Immortal Warrior

Immortal Warrior
IW 25 - Sekte Kalajengking Hitam


__ADS_3

Setelah meninggalkan Ibukota Jiayang, Ling Zhen pergi melanjutkan perjalanannya menuju Kekaisaran Qing. Namun sebelum sampai di tanah kelahirannya itu, Ling Zhen mencari petunjuk tentang kelompok Sekte Pemuja Iblis di Kekaisaran Jia.


Dalam perjalanan Ling Zhen sering bertemu dengan para pedagang, dan menurut cerita dari pedagang satu dan pedagang lainnya, jika ada sebuah asosiasi yang kemungkinan dapat memberikan informasi tentang Sekte Pemuja Iblis.


Tetapi setelah melewati perjalanan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, akhirnya Ling Zhen mulai kembali merasakan efek Racun Darah Buas. Terlebih setelah pertarungannya melawan petinggi Rumah Gaya Bulan, Ling Zhen merasakan jika dirinya tidak dalam kondisi yang tidak begitu baik.


‘Bocah manusia, jadi apa rencanamu selanjutnya? Setelah menyuruhku mencari markas Rumah Gaya Bulan di Ibukota Jiayang, bukankah ada berkas menarik yang memberikanmu sebuah informasi?’ Rubah Putih menatap Ling Zhen yang tengah duduk sambil memakan daging bakar.


Ling Zhen menyantap daging bakar terakhir sebelum menghela napas panjang, “Paviliun Bulan Biru, mereka adalah sekelompok pedagang yang menjual berbagai macam sumber daya. Aku dengar, Paviliun Bulan Biru membuka salah satu cabangnya di Kekaisaran Jia. Aku akan kesana dan menjual sumber daya milikku ini.”


Rubah Putih menguap mendengar ucapan Ling Zhen, kemudian melompat ke atas kepala Ling Zhen sebelum diam seribu bahasa tak bersuara.


‘Apa kau tidak bisa berjalan sendiri? Selalu saja tidur dikepalaku, rubah sialan!’ Ling Zhen membatin dan melanjutkan perjalanannya.


‘Aku bisa mendengar suara hatimu, bocah manusia.’ Rubah Putih menegur Ling Zhen yang membicarakannya.


Ling Zhen tertawa pelan, “Maaf, walau kau berwujud seperti ini, kau tetap wadah dari para Roh Dewa, aku melupakan hal itu.”


‘Ucapanmu itu sungguh menyebalkan!’


____


Tempat yang menjadi tujuan Ling Zhen adalah kota perbatasan. Sebuah kota yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran Qing.


Dalam perjalanan Ling Zhen selalu bertanya tentang arah menuju Kota Qifei. Hingga akhirnya setelah satu minggu meninggalkan Ibukota Jiayang, Ling Zhen bertemu dengan rombongan kereta pedagang yang kebetulan juga sedang menuju Kota Qifei.


Rombongan kereta pedagang merasa beruntung dengan kehadiran Ling Zhen, karena selain dapat menjadi seorang pengawal, Ling Zhen juga berbagai daging Hewan Buas dengan mereka.


“Tuan Ling, kami sangat beruntung bertemu denganmu dijalan.” Seorang pria paruh baya memakan daging bakar yang dibumbui dengan lahap.

__ADS_1


“Benar, berkat Tuan Ling, para perampok yang menghadang kami tidak berkutik sedikitpun.” Pedagang lain menanggapi.


Ling Zhen hanya membalas ucapan setiap pedagang dengan senyuman tipis, kemudian dia duduk menyendiri untuk meningkatkan jumlah lingkaran tenaga dalam miliknya.


Sambil menunggu pagi tiba, Ling Zhen memutuskan untuk berlatih. Disekitar tempat dia bermeditasi terdapat Permata Roh yang melingkari tubuhnya.


Sementara Ling Zhen berlatih, Rubah Putih justru tidur dengan nyenyak dikepala Ling Zhen.


Melihat Ling Zhen yang bermeditasi, para pedagang tidak berani mengganggunya. Namun tatapan para pedagang terarah pada seekor rubah berwarna putih yang tertidur pulas diatas kepala Ling Zhen.


Saat pagi tiba, Ling Zhen kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada hambatan yang berarti dalam perjalanan, namun setelah jarak antara rombongan pedagang dengan Kota Qifei semakin dekat, Ling Zhen bertemu dengan kelompok perampok yang bernama Sekte Kalajengking Hitam.


