
Malam berganti pagi dan suara kicauan burung membangun kedua insan manusia yang tertidur lelap saling memeluk tubuh masing-masing.
Gong Ning mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya menemukan Ling Zhen yang sedang meraba perutnya dan dadanya.
“Jika dipikir kembali umurmu kurang lebih sama seperti istri pertamaku. Tetapi tubuhmu terlalu matang, sangat disayangkan jika aku tidak memetikmu sekarang...” Ling Zhen tersenyum saat meremas gunung kembar Gong Ning.
“Mmmmpphhh!” Gong Ning yang belum mendapatkan kesadarannya terkejut tubuhnya. Tubuh wanita dewasa meliuk-liuk saat benda besar memasuki celah pahanya.
“Zhen‘er buat Bibi Gong percaya padamu...” Gong Ning sendiri penasaran dengan milik Ling Zhen, namun dia tidak ingin terjerat dalam kenikmatan sesaat. Dia ingin melihat ketulusan Ling Zhen dengan mata kepalanya sendiri.
Ling Zhen mencium pipi Gong Ning yang bersemu merah, “Bibi Gong, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Kau adalah wanitaku, jaga hati dan tubuhmu ini hanya untukku...”
Nafas Ling Zhen memburu saat mengatakan itu. Mata sayu Gong Ning terpejam saat merasakan perutnya basah diiringi erangan Ling Zhen.
“Aku mencintaimu, Zhen‘er...” Gong Ning mengecup bibi Ling Zhen dan tersenyum manja, “Saat waktunya tiba, aku ingin kamu mengeluarkannya didalam...”
Ling Zhen mencubit gemas pipi Gong Ning dan tersenyum, “Itu sudah pasti sayang.”
Lalu keduanya mandi bersama. Mereka melakukan olahraga pagi ringan sebelum akhirnya sarapan pagi di penginapan. Ling Zhen membayar uang sewa penginapan sebelum pergi meninggalkan Penginapan Bulan Madu.
Ling Zhen dan Gong Ning berbincang dalam perjalanan menuju Rumah Golok Perawan. Sebelum ke Rumah Golok Perawan, Ling Zhen mengajak Gong Ning pergi ke sebuah bangunan yang menjual pakaian wanita.
“Bibi Gong, pilih pakaian terbaik yang cocok untukmu. Kamu adalah wanitaku, aku ingin kamu melepaskan pakaian lama ini.” Ling Zhen menatap Gong Ning dalam.
“Tetapi, aku tidak ingin menyusahkanmu.” Gong Ning menundukkan kepalanya membuat Ling Zhen tersenyum tipis.
“Jika tidak ingin menyusahkanku, maka izinkan aku melepaskan mahkotamu malam ini. Semalam kau terlalu menikmati sampai lupa dengan diriku ini bukan?” Ling Zhen berbisik saat mengatakan itu membuat wajah Gong Ning merah padam.
“Zhen‘er! Kau sudah berjanji!” Gong Ning cemberut dan bersikap manis membuat Ling Zhen menelan ludah.
“Ehem!” Penjual pakaian berdeham saat mengetahui tokonya kedatangan pasangan yang bermesraan.
“Tuan, Nyonya. Kalian terlihat sangat serasi. Aku memiliki produk baru disana. Pakaian yang serasi itu berharta lima puluh keping emas. Apa Tuan dan Nyonya tertarik?” Penjual pakaian menawarkan.
Ling Zhen menganggukkan kepalanya, “Aku ambil itu dan berikan pakaian terbaik untuk istriku ini.” Ling Zhen sengaja mengatakan itu membuat kedua mata Gong Ning mendelik menatap Ling Zhen.
Ling Zhen hanya tertawa kecil lalu mendekati penjual pakaian sambil berbisik pelan, “Jangan lupa berikan pakaian dalam terbaik untuknya...”
Penjual itu segera mengambil pakaian yang dipesan Ling Zhen. Gong Ning menatapnya tidak percaya saat Ling Zhen membayar semua pakaian yang dia pesan, bahkan pemuda itu memberikan Cincin Ruang kepada dirinya.
