
Peringatan untuk pembaca.
Chapter ini mengandung cerita dewasa, karena novel ini mengandung unsur Harem. Jadi diharapkan pengertiannya untuk anda semua, terimakasih.
____
[Yue Rou] [Dewi Perang Chu] [Sumber : Pinterest]
Entah karena terbawa suasana atau memang menikmatinya, Yue Rou tidak melakukan perlawanan saat Ling Zhen membawa dirinya kedalam sebuah kamar pribadi milik perempuan itu.
“Rou‘er, lihat aku...” Ling Zhen melepas dua pedang milik Yue Rou dan menaruhnya diatas meja, kemudian memeluk tubuh Yue Rou kedalam pelukannya. Tangan satunya mengunci pintu kamar.
Yue Rou terlihat salah tingkah karena ini adalah pengalaman pertamanya. Tetapi tidak dengan Ling Zhen yang secara umur lebih muda tetapi pengalamannya lebih dewasa dibandingkan Yue Rou.
Ling Zhen menatap wajah Yue Rou yang malu-malu, kemudian mengecup pipinya lembut. Sedangkan telapak tangannya sudah bergerak kesana-kemari meremas dan menggenggam sesuatu yang kenyal.
“Mmmhhh...” Yue Rou secara tidak sadar mengeluarkan suara desahan saat telapak tangan Ling Zhen menyusup kedalam gaunnya.
Ling Zhen menggigit leher jenjang Yue Rou dan menarik lembut perempuan itu untuk berbaring diatas ranjang. Tangannya mulai melepas seluruh kain yang menutupi tubuh Yue Rou.
“Zhenzhen, tidak, Zhen‘gege! Aku malu!” Sontak Yue Rou menutupi kedua asetnya yang paling berharga dengan kedua tangannya.
Wajah Ling Zhen memerah melihat tubuh Yue Rou yang terlihat indah dipandangan matanya. Tubuh mulus berisi dan mempesona itu sangat memanjakan matanya. Perlahan dia melepaskan seluruh pakaiannya sambil naik keatas ranjang mendekati Yue Rou.
‘Dia sengaja menggodaku atau memang pura-pura polos?’ Ling Zhen memegang kedua tangan Yue Rou dan mulai kembali menindihnya.
Yue Rou terkesiap saat telapak tangan Ling Zhen meremas buah dadanya. Pemuda itu terlihat begitu mahir membuatnya hanyut kedalam kenikmatan yang tiada tara.
Jari-jemari Ling Zhen mengelus lembut perutnya dan perlahan turun kebawah bermain dengan milik Yue Rou.
Suara desahan dan erangan Yue Rou memenuhi kamarnya. Ling Zhen tidak berhenti dan terus memberikan kenikmatan kepada Yue Rou.
__ADS_1
Melihat ini adalah pengalaman pertamanya, Ling Zhen ingin memberikan yang terbaik untuk Yue Rou. Kini tubuh perempuan dewasa itu penuh dengan bekas gigitannya.
Ling Zhen membiarkan Yue Rou mengatur napasnya sebelum memegang kedua kaki jenjang Yue Rou. Mata sayu Yue Rou terbelalak dan secara refleks menutup kedua pahanya.
“Aku takut!” Yue Rou dengan cepat duduk dan mundur ke ujung ranjang sambil memandang sesuatu yang benar-benar diluar perkiraannya, “Punyaku kecil, itu terlalu besar! Aku takut, Zhenzhen!”
“Hah?!” Ling Zhen yang sudah diujung tanduk mengerutkan keningnya, “Zhen‘gege, lain Zhenzhen. Kau adalah wanitaku sekarang, Yue Rou. Ingat itu, panggil aku dengan benar.”
Ling Zhen dengan cepat menindih tubuh Yue Rou yang memberontak dibawahnya. Tangannya memegang kedua buah dada yang bergerak kesana-kemari mengikuti sang pemilik tubuh dan mulutnya mencium bibir Yue Rou dalam.
Kemudian Ling Zhen melepasnya lalu mengecup kening Yue Rou penuh kasih sayang, “Rou‘er, lihat aku. Semua akan baik-baik saja, kau tidak perlu takut. Rasanya seperti saat kau sedang melakukan pertempuran.”
Ling Zhen mengarang, tetapi Yue Rou dengan wajah tegang mempercayainya.
“Benarkah?” Ekspresi wajah Yue Rou membuat Ling Zhen menelan ludah.
‘Sial! Dia benar-benar menguji kesabaranku!’ Ling Zhen sudah dalam keadaan siap, tetapi Yue Rou masih mengumpulkan keberaniannya.
