertanya kepada Ling Zhen dengan tatapan seperti seorang gadis polos.
Kebersamaan itu berlangsung selama beberapa hari hingga akhirnya Ling Zhen memutuskan untuk kembali ke Lembah Dewa bersama Xue Lianhua.
“Jangan lupa saat waktunya mereka berdua melahirkan, kau harus datang.” Ucap Ibu Ling Zhen mengingatkan.
“Iya, Bu.” Ling Zhen sebenarnya ingin melihat pertumbuhan Ling Feng dan ada untuk kedua istrinya yang sedang hamil itu. Tetapi semua itu tidak bisa dia jalani karena Ling Zhen menyadari untuk melindungi kebahagiaannya ini, dia harus memilih jalan yang terjal walaupun harus meninggalkan istrinya untuk sementara waktu.
“Feng‘er, Ayah pergi dulu.” Ling Zhen mengecup pipi anak pertamanya yang digendong Ji Yanran.
“Hati-hati Zhen‘gege. Jangan lupa melihat kondisi di Kota Jihao, karena akhir-akhir aku mendengar kabar burung yang tidak enak ditelinga.” Ji Yanran tersenyum kepada Ling Zhen.
“Baik, Ran‘er.” Ling Zhen mengecup kening Ji Yanran setelah menjawab. Kemudian dia menatap Yue Rou dan Chu Xiulan yang berdiri bersebelahan.
__ADS_1
“Rou‘er, Xiu‘er, aku pergi dulu. Maaf karena aku harus meninggalkan kalian berdua yang sedang hamil muda.” Ling Zhen tidak berbicara banyak, Yue Rou tersenyum sedangkan Chu Xiulan memeluk tubuhnya.
“Zhen‘gege, terimakasih sudah menjadi suamiku. Aku akan menjaga bayi ini sampai dia lahir.” Chu Xiulan berkata dengan penuh cinta sambil melepaskan pelukannya.
Ling Zhen mengelus rambut Chu Xiulan dan mengecup kening istri ketiganya itu. Tak lupa dia juga mengecup kening Yue Rou yang tersenyum padanya.
“Mi‘er, Mizuhara, tolong jaga mereka bertiga dan juga Ibuku.” Kini Ling Zhen berbicara kepada Que Mi dan Mizuhara.
“Jangan lupa janji kalian. Aku akan menunggu.” Ling Zhen tersenyum jahil melihat ekspresi malu-malu Que Mi dan Mizuhara.
“Gege, aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Jadi bimbing aku saat waktunya tiba.” Saat mengetahui Yue Rou dan Chu Xiulan hamil membuat Que Mi ingin segera menyusul keduanya. Terlebih Que Mi sangat senang merawat bayi dan dia yang paling membantu Ji Yanran merawat Ling Feng.
“Aku akan membimbingmu.” Ling Zhen mengecup kening Que Mi dan beralih ke kening Mizuhara.
“Suamiku, sungguh beruntungnya dirimu.” Mizuhara tidak menyangka akan menerima saja menerima kondisi ini.
“Suamiku, dengarkan ini...” Mizuhara berjinjit dan membisikkan sesuatu tentang rumor sisa-sisa kelompok aliran hitam yang berada di Kekaisaran Qing.
Kelompok bernama Serigala Hitam yang dimaksud Mizuhara terdengar mengincar kekayaan Paviliun Bulan Biru yang dikelola Ji Yanran. Sekarang Paviliun Bulan Biru dikelola Bibi Qian sedangkan pemerintahan Kota Jihao dipegang suami Bibi Qian untuk sementara waktu.
‘Ada pengkhianat di Paviliun Bulan Biru? Aku tidak bisa membiarkan tangan-tangan berbahaya berada didekat istriku...’ Ling Zhen menatap Ji Yanran dan Ling Feng, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
“Aku mengerti, istriku. Terimakasih karena telah memberitahuku.” Ling Zhen kembali mengecup mesra kening Mizuhara.
Setelah itu dia berpamitan dengan Ibunya sebelum pergi meninggalkan Istana Chu bersama Xue Lianhua menuju Kekaisaran Qing.
Dalam perjalanan Ling Zhen dan Xue Lianhua duduk bersebelahan diatas punggung Elang Halilintar.
“Lian‘er, kita akan ke Kota Jihao karena ada sesuatu yang harus aku lakukan disana.” Ucap Ling Zhen sambil menatap Ibukota Chudong yang kian menjauh.
__ADS_1
“Gege, aku akan mengikutimu.” Xue Lianhua menjawab sambil menyandarkan kepalanya dibahu Ling Zhen.
Ling Zhen mengelus rambut Xue Lianhua dan berkata, “Terimakasih Lian‘er.”