__ADS_1
“Simpan semua keperluanmu didalam Cincin Ruang ini...” Ling Zhen mengelus cincin yang melingkar dijari manis Gong Ning dan menghela nafas panjang.
“Boleh aku melempar ini?” Ling Zhen mengatakan itu tanpa rasa bersalah membuat mata Gong Ning kembali mendelik.
“Aku belum resmi menjadi istrimu, Zhen‘er. Selain itu, aku masih mengingat mendiang-” Belum sempat Gong Ning menyelesaikan perkataannya, Ling Zhen mengecup bibirnya singkat.
“Lupakan orang yang sudah mati itu.” Ling Zhen menghancurkan cincin itu hingga tak berbekas lalu tersenyum sambil menggantinya dengan cincin yang begitu indah sama seperti cincin milik para istrinya.
“Mulai sekarang kau adalah milikku.” Ling Zhen mencium lembut bibir Gong Ning dihadapan sang penjual.
Gong Ning memerah wajahnya perasaannya campur aduk. Lalu keduanya pergi menuju Rumah Golok Perawan. Dalam perjalanan Ling Zhen memberikan sejumlah uang pada Gong Ning.
“Tidak perlu.” Gong Ning menolak.
“Terima saja. Kau membutuhkannya.” Ling Zhen berpikir jika Gong Ning pandai berbisnis dan akhirnya Gong Ning menerimanya.
Saat keduanya sudah memasuki kawasan Rumah Golok Perawan, mata Gong Ning melebar melihat pria yang seharusnya sudah mati justru berjalan disamping Kaisar Jia Bao.
“Zhen‘er!” Gong Ning memakai kain tipis yang menutupi wajahnya sambil masuk kedalam gang sempit.
“Ada apa Bibi Gong?” Ling Zhen mengerutkan keningnya karena ekspresi tidak beres Gong Ning.
Ling Zhen menarik lembut tangan Gong Ning dan berjalan mendekati Kaisar Jia Bao dan pria paruh baya yang berjalan disampingnya.
“Yang Mulia, aku bersumpah istriku masihlah perawan. Aku menahan diri saat berada didekatnya. Aku tidak mengetahui bagaimana dia kabur dari Rumah Golok Perawan, tetapi aku sudah mengirim pendekar untuk mencarinya.” Pria yang tak lain adalah suami Gong Ning berkata.
“Hahaha, aku sudah tertarik saat melihatnya. Tetapi dia sempat menolakku. Aku harap rasanya seperti Yuan Mei sebelum aku membunuhnya.” Kaisar Jia Bao menjilat bibirnya dan tertawa.
Mata Gong Ning melebar mendengar percakapan barusan. Air matanya menetes dengan sendirinya, Ling Zhen yang berdiri disampingnya sudah bersiap membunuh kedua pria itu setelah mengetahui identitas keduanya.
Ling Zhen mengeluarkan topeng dari Ruang Raja. Gong Ning menahannya dan menggelengkan kepalanya.
“Kau menukar istrimu itu dengan Yuan Ruyun. Yuan Ruyun memang menggoda dan tidak kalah dengan Yuan Mei, hanya saja dia sudah dipakai banyak orang...” Kaisar Jia Bao kembali tertawa, “Setelah menemukan Gong Ning, aku akan menikmati anak dari Saudara Song, Jia Ruan.”
“Aku tidak tertarik dengan perempuan. Aku hanya tertarik dengan tubuh mereka. Sama halnya dengan Gong Ning, aku melamarnya dan menikahinya demi saat-saat seperti ini, menjualnya kepada Yang Mulia. Berpura-pura mati karena kudeta yang telah kita rencanakan dan akhirnya kita sebentar lagi akan menguasai dunia persilatan Kekaisaran Jia.” Suami Gong Ning tertawa.
Ling Zhen menatap tajam Gong Ning dan bertanya, “Kenapa kau menahanku? Katakan padaku sekarang, kau pilih suamimu atau diriku ini?”
Gong Ning kembali menggelengkan kepalanya, “Tolong, Zhen‘er. Saat ini aku ingin menenangkan diri.”
__ADS_1
Ling Zhen meredam emosinya demi Gong Ning dan segera membawa Gong Ning pergi menjauh dari kawasan Rumah Golok Perawan.