Menurut rombongan pedagang yang bersamanya, Sekte Kalajengking Hitam adalah kelompok aliran hitam yang besar di Kekaisaran Jia. Kelompok Sekte Kalajengking Hitam membuat masyarakat resah karena kelompok ini selalu berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain hanya untuk menjarah.


“Berhenti! Tinggalkan harta kalian dan perempuan! Maka kalian akan mati tanpa rasa sakit!” Seorang pria dengan tombak berwarna emas menghadang, dibelakangnya terlihat perampok berjumlah tiga puluhan.


“Paman, apa yang terjadi jika aku membunuh mereka?” Ling Zhen bertanya pada pedagang yang ketakutan.


“Tuan Ling, pemimpin mereka memiliki kemampuan tinggi bahkan setara dengan petinggi Aliansi Bulan Darah. Aku rasa jika anda membunuh mereka, maka pemimpin mereka tidak akan tinggal diam,” ujar pedagang tersebut.


Ling Zhen berdiri dan membuka telapak tangannya, “Kalian cukup tutup telinga kalian dan jangan melihat apapun. Karena yang akan terjadi didepan sana adalah teriakan kematian.”


Saat Pedang Sembilan Naga muncul ditelapak tangannya, Ling Zhen melompat ke atas dan berhadapan langsung dengan para perampok.


“Apa urusanmu anak muda? Apa kau pengawal rombongan pedagang ini?” Pria yang memegang tombak emas berjalan mendekati Ling Zhen, dan hendak menyentuh bahunya.


Namun sebelum tangan kirinya menyentuh bahu Ling Zhen, tangannya putus dan disusul tangan kanannya.


“Apa-” Pria itu melebar matanya sebelum berteriak.

__ADS_1


Hanya dalam satu kali ayunan, Ling Zhen membunuh pria itu dengan cepat. Kemudian menatap perampok yang mematung melihat dirinya.


“Kau tidak akan selamat setelah berurusan dengan kami! Kota yang kalian tuju telah dikuasai Sekte Kalajengking Hitam, pemimpin tidak akan tinggal diam-” Saat salah satu perampok hendak mengancamnya, Ling Zhen dengan cepat menghunuskan pedangnya pada mulut perampok tersebut.


Kemampuan para perampok adalah Pendekar Emas Tahap Puncak, tentu bagi Ling Zhen semua perampok yang menghadangnya bukanlah sebuah ancaman.


“Sebelum menanyakan nama seseorang, bukankah kalian harus memperkenalkan diri kalian terlebih dahulu?” Ling Zhen menyeringai melihat ekspresi ketakutan para perampok.


Saat hendak melarikan diri, tubuh para perampok berjatuhan satu demi satu diiringi suara tebasan pedang dan teriakan.


Selang beberapa menit kemudian, tidak ada lagi suara teriakan. Ling Zhen menghabisi seluruh perampok, lalu menaruh kembali Pedang Sembilan Naga ke dalam Ruang Dewa.


Melihat mayat para perampok bergeletakan, salah satu pedagang mengajak pedagang yang lain untuk menguburkan jasad para perampok.


Ling Zhen yang awalnya tidak peduli, ikut membantu para pedagang menguburkan jasad para perampok.


‘Kenapa aku terkesan seperti penjahat?’ Ling Zhen menggaruk kepalanya karena melihat para pedagang mendoakan para perampok.


‘Jangan jadikan membunuh menjadi hal yang biasa, bocah manusia.’ Rubah Putih mendekati Ling Zhen setelah bangun dari tidurnya.


‘Maksudmu?’ Ling Zhen menatap Rubah Putih dan bertanya.


‘Cari tahu sendiri.’ Rubah Putih masuk ke dalam kereta pedagang disusul oleh para pedagang.


Para pedagang berniat kembali karena mendengar jika Kota Qifei dikuasai Sekte Kalajengking Hitam.


“Tuan Ling, sepertinya kita berpisah disini. Terimakasih atas bantuanmu...” Terlihat para pedagang takut melanjutkan perjalanan menuju Kota Qifei.


Ling Zhen tidak memaksa dan berpisah dengan rombongan pedagang, kemudian melanjutkan perkataannya menuju Kota Qifei.

__ADS_1


__ADS_2