“Benar, rasanya seperti memakan daging kesukaanmu bahkan lebih enak.” Ling Zhen tersenyum menahan gairahnya melihat Yue Rou membuka kedua pahanya dengan ragu-ragu.
Ling Zhen mengecup lembut bibir Yue Rou lalu menatap wajah perempuan dibawahnya yang gelisah, “Lemaskan kakimu Rou‘er. Rileks jangan tegang.”
Yue Rou mengangguk lembut dengan kedua tangannya menahan dada bidang Ling Zhen agar tidak bersentuhan langsung dengan dadanya.
Jantung Ling Zhen berdetak begitu kencang saat menurunkan tubuhnya secara perlahan. Dengan penuh hati-hati Ling Zhen membenamkan tubuhnya memposisikan miliknya ketempat semestinya.
“Akh!” Yue Rou secara reflek memekik saat merasakan sesuatu yang besar berada diujung miliknya.
“Sakit?” Ling Zhen dengan napas yang memburu mengecup lembut bibir Yue Rou untuk menenangkan perempuan itu.
“Sedikit...” Alis Yue Rou mengernyit.
Ling Zhen sebenarnya ingin memasukkan dirinya lebih dalam lagi, tetapi dia menahannya karena ini merupakan pengalaman pertama Yue Rou.
__ADS_1
Dia tidak ingin melukai Yue Rou atau membuatnya kesakitan. Dia ingin Yue Rou menikmatinya dan menerimanya.
“Rou‘er, tahan sebentar...” Ling Zhen mencium lembut bibir Yue Rou sambil membenamkan tubuhnya.
Sensasi kenikmatan tiada tara merayapi tubuh Ling Zhen, sambil menahan gairahnya sendiri Ling Zhen berusaha menenangkan Yue Rou yang merintih kesakitan.
Dan sedetik kemudian Yue Rou terlihat menikmati ciumannya, bahkan perempuan itu tidak lagi pasif melainkan mulai melakukan perlawanan ringan.
Ling Zhen kembali membenamkan tubuhnya lebih dalam hingga kenikmatan yang luar biasa kembali menjalar keseluruh tubuhnya.
Tetapi sedetik kemudian miliknya ditendang Yue Rou yang berteriak dan menggigit bibirnya.
“Aargghhh! Ini sakit! Kau membohongiku!” Yue Rou dengan geram menatap Ling Zhen yang meringkuk kesakitan karena miliknya ditendang olehnya.
Ling Zhen memegang miliknya dan meringis kesakitan, ‘Sangat berbeda dengan Kakak Ji, dia benar-benar ganas dan hendak membunuhku.’
Ling Zhen mengatur napasnya karena merasakan sakit yang luar biasa. Perlahan dia menatap wajah Yue Rou yang menatapnya dengan tatapan permusuhan.
“Milikmu belum masuk sepenuhnya, tetapi aku sudah merasakan sakit! Aku tidak mau melanjutkannya!” Yue Rou dengan egois hendak pergi dari ranjang, namun tubuhnya kembali ditindih Ling Zhen.
Yue Rou memberontak, tetapi Ling Zhen memposisikan dirinya dari samping menggerayangi tubuhnya.
“Rou‘er, sebentar akan nikmat. Sakitnya hanya sekali. Tahan sebentar.” Ling Zhen penuh kesabaran mencoba menenangkan Yue Rou.
“Bukankah kau mengatakan pada Ran‘er jika dirimu hamil? Kau belum hamil bahkan dirimu masih perawan. Jadi jangan menguji kesabaranku. Aku meminta hak sebagai suamimu, Rou‘er.” Ling Zhen duduk saat melihat Yue Rou terus memberontak.
Pada akhirnya Yue Rou merasa bersalah, “Aku takut, itu sangat sakit...”
Ling Zhen mulai kembali memposisikan dirinya untuk memasuki tubuh Yue Rou. Tanpa perlawanan Yue Rou dengan segala ekspresi ketakutan memandang milik Ling Zhen yang secara perlahan mendekati bagian pribadinya.
“Sebentar akan nikmat. Tahan sebentar Rou‘er...” Ling Zhen berbisik di telinganya, sementara Yue Rou dengan wajah menegang memandang milik Ling Zhen yang sudah berada diujung bagian pribadinya.
Mata Yue Rou sayu dan mulutnya terkatup rapat, kedua tangannya mencoba menahan tekanan badan Ling Zhen.
__ADS_1
“Aaahhh... Ssshhh... Sakit...” Yue Rou merintih saat Ling Zhen berhasil menembus selaput darah membuat kain yang menutupi ranjang memiliki bekas tetesan darah segar.
____