Ling Zhen akhirnya kembali ke Penginapan Bulan Madu dan menyewa satu kamar. Pemilik Penginapan Bulan Madu kali ini yang melayaninya. Wanita dewasa dengan tubuh yang tidak kalah dengan Gong Ning itu menatap Ling Zhen menggoda.
‘Ada apa dengannya?’ Ling Zhen mengerutkan keningnya dan membawa Gong Ning masuk kedalam kamar penginapan.
“Zhen‘er, maaf hari ini aku tidak bisa menemanimu...” Gong Ning menangis. Ling Zhen memeluknya dan menunggu Gong Ning tenang.
“Bibi Gong, aku tidak akan memaafkan suamimu itu. Aku akan membunuhnya. Dia telah bertindak terlalu jauh.” Ling Zhen berdiri dan Gong Ning menarik tangannya.
“Tetapi...”
“Hah? Kau adalah wanitaku. Siapapun yang melukaimu, aku akan membunuhnya. Tunggu disini, Bibi Gong. Setelah semua ini selesai, aku akan menikahimu.” Ling Zhen menggigit daun telinga Gong Ning sebelum pergi meninggalkan Penginapan Bulan Madu.
Sekitar setengah hari Ling Zhen baru sampai di kawasan Rumah Golok Perawan dan saat hari menjelang sore. Ling Zhen belum menemukan akses masuk kedalam Rumah Golok Perawan.
‘Sial! Ternyata pelelangan ini sudah direncanakan!’ Ling Zhen mendapatkan informasi bahwa rumah lelang ini telah kehabisan kursi untuk pengunjungnya.
Rumah Golok Perawan dikelilingi pagar yang terbuat dari bambu, sedangkan untuk bangunannya bisa dibilang megah dan disana banyak pendekar aliran hitam berkumpul khususnya dari Aliansi Bulan Darah.
Ling Zhen mengendap-endap dan dengan kecepatan tinggi dia bergerak memasuki sebuah gudang kosong dipintu belakang bangunan. Dengan menekan hawa keberadaannya Ling Zhen berhasil menerobos sejuah ini, namun saat dirinya hendak membuka pintu terdengar suara laki-laki dan perempuan dari dalam gudang.
Ling Zhen terbang rendah dan mengintip dari lubang yang tidak terlalu dan tidak terlalu kecil. Didalam gudang terlihat pria yang tidak lain adalah suami Gong Ning sedang meraba tubuh wanita dewasa dengan pakaian layaknya bangsawan.
“Permaisuri Jia Lun, anda sangat menggoda. Aku tidak bisa menahannya.” Mata Ling Zhen melebar saat mengetahui wanita paruh baya dengan tubuh dewasa itu adalah istri Kaisar Jia Bao.
“Gong Wang, terakhir kali kau keluar dengan cepat. Aku tidak suka dengan pria lemah.” Wanita paruh baya itu hendak menjauh, namun suami Gong Ning yang bernama Gong Wang melepaskan pakaiannya dan mendekati wanita paruh baya itu.
“Aku sudah siap..." Gong Wang langsung mencium bibir wanita paruh baya itu dan memulai aksinya.
Ling Zhen menggelengkan kepalanya dan melihat pertempuran singkat keduanya, dimana dia melihat ekspresi wanita paruh baya itu terlihat tidak puas.
“Sama seperti suamiku dan pendekar sialan itu, kalian hanya memikirkan kepuasan kalian. Cepat pergi, kau membuat pahaku basah!”
“Permaisuri Jia Lun, malam ini anda akan kami nikmati bersama-sama. Sangat disayangkan, Kaisar bodoh itu menjual dirimu pada petinggi Aliansi Bulan Darah...” Gong Wang memakai pakaiannya dan segera pergi.
Ling Zhen hendak pergi meninggalkan gudang itu, namun dia terkejut ada wanita paruh baya dibelakangnya. Wanita paruh baya ini tidak lain adalah pemilik Penginapan Bulan Madu.
“Bocah nakal, kau mengintip pertempuran siapa?”
__ADS_1
Ling Zhen berkeringat dingin karena terlalu asik mengintip sampai lupa dengan sekitarnya.